Sabtu, 31 Desember 2011

Merasa Tidak Lebih Baik 2

(Tulisan ini kutulis sebagai kelanjutan tulisanku 'Merasa Lebih Baik')

Ketika aku memutuskan untuk mengambil sikap untuk 'merasa tidak lebih baik' dari orang lain, sebenarnya rasanya agak aneh juga.  Masak sih aku gak lebih baik dari karyawanku yang .., ... dan ... ? masak sih aku tidak lebih baik dari tetanggaku yang ... ? Masak sih aku gak lebih baik dari anak-anakku? Bagiamana jadinya seorang ibu yang tidak lebih baik dari anaknya mendidik mereka?

Tapi keanehan-keanehan itu berusaha aku hilangkan,  bila disebutkan bahwa salah satu hal yang menggelincirkan iblis adalah karena dia merasa lebih baik dari Adam, maka aku harus terima ini sebagai sebuah pelajaran Allah dari al qur'an.

Dan inilah ceritaku, saat aku menjalankan sebuah perbuatan hati 'merasa tidak lebih baik dari orang lain'.

KARYAWANKU.

Dulu aku memandang karyawanku sebagai remaja-remaja putri yang perlu diajari dalam segala hal, dari masalah agama, bertingkah laku sampai ketidak mampuan mereka memahami intruksi kerja. Makanya dimataku mereka ini orang yang banyak salahnya dan aku harus ngotot, bahkan marah untuk memberikan mereka pemahaman tentang sesuatu.

Setelah aku putuskan untuk bersikap merasa tidak lebih baik dari orang lain, maka akupun menanggalkan segala 'cap' yang aku berikan pada mereka selama ini.  Saat datang ke butik, aku memandangi mereka  sebagai orang-orang yang setara denganku, kupikir hanya Allah yang tahu siapa sih yang lebih baik diantara manusia, aku tidak mau tergelincir dalam sikap iblis yang merasa dirinya lebih baik dari Adam.

Ajaibnya, setelah perasaanku terampil menjalani sikap itu, aku dan karyawanku jadi berubah. Perubahan itu dimulai dari diriku, aku menjadi orang yang lebih menghargai mereka, lebih memahami mereka dan juga tidak pernah marah-marah lagi.  Perihal tidak pernah marah-marah lagi ini bahkan membuat karyawanku heran semua ... hahaha.

Perubahan selanjutnya adalah perubahan pandanganku tentang mereka, bila dulu aku melihat mereka sebagai orang yang banyak salah dan banyak kekurangan, hingga perlu dimarah-marahi.  Sekarang pandanganku mulai terbuka, malah kelebihan-kelebihan mereka yang kelihatan, kekurangan-kekurangan mereka jadi tertutup.

Contohnya, ada seorang karyawanku yang bila bicara berisik dan mengganggu, bila tertawa gak enak dilihat apalagi didengerin saking ngakaknya dan dia sering kutegur soal caranya berpakaian.  Tapi belakangan aku ketahui, ternyata anak ini berhati emas. Dia menjadi juru damai bila ada temannya berselisih atau tidak saling tegur, dan dia melakukannya sampai temannya berdamai dan saling sapa.  Aku sendiri tidak pernah lo melakukan seperti yang dilakukan karyawanku yang satu ini,  jadi aku masih perlu belajar darinya soal ketulusannya mendamaikan teman.

Itu baru pelajaran dari seorang karyawan lo, karyawan-karyawanku yang lain tak kalah hebatnya, ada yang tiap kali mendengar adzan langsung melaksanakan shalat tanpa menunda-nundanya, ada yang hatinya begitu tulus dan lembut.

Karena aku lebih menghargai dan  memahami mereka, maka aku bisa berbicara  lebih lembut dan dengan kalimat-kalimat yang mereka mengerti.  Hasilnya.... mereka bisa merespon dengan baik apa yang aku mau dari mereka dan mereka mendukungku dengan sepenuh hati.

TEMAN YANG MENCELA

 Aku pernah lo diinbox oleh seorang teman fbku sebagai orang yang tidak bisa menempatkan ayat ayat Al Qur'an pada tempat yang semestinya,  dll. Menyakitkan sih dituduh seperti ini.  Untungnya saat menjadi seorang 'tertuduh', aku sudah memutuskan sikap untuk merasa tidak lebih baik dari orang lain.

Aku merasa tidak lebih baik dari si teman yang mencelaku itu.... Hasilnya, aku tidak marah, tidak kesal, bisa memaafkan dengan spontan, muncul kasih sayang padanya, ujung-ujungnya Allah membukakan pemahaman untukku, bahwa dia mengatakan aku orang yang  begini dan begitu adalah karena cintanya pada Al Qur'an !!!  Aku menghargainya, walaupun menghargai itu bukan berarti aku setuju dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa aku menempatkan ayat-ayat bukan pada tempat yang semestinya.  Yang terjadi padaku dan dia adalah perbedaan pemahaman saja.

Ada hal lain lagi yang Allah bukakan pintu pemahamannya untukku, yaitu tentang Al Qur'an.  Saat Al Qur'an 'turun' pada diri seseorang, maka yang muncul adalah keharmonisan dengan lingkungannya. Contohnya: saat aku menghadapi 'tuduhan' itu,  sebuah tuduhan yang dilakukan dengan emosional, jadi yang perlu kulakukan adalah 'mendinginkannya' dengan sikap memaafkan dan menghargainya.

Al Qur'an bila turun pada diri seseorang, maka akan membuatnya menjadi damai dan mendamaikan lingkungannya, karena damai itu adalah keharmonisan.  Damai, harmonis dan sejuk seperti Nabi Muhammad saw, beliau selalu sejuk, kata-kata beliau adalah kata-kata yang terpilih, tak menyakitkan hati....

KESIMPULAN

Selain 2 hal yang aku ceritakan diatas, aku mengalami banyak pengalaman yang penuh hikmah tentang sikap batin "merasa tidak lebih baik". Semua itu membuat aku bisa mengatakan bahwa "merasa diri lebih baik dari orang lain" itu memang sikap batin yang harus diwaspadai, karena rasa itulah yang pernah membuat iblis tergelincir.

Merasa lebih baik dari orang lain, bisa membuat kita:
- sombong
- merasa sok tahu sehingga mudah menyalahkan orang lain, mudah memaksa orang lain mengikuti pendapatnya dan memicu sikap emosional
- merasa paling benar sehingga kurang menghargai pendapat orang lain
- dan banyak hal yang merupakan pekerjaan setan (lihat artikelku yang berjudul 'Pekerjaan Setan')

Merasa tidak lebih baik dari orang lain ternyata membuat kita :
- tidak mudah dimasuki setan, yang membangkitkan rasa marah, emosional, permusuhan, perselisihan dan pada puncaknya adalah memasukkan manusia pada kehancuran, penderitaan dan neraka.
- dibukakan Allah pintu ilmu dan hikmah
- di anugerahi Allah perasaan luhur seperti kasih sayang, pemaaf, mudah memahami dan mengerti orang lain

Barangkali akan lebih banyak hal lagi yang bisa kita peroleh dengan sikap rendah hati dan merasa tidak lebih baik dari orang lain, tapi itu semua hanya bisa dibuktikan dengan 'praktek lapangan'. Jadi ya lakukan saja sikap batin ini karena Allah, rasakanlah, maka anda akan lebih bahagia .

Ada sih orang yang mengatakan bahwa merasa lebih baik dari orang lain itu sah sah saja bila konteksnya adalah untuk bersyukur.  Tapi kalau kita telaah lebih lanjut, sikap ini masih ada bahayanya juga, karena bisa-bisa kita tidak bersyukur saat kita merasa lebih buruk dari orang lain,  ya kan?  Lagipula bila kita buka Al Qur'an, bersyukur itu harus selalu kita lakukan dalam keadaan apa saja, karena karunia Allah yang amat besar yang selalu diberikanNya kepada kita, bukan karena merasa lebih baik dari orang lain.

(Semua yang aku uraikan diatas adalah hasil pengalamanku. Aku membagikan pengalamanku ini agar bisa diambil manfaatnya dan membuat kita lebih dekat dengan Allah dan menjauhkan diri dari setan. Bila anda tidak setuju dengan itu semua, maaf bila aku tidak bersedia diajak berdebat)  

Senin, 26 Desember 2011

Ayat Al Qur'an tentang Pekerjaan Setan

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 169
[2:169] Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 257
[2:257] Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 268
[2:268] Setan menjanjikan (menakuti-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui

QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 38
[4:38] Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.

QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 60
[4:60] Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendakke berhakim pada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 119
[4:119] dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya". Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.

QS. An-Nisaa' (An-Nisa') [4] : ayat 120
[4:120] Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
5. QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 12
[7:12] Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

 QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 13
[7:13] Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".
9. QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 16
[7:16] Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

QS. Al-A'raaf (Al-A'raf) [7] : ayat 17
[7:17] kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)

QS. Al-Hijr [15] : ayat 18
[15:18] kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didenganr (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.

QS. Al-Israa' (Al-Isra') [17] : ayat 27
[17:27] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

QS. Al-Israa' (Al-Isra') [17] : ayat 53
[17:53] Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

QS. Al-Kahfi (Al-Kahf) [18] : ayat 50
[18:50] Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim

QS. Al-Furqaan (Al-Furqan) [25] : ayat 29
[25:29] Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur'an ketika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.

