Rabu, 30 September 2026

Allah di Dalam dan di Luar

 Dulu aku melakukan meditasi untuk berbicara dengan Tuhan yang aku panggil Allah itu.  Caranya, aku merem, mengendapkan segala sesuatu yang bersliweran di pikiranku hingga bening, lalu arah perhatianku aku tujukan ke hati yang terdalam.  Aku menyebutnya 'klik dengan Allah'.  Setelah 'klik' , aku bicara apa pun yang ingin aku sampaikan.  Begitulah yang aku lakukan berpuluh tahun lamanya.

Lalu kemudian aku menyadari bila tak perlu seperti itu (walau cara seperti itu juga tidak salah), karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengerti, Maha Memahami.  Setiap apa pun yang terbersit di hatiku, Dia tahu dan aku juga bisa mengerti jawaban yang Dia sampaikan padaku lewat alam dan peristiwa.

Lalu kemudian aku mengalami fana dan wushul, kesadaran bila diri ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah.  Ini adalah puncaknya, hal terindah yang bisa kucapai yang aslinya bukan aku, melainkan Allah yang mewujudkan semua ini.

Jadi, aku mengalami beberapa tingkat kesadaran yang pada puncaknya adalah wushul yang indah itu, diri sudah tidak terpisah dengan Tuhan.  Inilah makna "Allah meliputi segala sesuatu".  

Allah meliputi segala sesuatu itu berarti Allah berada di dalam dan juga di luar diri.  Sementara meditasi yang aku lakukan untuk berbicara dengan Allah itu berarti aku merasa Allah hanya bisa ditemui di dalam atau di diri yang terdalam.  Seperti halnya pelajaran spiritual yang sering aku dengar dan itu tidak salah, karena ada tahap demi tahap juga di dalam perjalanan spiritual setiap manusia.

Ada pula yang menganggap Allah itu di langit, dengan menyebut kata "Tuhan di atas sana".  Mereka berdoa dengan menengadahkan wajah (banyak kita saksikan di sinetron-sinetron), seolah mengemis pada Allah yang di atas sana sedangkan dirinya di bawah sini.  Berdoa seperti ini berdoa yang berlandaskan pada keterpisahan antara hamba dan khaliq.  Aku tidak bilang ini salah ya, sekali lagi kukatakan bila setiap orang punya tahapan spiritualnya masing-masing sesuai ketetapanNya, bukan soal salah atau benar.

Namun bila di dalam Al Quran disebutkan bila Allah itu lebih dekat daripada urat leher kita dan tertulis juga bila Allah meliputi segala sesuatu, maka alangkah indahnya bila kita mau membuka hati dan berhijrah dari "keterpisahan dengan Allah" menuju "kebersatuan dengan Allah".  Ini berarti selangkah naik ke level iman yang lebih tinggi.

Menyadari bila Allah berada di dalam dan di luar, membuat kita merasa selalu terhubung denganNya di setiap waktu.  Seluruh aktifitas hidup ini sudah merupakan meditasi dan percakapan dua arah antara hamba dengan Tuhannya, bahkan tak terpisah karena keduanya sudah berada di satu titik yang sama.  Bukan hanya pemahaman bila "Allah meliputi segala sesuatu", melainkan mempraktekkan, melakukannya setiap hari.  

Hasilnya adalah kehidupan yang indah, kebahagiaan sejati, dalam bahasa Yunani disebut eudamonia.


Sabtu, 26 September 2026

Pelajaran Dari Gunung ( 2 )

 Malam ini kunikmati rasa kemeng-kemeng alias njarem-njarem (apa sih bahasa Indonesianya?) di kakiku setelah sore tadi baru tiba dirumah setelah naik ke puncak Prawita Gunung Penanggungan.  

Kurasa Allah memberi nama gunungnya pas banget, Penanggungan, karena tak tertangungkan deh rute nanjak curam, ekstrim pula, dan tidak ada alat bantu berupa tali atau tangga seperti halnya di Gunung Kelud. Benar-benar mengandalkan kaki tangan cantik ini. 

Lah sudah tahu kalau ini gunung bukan buat manula ngapain ke sana Innuri?  Haha, jawabannya pasti karena kehendak Allah.

Kamis malam tgl 24 september 2026, sebelum berangkat naik, sebenarnya aku ragu banget, betulkah ini petunjuk Allah agar aku naik gunung Penanggungan yang katanya bukan untuk pemula?  Apakah ini hanya kehendak hawa nafsuku saja?  Manalah lagi kami berencana untuk nge-camp dan aku mulai berlatih membawa beban sambil mendaki. 

