Selasa, 27 Januari 2026

Horcrux dan Cahaya

 Apa itu kegelapan di dalam diri ? 

Menurut definisi Innuri berdasar pengalaman, kegelapan di dalam diri adalah segala sesuatu yang mengganggu perasaan dan pikiranmu.  

Ketika kamu merasa terganggu oleh suatu hal, orang atau peristiwa, itulah kegelapan, dengan kadarnya masing-masing tentu saja. Ada yang gelapnya begitu gelap, sampai tak bisa melihat apa-apa, itu gelapnya orang yang putus asa, ada yang gelapnya hanya samar seperti kabut, ada yang saking samarnya sampai tidak dikenali karena sudah terbiasa dengan itu.

Semua kegelapan dengan berbagai kadarnya, perlu banget untuk disingkapkan agar diri kita bisa merasakan pencerahan yang indah itu

Pencerahan itu sendiri susah dijelaskan kepada orang-orang yang belum pernah mengalami, karena itu hanya bisa dirasakan.  Bila bisa digambarkan dengan kata-kata, itu adalah kondisi jiwa yang sudah bersih, pandangan batin pun menjadi tajam, bening dan luas, merdeka, bebas dari belenggu, ikatan dan tekanan.  

Ibarat seorang budak yang sepanjang hidupnya berada dalam kendali tuannya, tidak punya hak atas dirinya sendiri, kemudian si budak mendapatkan kemerdekaan atas dirinya. Barangkali itulah yang bisa digambarkan dari jiwa yang merdeka, jiwa orang-orang yang tercerahkan. Jiwa yang sudah tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu, emosi, keinginan atau egonya. 

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Apa langkah praktis yang bisa ditempuh untuk menghapus kegelapan menuju pencerahan? Yang di dalam Al quran disebut, minadzulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya. Habis gelap terbitlah terang. 

Untuk menghabiskan gelap, ya harus mengenali gelap di dalam diri kita itu apa saja? Perlu proses panjang untuk habis sama sekali, bila gelapnya sudah bertumpuk-tumpuk , terpendam puluhan tahun, sejak kita kecil sampai di usia sekarang. 

Saranku, jangan membayangkan bila proses itu sulit dan tak mungkin, bayangkan saja sedang main-main menemukan Horcrux. Bayangkan berapa senangnya menghancurkan Horcrux dan naik ke level selanjutnya, semakin banyak yang dihancurkan, energi kita pun semakin kuat sedangkan musuh semakin lemah. Itu perjuangan yang menyenangkan bukan? 

Selanjutnya, ketika kamu sudah niat untuk bersih-bersih, maka alam semesta otomatis akan membantumu, Allah pasti membimbingmu langsung. Jadi mulai cermati setiap momen, kejadian, interaksi dengan orang lain, juga perbuatan dan perkataan orang lain padamu. Itu semua alat bantu untuk menemukan kegelapan dalam dirimu yang kita sebut saja si Horcrux. 

Contoh soal, saat orang lain mengatakan hal menyakitkan.  Jangan buru-buru marah atau menolak, tapi jaga jarak dengan reaksi batinmu. Lihat saja, seperti menonton sinetron dengan kamu dan orang itu sebagai pemeran, tapi kamunya fokus di kursi penonton. Dengan demikian emosi tidak akan menyeretmu semakin tenggelam ke dalam gelapnya, tapi kamu berada di atasnya, emosi pun reda dan kamu akan memahami sesuatu.  Sesuatu itu salah satunya adalah kegelapan emosi di dalam dirimu, itulah Horcruxmu. Berterimakasihlah pada peristiwa yang membuatmu menyadari hal itu.

Amati terus pergerakan batinmu setiap momen sehari-hari, bisa jadi kamu akan menemukan Horcrux yang lain, barangkali itu pelit, cinta dunia, masih melekat pada makhluk, terikat pada kenangan, khawatir akan masa depan, dll. Bila ini kamu lakukan setiap hari, maka kegelapan di dalam dirimu berangsur-angsur memudar, cahaya pun hadir dengan indahnya.  Cahaya yang bukan sembarang cahaya, tetapi cahaya yang dilukiskan di QS An Nur 35

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalam ya ada pelita besar.  Pelita itu di dalam tabung kaca, tabung kaca itu bagaikan binatang berkilau bak mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di Timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh API.  Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk menuju cahayaNya kepada orang yang Dia kehendaki.  Allah membuat perumpamaan=perumpamaan bagi manusia, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Semoga kita semua akan sampai pada cahayaNya.

Selasa, 13 Januari 2026

Tanpa Hisab

 Aku merenung dengan tanda tanya besar di kepalaku, setengah bingung juga, ketika seorang teman bilang,"Yang penting sekarang (maksudnya di usia senja) adalah memperbanyak ibadah untuk bekal mati."