QS. Faathir (Fatir) [35] : ayat 6
[35:6] Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala

QS. Yaasiin (Yasin) [36] : ayat 60
[36:60] Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",

QS. Fushshilat (Fussilat) [41] : ayat 25
[41:25] Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jinn dan manusia, sesungguhnya mereka adalah

QS. Al-Mujaadilah (Al-Mujadilah) [58] : ayat 10
[58:10] Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah*dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.

QS. Al-Hasyr [59] : ayat 16
[59:16] (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam".

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 102
[2:102] Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Minggu, 25 Desember 2011

Merasa Lebih Baik

Suatu ketika, ada beberapa remaja putri datang melamar ke butik Cantiqku.  Mereka langsung ditangani oleh mas Virien sebagai kepala bagian personalia.

Salah seorang dari mereka penampilannya begitu 'mencolok mata', blus yang dikenakannya seksi banget, lingkar lehernya lebar dan agak turun, hingga bila dia sedikit menunduk maka akan tampak 'itu'nya......

"Eyang, mereka diterima ta? kok penampilannya aduhai gitu ..... ", kataku pada mas Virien.  Mas Virien cuma tersenyum, lalu bilang :"Belum tentu kita lebih baik darinya".

Meskipun mulutku diam tidak membantah kata-kata mas Virien, tapi hatiku bergolak .... emangnya aku yang menjaga aurat ini tidak lebih baik dari dia?  Aduh.... masak sih? Gak terima rasanya hati ini....

Ingat saat bertemu dengan Kiai dari pondok pesantren An Nuru Tirtoyudo, beliau bilang :"Orang yang tauhidnya benar itu ndingkluk (menunduk) pada manusia, siapa tahu orang yang dihadapan kita adalah kekasih Allah.  Resikonya besar bila kita mempunyai prasangka buruk pada wali-wali Allah".  Beliau memperagakan dengan tangannya yang menekuk untuk menggambarkan hati yang menunduk.

Dua peristiwa itu telah berlalu lama, hingga kemudian aku bertemu cak Edy Yusuf.  Dari cak Edy ini aku baru 'ngeh' dengan kalimat yang dulu disampaikan oleh mas Virien dan pak Kiai.......

"Merasa diri kita lebih baik dari orang lain itu bahaya besar", kata cak Edy ," Coba buka Al Araf ayat 12".

QS. Al-A'raaf  [7] : ayat 12
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".

"Merasa lebih baik itu sifat iblis, dan itu menggelincirkan kita dalam kehancuran", lanjut cak Edy.

Akupun mengerti, faham ..... akupun mengoreksi diri, ternyata selama ini 'merasa lebih baik' itu adalah 'pekerjaan'ku.  Aku merasa lebih baik dari karyawan karena aku bossnya, aku merasa lebih baik dari anak-anakku karena aku ibunya, aku merasa lebih baik dari suamiku karena aku lebih rajin membaca al qur'an dan hadist, aku merasa lebih baik dari muridku karena aku gurunya ....... Padahal .....

Kita memang tidak boleh under estimate kapada orang lain.  Ingat akan almarhum Gito Rollies? atau artis Inneke Koesherawati? Orang-orang yang pernah mencelanya saat mereka dalam kesalahan, tentu kecele bila akhirnya mereka berubah menjadi alim.  Makanya tak usah kita menghina orang lain, siapapun itu .....

Aku sendiri pernah under estimate pada karyawanku .... eh .... lha kok dia sekarang malah jadi ustadzku, jadi guru spiritualku..... Yah, mas Virien dulu adalah karyawanku bagian produksi yang aku tak pernah 'memandangnya'.  Hingga aku mendapat cobaan berat, saat itu Insan mengalami sakit parah yang tak ditemukan penyakitnya di dunia medis......

Mas Virien mendampingiku menjalani ujian itu siang dan malam selama berbulan bulan !!!!  Menguatkan hatiku dengan nasehat-nasehat dan doa-doanya, juga membantu pemulihan Insan.... Setelah peristiwa itu baru kutahu bila dia adalah 'berlian'.

Penyakit "merasa diri lebih baik" itu akan memunculkan rentetan penyakit hati lainnya....... mudah-mudahan Indah bisa menuliskannya di lain waktu, Insya Allah.
    

Kamis, 22 Desember 2011

Batas Kesabaran

Sejak dari sekolah dasar hingga segini tuanya, kita kenal pokok-pokok agama Islam adalah rukun iman dan rukun islam.  Rukun berarti sesuatu yang harus ada atau wajib pada tiap-tiap diri seorang muslim.  Rukun / wajibnya umat Islam adalah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Pernahkan kita merujuk pada Al Qur'an tentang kewajiban-kewajiban yang semestinya kita jalankan sebagai orang yang beriman selain rukun-rukun yang telah begitu kita kenal itu?

Simak ayat ini :
QS. Luqmaan [31] : ayat 17
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Simak baik-baik ya,  apa saja hal yang diwajibkan di ayat tersebut?  Hmmm .... pinter...... hal yang termasuk diwajibkan adalah : mendirikan shalat, menyuruh manusia mengerjakan yang baik, mencegah manusia dari mengerjakan yang munkar dan bersabar terhadap apa yang menimpa kamu.

Bila ada orang bilang, sabar itu ada batasnya.... katakan saja bahwa sabar itu wajib, maka batas sabar itu yaaaa tak berbatas... hehehe ..... hingga pertolongan Allah datang.

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 214
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 153
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Tuh kan ? sudah jelas kan makna ayat diatas? Siapa mau Allah besertanya (beserta = mendampingi terus menerus) ya  sabar saja.  Sabar itu indah, karena orang yang sabar selalu bersama Yang Maha Indah, sabar itu membuka rejeki karena kita selalu bersama Ar Razaq, sabar itu membuka karunia Allah yang lebih luas karena kita bersama Al Wasii (Yang Maha Luas Karunianya), sabar itu membuat kita menjadi orang yang menang karena kita selalu bersama Al Muizzu, sabar itu membuat kita menjadi orang yang lapang dada, lapang rejeki karena kita selalu bersama Al Basith, sabar itu menjadikan kita menjadi orang yang mulia dan berkedudukan tinggi karena kita bersama Al Aliyyu .........

Sabar itu membuat kita memiliki banyak hal karena kita bersama Sang Pemilik Segalanya.  Mauuu????

Rabu, 21 Desember 2011

Cinta Yang Terlarang

Kedengarannya wajar ya bila kita mencintai anak-anak kita, suami/istri kita, rumah kita ?  Hati-hati deh, karena bisa jadi cinta kita itu adalah cinta yang terlarang.
QS. At-Taubah [9] : ayat 24
Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik
Allah melarang kita lebih mencintai sesuatu selainNya karena Allah lebih cinta sama kita.  Mencintai sesuatu selainNya punya potensi besar membuat kita menderita lahir batin.  Gak percaya? Lihat saja berapa banyaknya remaja yang patah hati karena putus cinta, bahkan ada loh yang sampai gila atau bunuh diri.  Berapa banyak wanita yang bertahan menderita dalam rumah tangga yang kacau balau demi cinta pada anak-anaknya. Kita sendiri pasti pernah mengalami menderita karena cinta, minimal disiksa rindu dan takut kehilangan,  aku juga pernah kok .. hehe. Makanya, karena Allah sayang kita, kita gak boleh mencintai melebihi cinta kita padaNya.
Selain telah 'memakan' banyak korban, cinta juga jadi biang keladi banyaknya kasus perselisihan, pertengkaran bahkan peperangan. Contohnya demi cinta pada seorang ulama, ketika ulama ini mengalami penghinaan, pengikutnya mengamuk, merusak alam dan merugikan banyak orang, padahal tindakan itu sangat dilarang Allah.
Trus cinta yang gimana sih yang layak kita berikan pada orang-orang yang kita cintai?
Cak Edy Yusuf, sang pemandu ayat, bilang begini :" Cinta itu hanya untuk Allah saja.  Kalau untuk manusia, kasih sayang saja".
"Silahkan kasih sayangnya di pol polkan... hehehe ", lanjutnya.
"Bedanya cinta sama kasih sayang?", tanyaku.
"Kalau cinta itu menuntut imbal balik, mengharapkan pamrih".
"Ya ya, kalau kita mencintai, inginnya dia juga membalas cinta, trus inginnya memiliki, trus kita selalu menuntut ini itu".
"Kalau kasih sayang, tak mengharap balasan, hanya memberi dan memberi seperti matahari, seperti kasih ibu".
"Iya ya, kan lagunya 'kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa'.... bukannya 'cinta ibu kepada beta'...." 
"Itu lagu yang qur'ani banget", kata cak Edy.  Cinta tanpa syarat itulah kasih sayang , mengasihi segenap makhlukNya di seluas alam semesta ini. 

Minggu, 18 Desember 2011

Rasa Tidak Ingin Memiliki

Bila bepergian, yang tak terlupa adalah membelikan Alni oleh-oleh. Gadis kecilku itu memang selalu menyita hatiku saat jauh darinya.  Membelikan Alni sesuatu biasanya dalam jumlah banyak, karena aku sedang mengajarinya untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya.  Begitupun beberapa hari yang lalu pas ke Surabaya, kubelikan dia setengah dusin peniti jilbab yang menjuntai, ada logam berbentuk paisley berkilauan menggantung di ujungnya.

