Minggu, 01 Maret 2026

Dunia Paralel

 Entah kapan aku menonton film di tivi tentang dunia paralel, seseorang yang punya kehidupan di tempat lain di samping kehidupan aslinya, kehidupan yang sama sekali berbeda.  Aku lupa bagaimana alurnya, tapi sekarang aku merasa film itu berguna pernah kutonton, pasti Allah sudah merencanakannya dengan teliti, walau sekedar menonton film.

Kemarin malam tgl 28 februari 2026, pas tidur di pondok di kebun Sitiarjo, di bulan puasa ini, dengan suami tidur di sampingku, aku mengalami "dimasukkan" ke kehidupanku di belahan semesta yang lain, walau sebentar banget, telah berhasil menjawab satu pertanyaan yang masih tersisa tentang hidupku ini.

Tadinya sempat tertegun setelah tahu kehidupan paralelku di semesta yang lain, itu tempat yang indah dan damai, yang sama sekali berbeda dengan dunia yang penuh kebisingan di atas bumi ini.  Di sana aku hidup bersama suami yang menyayangiku dan dua orang anak, yang pertama cewek yang mirip aku waktu kecil dulu, berambut panjang, berkulit kuning langsat dan cantik, kira-kira berusia lima tahunan, sedangkan anak nomor dua cowok dan masih bayi.  Aku melihat (bukan melihat, tepatnya mengalami/merasakan) diriku seperti belum lama melahirkan dan suami melayaniku.  

Suami di kehidupan paralelku bukanlah suami yang aku miliki di sini, tetapi orang lain yang pernah hadir di kehidupanku.  Di sana aku jauh lebih muda dibandingkan aku sekarang, masih usia tigapuluhan gitu deh, separuhnya aku sekarang.

Tertegun aku begitu dipahamkan Allah akan semua itu, terjawab sudah rangkaian pertanyaan tentang hidupku ini, seperti menyaksikan versi utuh, the complete picture of my life.  Lega sekali walau sempat terseret ke kehidupan paralelku, dengan mudah (Allah yang memudahkan) aku kembali ke duniaku yang di sini.

Pertanyaannya sekarang, mengapa ada kehidupan paralel dan bagaimana memasukinya?

Sepemahamanku, itu karena dunia ini sudah semakin mendekati akhir, sementara tugas-tugas kehidupan yang musti dilalui seseorang masih banyak.  Dengan adanya semesta paralel, itu memungkinkan seseorang menjalankan beberapa tugas sekaligus untuk menyelesaikan misinya di muka bumi.

Bagaimana cara mengetahui dan memasuki dunia paralel?  Aku tidak tahu caranya, tapi kurasa dibutuhkan jiwa yang siap (tepatnya disiapkan Allah) untuk menyaksikan kehidupan parelelnya sendiri.  Ini tidak bisa dilatih, terjadinya menurut kehendak Allah mutlak.  Yang bisa dilatih adalah permurnian jiwa seperti yang aku tulis di seri Perjalanan ke Dalam di blog ini, karena hanya jiwa yang siap yang bisa masuk.  Jiwa yang belum bersih / belum siap,  amat rawan terjadi guncangan dan overlapping (tumpang tindih) antara kehidupan di sini dan di sana, ini tidak mudah dihandle.

Bukan aku saja yang punya kehidupan paralel, kalian juga mungkin, hanya saja tak semua orang bisa masuk ke kehidupan paralelnya, semua atas ijin Tuhan tentunya.  

Lantas mengapa aku menuliskan ini untuk publik?  

Kalau berdasar kemauanku sendiri sih ya enakan disimpen sendiri, aman, tidak perlu menghadapi hujatan orang yang tidak percaya dunia paralel dan tidak percaya padaku. Bila dibaca sekilas 'kan itu lebih mirip khayalan orang yang memimpikan kehidupan yang damai dan berbeda. Aku tidak menyalahkan, memang begitulah kalau tidak mengalami sendiri.  Tapi kalau dipikir lebih jauh, hidupku di sini sudah bahagia, ngapain repot cari kebahagiaan di semesta yang lain?

Aku sendiri pun dulu juga menganggap dunia paralel itu cuma fiksi, pemikiran orang yang super kreatif saja kukira.  Tapi begitu mengalami sendiri, pemikiranku jadi beda.  Ini sebuah cara cantik untuk 'selesai' dengan kehidupan, hidupku ringan, ringan banget, seperti sudah menyelesaikan semua misi dan tugas yang harus aku selesaikan, aku siap mati kapan saja Allah kehendaki.

Aku juga tidak boleh egois dengan menyimpan cerita ini untukku sendiri,  ada kehendak Allah agar orang yang mengalami hal yang sama denganku punya referensi pengalaman orang lain, biar nggak bingung sendirian.  Karena sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai dunia paralel yang berdasarkan pengalaman nyata dan bisa dipercaya pula.  Oh tentunya kalian boleh percaya boleh tidak dengan cerita Innuri, hanya satu yang harus kalian percaya yaitu kasih sayang Allah lah yang membuat segala kemungkinan terjadi di semesta mana pun, baik semesta tunggal atau semesta paralel.  Allah Maha Menghendaki segala sesuatu.  Sesuatu yang ada tidak harus bisa dibuktikan sendiri, karena keterbatasan makhluk.  

Di dalam Al Quran sendiri ada banyak ayat yang mengisyaratkan adanya semesta paralel, penyebutan tujuh lapis langit (salah satunya di Surat Al Mulk 3), itu bisa ditafsirkan sebagai semesta paralel.  Di samping itu ada istilah Tuhan semesta alam, yang artinya bukan hanya satu alam, tetapi beberapa alam.  Juga ada di Surat Asy-syura 29 yang menyebutkan kehidupan di antara langit dan bumi, yang mengisyaratkan bila kehidupan ini bukan hanya terjadi di atas bumi.

Percaya atau tidak, ini adalah hal yang menarik bukan?


Rabu, 25 Februari 2026

Baiat

 Baru hari ini aku terbuka dengan istilah baiat, benar-benar fresh from my heart deh.  Latar belakangku yang Muhammadiyah begitu anti dengan cara-cara NU ... huhu.

Dulunya kupikir baiat itu semacam sumpah setia murid pada seorang guru untuk menjalankan segala perintah guru dalam proses spiritual si murid. Jadi no way buatku, untungnya ketemu guru yang tidak pakai cara baiat-baiatan, aman lah.  Kupikir aku tidak akan bersentuhan dengan kata baiat ini untuk selama-lamanya, sampai suatu ketika ....

Gus Mukhlason Rasyid mengatakan bila baiat itu penting, untuk mengukuhkan ikatan antara Allah dengan hamba, bukan antara guru dan murid, agar perjalanan batin untuk menyatu dengan Allah (istilah Gus Son wushul) lancar dan tidak banyak hambatan. Jadi seorang guru hanya menjadi media yang membantu muridnya melakukan ikatan hati dengan Allah.

Aku jadi ingat jaman dulu sewaktu sering bantu orang, sering melihat 'hitam-hitam' dalam diri seseorang yang menghalangi orang itu dari kebaikan, seperti pintunya tertutup.  Nah, pernah 'kan Innuri bantu seorang pembaca dari Sumenep yang terlilit masalah finansial, aku melihat hitam-hitam si orang ini menghalangi datangnya keberlimpahan.  Aku bantu hilangkan hitam-hitamnya pakai transfer energi, dan aku bantu 'nerawang' memilih fokus di usaha apa, karena beliau memiliki bermacam usaha.  Setelah itu rezekinya melesat bak anak panah.  Tapi semuanya Allah yang melakukannya.

Apa kaitan cerita ini dengan baiat?  

Ini soal penglihatan batin.  Seorang guru yang sudah tercerahkan bisa melihat sejauh mana ikatan batin si murid dengan Allah, sekaligus tahu 'hitam-hitam' yang menghalangi si murid menuju wushul.  Dan guru itu membantunya menguatkan ikatan dengan Allah agar perjalanan spiritual si murid lancar.  Jadi semacam ditambah mesin turbo.  

Kalau seseorang sudah kuat ikatan batinnya dengan Allah, sebenarnya nggak perlu baiat, seperti Innuri juga nggak, tapi butuh waktu yang lebih lama, karena ikatan ini sifatnya kendor-kenceng-kendor-kenceng.  Dan tanpa guru, tak ada yang mengawasi waktu kendor jadi terus ndlosor ....

Ternyata baiat itu bukan sebuah kata yang mengandung alergi. Ucapan syahadat untuk masuk Islam itu pun baiat, dibaptis untuk Nasrani juga baiat 'kan?

Cuma harus waspada kalau yang membaiat bukannya menguatkan ikatan hamba dengan Allah, tapi malahan mengikat murid pada dia sebagai gurunya, agar murid patuh padanya bukan patuh langsung pada Allah.

Jadi hati-hati ya.  

Selasa, 24 Februari 2026

Wujudnya Tuhan

 Alam semesta dan seisinya ini adalah wujudnya Tuhan, tetapi Tuhan bukan alam semesta itu.  Aku dan kamu adalah wujudnya Tuhan, tetapi aku dan kamu bukan Tuhan.

Lampu adalah wujudnya listrik, tapi lampu itu bukan listrik. Setrika juga wujudnya listrik, tapi setrika bukan listrik.  Lah listriknya mana? Ya tidak kelihatan, dia hanya bisa dirasakan saat kesetrum oleh perangkat kulit / tubuh kita..

Tuhannya mana?  Ya tidak kelihatan mata, hanya bisa dirasakan kehadirannya lewat perangkat yang disebut hati dan bisa dilihat dengan mata hati.

Tanpa listrik, lampu tidak bisa menyala.  Tanpa Tuhan, alam semesta tidak ada.  Listrik mengaliri lampu untuk menyala, Tuhan meliputi alam semesta untuk tetap berputar.  Tuhan meliputi kamu dan aku untuk tetap hidup.

Kulit yang bisa merasakan listrik saat kesetrum adalah kulitnya orang hidup.  Kalau kulitnya mati ya tidak bisa merasakan listrik.  Hati yang mati tidak bisa merasakan Tuhan, hanya hati yang hidup yang bisa merasakan Tuhan.  Mata hati yang mati tidak bisa melihat Tuhan, mata hati yang hiduplah yang bisa melihat Tuhan.

Jadi, sudahkah melihat dan merasakan Tuhan?

#innuriinspirasi 

Senin, 23 Februari 2026

Berusaha tanpa Berusaha

Kebanyakan muslim pasti setuju kalimat ini,"Kita hanyalah makhluk yang berusaha dengan usaha yang terbaik, perkara diterima atau tidak diterima Allah, itu pasrahkan saja."

Sedangkan di dunia spiritual yang lebih dalam, ada istilah yang membingungkan, berusaha tanpa berusaha, beribadah tanpa beribadah.  Wujudnya Allah adalah alam semesta ini tapi Allah bukan alam semesta ini.  Aku adalah Allah  tetapi aku bukan Allah. Ini badanku tapi aku bukan badan ini. 
Sungguh mempuyengkan bukan?  Ya, sana beli obat sakit kepala di warung Madura ... haha.

Coba buka surat Al Anfal ayat 17 ... bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, Allahlah yang melempar ....

Karena pada hekekatnya Lahaulawalaquwataillabillah , tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah.  Jadi manusia itu aslinya cuma dipinjami kekuatan dari Allah, kalau dipinjami ya jangan ngaku-ngaku punya gitu loh.  Aslinya kita ini tidak punya kekuatan apa-apa, bahkan tidak punya apa-apa, alias tidak ada.  Yang ngaku-ngaku bisa berusaha itu ya keakuanmu itu, alias egomu itu, Tuhan ditaruh di mana? Apa Tuhan habis minjami kekuatan langsung ilang plas ... nunggu di langit, suatu saat nanti minta pertanggung jawabanmu atas kekuatan yang dipinjamkanNya?  Begitukah?  Ya nggak begitu kalau menurut Quran Surat Qaf ayat 16.  Allah itu lebih dekat dari urat lehermu.  Urat leher kalau diputus matilah kita, yang berarti Allah di dalam dirimu itulah kehidupan.

Melepaskan keakuan, itulah makna kembali kepada Allah.  Kembali kepada Allah alias mati, matinya ego, ya sudah kamu sampai ke akhirat yang luasnya seluas langit dan bumi ini.  Pengalaman ketiadaan diri itu pengalaman indah sekali tiada tara, kemerdekaan diri dari perbudakan ego dan hawa nafsu.

Selengkapnya Qaf 16.  Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Ketika diri tiada, yang tinggal hanya Allah, berarti yang berbisik di hati kita itu siapa dong? Ya Allah lah, Allah yang berbisik, menggantikan ego dan hawa nafsu.  Manusia sudah berhenti berperang memerangi hawa nafsu, karena dirinya tiada.  Maka manusia ini auto tidak suka ghibah, tidak mendengki, tidak nafsu mengejar dunia, tidak suka menilai ini itu, tidak suka menghukumi itu sesat, kafir dsb.  Dan manusia ini kalau salat pikirannya tidak melayang kemana-mana, karena Allah sudah menerangi hati dan pikirannya.

Itulah makna berusaha tanpa berusaha.