Pikiranku sudah macam-macam, bagaimana nanti bila terjadi sesuatu padaku?  Aku bakalan merepotkan orang banyak dan pasti ada komentar sinis dari teman-teman yang biasa sinis dengan kegemaran naik gunungku belakangan ini?  

Maka malam itu aku mengendapkan pikiranku lagi, menjernihkan diri lagi, agar lebih jelas, apakah kehendak Allah ataukah kehendak hawa nafsuku saja.  Bila ternyata ini bukan kehendak Allah, aku siap untuk tidak jadi berangkat.  Sampai akhirnya aku yakin bila ini adalah kehendak Allah.  

Biar tidak kaget, paginya aku melatih diri membawa beban.  Dengan ransel di punggung, aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan menyiapkan perbekalan mendaki sampai aku merasa yakin dengan beban seberat ini aku bisa menempuh perjalanan ini.

Bila ini sudah kehendak Allah, aku pasti berangkat dan pulang dengan selamat.  Itulah keyakinanku.

"Kamu harus selalu merasa bersama Allah dalam keadaan apa pun," kata suamiku.  Aku mengangguk setuju.

"Kamu tahu bedanya menyuruh Allah dengan mengagungkan Allah?" tanya suamiku, aku terpana mendengar pertanyaannya.  Aku cuma melongo, maka dia jawab sendiri.

Ketika manusia berdoa, pada hakekatnya dia sedang 'menyuruh Allah' alias memerintah Allah. Pemahaman ini pemahaman yang halus banget.  Misal sebelum naik gunung, aku berdoa memohon pada Allah untuk memberiku keselamatan sampai pulang kembali dengan selamat.  Kebanyakan orang melakukan hal seperti ini 'kan? Buat orang seperti suamiku, dia tidak melakukannya, tapi dia selalu mengagungkan Allah.

Mengagungkan Allah yang dimaksud adalah perasaan Allah selalu membersamainya setiap saat hingga di hatinya selalu mengagungkan asmaNya di setiap detak jantungnya.  Allah menyatu, karena Allah lebih dekat dari urat leher.

Merasa menyatu dengan Allah itu sudah melampaui doa-doa, semuanya menjadi ringan saja dan semuanya menjadi indah saja.  KarenaNya juga aku berangkat naik gunung, menyelesaikan segala kesulitan di sana dan pulang dengan selamat.

( bersambung )


Kamis, 24 September 2026

Ahli Harta Dan Ahli Perbuatan Baik

 Pada Rabu 23 September 2026, Allah mempertemukanku dengan dua orang yang saling berkebalikan, aku seperti diperlihatkan pada dua dunia yang berbeda di atas bumi yang sama.  Dalam rangka menengok saudara yang sakit, ya dua orang itu, di dua kota yang berbeda, bersama mas Hary, bulik Tun, dan kakak iparku suami istri.

Yang seorang kondisinya kaya raya, mengelola perusahaan bersama anak dan menantunya.  Kaya rayanya itu rumahnya di kawasan elit di kota itu dan rumahnya dua deret ... haha. Aku melihat keluarga ini 'dipenjara' di dalam kekayaannya.  Secara mata awam mereka adalah keluarga yang berhasil dengan kesuksesan duniawi, tapi mata khusus bisa melihat bila mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.  Mereka hanya jalan di tempat, dimana harta benda memenjarakan mereka, sementara mereka menyangka bila mereka telah sampai.

Padahal mereka mendapatkan materi secara halal, entah bagaimana dengan orang-orang yang mendapatkan harta secara haram seperti para koruptor misalnya.

Pelajaran yang bisa kita petik adalah jangan merasa sudah selamat dunia akhirat ketika kita mendapatkan nafkah  secara halal.  Itu tidak cukup.  Ketika kamu merasa sukses berkat doa dan usaha kerasmu, kamu sudah meletakkan sebab pada doa dan usaha, bukan pada Allah sepenuhnya.  Doamu hanya kamu pakai sebagai 'alat tukar' untuk keberhasilan duniawi yang ingin kamu raih.  Kamu hanyalah penyembah materi,  Kamu tidak akan kemana-mana, kamu akan dibuat sibuk dengan materi yang kamu sangka itulah kebahagiaan.  Kamu merasa telah sampai padahal kamu jalan di tempat.

Kisah yang seorang lagi kondisinya berkecukupan, mantan pejabat yang pernah menawari aku atau suami jadi PNS tapi kami berdua nggak ada yang mau.  Beliau termasuk pejabat yang jujur dan lurus, makanya kayanya ya kaya yang biasa saja, rumahnya satu di perumahan,  Di masa pensiunnya beliau menjadi Pak RT dan menjadi bendahara masjid yang beliau kelola secara serius dan professional sampai masjidnya bisa berkembang memberi banyak manfaat untuk umat. 