Peniti jilbab itu memang menarik dan warna-warni, Alni memilih 3 warna, sedang 3 sisanya dibagikan ke temannya. Tadinya kupikir tak akan ada masalah dengan peniti-peniti itu, tapi ternyata .....

Esoknya Alni kehilangan satu peniti, kejadiannya setelah 2 orang temannya main ke rumah, sudah dicari hingga ke kolong sofa dan kursi tetap tidak ada.  Eh, lha kok esoknya lagi Alni bilang kalau penitinya yang hilang itu dipakai temannya waktu ngaji.

"Ibuk, peniti Alni dipakai S, waktu Alni bilang kalau itu penitinya Alni, dia bilang itu beli di Malang ", kata Alni terlihat kecewa.  S adalah teman Alni yang mendapat bagian waktu Alni bagi-bagi peniti itu.
"Itu kan namanya nyuri ya buk", kata Alni, "Kan dia sudah dapat dari Alni, kok masih ngambil punya Alni ya". 

Sewaktu S main ke rumah, akupun menginterogasi dia tentang peniti itu dan dia mengaku kalau mengambil punya Alni.

Lain S, lain pula si F. F sudah mendapat jatah peniti juga, tapi begitu melihat peniti Alni masih ada 3, dia minta lagi......, tentu saja aku menahan Alni untuk tidak memberinya lagi !! 

Dari 3 orang gadis kecil yang menerima pemberian peniti dari Alni, cuma seorang anak yang 'narimo ing pandum', yang menerima dan menghargai pemberian Alni dan merasa cukup dengan pemberian itu. Dia bisa menerima kalau Alni yang 'punya peniti' berhak memiliki lebih dari teman-temannya yang hanya dapat gratis.  Dia tidak tamak dan rakus dengan ingin memiliki lebih dari yang diterimanya dari Alni

Bila diprosentase, hanya 33,3 % anak yang ikhlas menerima ..... walaupun kejadian ini tidak bisa mewakili dengan signifikan, tapi memang jumlah orang yang ikhlas itu sedikit.  Orang yang ingin memiliki sesuatu yang bukan haknya, sementara dia sendiri sudah memiliki sesuatu yang sama, itulah orang yang tidak 'narimo ing pandum', alias serakah, tamak, atau rakus.....  atau tidak ikhlas.

Masih bagus bila rasa ingin memilikinya disalurkan dengan meminta seperti F, gak bagusnya kalau disalurkan dengan mencuri ..... Banyak loh orang-orang 'gede dan pinter' yang menyelesaikan rasa ingin memilikinya seperti jalan yang ditempuh S, yaitu mencuri hak orang lain.... malah cara mencurinya lebih canggih, halus dan tidak terdeteksi (lupa dia bila Allah Maha Tajam penglihatanNya) 

Akupun mendapat 1 lagi makna ikhlas, yaitu tidak ingin memiliki apa yang menjadi hak orang lain.  Akupun jadi mengerti makna luhur pepatah jawa itu 'narimo ing pandum'.

"Tidak ingin memiliki apa yang menjadi hak orang lain", mungkinkah kita pernah melanggar point ini? 

Coba diingat-ingat lagi deh, kapan ya kita merasa puas karena telah berhasil menawar barang yang kita beli dengan harga yang 'mepet', yang membuat keuntungan si penjual jadi tipis ? Padahal sebagai pedagang dia berhak untuk memperoleh keuntungan yang wajar dan layak?  Hak pedagang telah kita serobot dengan begitu tega ..... 

Coba diingat-ingat lagi deh ......

Aku punya teman yang sukses berbisnis, sudah eksport ke beberapa negara.  Dia bercerita bahwa salah satu rahasia suksesnya adalah memotong omzetnya 5 % untuk disedekahkan.  Dia percaya banget bahwa sedekahnya telah memberi dampak yang luar biasa .....  Tapi tahukah bahwa si teman ini termasuk 'raja tega' dalam menawar barang, bahkan terhadap pedagang kecil di pasar yang hanya mengharap keuntungan dari sedikit dagangan yang digelarnya.

Rupanya temanku ini hanya mau mengeluarkan duit bila sudah jelas ada keuntungan bagi dirinya, contohnya sedekah yang bisa memberikan timbal balik berlipat ganda.  Dia lupa, bahwa diantara hikmah bersedekah adalah agar kita berkasih sayang dengan sesama, agar kita mendapat ridha Allah. Gemar bersedekah tapi masih senang bila orang lain mendapat keuntungan sedikit sementara kita untung banyak..... aduh, gimana ya?  Biar Allah saja deh yang urus .... 

Bila kita merasa masih memiliki sikap tamak dan rakus yang merugikan orang lain, kini saatnya 'merenovasi' ulang hati kita, buang segala hal buruk dan bangun kembali kepekaan terhadap orang lain.

QS. Asy-Syu'araa [26] : ayat 183
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan

Kamis, 15 Desember 2011

Si Teman Dan Si Artis

Maghrib, seorang teman datang, berpakaian tertutup rapat dan tebal, dengan kerudung yang menjuntai ke pinggang, dengan gamis yang panjang hingga mataku tak pernah  melihat mata kakinya,  apa memakai kaus kaki atau tidak, akupun tak pernah memperhatikannya.  Saking rapatnya, dia tak perlu memakai mukena saat numpang shalat maghrib di rumahku.

Adzan isyapun berkumandang, Alni dan bapaknya berangkat ke masjid berpayung menembus gerimis, aku di rumah saja karena sedang 'dapet'.

Televisi yang menyala menampilkan artis Indonesia yang bernyanyi dengan gaun yang minim, yang memperlihatkan dengan sengaja 'wilayah sensual' wanita disertai gerakan yang semakin menambah daya tariknya0. Akupun mematikan televisi.  Biasanya sih televisi di rumahku mati dari menjelang maghrib hingga orang pulang dari shalat isya' di masjid, kali ini aku kecolongan, tak tahu siapa yang menyalakannya.

Senja ini kusaksikan 2 pemandangan yang kontras, temanku itu dan artis di televisi.  Si teman adalah seorang wanita berkerudung rapat yang datang bersama 'rombongan' ketiga anaknya yang lucu-lucu dan suaminya.  Berlawanan dengan 'pemandangan' di televisi, seorang artis wanita dengan 'rombongan' penggemar yang begitu memujanya.

Si teman yang 'bukan siapa-siapa' dan si artis yang jadi pusat perhatian masyarakat Indonesia.  Si teman yang terlihat begitu bahagia dengan keluarga kecilnya dan begitu menikmati perannya sebagai ibu, yang begitu terjaga kehidupan pribadinya, yang begitu terlindungi oleh suami yang setia dan mencintainya.  Si artis yang begitu sibuk dan penuh problema, yang tiap satu inci bagian tubuhnya menjadi sorotan media, apalagi hidup dan kisah cintanya .


Selasa, 13 Desember 2011

Terjebak Dalam Usaha Sendiri

Saat duduk menunggu maghrib di depan mushalla stasiun Gambir, aku terlibat perbincangan dengan seorang pengusaha muda yang ditakdirkan Allah duduk di sampingku.  Dia adalah pemilik 3 toko retail pakaian jadi di Madiun.

Lelaki muda ini terlihat resah dan tidak tenang, dia bercerita bahwa dia tidak bisa meninggalkan usahanya di Madiun, pasti kacau katanya.  Bila bukan karena terpaksa, dia tak akan 'beranjak' dari Madiun.  Kedatangannya ke Jakarta karena perlu kulakan pakaian jadi di Tanah Abang.

"Kenapa tidak memakai sistem saja? maksudku pakai management yang bagus", kataku.
"Kayaknya gak bisa bu, karyawan itu ...(dia menceritakan keluhannya tentang karyawan-karyawannya)".
"Seorang karyawan tidak akan keluar potensi maksimalnya kalau kita sendiri tidak mempercayainya", kataku, dan kedengarannya si pengusaha muda ini mulai terbuka pikirannya, diapun bertanya tentangku, lalu kuceritakan bahwa aku adalah pengusaha batik dan instruktur kewirausahaan di propinsi.

"Dulu aku hampir seperti mas, terjebak dalam usahaku sendiri.  Aku harus selalu berada di tempat untuk mengelola pekerjaan karyawan, melayani pelanggan, membuat desain, belanja bahan, mengatur keuangan, menghitung gaji karyawan.  Sekarang tidak lagi, semua sudah dipegang karyawan, aku bisa bepergian kemana saja dengan tenang, bahkan untuk urusan gaji, mereka bisa nyari sendiri, aku malahan yang digaji sama anak-anak.  Tugasku kontrolling dan melakukan audit internal, dan juga membuat desain saja", kataku.  Lelaki muda itupun bertanya padaku tentang berbagai hal, aku menyuruhnya untuk datang saja ke klinik UKM propinsi Jawa Timur, disana ada konsultan bisnis dari berbagai disiplin ilmu, bahkan beliau-beliau itu benar-benar praktisi bisnis, mereka mendampingi kita berdasarkan teori dan praktek yang telah mereka buktikan sendiri keberhasilannya.

Pengusaha-pengusaha kecil-menengah memang banyak yang terjebak dalam usahanya sendiri, diantara teman-temankupun masih banyak (90%) yang memakai management 'One Man Show', maksudnya semua dikerjakan sendiri, mempunyai karyawan tapi tidak dikelola dengan baik, hingga repot sendiri.

