Rabu, 31 Desember 2025

Menata Keberanian Menghadapi Rasa Takut

 Tulisan ini untuk menjawab pertanyaan yang sering disampaikan padaku tentang keberanianku menyepi sendirian di tengah kebun yang mirip hutan.  Ada yang minta saran, bagaimana caranya agar berani?  Bagaimana cara menghadapi ketakutan akan bertemu makhluk halus, orang jahat yang bisa datang dan juga binatang yang membahayakan? 

Sejujurnya sebelumnya aku ini penakut, bahkan untuk ke kamar mandi malam-malam di rumahku sendiri, minta diantar suami.  Itu karena aku peka dengan makhluk halus, terasa banget ketika mereka lagi 'berkunjung', kadang juga kelihatan, aku indigo dari kecil.  Aku juga takut orang jahat, karena aku perempuan yang sendirian di tengah kebun luas, yang bila aku berteriak, tak ada yang mendengar kecuali binatang dan pepohonan.  

Aku juga takut binatang melata, terutama ular dan kalajengking, bahkan ketemu kecoa saja aku jerit-jerit.  Lengkap sekali bukan?  Saking lengkapnya, suamiku tak tega dong, perlu waktu lama merayu dan meyakinkan dia bahwa aku akan baik-baik saja.

Alasan utama yang membuatku berani dan sekaligus membuat suami rela melepasku adalah aku menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah, aku mau meneladani laku Nabi Musa, Nabi Isa Dan Nabi Muhammad, 40 hari menyepi dan menyendiri.  Karena para Nabi melakukannya, pasti ada rahasia besar dibalik itu, pasti hal penting yang mendasar sekali untuk dilakukan.  Bukan hanya para Nabi, Bunda Maryam ibunda Nabi Isa juga melakukannya, Sidarta Gautama juga.

Apa yang aku lakukan selama 40 hari bisa dibaca di tulisanku sebelumnya, silakan dicari di blog ini ya. Tulisan yang ini aku khususkan untuk membahas rasa takut.  

Poin pertama agar punya keberanian adalah NIAT yang kuat, ALASAN utama kenapa menyendiri.  Jadi Allah adalah alasanku dan karena itulah aku punya keberanian menghadapi rasa takutku sendiri, karena aku yakin Dia selalu menemani dan membimbingku di setiap proses yang aku jalani.

Punya niat yang kuat, membuat aku punya keberanian menyepi dan menyendiri, bukan berarti rasa takutku hilang.  Aku masih takut, tapi aku berani menghadapi rasa takutku.  Aku tidak lari dari rasa takutku, aku menghadapinya.

Sekarang aku bahas satu per satu rasa takut dan cara menghadapinya.

Takut Binatang Liar

Yang aku takutkan terutama adalah ular dan binatang berbisa.  Lalu Allah memberiku pelajaran dengan kedatangan kadal yang masuk ke kamar pada saat aku menyepi setahun yang lalu (september-november 2024 di vila Aden di Ngantang, Malang)  

Awalnya aku mengira yang masuk itu ular karena yang kelihatan hanya ekornya, ternyata kadal.  Setelah aku usir dari kamar, kadal itu malah masuk ke kamar mandi dan dengan mesra menduduki lubang toilet membuat aku tidak bisa BAB, kadal itu tak juga mau keluar dari kamar mandi sampai tiga hari.  

Aku menemukan jawaban atas ketakutanku ini di Al Quran Surat Hud ayat 56, yang maknanya tidak ada satu binatang melatapun melahirkan Allahlah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai dan mengendalikannya).  

Kukira yang dimaksud dengan binatang melata di ayat itu bukan binatang melata dalam arti sebenarnya, melainkan perumpamaan, segala makhluk di atas bumi berada di dalam kekuasaan dan kendali dari Allah.  Jadi kesimpulannya, kalau takut binatang liar ya minta perlindungan pada Allah saja karena semua itu yang mengendalikan Allah.  Aku aman sudah setelah keyakinan ini kuat nancep banget di hatiku.

Takut Orang Jahat

Saat periode menyepiku yang pertama di tahun 2024, aku paranoid banget dengan kehadiran orang walau sekedar orang lewat yang mau mencari rumput.  Pernah ada orang jalan-jalan masuk ke pekarangan, pernah orang mengetuk pintu dan ternyata hanya mau bertanya tentang pemilik kandang kambing di sebelah.  Kandang kambing itu bersebelahan dengan vila Aden, tapi posisinya jauh di belakang karena kebunnya luas, jadi tidak mengganggu dalam hal bau.