Pak mantan pejabat ini hidupnya fokus di perbuatan baik, orangnya altruis dan melihat segala sesuatu dengan positif.  Usianya sudah 89 tahun tapi daya ingat masih kuat, masih mandiri dan termasuk sehat untuk orang seusianya.  Beliau habis kepleset di masjid dan patah tulang, dioperasi dan kondisinya terus membaik.

Apa yang aku lihat dari Bapak mantan pejabat ini adalah beliau dan istrinya adalah ahli surga! MasyaAllah.  Hati yang baik dan fokus hidupnya untuk beribadah kepada Allah dengan perbuatan baik, ternyata menjadikan seseorang dipilih surgaNya.

Semoga yang aku lihat Rabu kemarin bisa memotivasimu untuk selalu berbuat baik ya, sahabat Innuri.  Bagaimanapun juga kehidupan di dunia ini bakalan kita tinggalkan.

Selasa, 22 September 2026

Ketika Kasih Sayang Berbalas Rasa Sakit



Aku membagikan status begini di Facebook :
Setiap hari berdoa, "Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus." Tapi apakah tahu tandanya bila sudah berada di jalan yang lurus?
Adalah ketika hatimu berada di zona kasih sayang terus menerus.
Kamu berbuat sesuatu karena kasih sayang.
Kamu melihat segala hal dengan mata penuh kasih.
Kamu berkata-kata atau diam karena kasih sayang.
Sesederhana itu.


Gara-gara postingan itu ada yang bertanya begini. "Mbak In, aku sudah bertindak menolong orang karena kasih sayang, tapi kok balasannya tidak menghargai, jangankan ucapan terima kasih, malah diketusin, 'kan jadi sedih."

Kamu pasti sudah hapal dengan jawaban kayak gini, "Tugas kamu cuma berkasihsayang dan sudah, urusan balasan orang lain itu urusan dia dengan Tuhan." Itu jawaban klasik tapi nggak menghilangkan rasa tidak enak di hati gara-gara diketusin orang 'kan ya? Apalagi diketusin setelah kita nolong dia.


Ada dua cara untuk menyelesaikan hati yang tidak enak itu.


Cara pertama.
Sedihmu itu karena emosimu masuk ke dalam peristiwa, biar nggak sedih maka emosimu harus 'dipisahkan' dengan peristiwa. Kayak lagi nonton film itu loh, nonton film kan sedihnya pura-pura, wong tahu kalau filmnya bohong. Jadi tonton saja peristiwanya tanpa emosi kamu terseret ke dalamnya. Atau tonton juga perasaanmu yang gak enak itu sampai minggir sendiri.


Cara kedua.
Rasa tidak enakmu itu bisa jadi karena ketularan perasaan orang yang ketus sama kamu alias terpapar energi negatif orang toxic. Biasanya orang-orang yang peka mudah sekali tertular energi orang lain. Cara mengatasinya cukup dengan disadari saja. Maksudnya kamu sadar bila perasaan tidak enak ini bukanlah perasaanmu, ini adalah paparan energi negatif orang lain.  Sadari saja terus sampai perasaanmu netral lagi.


Nah, kedua cara yang aku tulis di atas endingnya sama, kamu jadi jatuh kasihan sama orang yang sudah ketus sama kamu, kamu bisa tahu betapa menderitanya dia. Kamu jadi bisa meneropong perasaan orang lain lalu muncul rasa kasih sayang.


Akan tetapi kedua cara di atas merupakan 'ketrampilan batin', maka perlu dilatih terus menerus. Awalnya bisa saja butuh waktu lama untuk sampai pada munculnya rasa kasih sayang, bila dilatih terus, maka akan semakin cepat untuk sampai pada rasa kasih sayang itu.


Ada pertanyaan lain?


Jumat, 18 September 2026

Pelajaran Dari Gunung (1)

 Ternyata mendaki gunungpun merupakan perjalanan spiritual, perjalanan suci, yang ketika di hati kita ada hal yang bengkok, maka akan diluruskan nggak pakai lama.

Kamis kemarin aku dan mas Hary naik ke bukit Budug Asu di Singosari, pakai sepatu baru, sepatu yang memang buat trekking.

Sebelumnya aku naik gunung pakai sepatu sepak bola karet lima puluh ribuan  ... haha, pasalnya sepatu bola seperti itu yang dipakai Cak Saidi dan Cak Siaman di kebun yang berbukit dan terjal itu.  Aku suka heran melihat mereka berdua naik turun kebun tanpa mengalami kepleset meski di musim hujan, aku mendapati rahasianya terletak pada  sepatu lima puluh ribuan.  Maka di benakku ide itulah yang muncul, mendaki pakai sepatu seperti sepatu mereka.