Otak yang Berisik

Kemarin lusa, pagi-pagi, aku diinbox seorang ibu, pembaca innuri blog, sebut saja ibu Y, minta tolong karena  anaknya yang masih remaja, cewek,  kena gejala depresi, emosi meledak-ledak, tantrum dsb, sudah ke psikiater, tapi belum membaik.  Lalu aku minta foto dan nama anak itu.

"Kenapa ya mbak?" tanyanya, padahal beliau aslinya tahu masalah yang dihadapi anaknya, tapi belum mau mengatakannya.

"Otaknya berisik,"jawabku, lalu aku transfer energi.  Aku minta seharian Bu Y mengamati perkembangan anaknya, sejauh apa kemajuannya.

Malamnya ibu Y bercerita perkembangan si cewek (aku copas dari WA tanpa edit, cuma nama aku ganti X).

"10 menit setelah mba Innuri kirim energi,  X yg awalnya sdg mendengarkan lagu di TV, langsung off kan TV, dan rebahan dilantai dan mulai rileks ngantuk.  Saya dampingi disebelahnya dan ikutan ketiduran.  X tertidur kurang lebih 1 jam an, lalu masuk ke kamar nya. Sore hari, X melanjutkan aktifitas menggambar sambil dengerin lagu. Setelah itu kalau diajak ngomong hanya jawab sepatah dua patah kata saja. Magrib habis berbuka, kami ngobrol dikamar bareng bapaknya, X datang ikutan nimbrung minta di pijetin, minta dipeluk saya dipangkuan, Sambil dipeluk dipangkuan, kami pijetin, elus elus, kami blg sayang sm X, jadi anak soleha ya nak... Dia jawab iya bunda, iya bapak."

"Berarti ada progressnya ya Mbak?" kataku.

"Iya mba Innuri, kmrn diajak ngomong saya aja gak mau jawab dan uring uringan terus." jawab ibu Y.

Alhamdulillah, walau belum tuntas dan menyisakan PR panjang. Bukan Innuri tapi Allah yang bisa menyembuhkan, kalau aku mah cuma 'akting'.

Nah esok paginya, X emosinya tak terkonrol lagi.  Baru keluar cerita dari ibu Y bila X sebenarnya produk dari orang tua bercerai, kemudian ibu Y menikah lagi dan suami barunya (yang dipanggil Bapak sama X), orang yang egonya cukup tinggi dan temperamental.

Menangani X itu gampang, dia masih remaja dan lentur, orang tua yang sudah kaku kayak kepala alien itu lah yang susah. Kondisi kejiwaan orang tua memengaruhi anak, tapi orang tua sering menyalahkan anak kalau anak suka membantah.

Padahal aku sendiri bukan ibu yang bijak.   

Tapi di balik semua itu ada Allah yang menggariskannya, tapi garisnya selalu benar 'kan?

Dunia ini panggang sandiwara, penulis skenarionya Allah.  Innuri yang kukira bakalan mati di usia sebelum 60 tahun, dengan tugas barunya ini, mungkin umurnya bisa lebih panjang, walau aku gak suka, enakan mati.  

Tapi di atas semua itu, di atas panggung sandiwara ini, tugas manusia adalah kembali kepada Allah seutuhnya, meletakkan ego dan memilih Tuhan.  

Masalah apa pun, pada dasarnya adalah untuk mendorong manusia kepada Tuhan.  Jadi Innuri itu tugas aslinya bukan bikin orang sembuh, itu mah cuma daya tarik biar orang mendekat, kalau sudah dekat dijebloskan ke Allah, tempat pulang paling kurindukan.

Jadi ceritanya Innuri lagi cerita apa lagi curhat nih?  Kayaknya sih yang terakhir itu ...

***

Ya Innuri lagi galau waktu nulis tulisan di atas, galau sendirian malam-malam di Ngantang.  Ditambah  juga lagi  chatting sama keluarga 'pasien' satunya, Bu R yang salah satu anggota keluarganya kena depresi juga.  Keluarga ibu R ini bahkan kisahnya bisa jadi novel 10.000 halaman ... haha.  Aku benar-benar terpapar cerita sedih 15.000 kata, bayangkan tuh!

Dalam kegalauan itu, aku nanya ke Allah,"Beneran nih Innuri dapat tugas? Apa bukan egoku itu ya Allah?"

Kepalaku mulai cenut-cenut.  "Allah, kayaknya aku gak kuat deh!" Lalu tanganku mulai menghapus artikel  yang kuposting tadi siang, kubilang pada diriku sendiri sebagai pembenaran atas tindakanku,"Ini yang nulis egoku, bukan Allah."

Otakku berisik dah kayak A.

Aku sempat terpikir mau konsultasi sama Pak Hans, soalnya Pak Hans pernah cerita ada meditasi khusus untuk terapis biar energi negatif pasien tidak memengaruhi, tapi tentu bukan malam ini, harus bikin janji zoom meeting dulu kalau sama Pak Hans.  Kalau malam ini mah yang aku butuhkan dielus-elus Taomingse ... eh, suamiku ding.  Wes pokoke kalau tulisannya sudah ngelantur begini, alamat egonya Innuri lagi kerja.

Baru kemarin aku diantar ke Ngantang, kalau aku cerita keadaanku sekarang, pasti detik ini juga doi meluncur ke sini.  Wong dia itu sayangnya nggak karu-karuan sama aku. Aku gak tega, dia pasti kecapean, karena dia handle sendiri usaha kami, belum dapat karyawan lagi sejak .... 

Akhirnya aku matikan lampu, berbaring, meditasi zikir sirrur asror dan yap! ketemu obatnya.

Mengapa kepalaku berat banget?  Karena aku merasa aku sendiri yang mendengar cerita-cerita ruwet itu, alias egoku, bukan selfku.  Karena aku sendiri yang merasa melakukan transfer energi, walau aku berdoa dan menghubungkan hati dengan Allah, tapi posisi aku dan Allah tidak menyatu. itu melelahkan di kepala.  Ini halus sekali perbedaannya, susah dijelaskan, tapi aku tahu kesalahanku. Mestinya aku tidak boleh merasa transfer energi, tapi Allah, aku harus hilang/tiada , itu baru bener.

Fana, aku harus selalu posisi 'on' di situ.  

Setelah kesadaran itu keluar, perlahan-lahan beban di kepalaku terangkat, diangkat Allah, akhirnya sembuh sakit kepalaku, aku bisa senyum lebar, menyalakan lampu, menelepon suamiku dan berhaha-hihi cerita tentang kisah yang kualami hari ini, teristimewa malam ini.  Di Pakis sana suamiku malah bilang sudah kangen, padahal baru sehari gak ketemu, dah kayak remaja puber saja.

Aku bisa tidur nyenyak malam ini, terima kasih Allah.

Seandainya seluruh dunia tahu, betapa ajaibnya Fana, ketiadaan diri dan menjadi satu dengan Allah.

Allah , I love You.

Minggu, 22 Februari 2026

Sirrur Asror

Makanya jangan membenci sesuatu, bisa jadi suatu hari Allah membuatmu mencintainya setengah mati.   Ini mah aku banget.

Ceritanya biar kenal sama tetangga, aku ikut jamaah tahlil ibu-ibu di RT-ku Asrikaton Pakis ini, walau lebih banyak 'titip absen'nya.  Yang tidak aku suka, jamaah ini sedikit-sedikit kirim Al Fatihah ke Syeh Abdul Qadir Jaelani, itu sesuatu yang membuatku  -maaf ya maaf ya Syeh-  alergi.  Bukan hanya jamaah tahlilku, juga suara dari masjid  yang dikit-dikit Al fatihah buat Syeh Abdul Qadir Jaelani.

Terlepas dari benar atau salahnya mereka, yang pasti aku telah salah membenci tanpa ingin tahu beliau Syeh ini siapa, bukan benci sih, tapi geregetan ... bedanya apa? haha.

Nah, kira-kira dua bulan lalu, aku lagi nyimak kuliah pak Hans di Youtube, dan karena kubiarkan muter terus sambil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, muncul Gus Mukhlason Rasyid.  Aku mendengar beliau menyebut sirrur asror, dan bahasan beliau relate banget dengan yang kualami saat khalwat, jadi aku simak terus, itu berlangsung sampai berhari-hari.  Dari Gus Son baru kutahu apa yang terjadi padaku selama khalwat berikut istilah-istilahnya dalam tasawuf.
 
Lalu aku googling,  sirrur asror itu apa, eeeeh, ternyata itu dari tariqat Syeh Abdul Qadir Jaelani!  Untungnya Gus Son nggak pernah sekalipun kirim Al fatihah buat Syeh, Gus Son bilang sirrur asror itu ada dasar hukumnya di Al Quran, itu salah satu yang membuatku cocok dengan beliau dan kusimak terus kajian-kajiannya.

Sirrur asror itu secara harfiah artinya rahasianya rahasia, dalam tasawuf itu zikir yang disampaikan tanpa kata, tanpa suara, hanya menyambungkan hati dengan Allah, merasakan kehadiran dan kasih sayangNya.  Aku sendiri pernah menulis dan melakukan zikir tanpa kata ini tapi nggak tahu namanya.  Innuri memang banyak mengalami tapi nggak tahu istilahnya, sampai kadang aku kasih istilah sendiri.

Sejak tahu sirrur asror, aku melakukan zikir sirrur asror terus setiap hari, aku amat sarankan kalian juga mengamalkan ini, karena kemajuannya luar biasa bagi kedekatan batin kita dengan Allah.  Begini caraku melakukannya.

Karena aku pemalas, aku sambil berbaring atau mlungker ... hehe, mlungker beneran sambil selimutan. Kupejamkan mata dan sambungkan hati dengan Allah, minta dibantu dalam proses selanjutnya.  Pelan-pelan aku merasakan kehadiranNya di hadapanku, di luar diriku, lalu di dalam diriku, meluas, di dalam diriku yang semakin lama semakin luas dan di alam semesta, merasakan mikrokosmos dan makrokosmos sampai keduanya menyatu.  Aku seperti terayun-ayun dalam indahnya buaian kasih sayang Allah yang meliputi segala sesuatu.

Rasanya gimana?

Pernah nggak kamu merasa hari-harimu begitu kacau, lalu datang kekasihmu dan memelukmu?  Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan merasakan 'dipeluk semesta' atau dipeluk Allah ini.  Perasaan ini tidak terdefinisikan.  Ketika kamu merasakan itu, dunia ini jadi kecil, bagimu yang terpenting adalah bersama Sang Maha Kekasih saja.  Ruhmu hidup.

Setelah melakukan zikir sirrur asror yang disengaja, di keseharian seperti auto terkoneksi dengan Allah, merasakan dibersamaiNya terus menerus.

Kukira yang dialami setiap orang saat melakukan zikir sirrur asror bisa berbeda-beda, tapi semua itu tak masalah, yang penting batinmu terkoneksi dengan Allah.  Tak semua orang bisa masuk di mikrokosmos dan makrokosmos, itu pun tak masalah.  

Dicoba ya!

Jumat, 20 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (7) Mencicipi Surga

 Celupkan ujung jarimu ke air laut, air yang menempel di jarimu itu ibarat kehidupan dunia, sedangkan lautan luas itu adalah kehidupan akhirat. (Hadits)

Dan ini ayat Al Quran yang menerangkan kondisi batin penduduk surga:

- Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada di hati mereka (Al Hijr 47)

- ... dan kami cabut segala macam kedengkian yang berada di dalam dada mereka ... (Al Araf 43)

Kalau kita gabungkan ketiga dalil itu, maka sebenarnya kita bisa hidup di surga sejak sekarang, sejak Allah perjalankan diri kita menuju kefanaan / ketiadaan.  Kalau kamu mengikuti tulisan-tulisanku sebelumnya, kamu pasti paham ke mana arah perjalanan ini.  

Perjalanan ini arahnya menuju akhirat, aku ajak mati', yang dimatikan adalah ego, yang dihidupkan adalah ketuhanan di dalam dirimu, kamu menyatu dengan Tuhan dan kamu hidup di akhirat, tempatmu di akhirat adalah surga, sejak di dunia ini.

Adam Hawa diturunkan ke bumi gara-gara makan buah kuldi, buah kuldi itu ternyata perumpamaan, itu adalah ego!  Ketika kamu sudah berhenti memberi makan egomu, kamu kembali ke surga.  Namun perjalananmu menuju surga bukanlah perjalananmu, kamu diperjalankan Allah.

Digambarkan kondisi batin orang-orang yang sudah masuk surga itu lenyapnya dendam dan tercerabutnya rasa dengki, yang berarti bila seseorang sudah dilenyapkan rasa dendam dan benci oleh Allah, dia masuk surga dah, sejak di dunia ini.  Hatinya penuh kasih, tidak ada ruang untuk dendam dan benci, isinya cuma cinta kasih thok. 

Aku tuh kalau membaca terjemah Al Quran, sering mengalami 'dimasukkan' dalam suasana yang sedang aku baca, seperti terjun lewat lubang waktu dan mak njekuthuk dihadirkan di masa itu.  Misalnya pas membaca ayat tentang peperangan, mak njekuthuk aku dimasukkan Allah dalam suasana perang yang dilukiskan di ayat itu, sampai gemetaran lihat kengeriannya.  Tapi enaknya pas ketemu Nabi, para Nabi itu orang-orang pilihan beneran deh, secara fisik ideal, maksudku guantenggggg bro! Memesona sampai ujung kain bajunya pun! haha ... Kalau hidup di masa sekarang, sudah ditawari jadi artis .. ehm, maafkan Innuri ya Allah, kok jadi ngelantur begini.

