Selasa, 25 Agustus 2026

Mendaki Gunung

 Ramai di grup kuliah gara-gara aku naik gunung di usia lansia ini, padahal dulu bukan anak Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam).  Padahal juga, aku pernah punya masalah lutut karena asam urat tinggi, juga kolesterol tinggi. 

Sepulang dari mendaki aku malah merasa lebih sehat. Biasanya kalau posisi duduk mau berdiri pakai pegangan dulu, ajaibnya sekarang malah gak perlu pegangan, langsung mak nyat berdiri. Aku syukuri kejutan indah ini. 

Aku belajar ternyata penyakit bukan untuk ditolak atau dibenci. Karena dia hanya sedang memberitahu kita sesuatu, mungkin karena tubuh yang kurang gerak atau karena makan yang terlalu rakus atau mungkin pola pikir dan pola perasaan kita yang salah. 

Jadi berterimakasihlah pada apapun yang terjadi pada tubuhmu, ajak ngobrol, dia lagi ngasih tahu soal apa sih? Dia mau ngomong apa sih? 

Kuingat jaman remaja dulu aku gampang sakit dan langganan pingsan di sekolah. Ternyata itu karena aku hidup dalam ketakutan. Aku sedang parah indigonya saat-saat itu. Kemampuan ESP (extra sensory perception) aku lagi tumbuh, hal menakutkan aku saksikan setiap hari.

Puluhan tahun kemudian aku masih bergelut dengan persoalan ESP-ku dan aku masih gampang sakit.  Hingga aku sadari semakin aku bisa menerima keadaan ini, aku jadi jarang sakit. 

Berdamai dengan apa pun dan siapa pun, menjadi hal yang berpengaruh signifikan pada kesehatan jasmani rohani kita. Itulah yang kurasakan. Namun semua itu juga karena Allah. 

Bukan usia, bukan gaya hidup, Allahlah yang memberi kita kesehatan dan Allah pula yang menuntun langkah kita ke sana. Diri ini cuma wayang, maka jadilah wayang yang pandai bersyukur.