Suamiku sudah menganjurkanku pakai sepatu trekking yang tepat, tapi aku ngotot nggak mau. "Daripada beli tapi nggak aku pakai," kataku.

Lalu ketika aku mendaki gunung Kelud beberapa minggu kemarin, kakiku lecet karena sepatu karetnya kurang lembut untuk berjalan jarak jauh, makanya aku nyerah dan minta suamiku membelikanku sepatu trekking.

Di situlah pelajarannya.

(bersambung)

Ketika naik tanjakan demit yang kemiringannya sekitar  60 derajat dengan kontur tanah yang berdebu, aku menyadari ternyata sepatu ini amat membantuku tetap stabil, tidak kepleset di medan demikian.  Maka aku bilang, "Mas, sepatunya bagus nih, lihat aku berpijak di tanah tanpa kepleset."  Aku bilang begitu sambil memperagakan caraku berdiri di kemiringan tanah yang berdebu, merasa percaya diri sepatu ini bikin aku selamat melewati tanjakan demit.

Tak lama kemudian tanah yang kupijak runtuh dong, aku kepleset, tubuhku jatuh terduduk lalu berbalik ke belakang dan meluncur dengan manis ke bawah.  Aku cuma bisa bilang, "Allahu Akbar." sambil merem pasrah.  Debu beterbangan dan aku sudah berada di depan suamiku yang tadi di bawah.  Aku bangkit pelan-pelan dibantu suamiku, meneruskan perjalanan dan menyadari kesalahanku.  Lengan kiriku terasa perih, ternyata tegores baju selama meluncur bebas tadi.

Bukan sepatu yang menjamin keamanan seseorang, melainkan Allah.  Aku tidak boleh menaruh rasa amanku pada sepatu yang tepat.  Bukan berarti aku boleh pakai sandal waktu naik gunung, aku tetap pakai peralatan naik gunung yang tepat, yang tidak boleh adalah "meletakkan rasa aman pada alat".  Rasa aman itu hanya boleh diletakkan pada Allah saja.

Pelajaran kedua.

Sebelum mendaki Budug Asu, aku lihat reviewnya di YouTube dan aku merasa bukit ini bisa aku tempuh karena medannya lebih mudah  dibandingkan Kelud yang cukup menantang.  Ternyata perasaan seperti itu artinya 'meremehkan gunung', itu pantangan besar bagi para pendaki kukira.  Jangan meremehkan gunung, itu artinya di hati kita ada kesombongan yang halus.  Orang yang sombong pasti mendapat balasannya dan aku sudah dibalas tunai.

Yang membuat kita mampu melakukan apa pun adalah Allah, bukan pengalaman, bukan latihan, bukan kekuatan diri karena tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari Allah.

Bukan berarti kita tak perlu berlatih loh, kita berlatih juga, tapi dengan pemahaman 'Allah yang menggerakkan kita berlatih'.

Jadi ... 

Jangan meremehkan apa pun dan siapa pun, bukan hanya soal gunung.

Jangan sombong ya Innuri.  Goresan luka di siku kirimu itu semoga menjadi pengingat bila kamu pernah main perosotan di Budug Asu.



Minggu, 13 September 2026

Ketika Allah Menunjukkan KebesaranNya

Pada Sabtu 5 September 2026, dalam perjalanan dari Malang ke Ngantang, tiba-tiba saja aku ditelepon istri almarhum temanku dari Ngantang.  Telepon yang tidak biasa, karena orangnya jarang sekali menelepon, seingatku hanya sekali dia menelepon hanya untuk memberitahu dia sudah punya telepon genggam, lalu telepon kedua di hari itu hanya untuk berkabar.  Dia cerita soal anaknya yang naik Gunung Kelud, itulah awal kisah dua lansia naik ke puncak Gunung Kelud.

Sampai di Ngantang aku jadi kepikiran pingin naik Gunung Kelud juga ... haha, barangkali telepon temanku yang tidak biasa itu merupakan petunjuk Allah.  Lalu aku cari-cari review naik ke Gunung Kelud di internet, yang kesimpulannya jalur paling ramah pemula adalah via Karangrejo Blitar.  

Ketika aku sampaikan keinginanku pada suamiku, dia sempat ragu, tentu saja yang dia ragukan adalah aku.  Lalu aku bilang, " Allah mau menunjukkan kebesaranNya pada kita, Mas."  Itulah petunjuk yang aku terima di hatiku.  Suamiku setuju, maka kami berdua berangkat dari rumah Ngantang Sabtu 12 September , semingguan setelah ditelepon temanku itu. Berangkat dari Ngantang habis subuh, tektok, pulangnya ke rumah bandara, karena sudah dua mingguan tidak urusi rumah sana.