Suatu hari aku mak njekuthuk diperlihatkan Allah surga.  Digambarkan pakaian penduduk surga itu sutra yang halus 'kan di Al Quran?  Ternyata bukan hanya itu, pakaian penduduk surga itu kalau diselimutkan ke orang yang sakit parah di dunia ini, dia bisa sembuh! Jadi pakaian surga itu pakaian keabadian. Soal bagaimana mereka berkomunikasi, mirip telepati kalau di dunia ini, gak butuh bahasa dunia.  Dan kediaman mereka itu luas banget, kayak pulau yang amat indah gitu deh untuk satu orang.  Selebihnya silakan berimajinasi, tapi jangan sekali-kali menjadikan surga sebagai tujuanmu, itu berarti kamu menyembah makhluk, tujuanmu hanya Allah, untuk menyatu dengan Allah.

Sekarang mari bandingkan dengan surga di dunia.

Pernah pas nginep di kebun, di pondok berukuran 2 x 2,5 m, malam-malam aku duduk bengong menikmati alam dan rembulan yang tergantung di langit.  Aku merasakan rumahku adalah alam semesta, dindingnya adalah gunung-gunung itu, plafonnya adalah langit, lampunya adalah rembulan dan matahari, musiknya musik alam, suara binatang dan hembusan angin.  Itu indah sekali, seperti di surga, kamu bisa membayangkannya.  Ternyata surga itu soal rasa.

Aku dan suami sejak mengalami fana, kami kerap mengerti isi hati satu sama lain.  Aku merasa nggak susah menyampaikan kebutuhan dan keinginanku, mak njekuthuk dia bawakan tanpa aku ngomong dulu.  Aku merasakan dia dan dia merasakan aku. Dah kayak bahasa surga.

Dan yang paling menarik adalah dikasih Allah pengalaman OOB alias out of body experience, mak njekuthuk salat di depan baitullah di Mekah, tanpa naik pesawat, tanpa bikin passport.  Atau OOB ke tempat yang tidak ada apa-apanya, seperti ruang hampa tapi luas dan indah sekali, yang di sana hanya ada aku dan Allah, itu terindah di atas yang indah.  Tapi sekali lagi aku bilang, jangan menjadikan semua ini tujuanmu, tujuan tetap Allah, kalau ada beloknya, segera sadari dan kembali ke Allah lagi.

Mengenai pakaian surga yang bisa menyembuhkan, kupikir-pikir 'kan sudah lama aku bisa transfer energi untuk membantu orang sakit.  Allah yang menyembuhkan aslinya, Innuri itu sudah tidak ada.

Tentang surga, jangan berpikir itu khusus untuk orang muslim, siapa pun bisa asalkan bertauhid (Al Baqarah 62).  Tauhid itu apa? Ya yang aku tulis berjudul-judul ini.  Mengesakan Allah, berhenti memuja ego.

Ini adalah tulisan terakhir dari seri Perjalanan ke Dalam.  Aku tulis secara marathon sampai mata pedes, ups! bukan aku, tapi Allah.  

Ketika aku fana (difanakan Allah), aku ingat beberapa tahun lalu pernah punya feeling, prekognisi, bila aku akan mati sebelum usia 60.  Aku pun bilang pada suami dan anak-anak dengan sebijak mungkin menurutku.  Aku ingin menjadikan mati sebagai obrolan biasa saja, itu hal alamiah yang bakal dialami semua orang 'kan?  Bahkan kematian bagi orang-orang khusus adalah peristiwa kelulusan dari sekolah kehidupan yang patut dirayakan.  Tapi tak semudah itu, mereka sedih dong, terutama suamiku, lah aku 'kan istri dia yang pertama, kedua, ketiga dan keempat kata dia ... haha, berarti kalau aku' mati, itu ibarat kehilangan empat orang sekaligus.

Namun ketika usiaku belum 60 dan mengalami fana, aku menyadari sesuatu, mungkin inilah maksud prekognisiku beberapa tahun yang lalu, bukan mati fisik, tapi mati ego dan kembali ke Allah dalam arti manunggaling kawula-Gusti.  Tapi bila memang beneran aku mati fisik sebelum usia 60, aku minta maaf atas segala kesalahanku selama berinteraksi dengan kalian, tapi aku tak pernah meninggalkan kalian lewat tulisan-tulisan di blog ini dan di platform lain.  

Aku banyak menulis jawaban di Quora, ada banyak tulisanku di Quora belum sempat aku salin ke blog, kalau ingin tahu bisa buka Quora di ruang "Innuri dan Allah", itu khusus jawaban yang bersifat spiritual, kalau jawaban lain di akunku Innuri Sulamono, itu jawaban random dan banyak egonya ... hehe.

Bagi yang suka novel, boleh kunjungi novelku di Fizzo (di sini banyak iklannya tapi) atau di Kwikku.  Aku sudah tak menulis di Fizzo lagi, tapi novelku masih nangkring di sana, karena terkontrak dan aku sudah terima bayarannya, gak bisa dipindah ke platform lain jadinya.  Kalau cerita fiksiku yang baru-baru nangkringnya di Kwikku, aku buat gratis kok, yang pakai koin cuma cerita yang rahasia ... haha.  Meskipun berbentuk novel atau cerpen, ada pelajaran spiritual aku sisipkan di sana.

Oh ya, ada yang bertanya apa bisa Innuri menjadi pembimbing spiritual?  

Begini ya, bergurulah langsung kepada Allah, meskipun secara lahiriah kamu berguru pada manusia.  Pernah kubilang kalau kamu niat banget pingin dekat dengan Allah, Allah pasti kirimkan gurunya buat kamu.  Seandainya Allah kehendaki aku jadi pembimbingmu ya aku gak bisa menolak. Tapi soal menjadi pembimbing atau guru, itu ada metodenya sendiri dan aku bukan ahlinya, jadi aku hanya bisa menjadi teman / sahabat seperjalananmu.  Bukan guru-murid ya, tapi teman tempat berbagi cerita dan nasehat, bisa jadi kamu lebih tahu dari aku.

Kalau mau berguru yang ada metodenya, aku sarankan ke Gus Son yang pernah aku ceritakan di tulisan terdahulu.

Aku menulis soal spiritual bukan berarti aku lebih tahu dan lebih baik dari orang lain, tetapi murni karena Allahlah yang menugasiku menulis, bukan aku, tetapi Allah.  Jadi ayo jadi sahabat seperjalanan saja, kalau mau komunikasi bisa DM lewat Fb atau IG.  Aku dan beberapa gelintir teman juga punya grup WA judulnya Simak Al Quran, di sana ada Om Mar penghafal dan pendakwah Al Quran, kalau mau masuk ke grup itu boleh, DM saja, aku kasih tautannya. 

Tahu nggak, aku legaaaa sekali setelah menulis artikel terakhir dari seri Perjalanan ke Dalam, sepertinya tugasku sudah selesai saja.  Sampai jumpa di 'akhirat' ya!


Kamis, 19 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (6) Berhala Batin

 Disclaimer : Untuk membaca tulisan ini, kamu musti memahami dulu tulisan di seri Perjalanan ke Dalam sebelum-sebelumnya, mulai dari tulisan klik di sini  , sampai yang Perjalanan ke Dalam 5.  Kalau tulisan sebelumnya tidak dipahami, bisa salah sangka dan kamu bisa menuduhku sesat.  Aku tidak takut dituduh sesat, aku cuma kasihan padamu karena yang berhak menghukumi sesat itu cuma Allah.

Lanjut ya, siapkan diri untuk tidak kaget ... hehe.

Bila memang benar-benar ingin menyatu dengan Tuhan, musti mengenali gerakan batin kita sedang mengarah ke mana, ke arah ego atau ke Tuhan.  Ini pembahasan yang halus sekali tentang ego, yang berbeda dengan pembahasan tentang ego dan self di tulisan terdahulu.

Ego yang aku maksud sekarang adalah ego dalam hal kehendak dan keinginan.  Di dunia orang awam, keinginan adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, bukan dosa, bukan kejahatan.  Namun di dunia orang spiritual, keinginan itu bisa jadi berhala.  Keinginan adalah produk dari ego dan merupakan sumber penderitaan.

Memangnya nggak boleh punya keinginan?  Keinginan seperti apa yang berubah jadi berhala?

Boleh dong punya keinginan, asal keinginanmu itu tidak mengganggu hubunganmu dengan Tuhan.  Keinginan berubah menjadi berhala apabila kamu mendambakannya melebihi kamu mendambakan Tuhan.  Keinginan juga berubah menjadi berhala apabila kamu melakukan sesuatu demi keinginanmu dan bukan demi Tuhan.

Kamu mencintai sesuatu melebihi cintamu pada Tuhan, itu pun berhala yang menghalangimu mendapatkan pengalaman ketuhanan yang indah itu.

Tandanya bila keinginan sudah menjadi berhala adalah kamu sedih dan galau bila tidak tercapai.  Kamu tersiksa oleh keinginanmu. Kamu menjadi budak atas keinginanmu.

Bahkan ego itu bersembunyi di balik alasan-alasan yang mulia.  Misalnya nih, salah satu tujuan spiritual puasa itu melemahkan ego, tapi bisa berubah jadi semakin menguatkan ego ketika jadi langsing dan senang banget ketika dipuji orang.  Sebuah paradoks.  Ini mah cerita diriku sendiri.

Contoh lain lagi dari ego yang bersembunyi di balik hal mulia itu ketika jaman dulu aku selalu menampung orang yang melamar kerja di tempatku.  Selalu aku kasih kesempatan, akibatnya aku bingung naruh dia di mana, sampai akhirnya bikin banyak produk yang bisa mereka kerjakan, bila nggak bisa ngerjain baju ya ngerjain makanan.  Aku jadi super sibuk setiap hari dan super pusing ketika hari Sabtu saatnya menggaji puluhan karyawan.  Dan ketika dapat penghargaan UMKM Award, bangganya luar biasa, egoku melambung tinggi, ngaku-ngaku bila aku telah berusaha keras membantu banyak orang mendapatkan pekerjaan, padahal zonk! Allah yang melakukannya.

Tidak ada yang salah dari memperbesar usaha, yang salah itu egonya.  Penyelesaiannya adalah pola pikirmu harus spiritual, bukan aku, tetapi Tuhan, bukan aku yang menjalankan usaha ini, tetapi Tuhan.  Bukan aku yang menggaji karyawan, tetapi Tuhan.  Bukan aku yang mengetik tulisan ini, tetapi Tuhan.  Bukan aku yang memasak untuk keluargaku setiap hari, tetapi Tuhan.  Bukan aku yang menyuapkan makanan ini ke mulutku, tetapi Tuhan.  Perbanyak sendiri kalimat-kalimat semacam ini di keseharianmu dan tanamkan pola pikir itu.

Mungkin kalimat-kalimat itu terdengar janggal dan aneh bila dipahami secara harfiah, bila kamu ucapkan dan ada orang yang mendengar, kamu pasti langsung dihukumi sesat, musrik, kafir, murtad.  Masak Tuhan memasak? masak Tuhan makan? masak Tuhan pup? Makanya ucapkan di hati saja, pahami secara hakekat, itu adalah sebuah terapi melemahkan ego, agar kamu bisa menyatu dengan Tuhan.

Sebab hakekatnya  manusia ini tidak ada, semua keberadaan dan semua pergerakan ini adalah keberadaanNya dan pergerakanNya.  Kalau istilahnya Gus Son, semua ini adalah wujude Gusti Allah, sifat wujud Allah.  Wujud Allah itu adalah diriku, dirimu, alam semesta dan segenap isinya ini, tapi bukan berarti itu semua Allah loh ya, Allah sendiri tidak bisa dilihat mata zahir ini, bisanya dilihat mata batin.  Wujud Allah adalah alam semesta, tetapi Allah sendiri adalah yang tidak kelihatan mata di alam semesta ini.

Allah menyatu dengan dirimu, hanya dirimu tidak menyadarinya.  Kalau kamu mau mencoba melakukan 'terapi' yang aku tuliskan di atas dalam keseharianmu, terapi membentuk pola pikir 'bukan aku, tetapi Tuhan' yang aku bilang tadi.  Maka kamu perlahan akan merasakan betapa selama ini kamu telah dilayaniNya di setiap detak jantung dan tarikan napasmu. 

Berhala batin berupa ego yang bisa menyusup kemana-mana itu kelihatannya susah dikenali.  Tapi sebenarnya mudah,  ketika kamu galau atau sedih, itu pasti ada ego yang menyusup.  Ketika melihat seseorang / sesuatu, muncul perasaan lebih tinggi atau lebih rendah, itu pun menunjukkan kamu masih punya berhala.

Contoh.  Kamu melihat temanmu liburan ke Bali, bila di hatimu muncul rasa lebih tinggi, walau dibalut kata religius, "Alhamdulillah, aku sekeluarga bisa liburan ke Jepang." Itu berarti kamu masih memberhalakan liburan.  Atau kamu malah minder dan sedih, "Kenapa aku tak kunjung bisa liburan?"  Ini juga berarti kamu masih memberhalakan liburan.  Halus sekali ya, semakin ke dalam memang semakin halus.