Karena aku cukup dekat dengan temanku itu, aku tahu yang dia maksud bekal untuk mati itu adalah ibadah puasa, salat, zikir, membaca Al Quran, sedekah, dll.  Begitulah pemahaman kebanyakan orang, termasuk orang-orang di sekitarku yang rata-rata sudah berusia sekitar 60 tahunan (aku belum 60 tahun ya ... hehe).

Kenapa aku jadi bingung padahal itu hal yang wajar saja karena memang begitulah paham yang beredar di masyarakat muslim Indonesia?  Karena sebagian otakku membantah.  Orang-orang yang beranggapan seperti itu adalah orang-orang yang beribadah secara transaksional, alias ibadahnya tidak tulus.  Mereka berharap ibadahnya ditukar dengan surga, berharap lolos dari siksa neraka, berharap padang dalane jembar kubure.

Ibadah yang tidak tulus, tujuannya makhluk (mereka menganggap surga itu tempat, yang berarti makhluk) padahal Allah Maha Tulus, sudah memberikan segala-galanya bahkan tanpa kita minta loh.  Jadi renungkan ulang bila kamu juga beranggapan demikian.  Jika masih menganggap bahwa masa depan di akhirat harus 'dibeli' dengan serangkaian ritual ibadah, bukankah ini mirip dengan menganggap Allah pedagang?  Menganggap Allah adalah Tuhan yang tidak baik hati, bahkan bukti kebaikan dan anugerah Allah selama kita hidup di dunia ini belum cukup untuk membuatmu yakin bila Dia juga menjamin masa depanmu di akhirat.

Akar dari anggapan bahwa kebaikan Allah tak cukup membuat manusia yakin bila Allah menjamin masa depan akhiratnya adalah 'aku' atau ego yang segede gunung Himalaya.  Yang aku maksud keakuan di sini adalah merasa bila kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini adalah karena kerja keras dan doa-doanya.  Contohnya:

- aku mendapat kemudahan-kemudahan ini karena banyak bersedekah

- karena banyak melafalkan zikir tertentu, rejekiku dilancarkan Allah

- rajin puasa Senin Kamis membuat aku dilancarkan jodoh

- tahajud membuatku lebih tenang dan bisa menyelesaikan hutang-hutangku

- rajin membaca surat tertentu di Al Quran bisa melindungi dari marabahaya

- rajin membawa surat tertentu di Al Quran membuat dijauhkan dari kemiskinan

- dll cari contoh di dalam dirimu sendiri 

Begitulah yang kebanyakan aku baca di masyarakat sekitarku, sudah kental dengan anggapan bila kebaikan-kebaikan yang diterima di dalam hidupnya disebabkan ibadah-ibadah tertentu yang dia lakukan, alias 'aku' adalah penyebabnya, bukan Allah semata-mata.  Allah seperti harus 'disogok' dulu pakai ibadah bila ingin hidupnya nyaman, termasuk hidupnya di akhirat.

Pertanyaannya, memangnya tidak perlu melakukan ibadah ritual?  Saranku, minimal lakukan ibadah ritual untuk bersyukur, itu minimalnya, bila bisa beribadah karena cinta, karena mencintai Allah, itu lebih baik lagi.  Setelah itu yakin bila Allah pasti memberikan masa depan yang indah di akhirat, karena kamu sudah mengenal Allah.  Allah yang selalu memberikanmu kemudahan-kemudahan selama di dunia, pasti memberikanmu kemudahan di akhirat.

Di atas itu ada pemahaman yang lebih dalam, yang lebih indah, silakan disimak di bawah ini ya.

Sejatinya ibadah itu adalah sebuah sarana untuk mengenal, dekat dan menyatu denganNya.  Sebuah jalan panjang menembus kegelapan batin kita sendiri untuk menemukan cahayaNya.  Aku sebut jalan panjang karena itu kita lakukan sepanjang hidup kita di dunia ini.  Sepanjang hidup kita di dunia ini pula Allah selalu hadir memberikan bimbingan, tuntunan, mempertemukanmu dengan guru, termasuk mempertemukanmu dengan tulisanku ini.

Jadi fungsinya ibadah ritual adalah mempermudah perjalanan kita menembus kegelapan diri sendiri untuk bertemu dengan cahaya ilahi, Quran Al Baqarah 257, Al Maidah 16, Al Ahzab 53.

Ujung dari perjalanan panjang menembus kegelapan diri sendiri itu adalah cahaya Allah.  Bagaimana cahaya Allah itu digambarkan di Surat An Nur 35.

Seperti apa rasanya bertemu dengan cahaya Allah?  Bayangkan sebuah lampu lima watt ditaruh di bawah matahari yang lagi terang benderang, kelihatan nggak cahayanya?  Bahkan lampu seratus watt pun tak terlihat pancaran cahayanya di bawah sinar matahari.  Begitulah ibaratnya, saat bertemu Allah, diri sendiri hilang, yang ada hanya Allah.  Alias kehilangan ego, kehilangan aku, yang dilihat cuma Allah, termasuk diri sendiri,  yang dilihat dari diri sendiri hanya Allah.  Manunggaling kawula-Gusti. 

