Kamis, 03 September 2026

Menatap Tragedi

 Di tulisanku yang berjudul "Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip"  Innuri bilang, kala diri ini sudah merasakan ketiadaan / fana, maka yang terlihat hanyalah Allah dan semua itu indah saja.  Lalu ketika tulisan itu aku bagikan ke Fb, ada komentar yang bila diringkas, bagaimana melihat keindahan dari bencana banjir di Nepal? Apakah semua itu Allah?

Bila dilanjutkan bisa lebih panjang lagi, bagaimana melihat kebakaran hutan, kebakaran pemukiman, gempa bumi, kecelakaan dsb, bagaimana bisa melihat semua itu Allah?  Mungkin maksudnya, bagaimana melihat tragedi itu bikinan Allah, masa sih Allah penebar tragedi? Memangnya ada keindahan dalam sebuah tragedi? 

Innuri tahu jawabannya tapi terlalu rumit untuk dijelaskan dalam bentuk kata-kata, tapi aku akan coba menyederhanakannya dengan pertolongan Allah.

Begini ya, orang yang dalam keadaan fana (ketiadaan diri) itu yang dilihat bukanlah fisik, yang dilihat bukanlah pemandangan yang ditangkap mata zahir ini. Lantas apa yang dilihat?  Kesejatian.

Sesuatu yang bisa berubah (impermanen)  dan tergantung pada sesuatu yang lain (interdependen) bukanlah kesejatian.  Jadi semua yang tampak mata ini bukanlah kesejatian.  Kesejatian melampaui itu semua.

Lantas, apa dong yang berada di balik tragedi yang dilihat orang-orang fana itu?  Kesejatian macam apa?

Bila kalian punya akses untuk menonton film V for Vandetta, ada bagian yang menceritakan tentang bagaimana V bersandiwara menyiksa Evey untuk mengeluarkan sisi kebijaksanaan di dalam diri Evey yang tersimpan dalam-dalam di jiwanya.  Setelah Evey tahu itu cuma sandiwara, marah dong Evey, lalu V berterus terang bila dia pun tak tega melakukan itu pada Evey, tapi terpaksa dia lakukan untuk tujuan itu.  Artinya V melakukan penyiksaan itu karena kasih sayang, demi kebaikan Evey sendiri, demi tujuan yang lebih besar dan lebih mulia.

Jadi itulah yang dilihat orang-orang fana, kasih sayang Allah.  Di dalam tragedi, sejatinya Allah sedang menyempurnakan jiwa seseorang.

Kamu boleh bertanya lagi, penyempurnaan macam apa bila seseorang sudah mati di usia muda, bahkan bayi atau anak-anak karena tersapu tragedi?  Pertanyaan itu terjawab bila kamu percaya reinkarnasi.  Reinkarnasi itu tertulis di Al Quran, bila ingin tahu lebih banyak penjelasan soal ini, silakan cari saja di blog ini, ada kolom pencarian di kanan atas ya.

Apakah ada pertanyaan lain? 

Rabu, 02 September 2026

Antara Usaha dan Anugerah

 "Apakah fana dan wushul itu sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan semata-mata ataukah boleh diusahakan?" tanya seorang sahabat Innuri.

Jawabannya bisa berbeda tergantung pada pemahaman seseorang dan jawaban yang berbeda itu semuanya benar.  

Begini, untuk orang yang beranggapan bila manusia diberi free will, atau kehendak bebas yang bisa menentukan nasibnya sendiri, maka jawabannya adalah bisa diusahakan.

Untuk orang yang beranggapan bila semuanya sudah tertulis di lauhulmahfuz dan manusia tinggal menjalani, jawabannya adalah semata-mata anugerah Allah.

Untuk orang yang beranggapan bila manusia punya kehendak bebas tetapi punya keterbatasan, maka jawabannya adalah 'manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan'.

Ketiga jawaban itu benar, karena ketiga sifat manusia yang aku sebut di atas itu memang diciptakan Tuhan, semuanya ada di masyarakat dunia ini, ketiganya juga punya landasan dalil dari Al Quran dengan penafsiran masing-masing.

Dari tiga yang benar itu, manakah yang paling benar?  tanyamu.  Maka jawabannya. yang paling benar adalah yang paling bisa menghargai pendapat yang berbeda, yang tetap berkasih sayang terhadap yang berbeda dan bisa memahami yang berbeda dengannya.

Kalau kalian ketemu orang yang menganggap bila pendapatnyalah yang paling benar dan suka menyalahkan orang yang tidak sependapat dengannya, maka saranku adalah, jangan ikuti dia dan jangan ikuti pendapatnya.

Alenia di atas aku cetak tebal dan cetak miring pula, karena itu sangat penting agar kalian selamat.  Ikutilah orang yang hatinya penuh kasih kepada siapapun dan apapun, karena Allah bersama orang yang hatinya penuh kasih sayang.

Sekarang,  Innuri sendiri pilih jawaban yang mana dari ketiga jawaban itu?

Bila yang jawab Innuri empat puluh tahun yang lalu, maka jawaban pertama itulah yang aku katakan, manusia punya kehendak bebas dan bisa menentukan nasibnya sendiri.

Bila yang jawab Innuri tiga puluh tahun yang lalu, maka jawaban ketiga itulah yang aku katakan, manusia punya free will tapi dibatasi kekuasaan Tuhan.

Bila Innuri dua tahun yang lalu yang ditanya, maka jawabannya adalah semua sudah tertulis dan manusia tinggal menjalani.

Jawaban Innuri sekarang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan di sinilah aku merasa yakin karena hatiku bisa memahami semuanya, semua perbedaan itu, sekaligus pernah mengalami dan merasakan berada di ketiga 'kubu' itu.  Rasaku sekarang adalah damai dan hatiku bisa menyayangi semuanya, termasuk orang yang menudingku salah atau sesat.

Jadi pemahaman seseorang itu berproses, yang penting adalah menjalani setiap proses dengan penuh rasa syukur dan selalu terhubung dengan Allah.  Sebenarnyalah orang yang bersyukur itu adalah orang yang terhubung dengan Allah.

Jadi saranku adalah di posisi mana pun pemahaman kalian, yakinlah bahwa Allah akan membimbingmu sampai menemukan kedamaian.  Yakin pada Allah, itulah yang terpenting.

Baik, muncul pertanyaan lagi, bila semua sudah dijalankan Allah, manusia tidak mau berusaha dong!

Bila kalian sudah berada di posisi wushul, maka kalian sangat menyadari bila segala usaha yang dilakukan manusia itu tidak pernah terlepas dari Allah.  Allahlah yang menggerakkanmu berusaha. Jadi manusia yang wushul itu tetap berusaha kok, tetapi batinnya tidak merasa berusaha, karena lahaulawala quwata illabillah, Allahlah yang menggerakkannya berusaha.  Berusaha tanpa berusaha, atau berusaha tanpa merasa berusaha.

Karena dia berusaha tanpa merasa berusaha, manusia wushul jauh sekali dari sifat sombong dan membanggakan diri.

Semoga penjelasan di atas bisa dipahami ya. Salam kasih.

Selasa, 01 September 2026

Marah yang Elegan

 "Bagaimana cara mengelola amarah dengan baik dalam konteks berumahtangga?" Tanya seorang sahabat Innuri. 

Innuri kasih 2 jawaban, yaitu jawaban klasik dan jawaban yang nggak klasik ya. 

Jawaban klasiknya begini : 

Salah satu ciri orang bertaqwa itu adalah menahan amarah, itu tertulis di dalam al quran. Jadi kalau lagi marah, jangan buru-buru dibrolkan atau jangan langsung dikeluarkan dalam bentuk kata-kata atau jadi tindakan. Marahnya pakai seni, pakai trik, pakai strategi, agar goalnya tercapai. 

Waktu marah, mikir dulu targetnya apa?  Bukan sekedar melepas emosi. Otomatis marahnya diredam dulu sampai jadi 'dingin', baru ngomong sesuai goalnya.  Mungkin itu maksudnya 'menahan amarah'. 

Yang aku ceritakan itu bukan teori, sudah dipraktekkan dan terbukti membuat suasana rumah tangga menjadi adem ayem, tapi dipraktekkan oleh suamiku ... hehe.  Innuri kalau marah bral brol saja, apa yang tersimpan di hati diledakkan saja, kalau yang dimarahi diam, tambah marah dong karena merasa diabaikan, kalau yang dimarahi membela diri, juga tambah marah karena merasa tidak dipahami perasaanku.  Kacau, kacau dah marah model Innuri, jangan dicontoh.  Tapi itu dulu ya, semakin tua aku semakin santai dan sudah lupa caranya marah.

Jawaban yang nggak klasiknya begini:

Innuri ajak ke pola berpikir yang mendalam, pola pikir spiritual yang membuatku lupa caranya marah.

Yang harus disadari duluan adalah "Kasih sayang adalah dasar dari segala sesuatu".  yang berarti, kasih sayang adalah dasar penciptaan, dasar segala kejadian atau peristiwa dalam hidup.  Itu adalah princip bismillah.