Orang-orang yang terbiasa dipuja-puji dan dikagumi, itu lebih sulit melepas berhala egonya dan bakalan lebih sakit bila egonya tidak mendapat makanan yang berupa pujian itu.  Terapinya adalah dengan menyadari bila itu semua perbuatan Tuhan padanya.

Bila batinmu sudah tidak lagi terpengaruh oleh sanjungan dan hinaan, , itu tandanya berhala egomu sudah masuk penjara.  

Terkadang kamu tidak rela melepas berhala karena sulit dan manyakitkan, kamu bisa memotivasi dirimu ,"Ini loh merugikan aku dan membuatku galau, aku rela melepasnya karena aku mencintai diriku yang ingin segera bertemu Tuhan."  Perasaan rugi bila dipelihara, membuat kamu melepasnya dengan senang hati.

Di atas semua itu, yang bisa membuatmu terlepas dari berhala ego adalah Tuhan, bukan usahamu.  Maka mohon pertolongan pada Tuhan itu nomor satunya, usahamu itu cuma 'akting' kok ... hmm.

Selamat mencoba.  Salam kasih.

Perjalanan ke Dalam (5) Menyatu dengan Allah

 Allah itu meliputi segala sesuatu (An Nisa 126) Allah juga lebih dekat dari urat lehermu (Qaf 16), itu ayat yang terkenal, tetapi bila kita tidak melakukan perjalanan ke dalam, ayat itu hanya berhenti di pengertian, bukan pengalaman, padahal pengalaman ketuhanan itu indah sekali.

Orang yang masih di taraf mengerti, dijamin salatnya tidak khusyu' , pikiran dan perasaannya berkelana kemana-mana walau fisiknya di atas sajadah.  Sedangkan orang yang sudah mengalami ketuhanan, dijamin dalam keadaan tidak salatpun hatinya terhubung dengan Tuhan, apalagi dalam keadaan salat.

Tuhan itu Sang Maha Kekasih, kehadiranNya membahagiakan, mendamaikan dan menggetarkan hati (Al Anfal 2).  Ujung dari perjalanan ke dalam diri adalah menyatu dengan Dia.

Pertanyaannya adalah menyatu yang bagaimana? 

Ada puisi indah karya Abdulhadi WM, puisi ini dimusikalisasi dengan indahnya oleh Ari Reda, simak bait puisinya.

Tuhan, Kita Begitu Dekat

karya: Abdulhadi WM


Tuhan

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apiMu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainMu

Tuhan

Kita begitu dekat

Seperti angin dengan arahnya

Kita begitu dekat

Dalam gelap

Kini aku nyala

Dalam lampu padam-Mu


Sudah bisa dimengertikah semenyatu apa?  Baris terakhir itu menggambarkan cahaya Allah di Surat An Nur 35.  Lampu padam, itu maksudnya cahaya Allah itu abadi tanpa dinyalakan.  Puisi yang indah dengan makna yang dalam.

Aku panas dalam apiMu, sedekat itulah, si panas selalu menyadari kehadiran api, si kapas selalu menyadari dia berada di dalam kain, lebur.  Egonya hilang, dalam prakteknya dia tidak merasa melakukan meskipun melakukan, hakekatnya yang melakukan adalah Allah.  

Bila dia bersedekah, dia tidak merasa bersedekah, karena itu hartanya Allah, tubuh yang melakukan pun kepunyaan Allah, jadi hakekatnya Allahlah yang melakukan.  Keadaan hilangnya diri ini terjadi secara natural, tanpa memikirkan, ya Allah saja yang dirasakan.  

Mungkin dalam prosesnya ada kesadaran yang dihidupkan, tapi lama kelamaan kesadaran itu auto hidup.  Bila sudah di posisi ini, rasanya hidup menjadi ringan sekali, seperti melayang, indah sekali.  Pandangan batin juga menjadi luas dan tajam, karena batin sudah disinari cahayaNya terus menerus.

Orang yang sudah dibersihkan Allah melalui perjalanan panjang ke diri terdalam, bila tidak kecantol di 'jebakan Betmen' seperti yang aku tuliskan di tulisan terdahulu, pada akhirnya akan menyatu dengan Allah.  Soal bagaimana proses menyatunya, itu terserah Allah, kukira setiap orang punya pengalaman beda-beda.

Untukku sendiri, itu terjadi saat khalwat 40 hari tahun 2024, di minggu terakhir menjelang selesai khalwat.  Terjadi saat meditasi, aku merasa dibekukan, tidak bisa bergerak dalam keadaan duduk bersila, lalu dari dalam hatiku ada suara 'Aku Allah Aku Allah' begitu terus menerus, jangan bayangkan itu suara yang didengar telinga fisik ya, itu telinga rohani, aku tak ingat sampai berapa lama, karena aku juga tidak mengukur, tapi terasa lama sampai waktu seperti berhenti.

Usai meditasi, suaranya berubah jadi ,"Ini Allah, bukan Innuri." terdengar terus menerus saat aku melakukan apa saja sampai berhari-hari.  Itu suara yang tidak bisa dibuat-buat, tidak juga bisa dipaksakan bila belum datang waktunya menurut Allah.  Semua akan mengalir menurut kehendak Allah.

Saat pertama mengalami, tentu aku agak kebingungan dengan diriku sendiri, tapi aku paham, itu bukan berarti aku ini Tuhan, melainkan egoku / keakuanku sudah lenyap yang disebut fana, jadi Allah saja yang hadir.  Ingat 'kan perumpamaan lampu lima watt yang diletakkan di bawah cerahnya matahari?  seperti itulah ibaratnya.  Diriku tiada, seperti setetes air yang sudah pulang ke lautan.  Pengalaman itu indah kok, indah sekali.

Lebih jelas lagi pemahamanku ketika Allah hadirkan guru berupa channel Pak Hans, Eling lan Awas, yang saat kubuka kok pas sekali membahas pengalaman ketemu Tuhan dari kitab Tao te Ching ... hehe.  Allah seperti menyuruhku untuk terbuka akan berbagai ajaran spiritual, karena sumbernya sama, dari Dia juga.  Yang mau tahu materi Pak Hans yang aku maksud bisa klik di sini

Baru setelah khalwat 40 hari tahun 2025, tak sengaja (pasti disengaja sama Allah) aku ketemu channel Youtube yang menjelaskan secara gamblang semua yang aku alami selama khalwat dari sudut pandang ilmu tauhid Islam, nama channelnya Ponpes Jaya Baru,  kiainya Gus Mukhlason Rasyid, dipanggilnya Gus Son.  

Dari channel Gus Son, baru kutahu semua itu ada di Al Quran berikut tahap-tahapnya, Laillahaillallah (tiada Tuhan selain Allah), menuju laillalaillahuwa (tiada Tuhan selain Dia)  menuju laillahaillaanta (tiada Tuhan selain Engkau) sampai di laillahaillaana (tiada Tuhan selain aku), jelas sekali ceramahnya, disampaikan secara sistematis dan gamblang berikut dalil-dalilnya di Al Quran, pas buat otak yang kadang manja (baca lemot) ini.  Menurutku beliau ini keren, aku yang berlatar belakang Muhammadiyah ini bisa cocok, jarang-jarang soalnya.  Bila tertarik, bisa langsung cus ke channel beliau klik di sini .

Gus Son memberi judul ilmu ketauhidan untuk materi yang selalu beliau bawakan, amat sangat mendalam dan luas bahasannya, karena channel beliau khusus membahas hal itu.  Segala pertanyaan juga dilayani melalui nomer wattsapp yang dituliskan di diskripsi, pertanyaannya ribuan setiap hari sampai berjam-jam beliau membalas setiap WA.  Aku nggak pernah kirim WA, kasihan merepotkan beliau.  

Gus Son juga menganjurkan dan memberi bimbingan melakukan khalwat 40 hari bagi jamaahnya, karena ini adalah jalan para Nabi, jadi semacam kurikulumnya Allah, kita tinggal mengikuti jejaknya.   Ini salah satu yang membuatku menganjurkan buat kalian yang ingin melakukan khalwat 40 hari, bisa dibawah bimbingan beliau, secara online bisa.  Khalwatnya juga tidak harus berdiam diri di pondok, khalwat sambil beraktifitas di rumahnya masing-masing juga bisa, namanya khalwat dalam keramaian.

Aku merasakan memang khalwat 40 hari itu luar biasa, seperti masuk kawah candradimuka, dibimbing Allah langsung melalui sarana apa saja dan siapa saja.

Kalau untuk channelnya Pak Hans, itu cocok banget buat kalian yang suka hal-hal yang ilmiah dari spiritualitas.  Pak Hans membahas berbagai kepercayaan dari sudut pandang sains, filsafat dan psikologi. Berbagai ajaran bisa ditemukan di sana, dari Hindu, Yoga, Budhis, psikologi barat, Tao, stoic, dsb.  Pak Hans membahasnya dengan bahasa yang amat sederhana agar bisa dipahami umum, jadi kalau mau lebih jelas, beli buku yang direferensikan beliau di setiap bahasan.

Di channelnya Pak Hans ada pelatihan meditasi seminggu sekali yang tidak disiarkan di Youtube, ini berbayar, tidak mahal kok, karena kita bisa interaksi langsung dengan Pak Hans dan terjaga privacynya.  Kalau mau benar-benar privat ya konsultasi pribadi' secara profesional dengan beliau sebagai psikolog. 

Dua channel itulah yang aku anjurkan buat diikuti.

Semoga kita semua bisa mencapai menyatu dengan Allah.  Aamiin.

Tulisan selanjutnya tentang merasakan akhirat, insyaAllah.

Salam kasih.

Rabu, 18 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (4) Mukasyafah

 Ketika kegelapan batin telah terkikis, selain bikin hatimu unconditional love, juga bisa terjadi, tapi tidak selalu, diiringi tersingkapnya tirai kalbu dengan dunia ghaib yang disebut mukasyafah.  Tapi pesanku, jangan sekali-kali menjadikan mukasyafah ini tujuanmu membersihkan diri loh ya, tujuanmu tetap untuk menyaksikan Allah / bersyahadah.

Mukasyafah itu sendiri bertingkat-tingkat, dari melihat makhluk ghaib seperti jin dan arwah dari tingkat rendah sampai bertemu arwah manusia-manusia luhur seperti para Nabi dan malaikat.  Lebih jelas soal ini pernah aku tulis disini , silakan diklik, Innuri tak perlu menjelaskan lagi ya.

Selain itu bisa juga muncul kemampuan ESP (Extrasensory Perception) atau yang disebut indra keenam.  ESP sendiri secara garis besar dibagi tiga, yaitu kemampuan telepati, clairvoyance dan prekognisiTelepati itu semacam berkirim pesan pakai batin,  clairvoyance itu penglihatan jarak jauh, sedangkan prekognisi itu kemampuan melihat hal yang akan terjadi di masa depan.

Lagi-lagi jangan jadikan kemampuan ESP ini sebagai tujuan ya, itu bisa jadi jebakan.   Kalau kamu berhenti dan asik bermain-main dengan hal ini, kamu rugi besar.  

Ada lagi jebakan yang lebih keren yaitu karomah, semacam kemampuan luar biasa yang biasanya dimiliki para wali.  Innuri pernah tuh, bisa nyembuhin orang jarak jauh hanya pakai video transfer energi, ya aslinya Allah yang nyembuhin.  Baru kutahu sekarang kalau itu salah satu jenis karomah.  Yang kenal Innuri dari lama pasti tahu video yang aku maksudkan.

Jebakan-jebakan itu membuatmu merasa sudah sampai padahal masih di tengah jalan, itulah makanya harus waspada.  Semakin ke dalam jebakannya semakin halus, yang bisa dikenali dengan bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan ini,"  Apakah ini Allah atau selain Allah?"  

Segala sesuatu selain Allah, itu jebakan dan biasanya pesonanya luar biasa menarikmu untuk berhenti dan bermain-main di situ.  Harus disadari bila kamu hanya bisa selamat dengan pertolonganNya, bukan usahamu.  Bukan berarti kamu tidak berusaha, tetapi harus disadari  bila usahamu itu atas ijin Allah, kalau mau aku bilang lebih tegas, buat pola pikir 'Allahlah yang berusaha dalam dirimu',  Allahlah yang menggerakkanmu, ini lebih selamat.  Ingat ceritaku di tulisan sebelumnya soal bagaimana aku menantang Allah untuk membuktikan bahwa Allahlah yang menggerakkanku dan bukan kemauan bebasku.

Lantas apa tandanya bila sudah sampai?  Yaitu ketika hatimu sudah tidak ada lagi rasa takut, sedih dan khawatir (QS Yunus 62) dan ketika kamu merasa menyatu dengan Allah (manunggaling kawula-Gusti) dan menyatu dengan alam semesta dan hatimu selalu penuh kasih, damai, nonjudgmental.  