Sampai di Basecamp Karangrejo jam 7 lebih, kondisi jalan di depannya sedang dicor, jadi hanya bisa satu mobil yang lewat.  Lalu naik ojek sepeda trail ke POS 1, ini jadi petualangan tersendiri, seru!  Jalannya berbatu dan berdebu, yang tidak kusangka sama sekali, jadi di tengah jalan baru pakai masker, mana pak ojeknya ngebut lagi, jadi kayak dibonceng Valentino Rossy ... haha.

Singkat cerita, Allah menepati janjiNya, menunjukkan kebesaranNya padaku, pada kami berdua.  Sepanjang perjalanan ketemu sama kebesaran Allah, mendekati puncak dibuat terpukau oleh batu-batu super gede yang warna-warninya indah banget, bahkan puncaknya itu batu thok kurasa, setelah itu takjub dan syukur melihat kawah hijau yang amat indah di kedalaman yang amat dalam.  Menyaksikan sendiri memang jauh berbeda dengan melihatnya di foto atau video.  Rasanya aku seperti dimasukkan dalam lucid dream, padahal ini nyata.  Atau barangkali Allah sedang bicara padaku bila pemandangan indah seperti di dalam lucid dream yang pernah aku alami suatu saat akan jadi nyata, itu semua mudah bagi Allah.

Bukan hanya kebesaranNya yang tampak mata, tetapi juga proses yang terjadi di dalam tubuhku sendiri, yang sudah manula ini, bagaimana tubuhku belajar mengatur napas dan langkah kaki.  Betapa ajaib kekuatan tujuan "Allah mau menunjukkan kebesaranNya", itulah alasan paling kuat untuk terus melangkah.

Bagiku yang pendaki pemula ini adalah pendakian ekstrim, awal bertemu dengan jalur tangga dan jalur tali, kukira itu sudah paling berat, ternyata ada jalur tangga yang lebih berat dan ketika mendekati puncak kawah, ada jalur tali di atas bebatuan terjal, kemiringannya udah di kisaran 60-80 derajat.  Suamiku sampai memberiku 'kursus kilat' tehnik panjat tebing.

Pulangnya lebih sulit kukira, turun dari bebatuan terjal itu membutuhkan tehnik tertentu, banyak pendaki cewek jejeritan di fase ini, sampai suamiku ikut memberi arahan pada si mbak-mbak yang takut turun.  Salah tehnik bisa kebanting atau melorot atau meluncur tanpa ampun ke bawah.  Aku sempat ketemu pendaki yang keseleo sampai digendong temannya.  Pas di bawah aku juga dengar kabar ada yang cedera sampai perlu dievakuasi.

Kuncinya adalah merasa selalu bersama Allah, itu memberi ketenangan, rasa aman dan menyelesaikan rasa takut.  Dengan perasaan yang yakin, semua akan berjalan baik karena dituntun Allah.  Itulah kuncinya yang membuatku naik dan turun dengan selamat.   Sayangnya aku tak bisa membagikan tips ini kepada cewek-cewek seperjalanan yang bolak balik memujiku, bahkan mereka tak menyangka bila umurku 60 tahun.  Dikira 16 tahun barangkali .... haha.

Oleh-oleh perjalananku ke Kelud ini aku dokumentasikan di Youtube, bisa dibuka di sini  ya sekedar untuk menyimpan cerita buat diriku sendiri sih, jadi asal merangkai foto dan video saja, volume suaranya juga kecil banget, perlu naikkan volume sampai mendekati maksimal untuk bisa dengar suaranya. 

Sekian ceritaku.  Salam kasih dari dekat bandara Abd Saleh.

Kamis, 10 September 2026

2 Rahasia Untuk Menjadi Pasangan Bahagia

 Minggu kemarin ke Tumpak Sewu dan Gua Tetes.  Pas aku dan suami mencoba berswafoto,  serombongan anak muda lewat di depan kami.

"Saya fotoin, Bu," katanya. Lalu dia memotret kami berdua, setelah itu memvideo kami berdua sambil bilang,"Pasangan yang bahagia."  Kaget aku mendengar dia bilang begitu, kok tahu kalau kami pasangan yang bahagia?  Begitu mudahnya orang lain menangkap kesan bila kami pasangan yang bahagia, banyak orang bilang begitu.  

Dan sayangnya kebanyakan dari mereka bilang,"Bunda dapat suami yang sabar sih."  Jadi orang-orang meletakkan penyebab kebahagaiaan pada 'suami yang sabar'.  Padahal semuanya dari Allah saja.