Saat malam tiba, pikiranku sering berandai-andai, bagaimana kalau ada orang jahat, misalnya maling, perampok atau pemerkosa datang, sementara aku berada jauh dari perumahan penduduk.  Walau aku membawa handphone, aku masih mikir lagi, bagaimana kalau adikku yang tinggal di Ngantang tak mendengar dering telepon dariku?  Begitulah aku dibuat cemas dan khawatir oleh pikiranku sendiri.  Jadi untuk menyelesaikannya ya musti membereskan si pikiran yang hobi banget overthinking.

Yang membuat aku akhirnya tenang adalah keyakinan bahwa orang yang datang atau pergi pasti atas ijin dan kehendak Allah, pasti membawa 'sesuatu' buatku, semacam pelajaran yang harus aku ambil.  Jadi mereka adalah kiriman Allah, tak perlu takut atau khawatir, minta perlindungan pada Allah saja dan harus punya keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti melindungi.

Apakah dengan demikian aku berhenti takut?  Belum ternyata, saat menyepi yang kedua di Desember 2025, kembali aku didatangi orang tak kukenal di pondok kebun Gua Cina, aku masih paranoid.  Aku seperti mengulang pelajaran setahun yang lalu.  Tapi alhamdulillah ketakutan ini akhirnya bisa aku atasi dengan ngeset pikiran bila semuanya bergerak atau diam adalah atas ijin, kehendak dan kendali dari Allah.  Keyakinanku bila Allah selalu melindungi harus dikuatkan lagi.

Takut Makhluk Halus

Yang ini ujian berlapis buatku yang dari kecil bisa melihat makhluk halus.  Makhluk halus di sini bisa jin, arwah atau malaikat, bila tak terlihat, aku bisa merasakan kehadirannya lewat vibrasi yang menyertainya.  Pengalamanku yang berkali-kali terbukti bila yang aku lihat benar karena terkoneksi dengan kehidupan nyata, itu membuatku susah lepas dari rasa takut ini.  Apalagi waktu menyepi periode pertama, aku berada di daerah yang terkenal angker di Ngantang, orang-orang menyebut tempat itu Mbah Legi. 

Cara mengatasinya adalah dengan merasa selalu dibersamai Allah dan beres, tapi apakah langsung seberes itu saudara?  Tidak dong, karena perasaan selalu dibersamai Allah itu tidak serta merta hadir mak cling begitu saja, perasaan itu tumbuh melalui proses dan dibimbing Allah step by step.  Asalkan kita niatnya menyepi untuk dekat dengan Allah, pasti dibimbingNya, didampingiNya menurut kondisi kita masing-masing, tak usah takut tersesat, juga tak usah takut jadi gila ... haha.

Malam pertama sendirian di vila Aden aku lalui dengan tegang pakai banget, sampai membuatku kencing tiap dua jam sekali karena ketakutan.  Tak ada manusia yang aku minta tolong mengantar ke kamar mandi, jadi aku harus menghadapi ketakutanku sendiri berjalan hanya dua langkah keluar kamar menuju kamar mandi, jarak dua langkah itu rasanya jauh banget, karena aku lihat yang ramai 'pengunjung' adalah di ruang keluarga di depan kamar mandi.  Di situ aku melihat aneka model makhluk halus berkumpul.

Awalnya aku merasa tempat yang paling aman adalah di dalam kamar karena aku gunakan untuk melakukan shalat lima waktu dan membaca Al Quran, lalu Allah mementahkan anggapanku ini.  Pada suatu malam, para 'pengunjung' itu malah memenuhi kamarku ... hahaha.  Baiklah, aku tak punya pilihan lain selain harus selalu merasa bersama Allah di mana pun aku berada, tidak ada tempat yang sepenuhnya aman, tetapi semua tempat bakalan aman bila aku bersama Allah.

Aku juga mendapat pemahaman baru tentang strata spiritual atau tingkatan di dalam spiritualitasUntuk strata yang paling bawah, seseorang masih bertemu dengan jin, arwah, hantu dan semacamnya, karena frekwensinya selaras dengan itu semua.  Sedangkan strata menengah, mulai masuk di frekwensi malaikat dan arwah manusia suci.  Soal manusia suci ini jangan berpikir hanya para Nabi saja, karena bhiksu dan orang-orang bijak pun termasuk di sini.  Vibrasi mereka terasa banget, adem, melindungi dan menenangkan.  Di strata yang lebih tinggi lagi, hanya Allah yang dilihat, hanya bersama Allah, melihat apapun ya melihat Allah (tepatnya Ketuhanan), dalam spiritual Jawa disebut manunggaling kawula Gusti

Itulah latihan yang aku hadapi, lebih ke menata perasaan dan pikiran untuk selalu merasa bersama Allah, sampai di suatu titik aku merasa menyatu dengan Allah.  Al Quran Surat Qaf ayat 16 yang menuliskan bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher kita sendiri itu begitu nyata, kurasakan kedalamannya dan kualami sendiri.  