Jawaban dari semua itu adalah management usaha yang benar.  Management usaha meliputi management personalia dan management keuangan, dua-duanya harus jalan bila mau usahanya berkembang dan sehat (dan tidak bikin pusing pemiliknya).

Dulu, aku yang sarjana dan sudah mendapat materi management di kampus, suka meremehkan yang namanya sistem management usaha.  Kupikir, management itu kan POAC (Planning Organizing Actuating Controlling), kalau itu sih sudah kulakukan. Tapi aku gak nyadar-nyadar, kalau aku melakukan fungsi-fungsi management itu seorang diri , karyawan hanya membantu , otomatis yang paling direpotkan ya diriku sendiri.  Nyadarnya setelah dapat ISO (International Organisation of Standardisation), baru 'ngeh' deh dan setelah ada ISO, selain usaha lebih tertata dan lebih memudahkan pemiliknya, usaha juga lebih berkembang karena fungsi-fungsi yang membuat usaha itu hidup berjalan seimbang.

Senin, 12 Desember 2011

Yang Mereka Butuhkan Bukan Uang

Dalam sebuah perjalanan bersama ustadz Virien, dari atas kendaraan aku melihat seorang pengamen menggendong anaknya duduk di depan sebuah toko.

"Eyang-eyang!!!  lihat pengamen itu!!! ", kataku. Ustadzku itu cuma melihat sekilas, tanpa kata, tanpa ekspresi, kontras sekali dengan seruanku yang penuh semangat, tapi aku terus saja 'mengoceh'.

"Aku pernah bertemu dengannya di bis, dulu banget.  Waktu itu dia berdiri di depanku duduk, menggendong bayi berumur sekitar tiga atau empat bulan.  Penampilannya rapi, jadi kukira dia penumpang, eh ternyata dia mengeluarkan pengeras suara, dan kotak yang dibawanya yang kukira koper itu ternyata tape recorder.  Dia menyanyikan lagu dangdut sambil menggendong anaknya. Setelah dia selesai nyanyi, aku tanya kenapa kok bayinya gak ditinggal saja sama ibunya.  Dia bilang, ibunya baru saja meninggal, akupun spontan memberinya uang sepuluh ribuan, penumpang disebelahku juga ...".

"Sekarang dia sudah berumur setahun lebih, dan dia tetap dibawa mengamen... kasihan ya, kan itu bukan cara mendidik yang baik", kataku.  Ustadzku itu cuma diam tanpa ekspresi, dan aku terus saja 'mendongeng'.

"Tadi waktu kita naik bison dari Sidoarjo ke Japanan, eyang lihat nggak nenek-nenek bersama cucunya yang duduk di depanku?  Ternyata anak sekecil itu sudah yatim, kata nenek itu, ayahnya meninggal waktu dia berumur setahun, sekarang dia sudah lima tahun.  Spontan aku memberinya uang sepuluh ribuan.  Waktu kutanya, bagaimana cara nenek itu mencari nafkah, dia bilang ke pasar, kukira dia jualan di pasar, ternyata dia mengemis di pasar ..... Kasihan dong anak sekecil itu dididik mengemis".

"Mereka itu pola pikirnya yang salah, bunda", akhirnya keluar juga suara dari mulut ustadzku.
"Maksud eyang?".
"Yaaaa, pola pikirnya yang salah. Mereka pikir, satu-satunya jalan keluar dari himpitan ekonomi ya seperti yang mereka lakukan itu, mengamen, mengemis ..... ".

"Berhutang atau barangkali menipu ", sambungku ,"Ada lo eyang, tetangga yang selalu kukasih saat dia pinjam uang, bukan kupinjami maksudku, kukasih saja. Tahu nggak ....... akhirnya lha kok aku ini jadi kayak ibunya, masak dia mau berhutang ke warung mbak Nur sebelah rumah dan bilang ke mbak  Nur kalau nagihnya ke aku.  Aneh kan? aneh bin ajaib.  Mbak Nur sampai bilang kalau kebaikanku sudah dimanfaatkan olehnya".

"Yang mereka pikir hanyalah uang untuk memenuhi kebutuhan perut mereka.  Seandainya tujuan hidup mereka untuk Allah, tentu akan lain ceritanya", kata eyang.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A'raaf [7] : ayat 96)

Menolong orang kekurangan uang ternyata tidak harus dengan uang. Sering yang mereka butuhkan adalah  perubahan pola pikir, makanya kita dianjurkan untuk nasehat menasehati dalam kebaikan dan taqwa.


Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-'Ashr [103] : 3)

Minggu, 11 Desember 2011

Gara-Gara Si Komo Lewat

Macet lagi, macet lagi, gara-gara si komo lewat..... itu lagunya Melisa waktu Aden sama Zeli masih balita, enak didengarkan.  Agar enak juga untuk dijalani, membutuhkan 'ketrampilan' tersendiri.

Terjebak macet, njengkelin ya, seperti aku kemarin tgl 8 november 2011, bukan gara-gara si komo, tapi gara-gara ada demo di lapindo, bis patas jurusan Malang-Surabaya yang kutumpangi terjebak macet hingga 3 jam lebih!!!

Dulu, sebelum ada kasus lapindo, perjalanan Malang-Surabaya bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja.  Setelah ada Lapindo, agak macet dikit-dikit gitu, masih bisa 3 jam. Lha kalau ada demo kayak gini, waktu tempuhnya jadi tergantung kebaikan hati para pendemo, mau nggak mereka memberikan ruang bagi masyarakat untuk lewat.  Seandainya mereka mau, pasti pahalanya gedhe banget tuh, kan menyingkirkan duri di jalan saja sudah dihitung sebagai kebaikan yang banyak, lha kalau mereka mau menyingkirkan dirinya sendiri dari jalan, sudah berapa juta kali duri di jalan yaaa.... hehehe...

Di menit-menit awal bis berjalan merayap, aku memanfaatkan waktuku dengan menuntaskan beberapa persoalan lewat telepon dan mengirim sms.  Setelah semua urusan selesai, mulailah aku dilanda kepenatan.  Kucoba membuka al qur'an yang tersimpan di tasku, suara bising beberapa orang yang menyetel musik dari handphonenya membuatku tidak bisa konsentrasi.  Gelisahpun mulai menyergapku.

Aku lihat pemuda yang duduk di sampingku tertidur pulas, beberapa penumpang lainnya ada yang membaca koran, sepasang remaja asik mengobrol, penumpang lainnya ada yang cuek dan tenang-tenang saja.  Seorang ibu yang duduk di seberang curhat tentang kemacetan lewat ponselnya, keluhannya terlihat lebay banget.....

Semakin lama bis semakin tidak bisa bergerak lagi, mundur gak bisa apalagi maju, terjepit di tengah, kanan kiri, muka belakang mobil semua.... Pemuda di sebelahku semakin lelap tidurnya, aku sendiri semakin gelisah, kucoba menelepon suamiku, gak nyambung-nyambung.... Karena kecapean duduk, akupun berdiri, lalu duduk lagi, berdiri lagi ..... persis adegan seorang suami yang gelisah menunggu istrinya melahirkan.

Akhirnya akupun bisa menghubungi suamiku, aku curhat tentang kemacetan kali ini, lebay banget..... padahal barusaja aku membatin gaya lebay ibu di seberang.... hehehe, ketularan kan? Makanya jangan buru-buru merendahkan sikap seseorang, karena diri kita sendiri mungkin bisa lebih parah.....

Pemuda di sebelahku sudah terbangun, dengan santai dia mendengarkan musik lewat earphone dari ponselnya, tenang dan kelihatan tidak terpengaruh dengan kemacetan.  Tak tahan dengan kebisuan, akupun menyapanya, bertanya mau kemana dia dan mengapa dia begitu santai dan tidak bete.

"Sebenarnya bete juga bu, tapi ngapain lagi? dinikmati saja", begitu katanya.
"Yaaa, betul itu , mau bete atau tidak, mau sabar atau tidak, keadaan tetap begini, padahal Allah bersama orang-orang yang sabar.  Kenapa kita tidak berani memilih tidak bete dan sabar ya?", kataku.
Rupanya aku jadi ketularan tenang, kena 'resonansi' tenang pemuda ini.

"Kebanyakan kita sering tertipu keadaan.  Saat macet kayak gini, kita menyangka bahwa ini adalah sumber kekacauan rencana kita, padahal mungkin Allah sedang menolong kita terhindar dari hal buruk yang kita tidak tahu ", kataku.
"Ya, betul", katanya, lalu kamipun ngobrol. 

6 jam lebih perjalanan Malang-Surabaya, ternyata tidak membuatku terlambat mengikuti acara yang sedianya dilaksanakan jam 3 sore.  Banyak perserta lain yang mengalami hal yang sama denganku.

Boleh jadi kemacetan begitu menjengkelkan bila kita terbiasa menilai 'waktu adalah uang'. Padahal waktu bisa jadi peluang, peluang untuk mempelajari sesuatu, peluang untuk mengasah ketrampilan ikhlas, peluang untuk berbagi cerita, peluang untuk melatih kesabaran, peluang untuk berdzikir mengingat Allah, peluang untuk ....... banyak hal berguna bisa dilakukan dalam kemacetan.