Hati orang-orang yang sudah berada di Yunus 62 itu lurus banget terikat dengan Allah, seolah Allah sudah mengambil alih jiwa raganya, istilahku sendiri adalah 'kerasukan' Allah, atau dalam istilah tasawuf disebut fana , ketiadaan diri Orang-orang ini sudah tidak tolah-toleh lagi karena pesonaNya yang luar biasa mengalahkan pesona gebyarnya dunia dan seisinya.  Orang ini sudah di mana-mana yang dilihat Allah, apa pun yang di hadapannya yang kelihatan Allah, saking tajamnya penglihatan batinnya. Seperti penglihatan terbalik, bila orang-orang awam yang nyata adalah fisiknya dunia ini sedangkan yang tidak nyata adalah Allah, maka bagi orang-orang tercerahkan yang nyata adalah Allah, sedangkan gebyarnya dunia ini tidak nyata.  

Biar tidak bingung, aku umpamakan sebuah lampu lima watt ditaruh di bawah sinar matahari yang sedang cerah-cerahnya, apakah lampu lima watt itu kelihatan cahayanya?  Tidak! Kalah oleh cahaya matahari.  Yang nyata adalah sinar matahari, sedangkan lampu yang lima watt itu tidak ada artinya sama sekali.  Sedangkan bagi orang yang masih berada dalam kegelapan, tentu saja lampu lima watt itu terlihat nyata karena dia belum melihat cahaya matahari.  Faham 'kan Sayang?

InsyaAllah soal manunggaling kawula-Gusti itu aku bahas di tulisan selanjutnya, semoga Allah Yang Maha Kasih memberiku kekuatan menuliskannya. 

Salam kasih.

Selasa, 17 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (3) Melintasi Ego

Bayangkan bila kamu mengalami dihina orang, dipanggil, "Hai Anjing!"

 Apa reaksimu? 

Bagaimana reaksi spontan batinmu? 

Barangkali jawab begini,"Kau yang anjing!"  atau,"Babi kau!" atau ... isi sendiri.

Reaksi yang kutulis di atas itulah reaksi yang muncul dari ego / keakuan / aku. Aku yang spontan marah dan tidak terima ketika ada orang menyinggung perasaanku, menyenggol mobilku, mencuri sepeda motorku, memecahkan kaca rumahku, ... teruskan sendiri.

Ego adalah diri yang palsu, lapisan luar diri kita yang suka berubah-ubah, kemarin ceria, sekarang sedih, besok khawatir.  Sementara di batin terdalam kita ada diri sejati, yang kita sebut saja self (pinjam istilahnya Carl Gustav Jung lagi), inilah diri yang tidak berubah, diri abadi yang terhubung dengan Sang Pencipta.

Sekarang yuk kita tanya self, bagaimana reaksinya ketika dipanggil 'anjing'.

Si self ini bakalan jatuh kasihan pada orang yang mengucapkan kata itu, karena kata-kata yang keluar dari mulut seseorang adalah cermin isi batinnya. Jadi bayangkan betapa luka dan sakit orang yang bisa mengucapkan kata caci maki.  Self bisa melihat bahwa kata-kata itu bukan diucapkan kepada dirinya, melainkan ungkapan derita batin orang yang mengucap. 

Itulah reaksi self, caci maki atau pun pujian dan segala tindakan di luar tidak memengaruhi dirinya sedikit pun.  Si self ini penuh cinta kasih seperti penciptanya, karena dia terhubung dengan Yang Maha Kasih Sayang (QS Al An'am 12)  Segala reaksi batin, ucapan dan tindakan yang dilakukan self adalah atas dasar cinta kasih dibawah tuntunan Sang Pencipta , unconditional love.

Sayangnya self ini sering ditutupi ego, sehingga kita menyangka bila ego itulah diri asli kita.  

Menurut Jung, ego bisa ditarik / dipertemukan dengan self, itulah orang yang sudah menemukan jati dirinya, istilah Jung orang yang sudah mengalami individuasi.  Kondisi batin orang yang sudah terindividuasi itu stabil yang bila dicari ayatnya di Al Quran ada di surat Yunus 62 , tidak ada sedih dan khawatir alias bahagia, aslinya bahagia pakai banget, bahagia yang melayang di atas bahagia, seperti bahagianya setitik air yang kembali pulang ke lautan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara melewati hutan belantara ego untuk menemukan self?  

Caranya sama seperti tulisan sebelumnya, mengambil jarak dengan emosi, pikiran dan perasaan, nanti akan muncul insight dari dalam yang menandakan bila self sudah muncul.  Jadikan itu kebiasaan, aku rangkum dalam 3 kebiasaan yang wajib dilakukan bila ingin menemukan self.

1. Biasakan berjarak dengan emosi, pikiran dan perasaan.

2.  Berhenti ngaku-ngaku, ini rumahku, ini badanku, ini hasil karyaku, ini suamiku, dan ku ku yang lain, karena semua ini milik Allah, tidak ada yang milikmu sebesar zarrahpun, bahkan nyawamu kalau diambil sewaktu-waktu kamu tidak akan bisa menahannya.

3. Jangan merasa sudah melakukan sesuatu, ingat lahaula walaquwata illabillah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah.  Kamu itu cuma dipinjami kekuatan, bukan kekuatanmu sendiri, pada hakekatnya Allah yang menggerakkanmu, behentilah mikir kalau kamu sudah berusaha dan berjuang.  Apa nggak malu, kamu berusaha pakai fasilitas dari Allah, jantung yang berdetak tanpa kamu suruh, napas yang paru-paru yang jalan sendiri, tapi kamu ngaku-ngaku berusaha.

Tiga poin penting itu lakukan setiap hari.

Dalam Islam, ego itu disebut nafs alias hawa nafsu dengan banyak sekali macamnya, semua nafsu mendorong kepada kejahatan kecuali nafsu yang dirahmati Allah (Quran surat Yusuf 53).  Bandingkan dengan apa yang dimaksud Jung dengan individuasi itu, ketika ego bertemu self , menjelma menjadi nafsu yang dirahmati AllahBegitulah Allah menurunkan ilmuNya kepada siapa yang Dia kehendaki, entah di belahan dunia mana, selalu relate karena berasal dari sumber yang sama.

Bonus cerita pengalamanku tentang bagaimana Allah membuat egoku terhempas dan terbenam dalam self.

Ini terjadi saat khalwat 40 hari tahun 2024 di Ngantang, di rumah yang belum jadi di tengah kebun.  Suatu pagi aku memotong sak semen pakai pisau sambil lesehan di atas pecahan bata ringan, niatnya mau aku jadikan alas duduk.  Tiba-tiba mengalir insight dari dalam bila Allahlah yang menggerakkan anggota tubuhku melakukan itu.  Insight ini aku bantah dong!  Pikiran ini masih dilekati konsep bila manusia diberi free will atau kehendak bebas, jadi manusia bisa memilih mau melakukan apa saja asal siap dengan konsekuensinya.

Tapi insight itu semakin kuat berbunyi di hatiku, terus dan terus, sampai aku menantang Allah, aku bilang begini,"Buktikan padaku bila memang Engkau yang menggerakkan aku dan bukan kemauanku sendiri."  

Tanpa menunggu lama, langsung dan kontan, tanganku ini bergerak tanpa bisa aku kendalikan, seperti gerakan refleks gitu deh, tanganku tiba-tiba mengubah posisi pisau yang aku taruh di atas pecahan bata ringan di samping tempatku duduk.  Mata pisau itu semula menghadap ke atas (yang berbahaya bila aku menginjaknya tanpa sengaja) menjadi menghadap ke bawah.  

Aku pun tertegun kehilangan kata-kata.  Sungguh aku tak menyadari bila mata pisau itu menghadap ke atas, aku melakukannya srat sret srat sret saja, gak mikir, ternyata Allah memikirkannya! 

Itu adalah kali pertama aku menantang Allah, siangnya aku menantang Allah lagi dengan kasus yang berbeda, lagi-lagi aku dibikin speechless.  Esoknya dan esoknya lagi dibikin speechless lagi dengan pelajaran yang berbeda.

Mau coba menantang Allah juga?

Salam manis.

Senin, 16 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (2) Melintasi Kegelapan Batin

 Apakah yang langsung muncul di perasaanmu ketika kata ini disebutkan?  Mulai simak ya : 

Tetangga .... 

Mantan .... 

Ibu (dan anggota keluarga yang lain) .... 

Sakit  .... 

Darah .... 

Mati .... 

Silakan menambahkan kata-katamu sendiri sebanyak mungkin dan amati reaksi batinmu.  

Ketika satu kata kamu dengar, apakah ada perasaan yang intens? semacam emosi yang kuat ataukah perasaan biasa saja/netral?  Adakah kata yang bikin hatimu bergetar atau darahmu mendidih atau serasa ingin melempar sandal?  Hmm ... coba renungkan sejenak sebelum lanjut membaca.

Itu adalah sebuah cara mengenali kompleks di dalam diri.  Bukan kompleks perumahan ya, kompleks yang aku maksudkan adalah kumpulan perasaan, pemikiran, persepsi dan memori yang memiliki intensitas emosional yang kuat.  

Yap! Itu kompleks ala Carl Gustav Jung, seorang tokoh piskologi yang terkenal dengan teori ketidaksadarannya.  Tapi aku bukan mau membahas Carl Jung secara mendalam, itu bukan keahlianku, itu hanya sebuah caraku memakai asosiasi kata Jung untuk mengenali kegelapan di dalam diriku, kamu boleh memakainya bila suka.

Aku hendak membicarakan soal hutan belantara berikutnya yang harus kita lalui dalam perjalanan ke dalam diri, yaitu kegelapan batin.

Apa itu kegelapan batin? 

Rasa kecewa pada kehidupan, marah, iri dengki, dendam dan banyak jenis penyakit hati dengan berbagai kadarnya, itu kegelapan batin.  Segala sesuatu yang mengganggu pikiran dan perasaanmu itu kegelapan batin.  Semua itu membuat kita terhalang dari memasuki lapisan rohani terdalam yang indah dan luas itu.

Bagaimana cara melintasi kegelapan batin?

Langkah pertama adalah mengenali kegelapan apa saja yang kamu simpan di dalam dadamu, yang bahkan sudah kamu lupakan.  Sayangnya ketika kamu lupakan, kegelapan itu tenggelam ke dalam ketidaksadaran pribadimu alias masih ada dan berenergi.  Itulah gunanya asosiasi kata Jung, untuk mengenali kompleks yang terpendam di dalam ketidaksadaran pribadi.

Aku akan menjelaskan lagi pelan-pelan.  

Ketika hari ini kamu marah pada seseorang, kamu lebih mudah untuk mengenali kegelapan batinmu yang berupa marah, karena itu terjadi hari ini.  Kamu lebih mudah untuk menyelesaikan kegelapan emosimu itu, dengan memaafkan, beristighfar memohon ampun pada Allah dan minta kekuatan dari Allah untuk sabar, lalu dengan ijin dan pertolonganNya hatimu menjadi damai, selesai.

Namun ketika kemarahanmu terjadi di masa lalu dan kamu melupakannya sebelum sempat memaafkan, kemarahan itu masih tersimpan di memori  'ketidaksadaran pribadi' yang disebut kompleks.  Kompleks ini masih ada energinya dan mengganggu perjalanan batinmu menuju diri yang terdalam.  Kompleks ini harus dikenali agar bisa diselesaikan.

Nah, salah satu cara mengenali kompleks itu adalah dengan asosiasi kata yang aku tuliskan di awal.  Cara lainnya dengan mencermati batin kita setiap waktu.  Misal suatu hari kamu tak sengaja mendengar lagu nostalgia yang membuatmu teringat masa lalu ketika dikhianati seseorang, perasaan sedih, kecewa dan marah pun hadir lagi, saat itulah kompleks itu muncul ke permukaan, rayakanlah! ini adalah kesempatanmu berdamai dengan peristiwa dari masa lalu.

Setiap hari berbagai peristiwa dihadirkan Allah, semuanya punya makna dan membawa pesan dari Penciptamu.  Peristiwa / kejadian itu hanyalah bungkusnya, isinya itulah yang harus kau ambil.

Pertanyaan selanjutnya, setelah kegelapan batin itu dikenali, bagaimana cara berdamai / menyelesaikannya?

Jawabannya ada banyak cara, tapi aku hanya menuliskan cara yang pernah aku jalani saja.  

Pertama-tama latih batin untuk menerima, menyadari apa yang terjadi, disadari thok dulu. Misal marah ya disadari marahnya.  Penerimaan dan kesadaran ini sudah mengurangi energi emosinya.

Selanjutnya adalah membuat jarak dengan emosi.  Kamu memang marah, tapi kamu bukan marah itu, diri sejatimu bukanlah emosimu.  Perlahan-lahan cobalah tarik mundur ke belakang diri sejatimu itu, sampai bisa menonton emosimu sendiri (menonton emosimu ya, bukan fisikmu).  Tonton saja berbagai atraksi yang dilakukan emosimu, diri sejatimu hanya diam menonton, jangan bereaksi, jangan berkomentar, hanya menonton dan sudah.

Proses berjarak dengan emosi itu suatu ketrampilan batin yang bisa dilatih, awalnya sulit, tetapi ketika sudah terbiasa, jadi mudah dan enak sekali.  Ketika sudah terlatih, jadi eman-eman bila melihat diri sendiri dipermainkan emosi yang mencabik-cabik dari dalam.  