Bila di dalam keluarga ada kejadian pasangan berbuat salah sampai membangkitkan marah, di mana dong letak kasih sayangnya?  Katanya kasih sayang adalah dasar segala kejadian.  Ya inilah yang harus disadari, marah itu artinya ada kasih sayang yang hilang, berarti marah itu tidak 'menciptakan' apapun selain kehancuran.  Jadi hadirkan lagi kasih sayang itu di hatimu, barulah kamu boleh marah, jadi marahnya pakai kasih sayang.  

Kalau marahnya masih pakai emosi, ya siap-siap melihat orang-orang yang kamu sayangi hancur hatinya, kebayang bagaimana sikap orang yang hatinya sudah kamu hancurkan?  Permusuhan dong.  Mau musuhan sama orang yang katanya kamu sayangi?  Ada musuh di dalam rumah itu seperti resmi masuk neraka deh, pakai sertifikat pula ... haha.

Kasih sayang adalah dasar segala kejadian, iya benar itu.  Allah yang menurunkan kejadian, karena Allah tahu di hatimu masih ada ego yang membatu yang butuh dilunakkan.  Maka kejadian yang membuatmu marah hanyalah alat bantu untuk mengetahui ego macam apa yang tersembunyi di kedalaman hatimu yang harus diselesaikan, yang merupakan PR kehidupan.

Misal kamu marah karena anakmu mencorat coret mobilmu dengan cat permanen. Itu hanya menunjukkan kemelekatanmu dengan harta benda kok, yang lebih kamu sayangi daripada anakmu sendiri.

Misal kamu marah karena pasanganmu berselingkuh.  Memangnya nggak boleh marah untuk kasus seberat ini?  Boleh, tapi disadari dulu marahmu karena apa?  Karena ada orang lain merebut milikmu?  Memangnya apa sih yang kamu miliki di dunia ini?  Semua milik Allah loh, bahkan pasanganmu itu.  Kejadian itu hanya untuk menyadarkanmu bila di dunia ini yang kita miliki cuma Allah kok.  

Ego, itu adalah PR bagi banyak orang.  Segala sesuatu yang mengandung kata 'ku' itu menunjukkan ego.  Kebanyakan orang marah karena 'ku' nya terusik. Lenyapkan saja 'ku' itu, lihat bila semuanya digerakkan Allah, maka hati menjadi damai dan lupa caranya marah.

Ya, Innuri lupa caranya marah sejak mengalami fana dan wushul.  Menyadari sampai ke tulang sumsum dan aliran darah, bila segala sesuatu digerakkan Allah, nggak bisa gerak sendiri, lahaula wala quwata illabillah.  Ketika ada kejadian yang di mata orang awam bikin marah, ketika bisa melihat itu loh digerakkan Allah, ya tidak ada rasa marah itu.  

Rabu, 26 Agustus 2026

Sebuah Cubitan dari Allah

Ada sahabat Innuri yang sekarang kondisinya sedang terpuruk pakai banget, sebut saja dia dengan Delta. Dulu sekali Delta bagus banget pemahaman spiritualnya, jadi teman diskusi aku soal spiritual. Entah mengapa beberapa tahun lalu dia  terjatuh dalam judi online dan pemahamannya jadi 'error' semua, bahkan logikanya seperti tidak jalan. Diajak ngomong nggak nyambung. 

Pelajaran yang bisa diambil adalah minta perlindunganlah kalian semua kepada Allah dari sesuatu yang diharamkanNya, embuh itu judi, mabuk, maling / korupsi, zina, nipu, dsb. Karena efeknya bisa merusak logika, merusak otak dan akal sehat, belum efek berantainya pada orang-orang yang kalian sayangi. 

Nah. 
Dikasih Allah cubitan berupa terpuruk finansial, mental, dll adalah caraNya membangkitkan keimanan itu lagi yang sekian lama terkubur dalam sekali.  Merupakan panggilan untuk kembali kepada Allah, berharap kepadaNya saja. 

Bila tak ada yang bisa dilakukan lagi, ya diam, nyerah kepada Allah, seperti perahu kertas yang berlayar di atas sungai kecil, menyerah pada arus yang membawanya kemana pun, berhenti di mana pun atau terbawa ke lautan. 

Ketahuilah, Allah itu sebenarnya tak pernah tega melihat hambaNya menderita. Allah terpaksa lakukan itu agar hambaNya memahami sesuatu. Semuanya pasti ada akhirnya. 

Seperti V dalam film V for Vendetta, V tak pernah tega menyiksa Evey di dalam penjara palsunya, tetapi terpaksa dia lakukan agar di dalam diri Evey keluar pemahaman yang mendalam akan arti penderitaan, kebencian, keberanian, sampai makna kehidupan dan kematian. 

V telah menyadarkan Evey bila ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.  Evey seperti terlahir kembali sebagai manusia baru yang bijak dan tak kenal takut. 

Allah pun tak pernah tega membuat Delta begitu menderita, tetapi Allah harus melakukannya agar di dalam diri Delta muncul pencerahan dan pemahaman-pemahaman baru. 

Penderitaan itu seperti membongkar tutup yang menyembunyikan berlian di dalam batinnya. Setelah berlian ini keluar, beres deh, keberlimpahan yang akan mendatangi. 

Maka langkah terbaik yang harus dilakukan adalah mendekat kembali kepadaNya. Berhenti menyalahkan apapun dan siapapun, pasrah kepadaNya. 

Banyak diam, menonton segala gejolak emosi, agar bisa melihat jernih diri sendiri. Meditasi, zikir, salat, untuk kembali merasakan betapa Allah itu begitu dekat. 

Semoga Delta segera mendapatkan pencerahan. Aamiin. 



Selasa, 25 Agustus 2026

Lepas dari Perbudakan Cinta

 Seorang sahabat Innuri bercerita soal cintanya yang kandas, semula orang tua si gadis menyetujui hubungan mereka. Namun di tengah perjalanan mengumpulkan modal untuk menikah, si gadis dipaksa bertunangan dengan lelaki lain. 

Apa yang aku nasehatkan padanya klasik banget, seputar menerima semua ini, Allah tahu yang terbaik, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal itu buruk bagimu. 

Namun menyembuhkan luka patah hati itu butuh waktu, bisa cepat, bisa lama, dan bisa lama sekali.  Bisa jadi kehadiran orang baru sebagai pengganti bisa menjadi obat, akan tetapi memori itu tidak pernah terhapus dan bisa jadi cinta antara keduanya tidak pernah terhapus begitu saja. 

Begitulah isi dunia ini. Banyak yang mengalami hal semacam itu, cinta yang kandas namun tak pernah terhapus. Banyak sahabat Innuri mengalaminya. 

Nah, bila kamu pernah membaca tulisan Innuri tentang Semesta Paralel, atau baca saja deh di sini  dan lanjutannya ada 10-an tulisan tentang semesta paralel. Maka kamu akan memahami bila semua pengalaman putus cinta dan patah hati itu memang kamu perlu mengalaminya untuk memahami cinta kasih Allah kepadamu.  Pemahaman akan adanya semesta paralel itu akan menolongmu untuk berdamai dengan keadaan ini. 

Kamu akan paham bila ternyata cintamu tak pernah kandas.  Bila kalian saling mencintai, maka di semesta yang lain dia adalah pasanganmu.  Itulah kasih sayang Allah yang tak terbatas. 

"Mengapa bukan di kehidupan ini saja, saat ini saja cinta itu bersatu?" tanyamu. Karena pelajaran yang musti diambil harus lewat peristiwa perpisahan. Allah itu mengajari kita sesuatu dan memahamkan sesuatu bukan di depan kelas ya, Sayang, melainkan lewat peristiwa.

Kalau cintamu bersatu saat ini, bisa jadi kamu bukannya menyembah Allah,bisa jadi kamu malah menyembah kekasihmu itu. Ayahab jere arek Malang alias bahaya. Bisa jadi pula bila kalian bersatu saat ini, kalian malah saling menyakiti dan berakhir saling membenci. Ayahab lagi dong.  Allah yang Maha Tahu, maka terima saja apapun, karena itu untuk kebahagiaanmu dan dia juga. 

Bila Allah menggantinya dengan orang yang lebih baik, lalu kamu bisa mencintainya sepenuh hati, sementara di semesta yang lain kamu berpasangan dengan dia. Ada dua cinta dong, atau bahkan ada banyak cinta dalam kehidupanmu. Pertanyaannya, manakah cinta sejatimu? 

Cinta sejatimu adalah Allah. Titik. 

Sampai kamu paham bila Allah 'menjelma' menjadi apa saja dan siapa saja untuk membahagiakanmu. Sebegitu dalamnya cinta Allah. 

Ketika kamu menyadari bila di saat kamu mencintai seseorang, hakekatnya kamu sedang mencintai Allah, maka di titik inilah kamu bisa merasakan kebebasan dari perbudakan cinta yang menyakitkan. Kamu merdeka. 