Perasaan menyatu ini adalah perasaan yang susah dilukiskan dengan kata-kata, bila kalian pernah merasakan bahagia, maka perasaan ini melampaui rasa bahagia, tidak ada rasa sedih dan khawatir, hati menjadi penuh kasih kepada semua hal seperti kasih sayang matahari yang tidak pilih kasih.  Hati auto nonjudgmental dan auto paham dengan orang lain, mengapa mereka begini dan begitu, mengapa mereka bilang ini itu atau mengapa mereka diam.  Dengan kata lain bisa melihat orang lain secara transparan, apa adanya, bukan untuk cari tahu atau kepo, tapi untuk memahami, menyayangi dan memberikan yang terbaik.

Ada perasaan menyatu dengan alam semesta, bisa melihat jagat gede atau makrokosmos dan jagat cilik atau mikrokosmos, keduanya luas tak terbatas, lalu keduanya bertemu di kedalaman diri kita, itu perasaan yang luar biasa indahnya.  Worth it banget untuk diperjuangkan, tapi kalau kalian menyepi tujuannya untuk mendapatkan ini, malah nggak dapet, intinya lakukan semuanya baik menyepi atau meramai karena Allah saja.  Pokoknya jadikan tujuan hidupmu untuk Allah saja, atau Tuhan, atau Gusti Allah, atau Sang Hyang Widi Wasa, atau Tao, Theos, entah kamu menyebutnya apa karena Allah mempunyai nama-nama yang terbaik.  Al Quran Surat Al Isra ayat 17 :

Katakanlah, "Serulah Allah atau Serulah Ar Rahman, dengan nama mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salat dan jangan merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu."

Ketika manusia di posisi menyatu dengan Tuhannya, dia auto memahami banyak hal, termasuk perbedaan kepercayaan dan agama, memahami bila yang menciptakan itu semua adalah Tuhan yang satu.  Menyatu dengan Tuhan, menyatu dengan alam, menyatu dengan manusianya juga.  

Yang aku maksud dengan menyatu dengan manusia adalah mencintai semua manusia seperti cintanya pada diri sendiri, lalu dirinya hilang karena dirinya adalah cinta kasih itu sendiri.  Diri hilang ini di dalam tasawuf Islam disebut fana.  Kalau sudah fana alias tidak ada, sudah tak ada rasa takut lagi 'kan?  Tidak ada takut, sedih, khawatir, tidak ada gejolak emosi, seperti udara, tiada tetapi ada dan menghidupi.

Begitulah kisah perjalananku menghadapi rasa takut.  Semoga bermanfaat ya.  Selamat tahun baru 2026, sahabatku semua, para pecinta diri sendiri.  Semoga tahun yang bakal kita tempuh memberi kita pengalamanku manis cinta yang terdalam yaitu cintaNya.  Aamiin. Love you all!







Selasa, 30 Desember 2025

Ketika Alam Menyentuh

 Ketika Alam Menyentuh

#kisahdarikebun


Suatu hari suamiku datang ke kebun, menengokku yang sudah seminggu sendirian di sana, sekalian menjemputku pulang. 


Ketika aku masuk ke kamar mandi, kulihat toilet bersih sih sih. Suamiku baru saja mandi.  Aku heran dong, karena aku belum membawa perlengkapan kebersihan ke kebun, jadi selama seminggu toilet kotor oleh tanah yang dibawa sandalku. Masih dalam rencanaku membawa sikat kalau balik ke kebun lagi. 


"Mas bersihin toilet pakai apa? " tanyaku. 

"Pakai daun", jawabnya santai. 

Aku spontan tertawa, karena itu ide yang tak pernah terpikirkan di benakku. Padahal setiap hari aku membersihkan alat makan pakai gulma sebagai pengganti sabun cuci dan spons, bisa kesat dan bersih loh. 

Padahal aku juga membuat jemuran pakai batang gulma yang menjulur itu karena tidak ada tali. 


Aku jadi teringat sebuah tulisan di Quora, pengalaman seorang gadis yang terpaksa hidup hemat karena keadaan ekonomi, dia mandi dan keramas pakai daun pandan wangi. 