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar".
(Q.S. Al -Fushilat 35)

Jumat, 09 Desember 2011

Poligami Ala Suamiku

Kesukaanku saat ramadhan adalah menonton PPT (Para Pencari Tuhan) jilid 5 di SCTV.  Seperti ramadhan lalu, ada episode yang menceritakan bagaimana Aya memaksa suaminya menikah lagi dengan Kalila hanya gara-gara suaminya bergurau ingin berpoligami. Saat itu jadi ingat diriku, jadi ingat eyang (ustadz Virien).

Pernah si Virien itu hampir setiap hari 'menghembus-hembuskan' dalil tentang poligami padaku, tentang bagaimana wanita harus ikhlas dengan ketentuan Allah yang satu itu.  Padahal dia sendiri untuk mendapatkan satu istri saja nggak kunjung kesampaian, dia malah bilang nanti langsung 4 ... hehehe.

Saking jengkelnya, aku bilang padanya,"Kalau kamu bisa memaksa mas Hary menikah lagi, ya silahkan saja.... wong aku pernah menyuruhnya begitu, tapi dia malah tertawa ".

"Oh, bunda pernah menyuruh pak Hary menikah lagi? ", dia bertanya, lalu kusadar bahwa aku sudah membocorkan rahasia besar ... haha.

"Ya sih, dulu banget, waktu Aden sama Zeli masih kecil, waktu itu aku kasihan melihat banyak wanita lajang tak kunjung menemukan suami.  Lalu kusuruh mas Hary menikah lagi, dia kan sudah membuktikan padaku bisa menjadi suami yang baik, nah aku ingin berbagi kebahagiaan dengan wanita lain, gitu ceritanya, tapi dia malah mentertawakan ideku itu, lalu dia bilang ...."

"Bilang apa bunda? " Nah kan? ustadzku itu jadi penasaran rupanya.
"Dia bilang, dia mau punya istri empat ".
"Hah ??".
"Istri pertamanya aku, istri keduanya aku, istri ketiganya aku, istri keempatnya juga aku...."
"Hahahaha ....", kamipun tertawa berderai.

Tapi sejujurnya, hatiku terpengaruh juga dengan kalimat-kalimat eyang tentang poligami.  Berhari-hari aku memikirkannya dan berhari-hari aku gelisah karenanya.  Aku tidak menolak poligami, tapi kalau aku sendiri yang menjalaninya .... aduh gimana ya.

Aku ini orangnya aleman banget sama suami, sudah gitu aku juga tergantung banget sama suami.  Bila dia tidak di rumah, aku bisa susah tidur dan suka mengganggunya dengan telepon dan sms untuk mendoakanku agar bisa tidur.  Meskipun dia ada di rumah aku masih suka mengganggu tidurnya, karena bila malam aku sering tidak berani ke kamar mandi sendiri, aku selalu membangunkannya untuk menemani, lalu dengan terkantuk-kantuk dia selalu menuruti permintaanku. Banyak dan banyak sekali ketergantunganku padanya.

Aku dan dia seperti 'tumbu oleh tutup', orang aleman ketemu orang yang suka meladeni dan memanjakan.  Gak kebayang kalau dia tega membiarkanku mengalami ketakutan di rumah tanpanya untuk memenuhi 'giliran' istrinya yang lain. Duh Allah, ampuni aku.

Begitulah, pergolakan batinku gara-gara 'dibombardir' dalil tentang poligami.  Hingga akhirnya aku bertemu juga dengan rasa ikhlasku menerima aturan Allah yang satu ini,  akupun menuliskan hasil kesimpulan hatiku lewat sms ke ustadzku itu.

" Eyang, aku sudah rela dimadu.  Bukankah kebahagiaan seorang muslim adalah berdekatan dengan Allah Tuhannya?  Aku mau kebahagiaan seperti itu, kebahagiaan dekat dengan Allah, bukan kebahagiaan karena bisa memonopoli suami "

Tahukah apa balasan eyang ? Ini nih kata dia :

" Aku yang tidak rela bila bunda dimadu, seperti tidak relanya Rasulullah bila Fatimah putrinya terkasih dimadu oleh Ali bin Abi Thalib".

Eyang-eyang, jadi apa maksudmu selama ini mendesak-desakkan poligami padaku ? Untuk membuatku gelisah berhari-hari atau untuk .... 

Di kesempatan lain, eyang lagi-lagi bicara poligami.
"Seseorang akan diuji dengan apa yang ditakutkannya, kalau wanita takut diduakan suaminya, maka diapun akan mendapat ujian itu ".

Ada benarnya juga kata-kata eyang.  Aku ingat waktu kecil dulu aku takut sekali sama anjing, lalu orang-orang bilang begini, "Jangan takut, kalau kamu takut dia malah mendekat".

Rasa takut ibarat kita sedang menghidupkan frekwensi hal-hal yang kita takuti, frekwensi yang sama membuat benda/hal yang kita takuti mendekat.  Takut anjing membuat frekwensi pikiran kita terfokus ke anjing, maka tidak salah bila anjingnya malah mendekat.  

Begitupun kejadiannya bila kita takut pada hal-hal lainnya, seperti takut poligami,  takut bangkrut, takut hutang, takut anak masuk dalam pergaulan yang salah dll.  Jadi, pikirkan hal-hal baik saja deh.

Selasa, 06 Desember 2011

Nasi Berbungkus Kasih Sayang

Suatu  pagi dalam perjalanan dari rumah ke butik, mas Hary suamiku melihat sepasang kakek nenek yang sudah tua sekali berjalan ke arah utara, ke arah pangkalan TNI AU, banyak kampung dan perumahan tersebar disini, termasuk salah satunya perumahan tempatku tinggal. 

"Kasihan banget tuh dik, nenek-nenek sudah tua sekali ".
"Nenek-nenek yang mana sih mas? Aku gak lihat tuh ", tanpa menjawab pertanyaanku, suamiku membalikkan mobilnya.

"Tuh, kakeknya dah kelelahan, coba tanya mau kemana dia? ", suamiku menunjuk seorang lelaki tua berkulit sawo terlalu matang yang terduduk kelelahan di bawah sebatang pohon palem di pinggir jalan. Akupun bertanya padanya, mau kemana dia dan apa dia sudah makan atau belum?  Dia belum makan katanya, dan mengenai tujuannya, kakek itu terlihat bingung.  Karena aku tidak membawa makanan, aku hanya bisa memberinya uang, berarti kakek itu masih harus berjalan lagi mencari warung makan.

Perihal nenek itu, yang sudah berjalan jauh meninggalkannya, ternyata bukan istri si kakek.  Mas Harypun  melaju mendekati perempuan tua renta  yang berjalan tertatih-tatih itu.  Akupun bertanya dari mana dan mau kemana dia.  Dia dari Bunut katanya, jaraknya kurang lebih satu setengah kilo dari lokasi ini, berarti nenek itu sudah berjalan amat pelan sekali sejauh itu ........ Kamipun mengantarnya ke tujuan dan memberinya uang agar dia bisa naik angkot.

Sejak peristiwa itu, aku berusaha untuk selalu menyediakan makanan di mobil.  Bila pagi kami sarapan nasi pecel, maka aku membawa beberapa bungkus nasi pecel untuk kami bagikan ke dhuafa sepanjang perjalanan kami.  Bila pagi aku membuat nasi goreng untuk anak-anakku, maka aku lebihkan agar ada sisa yang bisa dibungkus untuk dibagi-bagi.  Kadang cukup roti atau kue basah yang mengenyangkan.  Sambil membungkus makanan-makanan itu, aku berdoa agar Allah menyampaikannya pada orang-orang yang lapar.

Jangan bertanya apa yang kuperoleh dari kebiasaan kecilku itu, karena terlalu rugi bila anda tidak mengalaminya sendiri .......... Seandainya mungkin, lakukanlah seperti yang kulakukan, bukan aku yang meminta, tetapi Allah.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun 107:1-3)

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”  ( Al Insan  76 : 8 )

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (Surat Al Insan : 9)

Kepada Allah  Tuhanku terkasih, hari ini aku sudah mengamalkan perintahMu untuk menganjurkan memberi makan orang miskin, maka beri aku keridhaanMu.



Minggu, 04 Desember 2011

Pekerjaan Yang Memuliakan Jiwa

Kekayaan atau pekerjaan yang bagus di mata manusia bukanlah penentu dari kemuliaan jiwa seseorang, karena memuliakan diri sendiri merupakan hak setiap orang yang bukan tergantung dari kondisi pekerjaaan atau tingkat ekonomi seseorang.

Contohnya  seorang pasukan kuning atau petugas kebersihan, dia bisa memilih untuk berpikir seperti a, b, c atau d :

a. Beginilah nasibku sebagai orang yang berpendidikan rendah, hanya bisa bekerja sebagai penyapu jalanan dan pemungut sampah dari rumah ke rumah.

b. Untunglah aku masih punya pekerjaan walaupun hanya sebagai petugas kebersihan, sementara banyak orang menganggur.

c. Aku punya pekerjaan yang mulia, aku menentukan bersih tidaknya kota ini, mempengaruhi nyaman tidaknya penduduk kota dan juga mempengaruhi kunjungan wisata.  Bila banyak wisatawan datang, akan meningkatkan penghasilan pedagang makanan dan oleh-oleh, betapa pentingnya pekerjaanku ini.

d. Pekerjaanku adalah pengabdianku pada Allah, aku akan menjalankan tugasku sebaik-baiknya sebagai bentuk tanggung jawabku di hadapan Allah, karena Dia Maha Bijaksana, maka menempatkan aku pada posisi ini.