Semoga cintamu segera sampai pada kemerdekaan. 





Mendaki Gunung

 Ramai di grup kuliah gara-gara aku naik gunung di usia lansia ini, padahal dulu bukan anak Impala (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam).  Padahal juga, aku pernah punya masalah lutut karena asam urat tinggi, juga kolesterol tinggi. 

Sepulang dari mendaki aku malah merasa lebih sehat. Biasanya kalau posisi duduk mau berdiri pakai pegangan dulu, ajaibnya sekarang malah gak perlu pegangan, langsung mak nyat berdiri. Aku syukuri kejutan indah ini. 

Aku belajar ternyata penyakit bukan untuk ditolak atau dibenci. Karena dia hanya sedang memberitahu kita sesuatu, mungkin karena tubuh yang kurang gerak atau karena makan yang terlalu rakus atau mungkin pola pikir dan pola perasaan kita yang salah. 

Jadi berterimakasihlah pada apapun yang terjadi pada tubuhmu, ajak ngobrol, dia lagi ngasih tahu soal apa sih? Dia mau ngomong apa sih? 

Kuingat jaman remaja dulu aku gampang sakit dan langganan pingsan di sekolah. Ternyata itu karena aku hidup dalam ketakutan. Aku sedang parah indigonya saat-saat itu. Kemampuan ESP (extra sensory perception) aku lagi tumbuh, hal menakutkan aku saksikan setiap hari.

Puluhan tahun kemudian aku masih bergelut dengan persoalan ESP-ku dan aku masih gampang sakit.  Hingga aku sadari semakin aku bisa menerima keadaan ini, aku jadi jarang sakit. 

Berdamai dengan apa pun dan siapa pun, menjadi hal yang berpengaruh signifikan pada kesehatan jasmani rohani kita. Itulah yang kurasakan. Namun semua itu juga karena Allah. 

Bukan usia, bukan gaya hidup, Allahlah yang memberi kita kesehatan dan Allah pula yang menuntun langkah kita ke sana. Diri ini cuma wayang, maka jadilah wayang yang pandai bersyukur. 



Senin, 24 Agustus 2026

Inti

 Pagi itu aku mandi dengan membawa perasaan gusar.

"Allah, pernahkah Engkau bingung mau ngapain? Sepertiku pagi ini? Mau cuci piring malas, mau bersih-bersih rumah capek, rasanya hidupku tidak berguna." kataku pada Allah.

"Allah, kalau lagi begini musti ngapain?"

"Aku sudah menyadari bila ini bukan aku, tapi Engkaulah yang mengendalikan aku. Maka mengapa musti bingung begini?  Kapankah aku bisa tahu musti melakukan apa dan yakin bila yang aku lakukan benar?"

Sambil menyiram badanku dengan air aku menangis, hanya gara-gara persoalan sepele, bingung mau ngapain karena malas ngapa-ngapain.

Akhirnya aku selesai mandi, ganti baju dan duduk di depan televisi, menyimak kuliah Pak Hans dari Youtube.

Tiba-tiba saja aku mendapat jawaban dari pertanyaan selama aku mandi, jawabannya sama seperti yang pernah kudapat, tetapi lebih mendalam.  Bila aku katakan jawabannya padamu, pasti kamu akan mengatakan, ah itu lagi, itu mah aku sudah tahu, mbak Innuri.  Ya, karena ini memang susah dikatakan, harus mengalami sendiri.

Bila bisa dikatakan walau kata-kata sudah terbatas sekali untuk menggambarkan ini, maka inilah yang bisa kukatakan.

Tuhan itu Maha Tunggal, kita semua adalah perwujudan dari Ketuhanan.  Namun posisi kita berbeda-beda.  Bayangkan sebuah atom, ada inti atom, lalu ada neutron dan proton, lalu elektron yang tak henti-hentinya bergetar mengitari inti atom.  Baik inti ataupun neutron, proton dan elektron, semuanya satu, semuanya atom. Akan tetapi inti itu stabil dan tenang, pergerakan di dekat inti pun lebih stabil dibandingkan dengan yang jauh dari inti. 

Manusiapun begitu. Semakin jauh dari inti, manusia akan semakin gelisah dan tidak tenang.  Manusia musti berada di inti untuk mencapai ketenangan.

Sesederhana itu penjelasannya tapi yang aku alami tidak sederhana, seperti mengalami alam semesta, di mana alam semesta ini pun punya struktur seperti atom, berputar mengelilingi inti masing-masing.   Tata surya punya inti yaitu matahari, galaksi juga punya inti yang merupakan poros galaksi. Lebih jelasnya googling saja deh, Innuri bukan ahlinya di sini. Hanya untuk menggambarkan pemahaman yang aku dapat. 

Karena di dunia batin pun demikian, kita semua berputar mengelilingi inti dan dikendalikan oleh inti, posisi manusia berbeda-beda dalam jarak terhadap inti.  Posisi itulah yang menentukan suasana jiwa masing-masing.

Semakin dekat dengan Tuhan membuat batin kita stabil. 

Jadi berterimakasihlah pada kegelisahan, karena dia hanya memberitahu sedang berada di posisi mana kita ini. 

Setelah memahami yang bisa aku pahami, hatiku menjadi tenang, Dia begitu dekat. Dekat yang tak terbayangkan dekatnya. 

Kamis, 20 Agustus 2026

Mikirin Indonesia

 Sampai mikirin Indonesia Innuri, ketika siangnya ngobrol dengan sahabat tentang kemiskinan ekstrim di negri ini.  Negeri di mana rakyatnya menjadi babu untuk orang-orang asing yang hidup mewah di tanah leluhur mereka sendiri. Negeri yang .... 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika suara anak-anakku mahasiswa yang peduli pada nasib bangsa ini berusaha dibungkam atau manusianya ditiadakan. 

Mikirin Indonesia Innuri, ketika kebakaran hutan melanda, gempa dan bencana...  Sementara ada tangan rakus yang merampok kekayaan alamnya. 

Mikirin Indonesiaku ini ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah pejabatnya. Oh Indonesia yang korup. 

Aku gelisah malam itu, mendoakan negri dengan perasaan yang tidak yakin. Sampai aku sadari bila kegelisahan adalah sebuah pertanda bila hati sedang terpisah dengan Tuhan, dan melihat semua kenyataan terpisah dengan Tuhan juga. 

Maka ketika aku kembali menyatu dengan Tuhan, disitulah aku merasa tenang.  Semua ini dibawah kendaliNya, tidak ada yang perlu disedihkan atau dikhawatirkan. Ujung-ujungnya bakalan mati, kehidupan dunia bagaimana pun indah atau nelangsanya, semuanya bakalan ditinggalkan. 

Tidak ada yang perlu dikasihani, tidak pula ada yang perlu "digemesin" saking serakah atau jahatnya. Kenapa? 

Karena semuanya hanya pembagian peran saja. Peranku peranmu perannya peran mereka, semua itu tidak sama. Ya jalani peran masing-masing dengan bersyukur saja. 





Jumat, 14 Agustus 2026

Membalut Kecewa

Sudah dua malam aku di Bandung. Ada peristiwa yang memberiku pelajaran. Kemarin ke Pengalengan, makan di sebuah resto yang terkenal. Eeh, makanan yang kupesan tidak sama dengan foto makanan di menu. Di foto isinya dia potong, ada sayuran yang banyak pula. Eh yang datang hanya sepotong dengan selembar daun selada. Manalah mahal lagi. 

Aku kecewa dong. Sakit hati dong. Kubawa rasa kecewaku sampai bikin status walau nama restonya kusamarkan.

Iqbal teman Aden sampai bilang, " Kalau di Jepang ini bisa didenda loh. "

Bahkan rasa kecewa itu terbawa sampai ke penginapan.

Malamnya baru kusadari bila semua itu yang menggerakkan Allah juga. Siapa sih yang menggerakkan orang-orang di resto? Siapa sih yang menggerakkan aku ke sana? Siapa coba yang bikin aku dan orang-orang itu dipertemukan? 

Itulah obat kecewa yang paling mujarab, menerima. Menerima apapun, sekecil dan sebesar apapun. 

Ya, aku masih belajar menerima ternyata. Belum expert, bila sudah bisa auto menerima, baru deh itu namanya keren. 

Terimakasih Allah untuk pelajaranMu kali ini. 

Senin, 10 Agustus 2026

Kaya-kaya Mati Sajrone Isih Urip

 Pertama mendengar istilah ini dari tulisan eyang Syamsul'alam, kaya-kaya wes mati sajrone isih urip, itu bahasa Jawa yang artinya seolah-olah sudah mati di dalam kehidupan.  Itu juga merupakan salah satu ajaran tasawuf yang disebut fana atau ketiadaan diri.  Ini adalah hal paling indah dan membagikan saat bisa mengalaminya, rasanya tuh merdeka dari perbudakan, kayak punya sayap, ringan dan bebas.

