Kamis, 15 Februari 2018

Gado-Gado Alni

Rabu dua hari yang lalu, setelah rapat wali murid Sekolah Dolan usai, ditemani ngobrol sama bu I'ir, mama Aura, mama teman sekelas Alni, Alni datang membawa kejutan.

Hari memang sudah siang, adzan dhuhur sudah berlalu,  kegiatan belajar di Sekolah Dolan sudah usai, anak-anak berlarian bermain menunggu jemputan.  Aku sedang menunggu dijemput mas Hary juga, sedangkan mama Aura mungkin kasihan melihatku sendirian, maka dia tak langsung pulang begitu Aura keluar sekolah, tapi memilih menemaniku mengobrol.  Saat itulah anak cantikku Alni datang membawa tas kresek kecil dan diulurkannya padaku.  Aku buka dan kaget melihat isinya.

"Ini gado-gado", kata Alni, ooh, dua bungkus gado-gado, ada dua bungkus kerupuknya juga.  Antara kaget dan terharu, ditraktir Alni nih ceritanya.

"Dimana Alni beli? Alni dapat uang dari mana? Alni sendiri sudah makan belum?", pertanyaanku beruntun.

"Disana, di perempatan, Alni tadi sudah makan pempek", jawabnya ringan.
"Alni dapat uang dari mana?" tanyaku penasaran, mikir uang sakunya 10 ribu, harga 2 bungkus gado-gado ini mungkin 20 ribu, lah pempek yang dia makan?

"Dari tabungan Alni, tabungan di saku", katanya riang, "Oh, sendoknya belum".  Lalu dia berlari ke dapur sekolah mengambil 2 buah garpu dan diulurkannya padaku.

Sebenarnya saat itu aku sedang menjalankan diet, jadi gagal karena ingin menghargai perhatian Alni, mama Aura juga masih kenyang sebenarnya, tapi kami makan juga gado-gado itu.  Perhatian Alni yang tak kusangka-sangka itulah yang membuat gado-gado itu terasa enak dan nikmat sekali.

Bagi orang kebanyakan,  prestasi anak itu ketika dia bisa menang olimpiade sains atau lomba ini itu yang pulangnya membawa piala, lalu piala-piala itu dipajang di almari ruang tamu dengan penuh kebanggaan.  Tapi buatku, hari ini Alni sedang mencetak prestasi cemerlang!  Dia bisa memahami orang lain, rasa lapar orang lain, dia punya inisiatif membelikan kami makanan dengan uang tabungannya dan dia tidak matre meminta ganti padaku untuk uang yang telah dibelanjakannya. Dia juga membelikan mama Aura, bukan cuma ibunya sendiri saja yang dia perhatikan.

Dengan latar belakangnya yang biasa diladeni, pulang sekolah di depan pintu dia taruh tas dengan santainya, lalu karyawan rumah yang membawakan tas itu ke kamarnya.  Bangun tidur dia tak pernah mengurusi kamarnya, lalu berangkat sekolah dengan cuek meninggalkan kamar dalam keadaan berantakan, pulangnya kamar sudah rapi jali. Anak semanja itu bisa membelikan kami gado-gado?  Itu luar biasa, sangat luar biasa.

"Alni itu asik", kata mama Aura, "Aura sering cerita soal Alni kalau di rumah".
"Kalau ujian tuh dia ramai sendiri, 'Inspirasi!! Datanglah!!', begitu dia bilang sambil membentangkan kedua tangannya ke atas", kata mama Aura sambil tertawa, aku ikut tertawa membayangkannya.

"Pernah saat ujian, Alni diam, ditanya kenapa diam, dia jawab meditasi katanya". aku kaget mendengarnya, karena aku tak pernah mengajarinya begitu, "Kalau Alni sampai meditasi, berarti soalnya sudah sulit banget", lanjut mama Aura membuat tawa kami tak berhenti-berhenti.

Alni, Alni, ternyata dia datang membawa kebahagiaan buat kami semua.