Dari sini aku jadi paham, atau dipahamkan Allah, kondisi masa depan akhirat bagi orang-orang yang sudah bertemu cahaya Allah ini adalah tanpa hisab, alias tanpa melalui proses pertanggungjawaban selama hidup di dunia.  Kenapa tanpa hisab?  Ya karena dia sudah kehilangan 'aku' nya, dia sudah meyakini bila Allahlah yang bekerja di dalam dirinya, bukan dia. Logikanya, bila sudah menganggap Allahlah yang melakukan segala sesuatu dalam dirinya, berarti Allah dong yang menghisab dirinya sendiri alias dia lolos dari upacara hisab di akhirat.

Sedangkan orang-orang yang masih kencang berpegang pada 'aku' , mereka inilah yang bakalan menempuh jalur hisab, di akhirat dia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.  Ya memang bakalan melelahkan proses yang harus dijalani, tapi itu kan pilihan mereka ya, karena Allah tidak menzalimi hambaNya.

Karena menjadi aku itu cukup melelahkan, maka aku mau hilang saja, biar Allah saja di dalam diriku.

Bahkan orang-orang yang sudah menyatu dengan Allah, dia bisa merasakan surga semasih hidup di dunia ini.  Ternyata surga itu bukan sebuah tempat.

Mungkin tulisanku selanjutnya adalah bagaimana proses ritual bisa menghilangkan kegelapan di dalam diri sendiri?  Ini penting dan sedikit sekali yang membahas.

Sabtu, 03 Januari 2026

Esa itu Tak Terpisah (1)

Pernahkah kamu merasa jatuh, sedih, gelisah, bahkan marah dan dendam karena seseorang menipumu, mempermalukanmu, menjatuhkan mentalmu dan semacamnya?  Intinya kamu sedang dalam posisinya dizalimi seseorang.

Bagaimana reaksimu?

Sadari bila setiap orang pernah mengalami hal itu, jadi kamu tidak sendirian.  Namun setiap orang berbeda-beda dalam menyikapinya.  Pengalaman sama, sikap adalah pilihan.  Maka pilihlah opsi yang paling menguntungkan dan membahagiakanmu.

Marah? itu bikini gampang kena tekanan darah tinggi.  Dendam? ini adalah kemarahan yang dipelihara, bisa bikin stroke malahan.  Sedih? rugi dong! wong orang yang menzalimi lagi seneng-seneng.  Gelisah? rugi juga.

Yang paling menguntungkan adalah menerima, tapi untuk sampai pada penerimaan yang benar-benar penerimaan, bukan hanya ucapannya di lidah, itu butuh proses.  Pengalamanku, proses yang paling cepat adalah menyadari bila dibalik sikap orang-orang itu ada Allah yang mengijinkan dan mengendalikannya.  Memangnya ada yang terwujud tanpa ijinNya di bumiNya ini?  

Itulah makna keesaan Tuhan,  jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, karena makhluk tidak berdiri sendiri, makhluk ada, bergerak, bertindak atau berkata-kata, semua itu tidak terpisah dengan ijin Tuhan.  Bila kamu sudah menyadari bila Tuhan tidak terpisah dengan makhluk, maka mudah bagimu untuk melangkah ke step berikutnya, yaitu apa maksud Tuhan dengan memperlakukanmu seperti itu?

Sejatinya setiap peristiwa dalam kehidupan seseorang adalah pesan Tuhan padamu.  Apa yang terbangkitkan di hatimu saat peristiwa itu terjadi, itulah PR-nya.  Bila kamu marah, maka kemarahanmu itulah yang harus diselesaikan, bukan pemicunya.  Pemicunya hanyalah alat bantu untuk melihat dirimu sendiri apa adanya, seperti cermin.  Jadi berterimakasihlah pada alat bantu, karena dia sedang membantumu.  Jadi berterimakasihlah pada peristiwa dan orang-orang yang berperan di dalamnya.

Berterimakasih pada penipu, pembohong, orang yang zalim? Mungkin di hatimu masih ada pemberontakan seperti itu.  Sadari lagi bila hatimu masih penuh amarah, sadari bila kamu tidak bahagia dengan sikap yang kamu pilih, sadari bila marah dan memberontak pada Tuhan bukanlah sikap yang menguntungkan buatmu.

Teruslah berproses sampai kamu mendapatkan hati yang damai, ikhlas menerima dan berterimakasih pada Tuhan, sampai pada ujungnya muncul rasa cinta kasih pada Tuhan dan pada orang yang menzalimimu. 
Bila sudah demikian, aku ucapkan selamat karena kamu telah lulus kelas akselesari.

Catat pelajaran ini di hatimu, jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, itulah makna terdalam dari  keesaan Tuhan.