Dulu aku melakukan meditasi untuk berbicara dengan Tuhan yang aku panggil Allah itu. Caranya, aku merem, mengendapkan segala sesuatu yang bersliweran di pikiranku hingga bening, lalu arah perhatianku aku tujukan ke hati yang terdalam. Aku menyebutnya 'klik dengan Allah'. Setelah 'klik' , aku bicara apa pun yang ingin aku sampaikan. Begitulah yang aku lakukan berpuluh tahun lamanya.
Lalu kemudian aku menyadari bila tak perlu seperti itu (walau cara seperti itu juga tidak salah), karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengerti, Maha Memahami. Setiap apa pun yang terbersit di hatiku, Dia tahu dan aku juga bisa mengerti jawaban yang Dia sampaikan padaku lewat alam dan peristiwa.
Lalu kemudian aku mengalami fana dan wushul, kesadaran bila diri ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah. Ini adalah puncaknya, hal terindah yang bisa kucapai yang aslinya bukan aku, melainkan Allah yang mewujudkan semua ini.
Jadi, aku mengalami beberapa tingkat kesadaran yang pada puncaknya adalah wushul yang indah itu, diri sudah tidak terpisah dengan Tuhan. Inilah makna "Allah meliputi segala sesuatu".
Allah meliputi segala sesuatu itu berarti Allah berada di dalam dan juga di luar diri. Sementara meditasi yang aku lakukan untuk berbicara dengan Allah itu berarti aku merasa Allah hanya bisa ditemui di dalam atau di diri yang terdalam. Seperti halnya pelajaran spiritual yang sering aku dengar dan itu tidak salah, karena ada tahap demi tahap juga di dalam perjalanan spiritual setiap manusia.
Ada pula yang menganggap Allah itu di langit, dengan menyebut kata "Tuhan di atas sana". Mereka berdoa dengan menengadahkan wajah (banyak kita saksikan di sinetron-sinetron), seolah mengemis pada Allah yang di atas sana sedangkan dirinya di bawah sini. Berdoa seperti ini berdoa yang berlandaskan pada keterpisahan antara hamba dan khaliq. Aku tidak bilang ini salah ya, sekali lagi kukatakan bila setiap orang punya tahapan spiritualnya masing-masing sesuai ketetapanNya, bukan soal salah atau benar.
Namun bila di dalam Al Quran disebutkan bila Allah itu lebih dekat daripada urat leher kita dan tertulis juga bila Allah meliputi segala sesuatu, maka alangkah indahnya bila kita mau membuka hati dan berhijrah dari "keterpisahan dengan Allah" menuju "kebersatuan dengan Allah". Ini berarti selangkah naik ke level iman yang lebih tinggi.
Menyadari bila Allah berada di dalam dan di luar, membuat kita merasa selalu terhubung denganNya di setiap waktu. Seluruh aktifitas hidup ini sudah merupakan meditasi dan percakapan dua arah antara hamba dengan Tuhannya, bahkan tak terpisah karena keduanya sudah berada di satu titik yang sama. Bukan hanya pemahaman bila "Allah meliputi segala sesuatu", melainkan mempraktekkan, melakukannya setiap hari.
Hasilnya adalah kehidupan yang indah, kebahagiaan sejati, dalam bahasa Yunani disebut eudamonia.