Merdeka dari perbudakan siapa?  Dari pikiran dan logika kita sendiri, dari perasaan kita sendiri, dari persepsi dan persangkaan kita sendiri, merdeka dari emosi negatif, marah dendam benci dsb. 

Innuri lagi mempraktekkan ini dengan sengaja di dalam kehidupan.  Walau masih on of, semakin ke sini rasanya semakin lama on-nya.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak mengontrol orang-orang seperti apa yang aku mau.  Aku membiarkan mereka semua dikontrol Allah, berproses menurut kehendak Allah.  Ini membuat aku tidak pusing dengan segala hal yang dilakukan orang-orang di luaran sana atau orang-orang yang dekat denganku, hatiku menjadi damai sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, maka aku tidak lagi terpengaruh dengan perlakuan orang pada diriku, mau mereka membenci kek, menghujat, atau diam,  mengagumi, dll.  Ibarat mereka sedang menembak angin, tidak ada yang terluka, tidak juga ada yang merasa tersanjung. Perasaan sudah di atas itu, di atas suka duka, itu perasaan yang enak sekali.

Ketika aku merasa tidak ada, aku tidak lagi melekat pada makhluk.  Kehadiran atau pun ketidakhadiran mereka, kepergian atau pun kedatangan mereka, perasaan sudah di atas senang dan sedih, itu bukan perasaan biasa saja, itu perasaan yang indah karena bisa mencintai semuanya.  Justru tidak melekatlah yang menghadirkan perasaan menyatu.

"Melekat dalam ketidakmelekatan"  Ketemu paradoks ini dan masuk ke dalamnya lalu merasakan unconditional love itu. 

Ketika merasa tidak ada, maka yang terlihat hanyalah Allah, semua adalah keindahan.

Ketika merasa tidak ada, Allah adalah aku dan kamu, juga dia dan mereka, juga alam semesta utuh.

Ketika merasa tidak ada, aku sudah berada di surgaNya.

Rabu, 05 Agustus 2026

Mengapa Kosong Itu Penting?

 Banyak cerita kudengar, seseorang mendapatkan hidup yang luar biasa setelah mengalami kebuntuan lalu menyerah, seolah bilang,"Terserah Engkau, ya Tuhan."  Batinnya sudah kosong karena nggak tahu mau ngapain lagi untuk menolong dirinya sendiri, tetapi di titik itu dia justru mendapat solusi, seperti pembuka jalan.  Itulah 'fenomena kosong' yang mendatangkan pertolongan Allah.  Bila setelah itu si orang tadi bisa mempertahankan kekosongan itu, ya hidupnya bakalan dibanjiri dengan kejaiban demi keajaiban, kebahagiaan demi kebahagiaan.

Mengapa 'kosong' begitu penting?  Kosong dalam arti sudah 'berpasrah bongkokan' pada Allah, sudah tak lagi memikirkan bagaimana jalan keluar, bagaimana solusi, atau bagaimana usaha mencapai ini dan itu?  Kosong dalam arti mengalir saja, melangkah seperti wayang, terserah Sang Maha Dalang.

Mengapa kosong begitu penting?

Ketika kita kosong, Allah yang turun tangan memperbaiki kehidupan kita ini.  Sebaliknya ketika kita merasa bisa, Allah lepas tangan dong, wong kitanya merasa bisa.

Tapi manusia 'kan wajib berikhtiar, lalu hasilnya terserah Allah?  tanyamu.

Ikhtiarnya manusia itu bisa di level iman, di level pikiran, di level perbuatan.  Orang yang sudah kosong itu kebanyakan  sudah tidak bisa lagi berikhtiar di level pikiran dan perbuatan, jadi sudah menyerah alias secara iman dia sudah percaya bila hanya Allah yang bisa, manusia tidak bisa apa-apa.

Jadi bila ada orang yang terlihatnya seperti 'tidak ngapa-ngapain' sementara hatinya sedang menyerah kepada Allah, itulah ikhtiar di level iman.  Nanti Allahlah yang menggerakkan alam semesta ini, termasuk menggerakkan orang itu dalam mewujudkan kehendak Tuhan yang terindah.  Manusianya hanya menikmati setiap momen, mensyukuri setiap hal, sudah nggak tolah-toleh lagi.

Faham 'kan Sayang?

Minggu, 02 Agustus 2026

Pelajaran Dari Anak

 Ada curhatan dari beberapa sahabat Innuri tentang anak (herannya kok masalahnya sama, tentang anak) yang bikin aku jadi teringat dengan Tom Hanks dan Brad Pitt, sekaligus teringat Dr Masaru Emoto.  Karena aku begitu kagum pada ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button. 

Aku juga teringat Dr Masaru Emoto karena eksperimennya dengan kata-kata yang memengaruhi struktur air, karena mendidik anak itu berhubungan dengan kata-kata.

Bagaimana ibu Forrest Gump  mengatakan kalimat-kalimat yang mengagumkan tentang sang anak yang menderita disabilitas fisik dan kecerdasan rendah, sampai anaknya menjadi orang hebat di kemudian hari.  Sedangkan ibu angkatnya Benjamin Button menganggap kehadiran bayi aneh adalah sebuah keajaiban dan kemudian merawat bayi aneh tersebut dengan penuh cinta.  Pasti tahu 'kan kedua film itu dibintangi Tom Hanks dan Brad Pitt, itu film yang terkenal sekali.

Walau hanya film, walau film itu tak sama dengan dunia nyata yang kompleks ini, tetapi ada pelajaran yang bisa diambil dari kedua ibu hebat itu, ibunya Forrest Gump dan ibu angkatnya Benjamin Button, yaitu 'menerima dengan penuh cinta' yang menghasilkan 'mukjizat'.  Kalimat-kalimat positif yang diucapkannya tentang si anak mengingatkanku pada Dr Masaru Emoto dengan percobaannya pada air.  Bila setiap kata memengaruhi struktur air, pasti memengaruhi manusia juga 'kan?

Aku sendiri bukanlah ibu yang baik dan aku sering sekali memperlakukan anak-anakku dengan salah, bahkan sampai setua ini, jadi tulisan ini bukan bermaksud menggurui ya, ini tulisan dari 'sesama pelajar'.  Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, makanya orang tua sering melakukan kesalahan sementara dia merasa itu untuk tujuan yang benar.  

Beberapa hal bodoh yang sering orang tua (nunjuk diri sendiri) lakukan terhadap anak:

- membandingkan anak dengan anak orang lain atau dengan saudaranya yang lebih hebat, ini bikin anak jadi minder.

- menyepelekan perasaan anak, misal 'gitu aja kok nangis', 'gitu aja takut' , dsb.

- merendahkan anak dengan harapan dia akan terpacu untuk bertumbuh

- mendidik dengan ego, merasa lebih tahu dan lebih pintar dari si anak

- jarang memberi apresiasi (kurang menghargai), seringnya mengoreksi dan menyalahkan.

- terlalu mengatur anak sehingga tidak memberi kesempatan anak untuk memilih.

- dll boleh tambahkan sendiri.

Kalau secara spiritual, orang-orang terdekat seperti anak dan pasangan, adalah "penyampai pesan Tuhan". Bahkan anak bisa jadi guru spiritual yang menyamar.  Ketika kamu semakin baik, maka kondisinya anak bakalan membaik.  Jadi yang dikoreksi bukannya si anak, melainkan dirimu sendiri itu loh, eh diriku sendiri juga ding.

 Jadi ketika ada masalah dengan anak, yang dipertanyakan duluan adalah ,"Apa sih pesan Allah lewat peristiwa ini?"  Setelah itu biarkan petunjuk Allah mengalir dan lakukan sesuai petunjuk itu.  Ini memang tidak sesederhana yang Innuri katakan.  Tapi minimal kamu menerima anak baik positif maupun negatifnya, kamu berdamai dengan kondisi anak, berprasangka baik pada Allah apa pun kondisinya dan terus memperbaiki diri di hadapan Allah.

Intinya, kamu menerima anak dengan cinta dan mengajarinya untuk mencinta.  Ini aku cetak tebal ya, itulah yang aku pelajari dari dua film terkenal itu dan film hidupku sendiri.

Di level spiritual yang lebih dalam lagi, kamu akan menyadari bila segala sesuatu  di dalam kendali Allah, termasuk perasaanmu, perasaan anak, segala yang dilakukan olehmu dan anak, semua itu Allah yang menggerakkan.  Di sini sudah tidak ada yang salah atau benar, manusia hanyalah wayang di tangan sang Dalang.  Jadi segala usahamu untuk anak, kamu tidak merasa melakukan, tetapi Allahlah yang menggerakkanmu melakukannya.  Di level ini, batinmu sudah damai sekali, kamu tak lagi resah, kamu hanya percaya penuh pada Allah dan kemungkinan terjadi, anak-anakmu akan membaik seperti mukjizat!

Semoga tulisan ini membantu.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Menembus Logika

 "Mbak Innuri, gimana sih caranya agar bisa 100% menerima?  Aku terbiasa berpikir logis, jadi apa-apa kalau sudah masuk di pikiranku, baru aku bisa menerima."