Kebahagiaan dalam berumah tangga itu berproses, nggak ujug-ujug begitu menikah langsung happily ever after kayak cerita dongeng.  Proses penyesuaian diri dari dua individu yang berbeda itu butuh waktu dan butuh belajar, hingga ketemu resep yang paling cocok untuk kami berdua.  

Ada dua hal yang aku rasa perlu jadi perhatian bila kalian ingin bahagia bersama pasanganmu, hanya dua resep rahasia saja.

- Jangan berusaha mengubah pasanganmu - Ini adalah poin pertama.  Kamu capek sendiri bila ingin mengubah orang lain.  Bagaimana bila dia suka mabuk, judi, dan wanita? Ya jangan diubah, tinggalin saja, alias cerai.  Seumur hidup terlalu lama buat bersanding dengan pasangan toxic.  Jangan berusaha mengubah pasanganmu, ini berlaku bila pasanganmu tidak neko-neko tapi punya kebiasaan yang njengkelin atau ada sikap yang tidak sesuai dengan maumu.  Negur boleh, yang penting hatimu jangan berharap dia berubah, itu melelahkan.  Ubah dirimu sendiri, maka pasanganmu ikut berubah.

- Jangan berharap dia membahagiakanmu - Ini poin kedua. Berharap orang lain membahagiakanmu itu bikin capek, mau bahagia ya bahagia saja, gitu saja kok report ... hehe.  Bahagia itu dari dalam, bila hatimu damai, ya kamu bahagia, bila hatimu dekat dengan Allah, kamu pun bahagia.  Urusan bahagia adalah urusanmu dengan dirimu sendiri, bukan dengan orang lain, bukan pula dengan pasanganmu.  Tahukah kamu saat hatimu tidak berharap dibahagiakan oleh pasanganmu, justru dia menjelma jadi 'power rangers' yang mengusahakan apa pun untuk membahagiakanmu.  Ssttt ... ini rahasia ya, kalau tidak bolo tidak aku kasih tahu .

Begitulah ceritanya, aku jadi ingin dengar ceritamu setelah mempraktekkan dua hal di atas.


Rabu, 09 September 2026

Dihukum Oleh Dirinya Sendiri

 "Apa sih hukuman buat orang yang jahatnya ampun-ampunan?" tanyaku spontan.

"Ya menjadi jahat itulah hukumannya," jawab suamiku sambil tertawa.

"Hmm iya ya, jadi jahat 'kan nggak enak," kataku.  Bukan hanya nggak enak saja kurasa, menjadi jahat itu siksaan, semakin jahat semakin berat siksaannya.  

"Tapi mereka itu loh hidup enak, berlimpah materi, kerjaannya keliling dunia nengok aset-aset mereka di luar negri," mungkin begitu katamu.

Eh, siapa bilang orang berlimpah materi itu enak?  Innuri pernah tuh beberapa tahun dekat dengan keluarga super kaya Jawa Timur, hidupnya juga penuh persoalan tuh.  Karena berlimpahnya materi, persoalannya bukan soal kekurangan materi, bisa jadi rebutan materi atau apalah apalah, pokoknya jangan ukur enak dan tidaknya hidup itu dari materi.

Innuri pernah nonton film perang, lupa judulnya, tapi ada bagian yang menceritakan tentang penderitaan para tentara usai perang, penyebabnya bukan luka fisik, melainkan karena luka batin dikejar-kejar perasaan bersalah telah membunuh banyak orang.  Itu siksaan batin yang luar biasa sampai membutuhkan terapi khusus bertahun-tahun setelahnya.

Innuri juga pernah 'nonton' perasaan orang lain yang jahatnya masih di level tetangga, soalnya aku sering dijahatinya, jadi aku coba lihat gimana sih isi hatinya.  Ternyataaaa, hatinya itu penuh kabut hitam-hitam gitu deh, nggak pernah tenteram, dia selalu merasa terancam dengan apapun yang dilakukan orang lain.  Merasa terancam yang aneh dan tidak masuk akal, seperti tidak ada alasan untuk terancam tapi dia merasa terancam.  Bingung ya?  Contoh sederhananya kalau tetangganya terlihat lebih kaya dia gelisah, itu baru contoh sederhana, nah dia ini lebih kompleks dari itu.  Dia juga selalu sibuk mencari pengakuan dari orang lain, bahasa sekarang sibuk cari validasi, jadi repot banget 'kan?

Jadi ujung-ujungnya aku merasa kasihan banget sama dia.  Masak Innuri pelihara ayam hias yang kecil cantik dan lucu itu, ayam Kate ya namanya, dia protes dan marah-marah, katanya ada gurem yang masuk ke kamarnya dan membuatnya gatal-gatal.  Aneh nggak?  padahal di rumahku nggak ada gurem sama sekali. Dan banyak lagi persoalan yang dia ada-adakan demi bisa marah-marahin Innuri.  Sudah kebayang betapa menderitanya dia?