Anda lihat sendiri, kemuliaan jiwa seseorang tergantung dari cara berpikir dan caranya berperasaan dan bukan tergantung dari atribut duniawi.

Nah, giliran anda sekarang, apa pekerjaan anda dan apa yang terpikir oleh anda tentang pekerjaan tersebut?  Apakah anda hanya bekerja untuk mencari uang? atau ......  Inginkah bila akhirnya nanti pekerjaan yang kita lakukan akan membawa kita bertemu denganNya dengan selamat?

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya".  (QS. Al-Insyiqaaq [84] : ayat 6)

Ayat tersebut diatas mengaitkan antara 'bekerja' dengan 'menuju Tuhanmu', seperti itulah seharusnya kita.  Setiap hari kita bekerja dan mengalami kelelahan fisik dan psikhis, musti disadari bahwa kelelahan yang kita rasakan bisa jadi sia-sia bila kita salah dalam mensetting pikiran dan perasaan kita.

Juga jangan terjebak oleh 'baju' atau penampilan luar seseorang dan jangan mudah merendahkan orang lain karena pekerjaannya yang kecil, kotor dan kelihatan tidak berarti, bisa jadi dia lebih mulia dibandingkan seorang yang berpenampilan bersih dan mempunyai pekerjaan yang bagus di mata manusia.

Jumat, 02 Desember 2011

Mereka Hanya Punya Satu Persoalan Dalam Hidupnya

Ketika Al Qur'an dilaksanakan dengan kaffah, kehidupan seseorang menjadi begitu luar biasa, begitu mudahnya dan begitu bahagianya ...... sampai-sampai mereka hanya punya satu persoalan saja dalam kehidupan, yaitu apakah hidupku sudah bersesuaian dengan Al Qur'an?


Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, aku bertemu cak Edy dan cak Halim, dua orang yang keliling dunia untuk membawakan Al Qur'an. 

Cak Edy adalah pemilik sebuah perusahaan berskala menengah di Surabaya, perusahaan yang sudah tersistem dengan rapi hingga pemiliknya bisa jalan-jalan kemana saja dan kapan saja beliau suka.  Tahukah bahwa beliau mengoperasikan perusahaannya dengan ayat-ayat Al Qur'an?  Terbukti, kata beliau, dengan cara ini perusahaan lebih berkembang dan menekan seminimal mungkin 'overhead' (ini sih istilah beliau yang aku tak tahu persis maksudnya ....hehehe)

Terus terang saja, sejak kecil aku dan mungkin banyak orang lainnya beranggapan bahwa melaksanakan Al Qur'an secara totalitas adalah hal yang tidak mungkin.  Mind set kita, manusia yang bisa melaksanakan Al Qur'an secara menyeluruh hanyalah Nabi Muhammad. Memang betul, hanya N Muhammad manusia paling mulia, dan kita tak akan pernah bisa 'menyaingi' atau 'menyamai' kemuliaan beliau, tapi ...... apakah hanya Nabi yang bisa melaksanakan Al Qur'an secara kaffah? Sahabat Nabi pun manusia biasa yang melaksanakan Al Qur'an secara totalitas .....  Yang membedakannya, beliau berakhlak Al Qur'an sejak beliau kecil, sedangkan manusia biasa kebanyakan melalui 'jatuh bangun', melewati berbagai 'sejarah' proses kehidupan.  Yang membedakannya juga masalah kualitas dan kuantitasnya.

Contohnya, dalam melaksanakan Surat Al-Isra' [17] : ayat 79
"Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji".  Dalam pelaksanaannya, manusia biasa ada yang bertahajud dengan 2 rekaat yang pendek, 11 rekaat, atau lebih..... tapi Nabi melaksanakannya dengan panjang dan lama hingga kaki beliau bengkak, pun beliau melaksanakannya dengan amat khusyu'. Tidak bertahajudpun bukan berarti melanggar ayat ini, karena bukan hal wajib, hanya sebagai ibadah tambahan.  

Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (Al-Jasiyah [45] : ayat 20)

Renungkanlah ayat tersebut diatas, jelas-jelas dikatakan bahwa Al Qur'an adalah pedoman bagi manusia, dan bukan pedoman bagi Nabi.  Berarti manusia bisa melaksanakannya, karena tidak mungkin sebuah buku pedoman memuat hal yang tidak bisa dilakukan oleh 'produk'nya.  Seperti halnya saat kita membeli sebuah produk, smart phone misalnya, selalu ada buku manual yang memudahkan kita mengoperasikan alat itu.  Mengabaikan buku manual sama saja dengan menjatuhkan diri dalam kesulitan, begitulah yang terjadi bila kita mengabaikan Al Qur'an.

Aku katakan semua itu agar kita meruntuhkan semua batasan yang membuat kita terdinding dalam melaksanakan Al Qur'an.

Setelah itu, fahamilah bahwa Al Qur'an itu mudah.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran (QS. Al-Qamar [54] : ayat 17)

Ayat dengan kalimat yang sama persis diulang lagi sebanyak 4 kali di surat yang sama di ayat 22. 32 dan 40.  Ini artinya, betapa pentingnya ayat itu, betapa pentingnya menata mind set kita bahwa Al Qur'an itu mudah. Mudah dalam arti yang banyak, mudah dipelajari, mudah difahami, mudah dilaksanakan, dan memberi kemudahan hidup bagi yang melaksanakannya.

Bila yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu mudah adalah Allah swt, masihkah kita membantahnya dengan berbagai argumentasi?  Bila demikian kejadiannya, berarti yang membuat Al Qur'an itu sulit adalah diri kita sendiri.

Al Qur'an adalah mu'jizat yang dibawa oleh junjungan kita Nabi besar Muhammad saw.  Yang namanya mu'jizat, selalu melahirkan hal yang luar biasa, keajaibannya membuat manusia tercengang dan tak berhenti mengagumi. Itulah yang terjadi bila kita melaksanakan Al Qur'an. 

Apa yang aku uraikan diatas, hanyalah isi hatiku saat menerima 'pencerahan' dari sang pemandu ayat, cak Halim dan cak Edy.  Mereka berdua hanya menyampaikan ayat, tidak banyak kata, dan tidak mau menafsirkan ayat dengan logika dan pendapatnya sendiri.

Tahukah rasanya bertemu dengan sang pemandu ayat? Begitu sejuk, damai, tidak ada persoalan hidup yang  tidak bisa diselesaikan dengan Al Qur'an ..... Beginilah rupanya Islam seharusnya dibawakan, tak ada yang sanggup menolak, kecuali orang yang ada penyakit di hatinya.

Bertemu manusia biasa yang menjalankan Al Qur'an saja sudah begini damainya, kubayangkan seandainya bertemu Nabi Muhammmad sendiri, sedamai apakah rasanya ? ..... Mari sampaikan shalawat dan salam kita kepadanya.

Kamis, 01 Desember 2011

Bertemu Al Qur'an Berjalan

Selasa, 29 november 2011, jam 1 siang, adalah jam dan detik-detik yang amat berarti dan penuh berkah bagiku, karena ini adalah saat aku 'bertemu' Al Qur'an. 

Sejak kecil aku diperkenalkan dengan Al Qur'an, hampir tiap hari membaca Al Qur'an, tapi baru sekarang aku merasa mengenalnya .....  Benar-benar sebuah pencerahan yang luar biasa terjadi padaku dan mungkin pada beberapa orang di sekitarku ....

Ceritanya kemarin malam mas Hary pulang dari pameran di Mataram, mendadak dia jadi alim, lalu dia bercerita bahwa dia bertemu sesama pengusaha peserta pameran yang membuatnya bisa memahami Al Qur'an dengan lebih mudah, enak dan menyenangkan.  Mas  Hary bahkan sudah mengundangnya untuk memberikan  kajian Qur'an untuk segenap karyawan Cantiq esok habis dhuhur !!!

Esoknya jam 12 thet beliau sudah datang, sementara karyawanku masih ribut berdandan , bahkan aku belum shalat dhuhur, sementara mas Hary sedang menjemput karyawan bagian nyanting di Mantren.

Teman mas Hary itu namanya pak Halim, beliau datang bersama guru beliau cak Edy Yusuf, beginilah mereka lebih suka disebut, bukan dengan sebutan ustadz.  Mereka berdua sama-sama pengusaha yang rupanya mempunyai perusahaan yang sudah tersistem dengan baik sehingga pemiliknya bisa keliling dunia untuk menyiarkan ayat-ayat Allah.

Cak Edy sudah keliling di 12 negara untuk membawakan Al Qur'an, bahkan beliau pernah bicara di Vatikan, di hadapan 12 kepala kardinal .... dan mereka semua mengakui kebenaran Al Qur'an, tidak ada satu ayatpun yang mereka tolak !!! Subhanallah , Allahu Akbar !!!

Untuk pertama kalinya aku mendengarkan kajian quran dengan cara yang 'tidak biasa', tapi enak, mudah dan menyenangkan....  Untuk pertama kalinya pula aku bertemu orang yang ketika ditanyakan suatu hal kepadanya, dia tidak berani menjawab dengan pendapat dan logikanya sendiri, melainkan dengan menyebut nomor surat dan ayat, beliau hafal luar kepala ayat-ayat Al Qur'an yang mulia. Beliau benar-benar 'Al Qur'an berjalan', karena beliau bukan hanya hafal, tapi juga terampil melaksanakannya.