Adakah yang punya masalah seperti si penanya?  Yuuk nikmati teh dan onde-ondenya.

Itu salah satu sisi kurang ajarnya pikiran, tapi tak perlu dibenci karena orang hidup butuh pikiran. 

Yang perlu diluruskan adalah tak semua hal bisa dilogikakan. 

Bagaimana bisa pikiran yang terbatas mampu memahami sesuatu yang tak terbatas, seperti kasih sayang Allah yang tidak terbatas atau alam semesta ini?

Karena pikiran itu terbatas, maka proses berpikir bukan satu-satunya cara memahami sesuatu. Letakkan semua pada tempatnya masing-masing. 

Untuk menerima sebuah kejadian di dalam hidup ini, maka diperlukan 'wawasan keimanan' yang mencakup bagaimana setiap kejadian diturunkan Allah padamu dengan kasih sayang. 

Kejadian ditipu orang misalnya. Secara materi kamu rugi, tapi ingat kamu bukan makhluk materi, kamu makhluk spiritual. Maka secara spiritual kamu beruntung karena mendapatkan kesempatan belajar bahwa di dunia ini tidak ada satupun yang kita miliki, materi bisa datang dan pergi sesuka takdir menuliskannya, atau kamu akan mendapatkan pelajaran / hikmah yang lain.  Itulah proses menerima peristiwa 'ditipu orang' dengan iman.  Kalau dengan logika pasti sulit, kamu pasti mendendam pada orang yang telah menipumu bertahun-tahun.

Bagaimana kalau menolak?  Marah, tidak terima atau mendendam itu tanda-tanda penolakan.  Kalau menolak ya kamu akan memelihara sampah kemarahan itu bertahun-tahun sampai kamu bisa menerima.  Atau kamu bakalan mengalami peristiwa yang mirip karena kamunya tak kunjung mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Jadi bagaimana menurutmu?  Pilih menerima walau tidak masuk di pikiranmu ataukah menolak karena tidak logis?  Atau kamu punya contoh peristiwa apa yang membuatmu susah untuk menerima? 

Senin, 27 Juli 2026

Cintai masalahmu

 "Jangan harap masalah bakalan selesai, selama masih berada di dunia ini, masalah bakalan datang silih berganti.  Semua masalah membawa pesan Tuhan.  Cara menyelesaikannya adalah mengambil pelajarannya," kataku pada sahabat Innuri yang curhat di telepon.  Itu intinya, tapi ngobrolnya panjang kali lebar kali tinggi.

Orang yang punya hutang bilang, andai hutang lunas, masalah selesai.  Orang yang sakit bilang, andai sudah sembuh, masalah selesai.  Orang yang terjerat hubungan toxic bilang, andai bisa mengakhiri hubungan ini, masalah selesai. Perpanjang sendiri contohnya ya.

Betul masalah hutang selesai bila sudah lunas, tapi masalah yang lain akan datang, Sayang.  Betul masalah kesehatan selesai, masalah lain sudah menunggu.  Hidup itu perpindahan dari satu masalah ke masalah lain, karena lewat masalahlah orang belajar.  Jadi cintai masalahmu.  Berterimakasihlah pada masalah karena itu adalah tools untuk menyempurnakanmu sebagai manusia.

Bagi orang yang menyengaja hidup di jalan Allah, dia menganggap masalah adalah anak tangga demi anak tangga untuk lebih mengenalNya.  Bahkan Dia menuntunmu saat menapaki anak tangga itu, bukankah itu indah? 

Ingatlah bila hidup selalu membawa satu paket yang berkebalikan, seperti mata uang, ada dua sisi yang berbeda, yang kalau bisa menerima keduanya, kita pasti kaya raya oleh kebahagiaan.  Yin-yang, itu adalah kepastian, sunatullahnya begitu.  Jangan melihat satu sisi muramnya saja, yang membuat hidupmu berasa kejepit pintu sambil tertabrak bulldozer.  

Jadi bagaimana?  Peluk keduanya, kedua hal yang sepaket itu.  Nikmati hidangan kehidupan ini.  

"Bagaimana cara mengatasi rasa deg-degan, takut dan khawatir menghadapi jatuh tempo bayar ini itu? Bukankah orang musti berikhtiar?" tanyamu.

Rasa takut dan khawatir itu artinya hatimu  meragukan Allah, wong semuanya itu mudah bagi Allah. Jadi ikhtiarmu adalah memperbaiki korslet di hatimu yang merendahkan Allah itu loh!  Bukan ikhtiar mikir sampai nggak bisa tidur dan sakit maag, bukan ikhtiar ke sana kemari yang ujung-ujungnya kamu malah kehilangan uang lebih banyak.  Jangan merasa bisa melunasi hutang, jangan merasa bisa berusaha, pasrahkan pada Allah dengan mengakui segala kelemahan diri.  Diam, selesaikan korsletmu itu, pertolongan Allah akan mendatangi, Allah yang akan menggerakkan semuanya.

Salam manis.

Rabu, 22 Juli 2026

V for Vendetta

Entah mengapa kusuka banget sama film jadul, channel yang rajin kubuka adalah Hits TV Dan Hits Movie.  Sebelumnya aku sering melewatkan film ini, V for Vendetta, sampai suatu kali tanpa sengaja nonton sudah di pertengahan film dan ternyata sebagus itu.  Lalu kutonton lagi dan lagi.

Ini film yang membuatku terlibat secara emosional karena relate dengan kondisi di Indonesia saat ini dan yang kusuka di sepanjang film bertebaran kata-kata bijak yang bahkan keluar dari sang penindas.  Film ini bercerita tentang bagaimana kekuasaan dibangun di atas ketakutan yang sengaja diciptakan di tengah-tengah masyarakat agar rakyat mudah dikendalikan.  Lalu muncul seorang pahlawan yang minta dipanggil V saja.

Film muram tapi punya cara sendiri menumbuhkan harapan di hati penontonnya, seperti sepercik cahaya yang dibawa dari kelam, Innuri jadi keluar kata-kata bijaknya juga, ketularan dah.

Dalam kelamnya, ada lucunya di aku sendiri karena merasa "Indonesia juga punya dong" haha.  Aku tak tega menceritakan soal ini, tonton sendiri saja ya.

Ini nih beberapa kata-kata bijak yang sempat aku catat waktu nonton: 

- Tak perlu menjadi muslim untuk menikmati keindahan isinya (maksufnya isi Al Quran) 

- Seniman berbohong untuk mengatakan kebenaran. Pemerintah berbohong untuk menutupi kebenaran

- Tuhan ada di dalam hujan

- Pemerintah mengendalikan rakyat dengan menggunakan rasa takut.

- Aku bukanlah topeng atau wajah atau tulang belulang di bawah kulit ini.

- Pemikiran tidak bisa dihentikan dengan peluru.

- Negara ini butuh bukan sekedar bangunan (Parlemen) tapi harapan

- Sebuah pemikiran bisa mengubah dunia.

- Bukan orangnya yang kita ingat tapi pemikirannya.

- Menutup kejahatan dengan lembaran kitab suci.

- Tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah ilusi akan kebetulan

- Ada yang lebih berharga daripada nyawa, yaitu kebenaran.

Jumat, 17 Juli 2026

Sikap Batin Saat Bermasalah

 Tulisan ini untuk menjawab curhatan salah seorang sahabat Innuri yang sedang merasa sedih dan tertekan dengan kondisi ekonomi yang katanya sedang sulit.  Berimbas pada usahanya hingga minus terus, sampai musti meminjam uang ke keluarga. Bagaimana menyikapinya?

Baik, Innuri akan jawab bagaimana sikap batin yang musti diluruskan ya.  Soal bagaimana solusinya, nanti akan Allah hadirkan kok.  

Yang mendasar sekali adalah, misi hidup setiap manusia adalah kembali kepada Tuhan.  Jadi setiap peristiwa, baik berupa kesedihan, penderitaan, masalah, ujian, bencana atau pun kebahagiaan, keberuntungan, kesenangan, semua itu hanyalah alat bantu untuk mengenal dan semakin dekat dengan Tuhan.

Paham 'kan?

Berikutnya, yakini bila semua yang berada di atas bumi ini milik Allah, jadi masalah juga milik Allah.  Bila masalah milik Allah, maka Dia juga yang bakal menyelesaikannya.  Manusia hanya 'akting' saja kok, atau manusia hanya menjalani. 

Paham 'kan?

Berikutnya lagi, Ketika masalah itu dihadirkan padamu, sikap batin pertama yang musti dilakukan adalah bersyukur, karena mendapat masalah artinya mendapat previlege untuk menyaksikan kebesaranNya.  Bagaimana Allah menghadirkan solusi yang tidak disangka-sangka.  Itu kesempatan emas melihat perbuatanNya Yang Maha Menakjubkan.