Jadi aslinya orang-orang jahat itu, dia sudah dihukum oleh dirinya sendiri.  Kalau sudah tahu akan hal ini, ketika dijahati orang, reaksi kita bukan marah kok, tapi malah kasihan banget, karena bisa melihat hatinya yang penuh rasa sakit sampai berusaha menyebarkan rasa sakit itu ke orang lain.  

Paham 'kan Innuri? Aku ngangguk-angguk sendiri ... hehe.

Bagaimana menurutmu?

Selasa, 08 September 2026

Mengapa Membersihkan Diri itu Penting?

 "Sulit untuk memaafkannya, Mbak.  Kok enak di dia ya, dia sudah membuat hidupku begini berantakan,"  katanya.

Bukan hanya sulit memaafkan, sulit untuk tidak marah, sulit untuk tidak mendendam, sulit untuk tidak membenci. 

Ehm ehm ... kok terdengarnya seperti minum racun tapi berharap orang lain yang mati.  Maaf kasar ya Innuri. 

Andai kalian tahu betapa enak dan ringannya perasaan yang sudah terbebas dari segala emosi negatif itu, pasti kalian akan tempuh perjalanannya walau mendaki dan sukar.

Kenapa sih membersihkan diri dari sampah emosi itu penting?  Mengapa berdamai dengan semua hal di masa lalu, sekarang atau masa depan itu penting?  Karena bila kamu pelihara segala kemarahan dendam dsb itu semua merugikan dirimu sendiri.  

Coba baca kerugian dari memelihara sampai emosi:

- menghijab dirimu dengan Tuhan, bikin kamu jauh dari Tuhan dan petunjukNya, katamu kamu mau dekat dengan Tuhan.

- merusak hari-harimu dan merusak suasana hatimu karena meningkatnya hormon penyebab stress

- menarik kejadian buruk dalam hidupmu, ingat LOA (law of attraction)

- membuatmu susah tidur, meningkatkan asam lambung sehingga kena sakit maag, belum lagi gangguan jantung dan bisa menurunkan imunitas tubuh loh.

- merusak hubungan sosial juga karena pendaman emosi itu memengaruhi perilakumu secara langsung tanpa kamu sadari

Sudah paham?

Lantas gimana caranya melepas semua emosi negatif itu? tanyamu.  

Penting niat dulu, niat banget ya, soal caranya sudah banyak Innuri tulis di blog ini.

Senin, 07 September 2026

Berada di Surga Tatkala Hidup di Dunia

Ketika kubilang pada Allah, bila aku nggak mau lama-lama hidup di dunia, rasanya aku mendapatkan jawaban lembut yang menyejukkan hati.

Bahwa hidup di dunia pun akan terasa seperti di surga bila jiwa selalu terkoneksi dengan Tuhan.  Tandanya apa, tandanya ya tidak ada kesedihan, kekhawatiran, ketakutan, dsb.  Tandanya ya semua terasa indah saja.

Persoalannya adalah, menjaga perasaan selalu terkoneksi itulah yang susah. Saat kita sedang membicarakan Allah pun, belum tentu hati terkoneksi loh!  Karena bisa jadi hanya ucapan yang sudah kita hafalkan saja, seperti salat wajib yang tidak khusyu itu.  

Maka di keseharian aku coba rajin-rajin amati pikiranku ini, sedang berada di mana, di dunia atau di surgaNya? Sedang putus koneksi atau sedang terkoneksi?  Lalu aku temukan bila cara ini cukup efektif membuat hati lebih sering dan lebih lama terasa manis.  Ya, terkoneksi dengan Tuhan itu membuat hati terasa manis, mengembang, seperti kataku, semua terlihat indah saja.

Di dunia, kita bisa terlalu konsentrasi ke pekerjaan. Adakalanya sempatkan waktu diam sejenak untuk menghubungkan hati dengan Allah.  Bukan hanya pekerjaan yang mengalihkan kita dari Tuhan, bisa masa lalu, masa depan, seseorang yang kita sayangi, harta yang kita cintai , semua itulah dunia.  Terasanya di hati jadi berbeda bila terlalu lama berada di dunia.

Biarkan fisik kita saja yang di dunia, hati kita terus terhubung dengan Tuhan, jiwa kita di surgaNya.  Apakah bisa?  Bisa dengan kehendak Allah.  Jadi tatkala hati berusaha selalu terkoneksi dengan Tuhan, janganlah kamu merasa berusaha, karena sejatinya Allah yang menggerakkanmu berusaha.  Innuri sering ngingetin itu , berusaha tanpa merasa berusaha, berusaha tanpa berusaha.  Mengalir dalam kasih sayangNya.