Aku pun jadi berpikir, sebenarnya alam ini sudah menyediakan semua yang kita perlukan, arus modernisasi membuat kita lupa akan itu. Kita sering merasa terpisah dengan alam yang baik hati yang dengan kemurahannya menyediakan semuanya gratis. Kita mengharuskan ada sabun mandi, sampo, sabun cuci baju, sabun cuci piring, dll di setiap rumah, itu adalah standar rumah yang 'normal'. Padahal tanpa itu semua kita masih bisa hidup dan tidak mengganggu orang lain.


Bau badan? Bau mulut? Bagaimana dengan sereh, jamu kunyit asam, kemangi, yang terkenal mengurangi bebauan fisik kita. 


Bukan soal penghematan, tapi penggunaan bahan kimia yang mencemari air tanah. Karena di tengah-tengah kebunku ada mata airnya, dipakai kebutuhan rumah tangga termasuk memasak. Kukira penggunaan bahan apapun yang digunakan di atas tanah di sekitar mata air, pasti memengaruhi kualitas airnya. 


Entahlah bagaimana nanti, ke arah mana mengalirnya hidup ini. 


Walau tak terpikir hidup ala orang Badui, tetapi kehidupan mereka mengagumkan dan membuatku bersyukur masih ada komunitas yang menjadi inspirasi bagi dunia. 


Percayalah ketika alam menyentuh hati kita dengan lembut, di situ terasa betapa Maha Kasih-Nya Dia, terasa hangatnya kebahagiaan dalam pelukan kasihNya.  Seperti lautan yang selalu memeluk ombak.


Selamat tahun baru, Sahabat. 


#innuriinspirasi

#kebun

#simplelife

#desa

#hidupsederhana

#slowliving

Rumah

 Sering menginap di kebun membuat aku berubah persepsi tentang rumah. 


Dulu rumah adalah rumah seperti pemahaman kebanyakan orang. Sebuah bangunan dengan panjang kali lebar dengan ruang-ruang di dalamnya. 

Namun ada yang aneh kemarin, setelah 3 malam menginap di kebun, ketika masuk rumahku di Pakis Malang, aku merasa bangunan 150 m persegi ini mengurungku, dan aku merasa sempit. Padahal di kebun,  pondokku hanya berukuran 2 x 2,5 m, tapi aku malah merasa punya rumah yang luas, langit seperti atapnya, dan dindingnya adalah gunung dan bukit di kejauhan. 


Saat malam di pondok, aku bisa melihat kelip bintang dan rembulan yang seperti lampu bergantung di langit-langit rumahku. Aku tak perlu lampu buatan manusia apalagi lampu yang berkedip-kedip, karena ini lebih indah. 


Rumahku di kebun tak memerlukan lukisan di dinding, karena hiasannya adalah pemandangan asli, ada laut yang tampak di kejauhan, pepohonan, mendung, bias sinar mentari di langit sore, burung yang tidak mati dan diam di kanvas, tapi burung yang beterbangan bebas lengkap dengan kicaunya, bahkan berada dekat denganku. 


Lalu aku pelajari satu hal tentang rumah. 

Sejatinya rumah adalah tempatmu merasa aman dan nyaman. Bukan sebuah bangunan yang mengurungmu dengan segala fasilitas kehidupan di dalamnya. 


Ketika kamu menyadari bahwa rumahmu tak sebatas tembok yang mengitarimu, melainkan rumah alam semesta, maka ketika itulah kamu tak lagi merasa takut, karena semua adalah saudaramu di rumah bersama ini.


#rumahkebun

#kisahdarikebun

#rumah

#spiritual

#spiritualjourney

#kisahhikmah

#innuriinspirasi

Senin, 22 Desember 2025

Meromantisasi Tikus

Didi dan Dada, kucingku kami tinggalkan di kebun, ya kemarin sempat khalwat di kebun seminggu, balik ke Malang Didi Dada ditinggal biar berlatih berburu binatang liar.  Balik ke Malang, hasilnya rumah diserbu tikus, karena rumahku bukan kayak rumah orang-orang yang bisa tertutup rapat dari ujung ke ujung, rumahku banyak 'lubang'nya.  

Sudah empat kali aku dihampiri tikus di depan mataku, sudah kayak binatang peliharaan saja, pas nonton tivi, doi nongol sambil lirak lirik dengan wajah innocent.  Sudah dua kali beberes siram lantai, bongkar lemari, cuci isinya dan tata ulang ruang tivi, demi bersih-bersih kotoran tikus, itu di rumah belakang ya, belum termasuk gudang usaha suamiku di depan yang dulu warung Hepi.

Kebayang kan betapa jengkelnya perasaanku pada den mas tikus?