Beriktunya lagi.  Terkadang masalah merupakan cara Allah untuk melindungi hambaNya dari sesuatu yang lebih buruk.  Misalnya nih, yang sekarang lagi kesulitan finansial, bisa jadi bila diberi kelonggaran finansial, malah dipakai untuk 'jajan' ke sana kemari lalu kena penyakit aids.  Duh, contohnya Innuri kok ekstrim, nggak bakalan lah katamu.  Contoh lainnya bisa jadi kesuksesan secara finansial membuat egomu membesar, lalu merasa 'aku yang melakukan' , usahaku yang keraslah yang membuat ini semua, sombonglah kamu.   Maka Allah melindungimu dari kesombongan dengan dihantam masalah.

Sekali lagi bersyukurlah dengan kondisimu saat ini, karena kesulitan membuatmu lari menemui Tuhan.  Itu jauh lebih baik daripada kemudahan yang membuatmu lari mencari kesenangan dunia yang menyesatkan.

Terakhir, kesulitan adalah cara Allah untuk menyempurnakan jiwamu.  Karena kamu bilang sudah rajin ibadah, tidak neko-neko, rajin sedekah dan tidak pelit.  Jangan merasa dirimu baik, Allahlah yang menggerakkanmu menjadi baik. Sekarang ijinkan Allah menyempurnakanmu.

Ingat juga, bersama kesultan ada kemudahan.

Sudah paham?  

Bila sudah memahami semua yang aku katakan, aku yakin hatimu menjadi tenang, damai dan bisa menerima kondisimu saat ini.  Selalulah merasa bersama Allah di setiap langkahmu, niscaya hatimu menjadi tenang.

Salam manis.

Kamis, 16 Juli 2026

Semesta Paralel ( 12 ) Kisah Paul Amadeus Dienach Terlempar ke Abad 40

 Ini kisah time travel yang paling menakjubkan bagiku, kisah Om Paul Amadeus Dienach yang pada tahun 1921 pernah terdampar di tahun  3906.  Bagi banyak orang yang tidak pernah mengalami NDE (Near Death Experience) atau mengalami OOB (Out of Body Experience) atau tidak pernah kecemplung ke semesta paralel, mungkin kisah ini dianggap fiksi ilmiah, tapi bagiku yang pernah mengalami tiga hal itu, aku mempercayainya.  Dari kisah Dienach ini, aku bisa menangkap pelajarannya, bila setiap kejadian di alam semesta ini tujuan akhirnya ya untuk mengembalikan setetes air ke lautan luas, atau mengembalikan manusia ke Tuhannya.

Perjalanan setetes air jiwa manusia dengan perjalanan seluruh semesta raya ini intinya adalah sama, yaitu tadi, kembali ke Tuhannya.  Jadi yuk kita simak ceritanya.

Kisah ringkasnya, Dienach mengalami koma selama satu tahun karena suatu wabah penyakit.  Selama satu tahun itu ternyata jiwanya terperangkap di dalam tubuh fisik seseorang di tahun 3906, di sana dia mempelajari sejarah umat manusia dari masa ke masa hingga tahun 3906 tersebut.  Ketika kembali di tahun 1921, dia pun menuliskan pengalamannya di buku harian dan dia simpan sendiri. Kemudian di akhir hidupnya, dia menyerahkan buku harian berbahasa Jerman itu pada seorang muridnya.  Semula muridnya mengira itu novel, ternyata merupakan pengalaman pribadi terdampar di abad 40.  Catatan harian itu kemudian diterbitkan dalam buku yang berjudul Chronicle from the Future.

Tulisan di bawah ini ringkasan kisah Dienach yang aku minta dari kakak yang baik hati, Kak ChatGPT ... hehe.

Siapa Paul Amadeus Dienach?

Menurut kisah yang beredar, Paul Amadeus Dienach adalah seorang guru bahasa Jerman berkebangsaan Austria–Swiss.

Ia dikenal sebagai pribadi yang:

  • pendiam
  • sangat intelektual
  • menyukai filsafat
  • tidak tertarik menjadi penulis terkenal

Ia menderita penyakit encephalitis lethargica (sering disebut sleeping sickness pada masa itu, berbeda dengan penyakit tidur akibat parasit di Afrika). Penyakit ini memang pernah mewabah pada awal abad ke-20 dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran yang berat.


Koma selama satu tahun

Pada tahun 1921, Dienach jatuh koma di sebuah rumah sakit di Jenewa, Swiss.

Ia tidak sadar selama kurang lebih satu tahun.

Ketika bangun pada tahun 1922, ia mengatakan sesuatu yang sangat aneh.

Menurut pengakuannya:

"Aku tidak pernah merasa tidak sadar."

Ia mengatakan bahwa selama tubuhnya koma, kesadarannya hidup di masa depan.


Terbangun di tahun 3906

Dienach mengaku bahwa kesadarannya masuk ke tubuh seorang pria bernama Andrew Northam, yang hidup pada tahun 3906 Masehi.

Menurut ceritanya, orang-orang di masa itu segera menyadari bahwa terjadi "pertukaran kesadaran". Mereka tidak mengira ia mengalami gangguan jiwa, melainkan memahami bahwa kesadaran dari masa lalu sedang berada dalam tubuh Andrew.

Karena itu mereka memperlakukannya sebagai tamu dari masa lalu dan berusaha menjelaskan sejarah umat manusia sejak abad ke-20 hingga zaman mereka.


Apa yang ia lihat?

Menurut Dienach, manusia abad ke-40 telah mencapai tingkat peradaban yang sangat berbeda.

1. Dunia mengalami masa-masa gelap

Ia menceritakan bahwa abad ke-21 hingga beberapa abad berikutnya diwarnai oleh:

  • perang besar
  • krisis ekonomi
  • ledakan populasi
  • kerusakan lingkungan
  • konflik politik

Ini merupakan bagian dari perjalanan panjang sebelum peradaban menjadi stabil.


2. Negara-negara akhirnya bersatu

Menurut kisahnya, setelah melalui berbagai konflik besar, manusia membentuk suatu pemerintahan dunia.

Bukan berarti semua budaya hilang.

Namun peperangan antarnegara sudah hampir tidak ada.

Manusia mulai menganggap dirinya sebagai satu keluarga besar.


3. Sistem ekonomi berubah

Dalam masyarakat abad ke-40:

  • tidak ada kesenjangan ekstrem
  • pekerjaan dipilih sesuai bakat
  • teknologi mengurangi pekerjaan berat
  • pendidikan menjadi pusat kehidupan

Tujuan hidup bukan lagi mengumpulkan kekayaan.


4. Evolusi manusia

Ini bagian yang paling terkenal.

Menurut Dienach, manusia mengalami evolusi bukan terutama pada tubuh, tetapi pada kesadaran.

Mereka menjadi:

  • lebih intuitif
  • lebih damai
  • lebih sedikit ego
  • lebih mampu bekerja sama
  • lebih menghargai kehidupan

5. Pendidikan menjadi pusat kehidupan

Anak-anak tidak dipaksa menghafal.

Mereka belajar:

  • memahami diri
  • filsafat
  • seni
  • sains
  • hubungan dengan alam

Guru dipandang sebagai profesi yang sangat dihormati.


6. Agama

Menurut catatannya, manusia masa depan tidak lagi saling bertengkar karena agama.

Mereka lebih menekankan pengalaman spiritual daripada perdebatan.

Bagian ini sering ditafsirkan berbeda-beda oleh para pembaca.


7. Teknologi

Ia menggambarkan teknologi yang sangat maju.

Misalnya:

  • perjalanan antariksa
  • koloni di Mars
  • energi bersih
  • pengobatan yang jauh lebih maju
  • sistem transportasi baru

Namun yang menarik, ia mengatakan teknologi tidak menjadi tujuan hidup.

Teknologi hanyalah alat.


8. Alam

Manusia belajar bahwa mereka tidak dapat hidup jika alam rusak.

Karena itu bumi kembali dihijaukan.

Kota dan hutan hidup berdampingan.


9. Kesadaran

Menurut Dienach, manusia masa depan percaya bahwa:

kesadaran lebih penting daripada materi.

Inilah yang membuat banyak orang menghubungkannya dengan konsep-konsep seperti Quantum Jump, meskipun Dienach sendiri tidak menggunakan istilah tersebut.


Kembali ke tahun 1922

Setelah sadar dari koma, ia merasa sangat bingung.

Ia tahu orang lain mungkin menganggapnya gila.

Karena itu ia tidak banyak bercerita.

Sebaliknya, ia mulai menulis semua yang masih ia ingat ke dalam buku harian.


Muridnya menemukan buku itu

Beberapa waktu kemudian, kesehatannya kembali memburuk.

Ia pindah ke Yunani untuk mengajar bahasa Jerman.

Di sana ia memiliki murid bernama Georgios Papachatzis, yang kelak menjadi seorang akademisi dan rektor universitas. Sebelum meninggal, Dienach menyerahkan buku hariannya kepada Papachatzis. Awalnya, sang murid mengira itu hanyalah novel. Baru setelah membaca lebih jauh, ia menyadari bahwa naskah itu ditulis sebagai catatan pengalaman pribadi. Kisah ini kemudian diterbitkan dengan judul yang dikenal sebagai Chronicles from the Future.