Dari beliau aku mendapat contoh bagaimana cara memuliakan Al Qur'an, yaitu dengan jalan membacanya, memahaminya, mengamalkan / menjalankannya, memeliharanya dan menyampaikannya kepada manusia.  Beliau adalah satu dari sedikit orang yang takut sekali melanggar ayat (istilah beliau 'terkena ayat').  Otomatis akhlak beliau adalah Al Qur'an, ini menggugurkan pandangan orang (yang tidak jelas dasar hukumnya) bahwa hanya Nabi Muhammmad saja yang bisa berakhlak Al Qur'an.

Ketika Al Qur'an disampaikan secara integral (pemahaman yang menyeluruh sebagai satu kesatuan) , maka judulnya adalah sejuk dan menyejukkan
Setelah memberikan kajian yang menarik di Cantiq, mas Harypun mengajaknya untuk memberikan kajian serupa di masjid perumahan tempatku tinggal.  Beliau dengan ringan, santai dan tanpa banyak kata menyatakan kesediaannya.  Rata-rata jamaah terpukau oleh cara beliau menyampaikan ayat-ayat, dan menghubungkan ayat satu dengan yang lain. Beliau tak pernah menafsirkan ayat-ayat itu dengan logika atau pendapatnya karena ayat Al Qur'an saling terhubung satu sama lain, satu ayat dijelaskan di ayat yang lain.  "Biar Allah saja yang menafsirkan ayat-ayatNya, bukan pikiran manusia ", begitu kata beliau.  Makanya beliau lebih suka disebut cak Edy pemandu ayat, bukannya ustadz atau kiai.

Sebagaimana yang sebelum-sebelumnya terjadi, bila kami mengundang ustadz atau ustadzah ke butik, kami selalu menyediakan sedikit 'uang transport'.  Tapi jangan coba-coba memberikan 'amplop' pada cak Edy dan kroninya ini, mereka tidak akan mau menerimanya, karena mereka tidak mau terkena ayat  ini :

QS. Al-An'aam [6] : ayat 90
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.

InsyaAllah, aku akan menuliskan di blog ini sedikit demi sedikit pelajaran Al Qur'an dari cak Edy Yusuf dengan caraku yang tidak sempurna ini.  Namun bila anda berminat mengundang beliau ke tempat anda, silahkan menghubungi Indah lewat kontak person di profileku atau di inbox lewat fbku (sayangnya dua hari terakhir fbku tidak bisa menerima dan mengirim pesan, tidak juga bisa dipakai chatting). Anda bisa mengumpulkan teman-teman dan jamaah anda untuk mendengarkan ayat-ayat Al Qur'an yang beliau sampaikan.  Tempatnya bisa dimana saja, di rumah, di mushala, di balai kelurahan, dimanapun tempat yang suci ......

Rabu, 30 November 2011

Sedekah Ikhlas dan Sedekah Batal

Mau pulang dadakan di tengah acara nungguin stand Indocraft, mungkin lebih enak naik pesawat, cuma selisih seratus ribu lebih sedikit......  Tapi gak tahu kenapa, kok cenderung kepingin naik kereta api saja, maka kuikuti saja aliran suara hati ini .....

Pas tiba di stasiun, kereta sore ke Surabaya sudah berangkat, jadi ikut kereta yang berangkatnya pukul 8 malam.  Akupun menikmati waktu dengan berjalan-jalan mencari rumah makan yang banyak tersedia di stasiun Gambir, akupun memilih rumah makan masakan Padang. 

Tengah menikmati makananku, datang seorang ibu yang rupanya senasib denganku, menunggu kereta dan sendirian pula.  Ibu itu tersenyum padaku, memesan makanan, lalu kamipun mengobrol lama.  Beliau banyak bercerita tentang kemudahan dalam hidupnya yang 'dibuka' dengan sedekah.

Beliau bercerita bahwa dia dan suaminya adalah pegawai negeri yang hanya mengandalkan pendapatan dari gaji yang terbatas.  Suatu kali ibu ini beramal untuk membayar uang SPP beberapa anak yatim dan dhuafa sebanyak satu juta rupiah dengan jalan dibayar langsung ke sekolah-sekolah mereka.  Beliau melakukannya dengan ikhlas.

Amal yang ikhlas membuahkan sesuatu yang luar biasa.  Kata beliau, pernah dalam sebulan mereka berdua bisa menabung sepuluh juta, itu merupakan hal yang secara logika tidak mungkin dilakukan oleh pegawai negeri seperti dirinya.  Keajaiban-keajaiban itu berdatangan terus hingga mereka berdua bisa menunaikan ibadah haji.

Sebuah kisah yang menginspirasi.  Yang penting dalam beramal memang harus ikhlas karena Allah, karena Allahlah yang memerintahkan untuk bersedekah dan menyayangi sesama, karena Allah adalah Ar Rahman Ar Rahim.  Bila kita bisa menjadi 'kepanjangan tangan' Allah di atas bumi ini, maka itu adalah kebahagiaan buat kita, kebahagiaan seperti ini melebihi kebahagiaan yang berupa materi sebagai balasan atas sedekah kita.

Allah memang memberi 'iming-iming' sedekah yang kita keluarkan dengan balasan berlipat ganda dan kita tidak salah bila tertarik dengan iming -iming itu. Tapi jangan lupakan ikhlas, yaitu tidak merasa bahwa harta kita berkurang dengan sedekah yang kita keluarkan dan berharap ridhaNya saja.
Sadarilah bahwa ada hal yang lebih besar daripada balasan Allah yang berupa materi, yaitu keridhaanNya dan kebahagiaan kerena telah menjadi 'kepanjangan tanganNya' di muka bumi.  Masalah materi pasti dicukupiNya, karena Allah adalah penjamin rizki bagi hamba-hambaNya.

Amal yang tidak ikhlas malah tidak dilipatgandakan balasannya dan hanya menimbulkan penyesalan di kemudian hari.  Pernah kulihat berita di televisi, ada seorang pengusaha yang ingin memenangkan tender sebuah proyek besar.  Lalu dia beramal puluhan juta rupiah untuk anak yatim dengan harapan keinginannya terkabul.  Tapi ternyata tender yang dia harap itu gagal dimenangkannya, kemudian dia berniat menarik kembali uang yang sudah terlanjur dibagikan itu. Anak-anak yatim itupun disuruh mengembalikan uang yang sudah terlanjur diterimanya ...... kasihan bukan?

Sebaiknya dalam bersedekah kita memang hanya mengharap keridhaan Allah saja, lepaskan diri dari tujuan yang bersifat duniawi.

 "Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (Surat Al Insan : 9)

"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.
(QS. Al-Baqarah [2] : ayat 265)

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)  (QS. Al-Baqarah [2] : ayat 272)

Selasa, 29 November 2011

Dicuekin? Siapa Takut .....

Hari Sabtu ini, aku diundang mengikuti seminar "XYZ" di sebuah hotel di Malang.  Karena undangannya untuk dua orang, aku mengajak ustadz Virien menemaniku.

Tak kuduga, eyang (panggilan sayangku untuk ustadzku itu) banyak bertemu kenalan-kenalannya di forum ini. Diantara mereka ada yang pernah ngaji bareng eyang dan ada pula Gus (putranya Kiai). Kucoba bersikap ramah pada mereka, dengan mengatupkan kedua tangan dan sedikit menekuk kedua lututku aku memperkenalkan diri kepada mereka ........ dan ...... mereka hanya melihatku sekilas tanpa kata, lalu aku dicuekin ........hahahaha...

Seusai acara, aku curhat sama eyang ,"Kok mereka sikapnya gitu ya sama aku? padahal kita kan sesama muslim dan katanya kita dianjurkan bergaul dengan orang-orang shaleh. Aku kan kepingin bergaul dengan orang saleh?  Tapi rasanya aku mendapat penolakan dari mereka".

"Mengapa risau dengan sesuatu yang berada di luar diri kita?", jawab eyang, sebuah kalimat yang membuatku berfikir, iya ya, mengapa risau dengan hal diluar diri yang kita tak bisa mengendalikannya?  Lebih baik fokus ke dalam diri, siapapun tak pernah bisa melukai hati kita bila kita tidak mengijinkannya.  Semoga Allah mengampuniku dan mengampuni mereka yang telah bersikap cuek kepada orang yang ingin bergaul dengan orang-orang shaleh.

"Bunda tahu, kita tidak bisa menilai orang shaleh dari penampilannya atau dari keturunannya atau dari pendidikannya yang pondok pesantren .... Letak keshalehan itu di dalam hati.  Bahkan kiai yang orientasinya keduniawian itupun banyak.  Banyak bukan berarti semuanya lo .... ", kata eyang.

Seperti sebuah 'paket pelajaran' buatku, sepulang dari seminar aku membeli majalah Femina. Sewaktu kubuka di rumah, aku menemukan kalimat ini :

"Jangan marah bila orang lain tidak bersikap menghormatimu, karena kebencian hanya akan menggerogoti hatimu dan membuatmu lemah " (Will Smith, aktor)

Sungguh, setiap peristiwa dalam hidup ini adalah alat komunikasi Allah dengan manusia. 

Terimakasih ya Allah akan semua pelajaran dan peristiwa yang Engkau berikan padaku hari ini.


Sabtu, 26 November 2011

Gelandangan Itu ....