Ketika sudah berjarak dengan emosi, biasanya muncul insight dari dalam yang menandakan bila batin mulai peka akan tuntunan Tuhan di hati.  Ada pemahaman-pemahaman baru yang membuatmu ngeh dengan peristiwa yang terjadi, inilah yang aku maksud isi / makna / pesan yang dikirim Tuhan.  Kita juga jadi paham bila peristiwa hanyalah bungkusnya, tapi isinya itulah berlian, jadi jangan fokus pada peristiwa, ambil berliannya.

Agar lebih jelas, aku kasih contoh kasus. Misal saat mendengar lagi nostalgia, itu membuatmu teringat pernah dikhianati seseorang di masa lalu.  Muncul rasa marah dan kecewa yang sekian lama terpendam di ketidaksadaran.  

Pertama terima dan sadari bila ada kecewa dan marah yang belum terselesaikan, lalu ambil jarak dengan emosi itu.  Biasanya muncul insight dari dalam dan kamupun memahami bila itu pertanda kasih sayang Allah, karena peristiwa itu sebenarnya untuk melindungimu dari bahaya yang lebih besar.  

Ketika kamu semakin spiritual, kamu akan semakin paham bila kehilangan seseorang atau pun harta adalah cara Allah untuk membuat dirimu mendekat kepadaNya, maka batinmu akan sepenuhnya memaafkan dan berterima kasih pada peristiwa itu.  Kamu menyadari bila kedekatanmu dengan Tuhan lebih berharga dari apa pun di dunia ini.  Amarahmu selesai dan kamu berdamai dengan peristiwa itu, jiwamu dibersihkan Allah.

Yang perlu dicetak tebal adalah, hanya Allah yang bisa membersihkan kegelapan di batinmu, bukan usahamu.

Itulah yang aku lakukan selama bertahun-tahun, kukira aku sudah tidak menyimpan kompleks lagi, tapi aku kecele ... haha (Innuri masih banyak kegelapannya, bangga pula).  Sampai ketika aku khalwat 40 hari, sekian lama dalam kesunyian, memori luka itu bermunculan ke permukaan seperti mantan menagih janji.  Mereka bermunculan seperti parade.

 Baru ketahuan kalau aku masih menyimpan luka masa kecil pada pengasuhku.  Dulu waktu aku kecil, suka ditakut-takuti," Jangan menangis, itu lihat orang bawa glangsi, isinya kepala anak-anak."  Banyak sekali ucapan-ucapan pengasuhku yang membuat aku kecil ngeri dan ketakutan.  Aku sakit hati pada pengasuhku begitu tahu kalau aku dibohongi dan aku membencinya.  Aku tidak terima, kenapa dia tega sekali memberiku kengerian seperti itu.  Rasa sakit itu tertinggal di ketidaksadaran, membentuk lapisan kegelapan yang belum hilang sampai aku tua, sampai aku berdamai dengan pengalaman itu.

Berdamai dengan pengalaman luka itu tak membuat memorinya hilang, tapi membuat energinya tidak membebanimu lagi, tidak menjadi lapisan kegelapan yang menghalangimu menempuh perjalanan ke dalam.

Tandanya bila muatan energi emosi itu sudah netral adalah ketika kamu mengingat peristiwa itu, batinmu biasa saja.  Sepertiku yang ketika mengingat pengasuhku itu, bukannya sebal, tapi malah tertawa geli, kreatif sekali orang jaman dulu ngarang cerita horor.

Begitulah caraku melintasi kegelapan batin, tapi aku tak berani bilang sudah tidak ada kegelapan lagi, karena bisa kecele lagi ... haha.  

Bicara soal kegelapan itu sebenarnya banyak sekali 'wajah'nya, semoga Allah mengijinkanku menuliskannya di lain waktu.

Selamat mencoba asosiasi kata Jung atau mencermati diri sendiri.   Semoga jiwa kita semua dibersihkanNya.

 

Minggu, 15 Februari 2026

Perjalanan ke Dalam (1)

 Aku membagikan tulisan dari Innuri blog ke beberapa grup Wattsapp dan mendapat pertanyaan bejibun, terimakasih, aku sayang kalian.

Kemarin aku menulis soal lapisan-lapisan batin yang semakin ke dalam semakin halus dan di lapisan terdalamnya kita bisa menyaksikan Allah dan pertanyaannya adalah bagaimana cara / tehnik menempuh perjalanan menuju batin  terdalam hingga bersyahadat (menyaksikan Allah) ?

Untuk menembus lapisan-lapisan batin itu, kita musti menerobos berbagai halangan, butuh effort tentu, niat dan kemauan kuat, tak ubahnya perjalanan fisik orang berhaji ke Mekah, butuh persiapan matang.  

Apakah butuh pemandu / guru?  Butuh, tapi kita tak perlu mencarinya, karena ketika kita sudah berniat ingin bertemu denganNya, maka Allahlah yang akan mendatangkan pemandu / guru  kepadamu.  Yang penting di dalam hatimu kamu berguru langsung kepada Allah.  Allah hadirkan panduanNya bisa lewat siapa saja, lewat media apa saja, tinggal mengalir saja, pasti akan sampai bila niatnya murni untuk bertemu Allah / bersyahadat.

Kesimpulannya, guru itu didatangkan atau dikirimkan Allah kepadamu, kamu tak perlu mencarinya.

Lanjut pembahasan soal caranya, mengingat ini adalah perjalanan batin yang tak kelihatan, selain pemandu (Allah), tujuan (bertemu Allah) serta niat yang kuat, kita butuh perbekalan sabar dan konsisten.

Dalam perjalanan batin ini, yang pertama kita lewati adalah  hutan belantara pikiran yang sibuk, tidak bisa diam dan suka melompat ke sana kemari.  Pikiran itu mutlak harus ditenangkan, agar batin kita bisa sampai ke lapisan yang lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Cara yang umum dilakukan untuk menenangkan pikiran adalah meditasi / tahanuts / khalwat / uzlah / i'tikaf di masjid.  Itu dilakukan oleh para Nabi dan orang-orang bijak dari berbagai keyakinan.  Aku akan menceritakan cara yang aku lakukan yang ini mudah diikuti oleh semua orang.

Awalnya aku melakukan meditasi mensyukuri napas, ini cukup efektif menenangkan pikiran yang sibuk dan ketika berhasil, kita akan bertemu dengan pengalaman indah Sang Pemberi Napas.  Tapi kusarankan, jangan menargetkan apa-apa, yang penting sebelum memulai harus mengucap niat di hati untuk mendekatkan diri pada Allah.

Cara yang ideal adalah dilakukan dengan duduk bersila dengan punggung tegak, tapi boleh posisi lain senyamannya saja, misal sambil berbaring, yang penting fokus perhatian di napas saja, keluar masuknya udara dari hidung.  Rasakan udara masuk melalui hidung lalu bergerak ke dada (paru-paru), tahan sebentar lalu rasakan udara keluar melalui hidung, hembuskan pelan-pelan. Jeda sejenak sebelum menarik napas lagi, terus perhatikan dan rasakan.  Begitu terus sampai hati merasa damai  

Tidak perlu berzikir, hanya memerhatikan dan merasakan keluar masuknya napas.

Bagaimana bila pikiran mengganggu dengan memikirkan ini itu?  Biarkan saja, cuekin, kembali perhatikan napas.  Diganggu lagi, cuekin lagi, kembali ke napas.  Begitu terus sampai hati damai.  Pada suatu titik akan muncul perasaan wow, hati akan menemukan sendiri rasa syukur yang tak terhingga akan anugerah kehidupan ini, membuat hati terpaut dengan Allah dengan sendirinya.  Menjadi zikir tanpa kata tanpa suara.  Lakukan sesering mungkin sampai hati menjadi meditatif, kedamaian dari dalam.

Berapa lama dan berapa kali dalam sehari?  

Kusarankan minimal luangkan waktu 20 menit minimal satu kali sehari, bagi muslim, bagus sekali bila bisa lima kali sehari setelah salat lima waktu.  

Bagaimana dengan aku?  Aku terlalu pemalas, jangan dicontoh, aku hanya sekali sehari, itu pun kulakukan sambil tiduran sebelum tidur malam, jadi aku melakukan meditasi napas menjelang tidur sampai tertidur yang durasinya kadang tak sampai 20 menit sudah bablas.  Tapi kadang aku terlalu niat sampai menyepi di rumahku yang di Graha Bandara, sendirian salama 3-4 hari dan fokus mendekatkan diri pada Allah dengan salat dan meditasi.  Pernah terlalu sangat niat sampai khalwat 40 hari di villa Aden  di tengah kebun, itu di tahun 2024, aku pernah menuliskannya di Innuri blog pengalaman khalwat ini, juga pengalaman 40 hari khalwat berikutnya di tahun 2025.  Menurutku khalwat 40 hari adalah kelas akselerasi dalam menempuh perjalanan ke dalam diri, itu pengalaman luar biasa banget, seperti masuk kawah candradimuka.

Meditasi mensyukuri napas ini hanya salah satu cara menenangkan pikiran untuk sampai ke lapisan batin yang lebih dalam, Sedangkan dalam perjalanan nanti, hutan belantara yang musti kita lewati bukan hanya pikiran, ada bermacam jebakan lagi, insyaAllah di tulisan selanjutnya. 

Bagi kamu yang tidak punya tempat bercerita tentang pengalaman meditasi yang kamu lakukan, boleh bercerita kepada Innuri, bisa lewat inbox di medsosnya Innuri Sulamono, lewat WA juga boleh. Gratis kok ... hehe.

Salam manis.

(bersambung)


Rabu, 11 Februari 2026

Menempuh Lapisan Indra

 Sebagaimana jasmani yang punya panca indra, badan rohani kita pun punya indra, barangkali bukan panca atau  lima lagi, bisa lebih, bahkan tak terdefinisikan, nanti aku jelaskan, semoga kamu memahami hal penting ini. 

Buktinya ruhani kita punya indra adalah saat bermimpi, di dalam mimpi kita bisa merasakan, mendengar, melihat, berbicara, berlari, terpeleset, dll yang itu semua kita rasakan seolah-olah nyata.  Lalu kita terbangun dan menyadari bila semua itu hanya mimpi.  Hanya mimpi yang sebesarnya bukan 'hanya', itu bisa dijelaskan dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu.  Penjelasannya bisa luas, dalam dan panjang pula.  Namun aku bukan mau menjelaskan soal mimpi ya, kalian bisa cari sendiri di internet.  

Rohani kita itu berlapis-lapis yang semakin dalam semakin halus, rohani yang bermimpi itu masih berada di lapisan permukaan yang masih terhubung dengan otak sebagai tempat menyimpan memori.

 Memangnya semakin dalam lapisannya semakin tidak terhubung dengan otak? Lantas terhubung dengan apa dong? 

Kalau kita mati, otak kita mati, tapi rohani kita hidup dan bisa mengingat memori saat kita hidup di dunia (banyak ayatnya soal ini di Al Quran), itu berarti ada bagian dari rohani kita yang bisa mengingat tanpa terhubung dengan otak sebagai penyimpan memori.  

Kembali ke soal rohani kita yang berlapis-lapis, dalam perjalanan spiritual seseorang, dia menempuh lapisan demi lapisan ini sampai di lapisan paling dalam, yang disinilah indra rohani sudah tak terdefinisikan lagi, tidak mendengar tetapi mendengar, tidak melihat tetapi melihat, tidak merasa tetapi merasakan, tidak belajar tetapi tiba-tiba mengerti banyak hal, bingung 'kan?  Bandingkan dengan mimpi yang masih bisa melihat seolah nyata.  Akan tetapi, di lapisan yang paling dalam inilah letak kenyataan yang lebih nyata daripada kenyataan panca indra jasmani kita. Ya, disinilah letak kenyataan yang sebenarnya kenyataan, ada yang menyebutnya kesejatian.  

Di kesejatian, ruhani kita sudah tidak terikat lagi dengan fisik seperti otak dan perangkat lainnya, terikatnya dengan Rabb atau Tuhan atau Allah atau kamu menyebutnya apa dengan asma yang baik-baik.  Di kesejatian inilah rohani kita menyaksikan Allah sampai muncul kesadaran bila yang nyata di dunia ini cuma Allah.  Yap! Yang nyata cuma Allah! 

Menyaksikan Tuhan itu hal paling luar biasa yang bisa dialami manusia, inilah hakekatnya syahadat dan itulah syahadat yang sesungguhnya.  Syahadat yang bersumber dari penyaksian batin yang terdalam.  Ini indahnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, hanya bisa dimengerti dengan dialami sendiri.  Bila diumpamakan,  ibarat orang yang berada dalam gelap gulita perlahan dibawa ke tempat yang penuh cahaya sehingga dia bisa melihat berbagai keindahan yang di dalam Al Quran disebut minadzulumati ilannur.

Menakjubkan bila Allah memberi kesempatan kita untuk memasuki luasnya dunia batin kita sendiri, karena itu seluas alam semesta.  Semoga Allah menuntun kamu ke sana.  Aamin.

InsyaAllah tulisan mendatang tentang bagaimana cara menempuh lapisan-lapisan indra sampai ke indra terdalam yang takterdefinisikan itu.

Salam Manis.





Penting dan Tidak Penting

Jangan lagi mengukur sesuatu itu penting atau tidak penting berdasarkan output yang terlihat secara kasatmata, karena dalam kehidupan ini yang penting adalah kesejatian yang tak kasatmata.  Segalanya dikendalikan oleh kesejatian (Tuhan), bahkan ketika hidupmu berakhir di dunia ini, kamu berpindah ke kehidupan sebenarnya yang tak kasatmata yang disebut alam keabadian / alam akhirat.