Satu lagi, biasakan akrab dengan Allah, ngobrol tentang apa pun di hatimu dengan Allah, sampai kamu merasakan jawaban-jawaban atas segala obrolanmu, walau obrolan receh, walau obrolan tidak penting, walau obrolan absurd pun.  Tanyakan apa pun semua yang menjadi pertanyaanmu, pertanyaan receh atau serius atau guyon pun.  Sampai kamu bisa tertawa sendiri padahal sedang tertawa bareng sama Allah.  Sampai ... sampai kemudian kamu tidak merasakan dirimu lagi, karena begitu menyatunya Allah dengan dirimu.

Yuk hijrah ke surgaNya.


Kamis, 03 September 2026

Menatap Tragedi

 Di tulisanku yang berjudul "Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip"  Innuri bilang, kala diri ini sudah merasakan ketiadaan / fana, maka yang terlihat hanyalah Allah dan semua itu indah saja.  Lalu ketika tulisan itu aku bagikan ke Fb, ada komentar yang bila diringkas, bagaimana melihat keindahan dari bencana banjir di Nepal? Apakah semua itu Allah?

Bila dilanjutkan bisa lebih panjang lagi, bagaimana melihat kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, gempa bumi, kecelakaan dsb, bagaimana bisa melihat semua itu Allah?  Mungkin maksudnya, bagaimana melihat tragedi itu bikinan Allah, masa sih Allah penebar tragedi? Memangnya ada keindahan dalam sebuah tragedi? 

Innuri tahu jawabannya tapi terlalu rumit untuk dijelaskan dalam bentuk kata-kata, tapi aku akan coba menyederhanakannya dengan pertolongan Allah.

Begini ya, orang yang dalam keadaan fana (ketiadaan diri) itu yang dilihat bukanlah fisik, yang dilihat bukanlah pemandangan yang ditangkap mata zahir ini. Lantas apa yang dilihat?  Kesejatian.

Sesuatu yang bisa berubah (impermanen)  dan tergantung pada sesuatu yang lain (interdependen) bukanlah kesejatian.  Jadi semua yang tampak mata ini bukanlah kesejatian.  Kesejatian melampaui itu semua.

Lantas, apa dong yang berada di balik tragedi yang dilihat orang-orang fana itu?  Kesejatian macam apa?

Bila kalian punya akses untuk menonton film V for Vandetta, ada bagian yang menceritakan tentang bagaimana V bersandiwara menyiksa Evey untuk mengeluarkan sisi kebijaksanaan di dalam diri Evey yang tersimpan dalam-dalam di jiwanya.  Setelah Evey tahu itu cuma sandiwara, marah dong Evey, lalu V berterus terang bila dia pun tak tega melakukan itu pada Evey, tapi terpaksa dia lakukan untuk tujuan itu.  Artinya V melakukan penyiksaan itu karena kasih sayang, demi kebaikan Evey sendiri, demi tujuan yang lebih besar dan lebih mulia.

Jadi itulah yang dilihat orang-orang fana, kasih sayang Allah.  Di dalam tragedi, sejatinya Allah sedang menyempurnakan jiwa seseorang.

Kamu boleh bertanya lagi, penyempurnaan macam apa bila seseorang sudah mati di usia muda, bahkan bayi atau anak-anak karena tersapu tragedi?  Pertanyaan itu terjawab bila kamu percaya reinkarnasi.  Reinkarnasi itu tertulis di Al Quran, bila ingin tahu lebih banyak penjelasan soal ini, silakan cari saja di blog ini, ada kolom pencarian di kanan atas ya.

Apakah ada pertanyaan lain? 

Rabu, 02 September 2026

Antara Usaha dan Anugerah

 "Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.

Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.  

Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.

Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.

Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.

Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.

Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar?  tanyamu.  Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.

Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.

Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat.  Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.

Sekarang,  Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?

Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.

Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.

Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.

Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu.  Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.

Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah.  Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.

Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian.  Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.

Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!

Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah.  Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha.  Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.

Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.

Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.

Selasa, 01 September 2026

Marah yang Elegan

 "Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri. 

Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya. 

Jawaban klasiknya begini : 

Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai. 

Waktu marah, mikir dulu targetnya apa?  Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya.  Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'. 

Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe.  Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku.  Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh.  Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.

Jawaban yang nggak klasiknya begini:

Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.

Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu".  yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup.  Itu adalah princip bismillah.

Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya?  Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian.  Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran.  Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.  

Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan?  Permusuhan dong.  Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi?  Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.

Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu.  Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan.  Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.

Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.

Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh.  Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini?  Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa?  Karena ada orang lain merebut milikmu?  Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini?  Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu.  Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.  

Ego, itu adalah PR bagi banyak orang.  Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego.  Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.

Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul.  Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah.  Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.