Nah, ternyata di situlah letak pelajarannya.  Semua yang hadir di dunia ini bukan hadir dengan kemauannya sendiri, dia hadir atas kehendak dan inisiatif dari Tuhan, aslinya dia adalah kiriman Tuhan.  Masak kiriman Tuhan ditolak?  Diterima saja.  Diterima bukan berarti dipersilakan menduduki rumah kita loh, maksudnya diterima itu ya jangan jengkel, tapi ditanya si tikusnya ini membawa pesan apa dari Tuhan?

Salah satu pesan yang mudah dipahami adalah dia mengabari aku bahwa aku terlalu banyak barang di rumah, jadi sudah saatnya bersih-bersih barang yang tidak diperlukan.  Dengan sedikit barang, tidak banyak ruang untuk bersembunyi si tikus.  Pesan kedua adalah agar aku lebih rajin bersih-bersih.  Pesan lainnya, jangan mudah jengkel dengan peristiwa yang njengkelin, pesan lainnya lagi ada sih, tapi biarlah menjadi rahasia di hatiku, jadi silakan penasaran ... haha.



Selasa, 02 Desember 2025

Kitab Suci Alam Semesta

 Dear para pecinta diri sendiri.

Ini adalah hari ke 10 aku menempuh khalwat 40 hari yang aku lakukan di rumah saja.  Ada sesuatu yang terjadi di hari ke tiga, yaitu kedatangan tamu dari Lombok.  Karena itulah aku mengalami sedikit distraksi, beberapa hari aku tidak membaca Al Quran padahal rencananya mengkhatamkan Al Quran sekaligus terjemahannya, juga melanjutkan mempelajari TAO dari channel Pak Hans di Youtube.  

Aku merasa khalwatku kali ini kok begini ya? 

Karena khalwatku yang pertama dulu aku benar-benar khalwat / menyendiri sekaligus uzlah (menjauh dari keluarga dan masyarakat), jadi kupikir dulu lebih intensif dan lebih 'benar'.  Tapi ternyata anggapanku ini perlu dikoreksi, karena muncul insight dari dalam yang bikin hatiku mak jleb dan mak cesss terasa sejuk tapi sekaligus masih bingung ... haha,

Begini insight yang aku terima.  Bahwa Al quran itu terbentang di alam semesta ini, membaca al quran secara harfiah adalah pandangan orang umum soal mempelajari Al quran, sedangkan bagi orang-orang khusus, membaca alam semesta ini pun membaca Al quran.  Atau dengan kata lain, kita bisa menemukan Al quran di setiap sudut alam semesta ini.  Jangan terpaku pada huruf-huruf yang tertulis di kitab suci, itu mempersempit pemikiran kita, karena alam semesta ini pun kitab suci.  Alam semesta ini adalah Al quran yang bisa dibaca dengan terang bagi hati yang mau membacanya.  Ya bacanya pakai hati, bukan pakai lisan, kadang butuh pemikiran dan logika juga, tapi musti berawal dari hati yang terbuka untuk menerima pesan-pesan suci dari alam.

Baiklah, coba kita berlatih membaca kitab suci di alam semesta dari kasus banjir Sumatra, apa yang terlintas di hati dan pikiranmu, Sahabat?  Lalu cocokkan dengan surat Ar Rum ayat 41 :

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Nah kan? Cocok kan dengan apa yang kita pikirkan?

Al quran itu selain terbentang di alam semesta, juga tersimpan di dalam jiwa manusia (Surat Al Ankabut ayat 49).  Kalau aku sendiri ngeh dengan ayat ini gara-gara Carl Gustav Jung di dalam teori ketidaksadarannya. Kata Jung  di dalam jiwa manusia ada ketidaksadaran pribadi yang merupakan memori yang dialami secara personal, di bawahnya lagi ada  ketidaksadarannya kolektif yang merupakan simpanan memori seluruh umat manusia.  Di dalam ketidaksadarannya kolektif inilah ada arketipe (cari sendiri di google ya apa itu arketipe)

Coba pikirkan, setiap manusia dari berbagai bangsa pasti setuju bila menolong orang yang sedang tenggelam itu adalah perbuatan baik.  Asalnya dari mana nilai ini?  Pasti sudah built in di jiwa manusia bukan? Berarti apa? Ya berarti benar Surat Al Ankabut ayat 49 itu kan?  Al Quran itu tersimpan di dalam dada orang-orang  yang diberi ilmu, bukan hanya orang Islam ya.  

Begitulah, semoga tidak membingungkan.  Aku sendiri masih belajar membaca Al Quran lewat alam semesta besar (jagat raya) Dan semesta kecil (jiwaku sendiri).  Allah pasti membimbingku dan membimbing kita semua menuju pemahamanNya.