Maka biasakan memandang kesejatian dibalik alam kasatmata yang tidak abadi ini.  Ukur kemajuanmu dari standar kesejatian, meskipun secara mata telanjang kamu jadi terlihat pemalas atau pun barangkali aneh karena tak umum.

Kamu diam hanya untuk merasakan kehadiran Tuhan, terlihatnya kamu pemalas dan tak umum.  Yang umum adalah terlihat salat dengan mengerjakan segala gerakannya lalu berdoa panjang-panjang yang tak dihayati maknanya tanpa merasakan kehadiran Tuhan, yang seperti inilah baru disebut rajin beribadah.

Ketika diam dan hanya merasakan kehadiranNya, sebenarnya itulah pekerjaan penting yang bisa kamu lakukan bagi jiwamu.  Kelihatannya tak menghasilkan apa-apa, tetapi menghasilkan hal luar biasa, kamu dekat dengan kesejatian, kamu memahami banyak hal tanpa belajar karena Dia langsung menurunkannya ke dadamu.  Hidupmu amat indah karena ketika Tuhan hadir, maka segalanya menjadi indah.

Ingatkah saat masa puber dulu, ketika seseorang yang kamu sayang hadir di sisimu?  Semua jadi indah bukan?  Bahkan ada yang bilang dunia serasa milik berdua.  Nah, perasaan indah itu beribu kali lipat indahnya bila kamu menyadari yang hadir adalah Tuhan, karena Tuhan tidak hanya hadir di sisimu, melainkan di dalam dan di luar dirimu, Tuhan meliputimu dan meliputi alam semesta.  Kamu merasa hidup ini begitu ajaib.

Terbiasalah memandang kesejatian, atau latihlah, biasakanlah, maka kamu tidak akan menjadi orang yang minderan,  gumunan ataupun orang yang berbangga dengan dirimu yang aslinya tidak ada itu.

Salam manis.  Aku sayang padamu.






Senin, 09 Februari 2026

Tuhan dalam Pikiran

 Ternyata lama sekali aku menyembah Tuhan dalam pikiranku, atau Tuhan seperti yang aku pikirkan, atau lebih tepatnya Tuhan yang aku bentuk sendiri pakai pikiranku, yang aku memanggilnya Allah.

Seandainya aku bilang padamu bila aku punya gaun baru berwarna pink dengan renda berwarna putih, apakah yang terbayang di pikiranmu?  Bisa jadi pikiranmu membayangkan gaun pink panjang  dengan lengan pandek, renda putih itu letaknya di pinggang dan di lengan.  Lalu ketika aku tunjukkan gaun pink yang aku maksudkan, ternyata itu gaun tanpa lengan dengan renda mengelilingi leher, lengan dan bagian bawah gaun.  

Aku hanya mau bilang bahwa pikiran itu bisa salah, padahal cuma soal gaun.  

Namun pikiran memang hobi membayangkan ini itu ketika sebuah kata didengar oleh telinga kita.  Coba jangan pikirkan gajah berwarna pink.  Nah 'kan? Pikiran otomatis membayangkannya 'kan?

Begitu pun ketika kata Tuhan disampaikan pada kita semasih kecil hingga dewasa, otomatis di pikiran ini terbentuk konsep yang kita beri nama Tuhan atau Allah atau apa pun menurut keyakinan masing-masing dan itulah yang selama ini kita puja dan sembah lima kali sehari, yang kepadaNya doa-doa kita panjatkan.

Aku baru sadar bila selama ini aku telah menyembah Tuhan yang aku bentuk sendiri di pikiranku alias Tuhan versi aku.  Aku juga baru sadar bila selama ini aku telah menutup semua pintu bagi Tuhan untuk memperkenalkan diriNya padaku apa adanya, Tuhan versi Tuhan sendiri.

Sadarnya aku walau sudah di usia yang sudah bau tanah ini, tapi inilah momen yang tepat, tak ada kata terlambat untuk menyadari segalanya tentang Tuhan yang aku memanggilNya Allah.

Kapan kesadaran ini muncul dan bagaimana Tuhan versi Tuhan sendiri?

Karena yang suka bikin konsep ini itu adalah pikiran, maka kesadaran itu muncul ketika pikiran "lenyap".  Lenyapnya aku kasih tanda kutip karena lenyapnya bukan lenyap menjadi mati' atau tiada, tetapi minggir dengan sendirinya atau menyepi, istirahat atau non aktif.

Ketika pikiran nonaktif, maka hati menjadi aktif atau hidup, ketika hati hidup, maka di situlah kesejatian (Ketuhanan) bisa ditangkap maknanya, karena Tuhan lebih bisa dikenali oleh hati, sebagaimana iman itu pun pekerjaan hati.

Lantas bagaimana dong cara menonaktifkan pikiran?

Sebelumnya aku pakai cara meditasi / tahannuts, tapi karena meditasiku tidak cukup intensif maka aku putuskan (tepatnya Allah yang putuskan) khalwat 40 hari sendirian di vila terpencil di tengah kebun.  Momen itulah yang membuatku sadar akan perbedaan Tuhan versi aku dan Tuhan versi Tuhan sendiri, atau bisa dibilang adalah momenku bertemu Tuhan sebagaimana adanya Dia (ketika aku mengetik Tuhan sebagaimana adanya Dia, air mataku menitik karena keharuan yang luar biasa).

Bila selama ini aku menganggap bahwa khalwat 40 hari itu adalah ritual yang merupakan wilayahnya para Nabi dan orang-orang bijak, kini aku menganggap itu penting sekali buat kalian yang rindu bertemu Tuhan, atau kalian yang ingin mengenal Tuhan versi aslinya, atau kalian yang sudah bosan salat tidak khusyu' (karena kalian kurang mengenal Tuhan yang kamu sembah).

Bagaimana Tuhan versi Tuhan sendiri?  Itu tidak bisa dilukiskan pakai kata-kata, yang mewakili adalah getaran hati.  Simak ayat ini : 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila disebut asma Allah, gemetarlah hatinya, .... ( QS. Al Anfal : 2)

Bila kita sudah mengenal Allah versi Allah sendiri, kita jadi tidak merasa sedih dan khawatir, coba buka sendiri  QS. Yunus : 62.

Khalwat yang dilakukan dengan niat untuk mendekatkan diri pada Allah, pasti akan dibimbing Allah langsung, karena Allah itu lebih dekat dari urat lehermu (QS Qoof :16)  Itu karena saking sayangnya Allah padamu, Dia sangat dekat untuk memberimu bimbingan dan melayanimu dengan segenap kasih sayangNya.

Begitulah ceritaku malam ini, sudah capek ngetik Innuri. Wassalam.





Rabu, 04 Februari 2026

Surga

 Tinggal di surga itu tanpa ego (keakuan). Ketika egomu sudah jinak, maka emosi kamu bukan lagi emosi tingkat rendah seperti marah, takut, khawatir dsb, tapi emosimu adalah bahagia yang susah dilukiskan dengan kata-kata, kayak bahagia tapi di atas bahagia yang bahagia itu permanen. Bingung ya? Kalau tidak mengalami memang susah memahami penjelasan apa pun, karena ini harus dirasakan, karena ini bukan perasaan yang 'umum' dialami banyak orang.

Saat itulah kamu sudah nyicip tinggal di surga meskipun jazadmu masih di dunia.

Di surga pandanganmu jadi luas, kamu auto memahami banyak sekali hal yang sebelumnya susah dipahami. Kamu menyatu dengan semua hal dan hatimu menjadi penuh kasih.

Kamu akan lebih mudah memahami neraka, neraka itu digambarkan api yang membara dan membakar. Saat kamu marah, batinmu merasa panas seperti mau meledak dan siap membakar apa saja.

Begitulah rasanya nyicip surga.  

Minggu, 01 Februari 2026

Bekal

 Pada suatu negri yang hampir tenggelam, memaksa rakyatnya berpindah ke negri antah berantah yang tak pernah diketahui bagaimana kondisinya.  Rakyat negri itu pun menyiapkan perbekalan untuk tinggal di negri antah berantah itu.  Namun ada rahasia umum yang semua orang tahu, siapa pun yang datang ke negri antah berantah itu, asal kenal sama Sang Raja, hidupnya bakal terjamin berkelimpahan tak kekurangan suatu apa karena Sang Raja menjaminnya selama apa pun dia hidup di negri antah berantah.

Rakyat negri itu pun terbagi dalam tiga kelompok.  Ada kelompok besar yang menyiapkan perbekalan berupa sarana hidup untuk tinggal di tempat baru yang tidak dia ketahui kondisinya.  Ada kelompok besar lagi yang cuek dan acuh tak acuh dengan kehidupan di negri antah berantah, apa yang dilakukannya hanya bersenang-senang di negrinya sendiri, lupa negrinya bakalan tenggelam dalam waktu tak lama. Ada kelompok yang jumlahnya kecil sekali yang menempuh jalan dan cara untuk kenal dengan Sang Raja agar hidupnya terjamin di negri antah berantah.  

Ketiga kelompok itu mendapat semua yang diusahakannya.

Kelompok yang membawa perbekalan, hidup dengan bekal yang dibawanya, lama-lama bekalnya habis juga, bingung dong ketika perbekalannya habis.  Kelompok cuek, tak ada perbekalan apapun, terbayang bagaimana hidupnya 'kan?   Sedangkan kelompok yang mengenal Sang Raja, hidup dengan nyaman terpenuhi segala kebutuhannya.

Renungkan, siapa yang paling beruntung?

Kisah itu hanyalah perumpamaan kehidupan kita di dunia ini, mati itu pasti dan kita semua pasti pindah ke akhirat.  Yang pindah ke akhirat adalah jiwa kita, raga kita menyatu dengan bumi.   Sedangkan dunia atau pun akhirat adalah milik Sang Maha Raja, Allah swt.

Ada yang menyiapkan berbekalan akhirat dengan ibadah, menjadi ahli salat, ahli puasa, ahli zakat, ahli baca al quran, ahli haji, ahli umrah, demi bekal mati.  Tapi di kelompok ini kebanyakan (aku bilang kebanyakan ya, berarti tidak semuanya) kebanyakan orang melakukan ritual-ritual itu tanpa membekas di jiwa.  Salat dinilai dari jumlah rekaatnya, membaca al quran dinilai dari berapa kali khatamnya, zikir dinilai dari jumlahnya dll. Sementara jiwanya masih merasa lebih baik dari orang lain (=sombong), masih merendahkan orang lain (=sombong lagi), suka menilai orang ini itu seolah-olah dirinya paling suci dan paling benar (=sombong lagi), suka ghibah, jiwa yang gelisah mengkhawatirkan ini itu, jiwa yang marah, dendam, iri, dsb.

Aku sering melihat orang berzikir setelah salat, tapi hanya bibirnya yang komat-kamit, matanya jelalatan kemana-mana.  Aku kenal dengan penghafal Quran, yang kalau dia tilawah bikin pendengarnya menitikkan air mata saking syahdunya, tapi zalim pada istri dan anaknya.

Ingatlah, yang nanti tinggal di akhirat itu adalah jiwa/ruh kita.  Bila ibadah tidak membekas di jiwamu, itu sia-sia saja.

Ingatlah pula, sebanyak apapun perbekalan yang kamu siapkan, tak akan cukup untuk membeli kehidupan akhirat.  Bila kamu menyangka akhirat bisa ditukar dengan bekal ibadah yang kamu siapkan di dunia, maka ibadah yang kamu lakukan terus menerus selama seribu tahun pun tak akan cukup untuk itu.

Cukup dekatilah Allah, Sang pemilik akhirat, hanya kasih sayangNyalah yang membuatmu selamat di akhirat nanti.

Sedangkan Allah itu sendiri lebih dekat dari urat lehermu loh!  Jadi kamu sudah dekat, hanya kamu tidak menyadarinya.  Jadi sadarilah bila Allah lebih dekat dari dirimu sendiri.

Salam manis.

Selasa, 27 Januari 2026

Horcrux dan Cahaya

 Apa itu kegelapan di dalam diri ? 

Menurut definisi Innuri berdasar pengalaman, kegelapan di dalam diri adalah segala sesuatu yang mengganggu perasaan dan pikiranmu.  

Ketika kamu merasa terganggu oleh suatu hal, orang atau peristiwa, itulah kegelapan, dengan kadarnya masing-masing tentu saja. Ada yang gelapnya begitu gelap, sampai tak bisa melihat apa-apa, itu gelapnya orang yang putus asa, ada yang gelapnya hanya samar seperti kabut, ada yang saking samarnya sampai tidak dikenali karena sudah terbiasa dengan itu.

Semua kegelapan dengan berbagai kadarnya, perlu banget untuk disingkapkan agar diri kita bisa merasakan pencerahan yang indah itu

Pencerahan itu sendiri susah dijelaskan kepada orang-orang yang belum pernah mengalami, karena itu hanya bisa dirasakan.  Bila bisa digambarkan dengan kata-kata, itu adalah kondisi jiwa yang sudah bersih, pandangan batin pun menjadi tajam, bening dan luas, merdeka, bebas dari belenggu, ikatan dan tekanan.  