Mengapa Aku Melukis?

 Pernah aku berpikir, bila semuanya akan musnah, mengapa aku melukis? Kalau aku menulis, itu ada manfaatnya buat orang lain dalam menjalani hidup menuju Tuhannya. Kalau melukis? Untuk apa coba? Dibeli orang pun jarang-jarang. Untuk meninggalkan kenangan bagi anak cucu pun tak ada gunanya, semua juga akan hilang dan musnah. 

Sampai insight itu pun hadir di hatiku. Bila semuanya tak ada yang sia-sia. Karena Allah yang akan mengenangnya, Allah yang mencatatnya, Allah yang membuatnya abadi. Tak ada hal kecil atau besar yang luput dari perhatian dan sentuhan kasih sayangNya. 

Maka aku melukis, untuk melukiskan kekagumanku dan rasa cintaku padaNya.

Selasa, 14 Juli 2026

Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri

Ini adalah cerpen yang aku unggah di platform menulis Kwikku.  Cerita untuk mengenang Innuri kecil yang suka banget melihat langit senja, bahkan sampai sekarang pun masih menjadi seorang penyuka senja dan langit jingga.  Cerita ini mengandung refleksi diri.  Sebenarnya aku lebih suka kalian membukanya langsung di sini  , apalagi menyempatkan diri follow akun Innuri.  Seneng aja kalau banyak yang baca cerpenku.  Selamat menikmati ya.

***



Apa sih yang istimewa dari langit senja?  Si gadis kedua suka memandanginya setiap hari dan menjengkelkan seisi rumah.  Pasalnya dia memandang senja dari lantai dua yang sudah mau ambruk.  Bangunan kayu di atas studio lukis almarhum sang ayah sudah terlalu tua dan pikun, bisa lupa cara menopang tubuh ringkih seorang gadis yang disayang langit.

Namun senja selalu menawarkan pesona yang membuat si gadis kedua mengabaikan seluruh marabahaya.  Senja di atas gunung, warna jingganya menembus pepohonan yang menggoyangkan daun-daun, seperti tarian penari di altar para dewa.

'Aku hanya ingin bertemu senja, adakah yang salah?' batin si gadis.

"Mengapa di loteng? Di sana bahaya, bisa ambruk, Ibu belum cukup uang untuk memperbaikinya.  Kakakmu masuk universitas tahun ini," kata si ibu menembus isi hati si gadis.

"Dibongkar saja, Bu," kata si kakak, gadis pertama, dengan santainya, seolah meruntuhkan sebuah bangunan semudah meruntuhkan memori yang tersimpan kuat di hati orang-orang terkasih.

"Tidak, itu kenangan Ibu bersama Ayah membangun rumah tangga dari nol, dari rumah sederhana terbuat dari kayu." Itu bukan suara Ibu, itu suara si kakak yang sudah hafal jawaban Ibu, bahkan hafal lebih banyak, nyaris seluruh kisah yang pernah dituturkan.

"Kamu dan adikmu besar di rumah itu, jangan abaikan itu," kata Ibu ketus.  Si kakak hanya mengangkat bahu dengan bibir melengkung ke bawah membentuk payung.  Wajah cantiknya terlihat menjengkelkan.

Sementara si gadis kedua berlalu diam-diam,  menuju bangunan tua di sebelah rumah, membuka pintunya yang reyot.  Mengabaikan debu yang menumpuk di kursi kayu tua, easel tripod almarhum ayahnya diam membeku, beberapa lukisan setengah jadi terpajang di dinding, rumah laba-laba menghias langit-langit, dingin dan bisu.

Langkah kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga, perlahan seolah enggan mengusik suara jangkrik dan tonggeret yang mulai ramai bersahut-sahutan.  Dia berjalan menuju depan jendela, membukanya dengan hati-hati, namun suara daun jendela bergesek menciptakan deritan yang mengagetkannya sendiri.

Ditatapnya langit yang masih terang.  Sebentar lagi warnanya meredup, batin si gadis.  Tangannya segera mengambil sebuah buku harian di meja tepat di sampingnya berdiri, membuka buku itu di atas jendela yang terbuka.  Terburu menuliskan sesuatu di sana, seolah takut hari berangsur gelap dan matanya tak lagi bisa melihat huruf-huruf.  Cahaya hingga mempercantik wajahnya, dihias rambut nan hitam melambai terkena hembusan angin sore. 

Aku suka sekali warnamu, kata si gadis pada langit, kata-kata yang hanya terucap di hati, namun dia tahu langit mendengarnya.  Seperti yang dilakukan langit pada setiap sore, selalu sabar mendengar cerita-ceritanya.  Dia berkisah tentang apa saja, tentang pagi yang sibuk, tentang teman-temannya di sekolah, tentang kakaknya yang selalu memusuhi dan mencari-cari kesalahannya, tentang Ibu yang selalu sibuk pagi, siang dan malam, tentang cowok-cowok yang mengerubunginya seperti semut mengerubungi donat.  Langit tak pernah bosan mendengar ceritanya.  

Tak ada yang lebih istimewa dibandingkan langit, teristimewa langit senja.  Bahkan dia berkhayal langit senja akan mengiriminya seorang kekasih yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan cowok yang mendekat hanya untuk menyentuhnya atau menatapnya lama-lama sambil mengeluarkan rayuan gombal. Kemudian gadis itu berbohong bila dia sudah tidak perawan dan mereka pun pergi, ide ganjil nan cerdas yang muncul begitu saja.

Langit selalu menampung cerita, menyaksikan berjuta kesedihan dan kebahagian.  Walau begitu, si gadis selalu merasa istimewa di hadapan langit, karena dia satu-satunya orang yang suka mengobrol dengan langit senja, tak ada satu pun teman-temannya suka melakukan seperti yang selama ini dilakukannya sejak dia meninggalkan seragam putih merah, sampai sekarang menjelang putih abu-abu.  Tidak temannya, terlebih lagi kakaknya yang selalu membenci kehadirannya, dia pasti membenci apa pun yang disukainya.

Si gadis terus bercerita sambil menikmati perubahan warna dari biru terang, berangsur kekuningan, lalu jingga, kemerahan, meredup dan menggelap.  Sang Ibu meneriakinya dari bawah, menyuruhnya turun untuk salat maghrib dan makan malam.  Maka gadis itu pun menutup jendela, mengembalikan buku harian ke atas meja, lalu turun perlahan mematuhi perintah sang Ibu.

Gadis itu harus turun dengan sangat hati-hati, ada anak tangga yang sudah rapuh kayunya, ada juga paku besar berkarat yang sudah menonjol, tapi bagi gadis kedua, semakin berbahaya tangga untuk naik turun, maka semakin aman rahasia yang tersimpan di atas loteng.

Hari ke hari berjalan seperti langkah pelari, gadis pertama sudah berkuliah di kota, meninggalkan adiknya dan sang Ibu di kaki gunung itu.  Si gadis kedua sekarang berseragam putih abu-abu, namun kebiasaannya menatap langit senja dari loteng kayu yang rapuh tetap tak tergantikan dengan apa pun. 

"Mengapa selalu ke loteng?" Entah sudah pertanyaan ke berapa dilontarkan sang Ibu, sedangkan gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.

Andai diterjemahkan, senyuman itu mungkin bilang, "Dari loteng aku bisa melihat gunung dan pepohonan, Ibu, dan cahaya jingga yang menerobos di sela dedaunan, itu indah luar biasa.  Lebih dari itu, di sana aku menemukan langit yang tak mendengar dirinya sendiri,  Dia mendengarkanku seolah aku adalah hal terpenting di dunia ini."

Walau tak pernah mendapat jawaban yang pasti, sang Ibu tak lagi menghalangi si gadis untuk naik ke loteng di sebelah rumah setiap sore.  Itu adalah rumah kayu yang dulu pernah menjadi awal perjuangannya merawat dan membesarkan dua putrinya yang cantik, rumah kayu yang berubah menjadi studio lukis suaminya setelah rumah tembok bisa dibangun di sampingnya.  

Begitu cepatnya waktu berlalu, sekarang si ibu sendirian berjuang untuk dua anak gadisnya.  Mengelola toko di pasar desa dibantu dua karyawan.  Bahkan untuk mencukupi kebutuhan kuliah si kakak, tokonya musti buka sampai malam.  Bila dulu setiap senja sudah berada di rumah, walau di rumah pun masih bekerja menulis buku kas dan merencanakan usaha sampai jam sembilan malam. Sekarang jam sembilan masih menutup toko, dilanjut mengerjakan pembukuan di rumah sampai selesai.  Rutinitas yang melelahkan demi dua buah hatinya.

