Senin, 04 Desember 2017

Memandang Dengan Cara Allah Memandang

Memandang Dengan Cara Allah Memandang
#innuriinspirasi
Di acara itu aku bertemu seseorang , di acara khitanan masal yang Warung Ikhlas Malang menyumbang 90 baju koko anak.

Aku dikenalkan dengan banyak orang oleh sahabat fb-ku mba Agnita , salah satunya dengan lelaki itu.
Lelaki mengagumkan itu bilang begini :"Saya orang miskin , bisanya cuma mendorong sana sini untuk peduli". Perhatikan kata 'saya orang miskin', rasakan kalimat itu di hati, enakkah terasa ?

Tapi begitulah banyak orang memandamg diri dan lingkungannya , berdasarkan kaca matanya sendiri yang subyektif.

Kalau aku malah merasa kalimat itu seperti mengecilkan pemberian Tuhan . Aku melihatnya sehat dan utuh , mengapa harus merasa miskin ?

Coba kita memandang dengan cara Allah memandang. Cara Allah memandang adalah dengan kasih sayangNya yang luar biasa. Maka mari kita memandang diri kita dan lingkungan kita dengan kasih sayang.
Kasih sayang berbeda dengan kasihan. Kebanyakan orang tidak suka dikasihani , tapi semua orang suka dikasih sayangi.

Kasih sayang akan menjelaskan bagaimana kita, dia atau mereka.

Rasakan saja ketika kamu melihat  orang yang lemah dengan kasih sayang di hatimu. Maka tak ada lagi perbedaan, juga tak ada kalimat, alhamdulillah saya kaya , saya lebih beruntung dari dia , maka saya harus peduli. Tidak.
Ketika kasih sayang berbicara , maka kita, dia atau mereka adalah makhluk Tuhan yang berjalan bergandengan menuju kasih sayang Tuhan untuk selamanya.
Kita peduli karena kasih sayangNya yang menggerakkan kita. Kita peduli bukan karena kita orang baik yang lebih beruntung. Kita peduli karena kita adalah perwujudan kasih sayangNya semata-mata.
Berada dalam kasih sayangNya dan menarik banyak orang untuk berada dalam kasih sayangNya , itulah bahagia yang tak terdefinisikan nilainya.