Ibarat seorang budak yang sepanjang hidupnya berada dalam kendali tuannya, tidak punya hak atas dirinya sendiri, kemudian si budak mendapatkan kemerdekaan atas dirinya. Barangkali itulah yang bisa digambarkan dari jiwa yang merdeka, jiwa orang-orang yang tercerahkan. Jiwa yang sudah tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu, emosi, keinginan atau egonya. 

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Apa langkah praktis yang bisa ditempuh untuk menghapus kegelapan menuju pencerahan? Yang di dalam Al quran disebut, minadzulumati ilannur, dari kegelapan menuju cahaya. Habis gelap terbitlah terang. 

Untuk menghabiskan gelap, ya harus mengenali gelap di dalam diri kita itu apa saja? Perlu proses panjang untuk habis sama sekali, bila gelapnya sudah bertumpuk-tumpuk , terpendam puluhan tahun, sejak kita kecil sampai di usia sekarang. 

Saranku, jangan membayangkan bila proses itu sulit dan tak mungkin, bayangkan saja sedang main-main menemukan Horcrux. Bayangkan berapa senangnya menghancurkan Horcrux dan naik ke level selanjutnya, semakin banyak yang dihancurkan, energi kita pun semakin kuat sedangkan musuh semakin lemah. Itu perjuangan yang menyenangkan bukan? 

Selanjutnya, ketika kamu sudah niat untuk bersih-bersih, maka alam semesta otomatis akan membantumu, Allah pasti membimbingmu langsung. Jadi mulai cermati setiap momen, kejadian, interaksi dengan orang lain, juga perbuatan dan perkataan orang lain padamu. Itu semua alat bantu untuk menemukan kegelapan dalam dirimu yang kita sebut saja si Horcrux. 

Contoh soal, saat orang lain mengatakan hal menyakitkan.  Jangan buru-buru marah atau menolak, tapi jaga jarak dengan reaksi batinmu. Lihat saja, seperti menonton sinetron dengan kamu dan orang itu sebagai pemeran, tapi kamunya fokus di kursi penonton. Dengan demikian emosi tidak akan menyeretmu semakin tenggelam ke dalam gelapnya, tapi kamu berada di atasnya, emosi pun reda dan kamu akan memahami sesuatu.  Sesuatu itu salah satunya adalah kegelapan emosi di dalam dirimu, itulah Horcruxmu. Berterimakasihlah pada peristiwa yang membuatmu menyadari hal itu.

Amati terus pergerakan batinmu setiap momen sehari-hari, bisa jadi kamu akan menemukan Horcrux yang lain, barangkali itu pelit, cinta dunia, masih melekat pada makhluk, terikat pada kenangan, khawatir akan masa depan, dll. Bila ini kamu lakukan setiap hari, maka kegelapan di dalam dirimu berangsur-angsur memudar, cahaya pun hadir dengan indahnya.  Cahaya yang bukan sembarang cahaya, tetapi cahaya yang dilukiskan di QS An Nur 35

Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalam ya ada pelita besar.  Pelita itu di dalam tabung kaca, tabung kaca itu bagaikan binatang berkilau bak mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di Timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh API.  Cahaya di atas cahaya, Allah memberi petunjuk menuju cahayaNya kepada orang yang Dia kehendaki.  Allah membuat perumpamaan=perumpamaan bagi manusia, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Semoga kita semua akan sampai pada cahayaNya.

Selasa, 13 Januari 2026

Tanpa Hisab

 Aku merenung dengan tanda tanya besar di kepalaku, setengah bingung juga, ketika seorang teman bilang,"Yang penting sekarang (maksudnya di usia senja) adalah memperbanyak ibadah untuk bekal mati."

Karena aku cukup dekat dengan temanku itu, aku tahu yang dia maksud bekal untuk mati itu adalah ibadah puasa, salat, zikir, membaca Al Quran, sedekah, dll.  Begitulah pemahaman kebanyakan orang, termasuk orang-orang di sekitarku yang rata-rata sudah berusia sekitar 60 tahunan (aku belum 60 tahun ya ... hehe).

Kenapa aku jadi bingung padahal itu hal yang wajar saja karena memang begitulah paham yang beredar di masyarakat muslim Indonesia?  Karena sebagian otakku membantah.  Orang-orang yang beranggapan seperti itu adalah orang-orang yang beribadah secara transaksional, alias ibadahnya tidak tulus.  Mereka berharap ibadahnya ditukar dengan surga, berharap lolos dari siksa neraka, berharap padang dalane jembar kubure.

Ibadah yang tidak tulus, tujuannya makhluk (mereka menganggap surga itu tempat, yang berarti makhluk) padahal Allah Maha Tulus, sudah memberikan segala-galanya bahkan tanpa kita minta loh.  Jadi renungkan ulang bila kamu juga beranggapan demikian.  Jika masih menganggap bahwa masa depan di akhirat harus 'dibeli' dengan serangkaian ritual ibadah, bukankah ini mirip dengan menganggap Allah pedagang?  Menganggap Allah adalah Tuhan yang tidak baik hati, bahkan bukti kebaikan dan anugerah Allah selama kita hidup di dunia ini belum cukup untuk membuatmu yakin bila Dia juga menjamin masa depanmu di akhirat.

Akar dari anggapan bahwa kebaikan Allah tak cukup membuat manusia yakin bila Allah menjamin masa depan akhiratnya adalah 'aku' atau ego yang segede gunung Himalaya.  Yang aku maksud keakuan di sini adalah merasa bila kenikmatan-kenikmatan hidup di dunia ini adalah karena kerja keras dan doa-doanya.  Contohnya:

- aku mendapat kemudahan-kemudahan ini karena banyak bersedekah

- karena banyak melafalkan zikir tertentu, rejekiku dilancarkan Allah

- rajin puasa Senin Kamis membuat aku dilancarkan jodoh

- tahajud membuatku lebih tenang dan bisa menyelesaikan hutang-hutangku

- rajin membaca surat tertentu di Al Quran bisa melindungi dari marabahaya

- rajin membawa surat tertentu di Al Quran membuat dijauhkan dari kemiskinan

- dll cari contoh di dalam dirimu sendiri 

Begitulah yang kebanyakan aku baca di masyarakat sekitarku, sudah kental dengan anggapan bila kebaikan-kebaikan yang diterima di dalam hidupnya disebabkan ibadah-ibadah tertentu yang dia lakukan, alias 'aku' adalah penyebabnya, bukan Allah semata-mata.  Allah seperti harus 'disogok' dulu pakai ibadah bila ingin hidupnya nyaman, termasuk hidupnya di akhirat.

Pertanyaannya, memangnya tidak perlu melakukan ibadah ritual?  Saranku, minimal lakukan ibadah ritual untuk bersyukur, itu minimalnya, bila bisa beribadah karena cinta, karena mencintai Allah, itu lebih baik lagi.  Setelah itu yakin bila Allah pasti memberikan masa depan yang indah di akhirat, karena kamu sudah mengenal Allah.  Allah yang selalu memberikanmu kemudahan-kemudahan selama di dunia, pasti memberikanmu kemudahan di akhirat.

Di atas itu ada pemahaman yang lebih dalam, yang lebih indah, silakan disimak di bawah ini ya.

Sejatinya ibadah itu adalah sebuah sarana untuk mengenal, dekat dan menyatu denganNya.  Sebuah jalan panjang menembus kegelapan batin kita sendiri untuk menemukan cahayaNya.  Aku sebut jalan panjang karena itu kita lakukan sepanjang hidup kita di dunia ini.  Sepanjang hidup kita di dunia ini pula Allah selalu hadir memberikan bimbingan, tuntunan, mempertemukanmu dengan guru, termasuk mempertemukanmu dengan tulisanku ini.

Jadi fungsinya ibadah ritual adalah mempermudah perjalanan kita menembus kegelapan diri sendiri untuk bertemu dengan cahaya ilahi, Quran Al Baqarah 257, Al Maidah 16, Al Ahzab 53.

Ujung dari perjalanan panjang menembus kegelapan diri sendiri itu adalah cahaya Allah.  Bagaimana cahaya Allah itu digambarkan di Surat An Nur 35.

Seperti apa rasanya bertemu dengan cahaya Allah?  Bayangkan sebuah lampu lima watt ditaruh di bawah matahari yang lagi terang benderang, kelihatan nggak cahayanya?  Bahkan lampu seratus watt pun tak terlihat pancaran cahayanya di bawah sinar matahari.  Begitulah ibaratnya, saat bertemu Allah, diri sendiri hilang, yang ada hanya Allah.  Alias kehilangan ego, kehilangan aku, yang dilihat cuma Allah, termasuk diri sendiri,  yang dilihat dari diri sendiri hanya Allah.  Manunggaling kawula-Gusti. 

Dari sini aku jadi paham, atau dipahamkan Allah, kondisi masa depan akhirat bagi orang-orang yang sudah bertemu cahaya Allah ini adalah tanpa hisab, alias tanpa melalui proses pertanggungjawaban selama hidup di dunia.  Kenapa tanpa hisab?  Ya karena dia sudah kehilangan 'aku' nya, dia sudah meyakini bila Allahlah yang bekerja di dalam dirinya, bukan dia. Logikanya, bila sudah menganggap Allahlah yang melakukan segala sesuatu dalam dirinya, berarti Allah dong yang menghisab dirinya sendiri alias dia lolos dari upacara hisab di akhirat.

Sedangkan orang-orang yang masih kencang berpegang pada 'aku' , mereka inilah yang bakalan menempuh jalur hisab, di akhirat dia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.  Ya memang bakalan melelahkan proses yang harus dijalani, tapi itu kan pilihan mereka ya, karena Allah tidak menzalimi hambaNya.

Karena menjadi aku itu cukup melelahkan, maka aku mau hilang saja, biar Allah saja di dalam diriku.

Bahkan orang-orang yang sudah menyatu dengan Allah, dia bisa merasakan surga semasih hidup di dunia ini.  Ternyata surga itu bukan sebuah tempat.

Mungkin tulisanku selanjutnya adalah bagaimana proses ritual bisa menghilangkan kegelapan di dalam diri sendiri?  Ini penting dan sedikit sekali yang membahas.

Sabtu, 03 Januari 2026

Esa itu Tak Terpisah (1)

Pernahkah kamu merasa jatuh, sedih, gelisah, bahkan marah dan dendam karena seseorang menipumu, mempermalukanmu, menjatuhkan mentalmu dan semacamnya?  Intinya kamu sedang dalam posisinya dizalimi seseorang.

Bagaimana reaksimu?

Sadari bila setiap orang pernah mengalami hal itu, jadi kamu tidak sendirian.  Namun setiap orang berbeda-beda dalam menyikapinya.  Pengalaman sama, sikap adalah pilihan.  Maka pilihlah opsi yang paling menguntungkan dan membahagiakanmu.

Marah? itu bikini gampang kena tekanan darah tinggi.  Dendam? ini adalah kemarahan yang dipelihara, bisa bikin stroke malahan.  Sedih? rugi dong! wong orang yang menzalimi lagi seneng-seneng.  Gelisah? rugi juga.

Yang paling menguntungkan adalah menerima, tapi untuk sampai pada penerimaan yang benar-benar penerimaan, bukan hanya ucapannya di lidah, itu butuh proses.  Pengalamanku, proses yang paling cepat adalah menyadari bila dibalik sikap orang-orang itu ada Allah yang mengijinkan dan mengendalikannya.  Memangnya ada yang terwujud tanpa ijinNya di bumiNya ini?  

Itulah makna keesaan Tuhan,  jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, karena makhluk tidak berdiri sendiri, makhluk ada, bergerak, bertindak atau berkata-kata, semua itu tidak terpisah dengan ijin Tuhan.  Bila kamu sudah menyadari bila Tuhan tidak terpisah dengan makhluk, maka mudah bagimu untuk melangkah ke step berikutnya, yaitu apa maksud Tuhan dengan memperlakukanmu seperti itu?

Sejatinya setiap peristiwa dalam kehidupan seseorang adalah pesan Tuhan padamu.  Apa yang terbangkitkan di hatimu saat peristiwa itu terjadi, itulah PR-nya.  Bila kamu marah, maka kemarahanmu itulah yang harus diselesaikan, bukan pemicunya.  Pemicunya hanyalah alat bantu untuk melihat dirimu sendiri apa adanya, seperti cermin.  Jadi berterimakasihlah pada alat bantu, karena dia sedang membantumu.  Jadi berterimakasihlah pada peristiwa dan orang-orang yang berperan di dalamnya.

Berterimakasih pada penipu, pembohong, orang yang zalim? Mungkin di hatimu masih ada pemberontakan seperti itu.  Sadari lagi bila hatimu masih penuh amarah, sadari bila kamu tidak bahagia dengan sikap yang kamu pilih, sadari bila marah dan memberontak pada Tuhan bukanlah sikap yang menguntungkan buatmu.

Teruslah berproses sampai kamu mendapatkan hati yang damai, ikhlas menerima dan berterimakasih pada Tuhan, sampai pada ujungnya muncul rasa cinta kasih pada Tuhan dan pada orang yang menzalimimu. 
Bila sudah demikian, aku ucapkan selamat karena kamu telah lulus kelas akselesari.

Catat pelajaran ini di hatimu, jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, itulah makna terdalam dari  keesaan Tuhan.