Si gadis kedua merasa tak ada lagi yang menghalanginya naik turun ke loteng. Di sana dia menulis banyak puisi, banyak cerita, dan banyak lukisan.  Dia bersihkan sendiri studio ayahnya, menemukan banyak kanvas kosong, dikumpulkan dan dibersihkannya cat yang sudah berdebu untuk dia gunakan kembali.  Si gadis  menemukan dunianya, yang tak seorang pun berani mengusiknya,  dunia rahasia yang hanya dia dan langit senja yang tahu, 

Hingga pada suatu maghrib terjadilah itu.

Sore, sang Ibu merasa tidak enak hati, dia memutuskan pulang untuk salat maghrib di rumah saja bersama si gadis.  Batin seorang Ibu memang selalu begitu, seperti ada kabel tak kasat mata yang menghubungkannya dengan buah hati.  

Kabel itu menyuruhnya melangkah ke rumah tua dan menemukan gadis keduanya, putri yang disayanginya,  telentang di lantai dengan kepala berdarah, masih berseragam putih abu-abu dan darah itu juga membasahi sebagian baju putihnya, pas di bagian dada.  Spontan dia menjerit histeris sampai seluruh pegunungan mendengarnya, setelah itu dia terjatuh tak sadarkah diri. Para tetangga berdatangan, dan dalam waktu singkat sang Ibu mendapati dirinya berada di ruang IGD sebuah Rumah Sakit kecamatan.

Gadis itu, entah apa yang dilakukan paramedis di ruangan berkelambu putih tepat di sebelah sang Ibu berbaring.  Sementara sang Ibu mulai siuman, pandangan matanya kosong, mungkin merangkai kejadian yang baru dialaminya.  Spontan seorang perawat datang memegang pergelangan tangannya sambil tersenyum.

"Putri Ibu tidak apa-apa kok, hanya kepalanya perlu dijahit," kata perawat itu.  Si ibu melongo, antara percaya dan tidak.  Kesadarannya mengulang memori warna merah darah yang membasahi seragam putih putrinya.  Apakah darah dari kepala yang membasahi dada itu?  Bagaimana mungkin?  Apa yang sebenarnya terjadi?  Setidaknya dia merasa lebih tenang dengan berita yang disampaikan Suster itu.

Sang Ibu mencoba duduk, tetapi Suster menahannya untuk melakukan pengukuran tekanan darah.  

"Boleh saya melihat anak saya. Suster?" tanyanya.

"Belum, Bu.  Dokter masih melakukan tindakan.  Bila ibu sudah tidak pusing, boleh menunggu di ruang tunggu."

Seorang perawat lelaki menyodorkan sebuah buku padanya.  Sang Ibu mengusap air matanya, menatap mata si lelaki, seolah bertanya buku apakah itu?

"Ini buku yang dipeluk Nona," kata si lelaki.  Sang Ibu menerima buku itu, buku yang sebagian masih lengket oleh warna merah.  Bau yang tercium dari buku itu telah lama tidak dirasakan oleh indranya, bau cat akrilik!  Ternyata warna merah darah yang membasahi baju putrinya adalah warna cat tumpah!  Tiba-tiba perasaan lega mengalir di dada sang Ibu, bibirnya tersenyum lalu pamit pada perawat untuk menunggu di ruang tunggu saja.  Di sana sudah berkumpul para tetangga yang menunggu kabar berita dari ruang IGD.

Sang Ibu sangat berterimakasih dan mempersilakan para tetangga untuk pulang saja karena dirinya sudah sehat dan putrinya selamat, hanya perlu dijahit di bagian lukanya. 

Ditemani buku catatan harian si gadis kedua, bergetar tangannya ketika membuka lembar demi lembar curahan hati si gadis pada langit senja.  Catatan itu seolah menelannya hidup-hidup, membuatnya tak berhenti meneteskan air mata, menyesali segala yang terjadi walau itu sia-sia.  Menangisi waktu yang tak bisa diputar ulang.

Dibukanya buku harian itu secara acak dan menemukan tulisan ini.

"Langit senja, hanya kamu temanku satu-satunya.  Entah mengapa aku tidak punya teman.  Teman-teman mendekatiku hanya karena aku pintar dan murah hati memberi contekan saat ulangan.  Bila mereka tidak membutuhkan aku, mereka pun menjauh.  Kakakku membenciku karena katanya kehadiranku membuatnya gagal menjadi anak satu-satunya yang memperoleh seluruh perhatian. Ibuku terlalu sibuk bekerja menyiapkan masa depan kami, sedangkan Ayah, mengapa cepat sekali matinya? Aku masih membutuhkan Ayah."

Air mata itu menetes lagi, dibiarkannya mengalir sambil membuk lembar berikutnya.

"Langit senja, mengapa orang-orang sibuk berbicara dan ingin didengarkan? Guruku, Ibuku, kakakku, teman-temanku, semua minta didengarkan olehku, aku harus mematuhi dan mengikuti aturan main mereka.  Lantas, siapa yang mendengarkanku aku?  Hanya kamu, ya, kamu.  Kamu selalu mendengar segala keluhanku, kamu tak pernah mendengar dirimu sendiri, kamu selalu sabar dan setia.  Untung aku punya kamu, untung juga aku punya kanvas yang patuh dan mengikuti aturan mainku sendiri.  Pantesan Ayah suka berlama-lama di studio ini, kanvas dan cat adalah sahabat sejati."

Terasa pedih hati si ibu menyadari gadis kesayangannya merasa sendirian sampai harus bersahabat dan berbicara pada benda-benda mati.  Dadanya terasa sesak dan berdarah.  Selama ini dia telah salah membaca kebutuhan kedua gadisnya.  Bukan materi, bukan.  

Buku harian di tangannya seperti memahami isi hati si ibu, tak sengaja jatuh, di bagian yang terbuka langsung dibacanya.

"Langit senja, apakah kamu melihat kebodohan orang-orang?  Aku melihat kebodohan ibuku, mengejar uang untuk masa depan aku dan kakak, tapi mengabaikan hari ini.  Seolah-olah masa depan lebih penting daripada hari ini.  Kalau aku jadi gila karena sedih dan kesepian, adakah masa depan untukku?"  

Rasanya sang ibu ingin menerobos masuk ruang berkelambu putih itu, untuk memeluk si gadis kedua, memohon maaf telah menjadi ibu yang tak bisa memahami dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik.


***


Kamis, 09 Juli 2026

Semesta Paralel (12) Quantum Jump

 Beberapa tahun terakhir ini populer istilah 'quantum jumping' atau sebuah lompatan quantum untuk mengakses versi terbaik diri kita lalu menariknya ke dalam realitas saat ini.  Tentu yang melakukan itu adalah orang-orang yang percaya dengan adanya semesta paralel, dimana di semesta yang lain ada versi diri kita yang berbeda dengan diri kita salat ini.

Nah, persoalannya di sini adalah apa yang ingin dicapai oleh orang-orang yang melakukan quantum jump?  Apa tujuannya?  Untuk memperbaiki realitas saat inikah?  Ya, kebanyakan seperti itulah tujuannya.  Dengan kata lain, tujuannya masih makhluk.

Belum banyak yang tahu bila,  setiap kehidupan paralel di setiap semesta, manusia selalu disadarkan untuk kembali kepada Tuhannya. Ketemunya aku dengan kesimpulan ini gara-gara dimasukkan lagi sama Allah ke kehidupan paralelku di semesta yang lain.  Dari situ aku paham, ternyata di setiap kehidupan paralel, Allah menghadirkan bermacam peristiwa yang gunanya untuk memahami dan mendekatiNya untuk menyatukan setetes air itu kembali ke lautan luas alias menyatu dengan Tuhan, alias wushul, alias moksha, alias manunggaling kawula-Gusti.

 Jadi tidaklah penting menginginkan kehidupan di semesta yang lain, bila di sana hanyalah kembali ke dalam ayunan suka-duka.  Inginkan penciptamu, maka semuanya selesai. 

Banyak manusia melakukan quantum jump untuk menghadirkan kehidupan suksesnya di semesta yang lain ke dunia saat ini, padahal itu percuma saja.  Jiwanya masih berputar-putar di pusaran ego, mau sukses atau tidak sukses secara materi, hidupnya masih menderita secara spiritual.  Jadi yang lebih penting adalah kembali kepada Allah, melepas semua cinta terhadap makhluk yang meliputi manusia atau materi / harta benda, jabatan, kekuasaan, dll.

Ada seorang sahabat Innuri yang mengikuti pelatihan quantum jumping seharga beberapa juta dan sukses mempraktekkannya, tapi kenyataannya jiwanya masih gelisah, hidupnya masih terombang-ambing dalam ayunan suka dan derita.

Akan tetapi, Sahabatku sayang.  Semua yang aku, kamu dan mereka alami itu, semuanya sudah tertulis kok.  Jadi yang pernah melakukan quantum jump atau ikut pelatihannya, ya memang itulah proses yang musti dia jalani di dunia ini. Innuri tulis ini untuk mengingatkan diriku sendiri bila Allah pernah ngasih tahu aku bila di semesta mana pun, misi kehidupan setetes air itu tetaplah untuk kembali ke lautan.

Jadi .... Bagaimana pendapatmu?