Dulu, bila aku bertemu dengan orang gila atau gelandangan yang kotor, maka aku akan menjauh karena ketakutan ........... Sekarang aku malah mendekat dan menganjurkan anak-anak dan karyawanku untuk mendekat dan menyayangi mereka, ini semua gara-gara Santi ......

Suatu pagi Santi, karyawanku, bercerita bahwa sewaktu berangkat ke butik dia melihat pemandangan yang mengaduk-aduk perasaan.  Dia melihat seorang pemulung makan dari sebuah kotak styrofoam yang dia pungut dari tempat sampah !!!

"Saya melihatnya bukan di tivi lo bunda, saya melihat dengan mata kepala sendiri", kata Santi menegaskan ceritanya. Perasaanku rasanya jadi ikut teraduk aduk, kalimat Santi 'saya melihatnya bukan di tivi lo bunda' menjadi kalimat sakti yang memunculkan keberanianku.

Rasanya hampir tiap hari tempat sampah di pojok depan butik 'dikunjungi' oleh pemulung atau gelandangan, biasanya sih aku dan semua penghuni butik ini cuek bebek.  Begitupun siang itu ketika aku hendak keluar rumah mengantar Alni membeli snack ke supermarket sebelah, ada orang yang maaf .... kelihatan kurang waras, sedang mengaduk-aduk tempat sampah lalu memungut beberapa kain lap yang dibuang karyawanku.  Wajahnya kelihatan kotor dan menakutkan, ditunjang dengan bajunya yang compang camping dan sobek disana sini.  Pikiranku spontan memutar ulang kata-kata Santi," dia makan dari makanan yang dibuang di tempat sampah, bunda ", bergegas aku masuk rumah dan untungnya bisa menemukan kertas pangsit yang kemudian kugunakan membungkus nasi dan ayam goreng.  Segera kuberikan nasi itu kepadanya, dengan bahasa isyarat aku menyuruhnya makan.  Dia menjawabku dengan menunjukkan sederet giginya yang kotor .....

Rasanya legaaa banget telah berhasil melawan ketakutanku dan telah pula berbuat baik memberi makan orang yang lapar.  Akupun berpesan kepada karyawan-karyawanku, bila ada pemulung atau gelandangan mencari sesuatu dari tempat sampah berilah mereka makan bila di butik ada makanan.  Tapi tidak semua karyawan menangkap ideku ini dengan baik, ada yang menatapku penuh keheranan .... mungkin apa yang ingin kulakukan ini merupakan hal yang tidak umum.  Padahal telah jelas disebut di dalam Al Qur'an :

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”  ( Al Insan  76 : 8 )

Memberi makan orang yang lapar merupakan amal yang amat disukai Allah, dan sebaiknya kita tak membeda-bedakan orang, apakah dia orang gila yang menakutkan, pemulung atau gelandangan yang kotor....... sejauh mereka tidak membawa benda tajam yang membahayakan kita. Kitapun tak perlu menunggu mereka meminta makanan, karena mereka tak mau meminta-minta, bahkan mereka lebih memilih memungut makanan busuk dari tempat sampah !!!!

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun 107:1-3)

Allah, ampunilah bila selama ini hatiku kurang peka melihat penderitaan sesama ......

Jumat, 25 November 2011

Halusnya Tipuan Syetan


Di sebuah perjalanan dari Surabaya ke Malang, di dalam bis yang dingin berAC, seorang lelaki dan seorang wanita terlibat pembicaraan ini .....

" Eyang ".
" Ya ".
"  Kenapa ya orang yang amat shaleh masih bisa terperosok dalam kesalahan ".
" Hmmm ".

" Eyang pasti tahu da'i yang amat kondang saat itu, akupun amat mengaguminya, bagiku dia orang shaleh yang rendah hati ".
" Lalu ....... ".

" Lalu suatu kali aku melihat istrinya diwawancara di televisi .... atau di majalah yaa... duh lupa aku,  pokoknya di media gitu.  Kata istrinya, suaminya bilang kalau di Indonesia ini tidak ada pelaku poligami yang patut dicontoh, lalu istrinya bergurau begini , memangnya kita mau jadi contoh? gitu lo eyang"
" Ya ..".

" Hmmm , lalu suaminya menikah lagi dengan janda yang cantiiiik banget. Pas aku melihatnya di televisi, da'i kondang yang kukagumi itu bilang bahwa salah satu tujuannya menikah lagi adalah untuk mempersiapkan si istri untuk menjadi mubalighah yang hebat ".

" Eyang..... eyang jangan diam saja dong ......  Eyang pasti tahu kan akhir cerita... atau pertengahan cerita deh, kan da'i itu masih hidup ..... Eyang tahu kan?  Si istri yang sudah melahirkan 7 anak yang manis-manis itu meminta cerai, dan akhirnya mereka berdua berpisah ".

"Bercerai itu sakit lo eyang, apalagi bagi wanita yang telah mendampinginya hingga sukses ... walaupun aku tidak pernah mengalaminya sih ..... sudah sakit, dibenci Allah pula.  Jutaan orang turut prihatin melihat kehancuran sebuah rumah tangga yang pernah jadi panutan orang se Indonesia bahkan orang luar negeri juga. Kayaknya da'i itu tergelincir dalam sebuah kesalahan, yaitu tujuannya menikah lagi yang katanya ingin mewujudkan poligami yang patut dicontoh.  Kalau kataku sih, menikah lagi atau tidak, tujuannya harus karena Allah.  Kalau tujuannya karena hal lain, walaupun hal itu baik, maka hanya akan menimbulkan kehancuran.  Lagipula, menganggap diri sendiri mampu menjadi contoh poligami itu adalah sebuah kesombongan yang halus, karena yang bisa menjadikan kita sebagai contoh adalah Allah ".

" Huuu, eyang kok cuma senyum sih ...... Eyang tahu gak, aku jadi suka bertanya-tanya dalam hati, seorang da'i yang begitu shaleh dan begitu luas ilmunya masih bisa terperosok dalam tipuan syetan yang halus sekali, apalagi orang kayak aku gini ya ......"

" Pernah dengar kisah tentang Barsisoh? Ahli ibadah yang punya ribuan santri yang akhirnya meninggal dalam kekafiran ".

" Ya, aku tahu, yang tertipu oleh syetan yang menyamar menjadi ahli ibadah ".

" Dia ingin lebih baik dalam beribadah seperti halnya syetan yang kelihatan kuat sekali beribadah dan berdzikir.  Lalu syetan mengatakan bahwa untuk bisa berdzikir sebaik dirinya maka dia harus mengalami menjadi ahli maksiat dulu.  Maka Barsisohpun mematuhi nasehat syetan untuk minum arak.  Dalam keadaan mabuk dia memperkosa dan membunuh, akhirnya dia mati dalam kekafiran ".

" Siapakah yang bisa menjamin iman kita tetap seperti ini kecuali Allah.  Makanya kita tidak boleh sombong atau merendahkan orang lain, walaupun mereka sedang dalam keadaan berdosa.  Kita hanya bisa mendoakan saja ".

" Betul.... dan untuk diri kita, sebaiknya kita selalu mengoreksi niat di hati kita.  Bila niatnya bukan karena Allah, walaupun itu sesuatu yang baik, sebaiknya kita luruskan dulu.  Ijinkan Allah menjaga hati kita dengan cara memohon pertolongan Allah agar menyampaikan kita dalam sebenar-benarnya keimanan.  Satu-satunya yang mampu menjaga hati kita hanyalah Allah, bukan diri kita sendiri, maka titipkanlah hati kita kepadaNya saja ".

" Eyang keren deh ... ".  

Selasa, 22 November 2011

Sepasang Kakek Nenek di Pojok Pom Bensin

Pulang ke Malang setelah memberi pelatihan Melukis Kain di Tulungagung, kami berhenti shalat di sebuah pom bensin.  Begitu melihat kamar mandi yang bersih, akupun tidak bisa menahan diri untuk byar byur mandi, duh segarnya setelah seharian mengajar dan membimbing 50 orang peserta praktek melukis.  Akupun mengganti stelan baju yang kukenakan dengan baju favoritku, kaos dan gaun longgar bertali, plus sandal jepit menggantikan sepatu fantovel yang pengap, ini baru rasanya nyamaaaan .......

Tubuh yang bersih di suatu sore nan mendung, rasanya jadi perjalanan yang hangat.  Baru saja beberapa meter mobil suamiku hendak beranjak meninggalkan pom bensin itu, mataku tertumbuk pada sepasang kakek nenek pedagang asongan di pojok sana.

"Mas, kok kasihan ya melihatnya, aku tak beli dulu ya"; kataku pada suamiku.
"Ya, aku tadi juga berfikir begitu"; jawabnya.

Kakek itu rupanya hendak mengangkat rak plastik yang berisi dagangan itu untuk dibawa pulang, memang hari sudah menjelang maghrib, sudah waktunya tutup. Rak plastik tiga susun itu berisi keripik dan kacang goreng, terus terang dagangannya tidak menarik sama sekali, kulihat kacang bawangnya terlalu gosong, mungkin si nenek menggoreng sendiri.

Yang menarik bagiku malah tangan si kakek yang sudah keriput dan renta, tangan itu agak gemetar ketika menaruh kembali rak plastik itu ke atas meja, padahal rak plastik itu tidak berat karena muatannya ringan-ringan saja seperti keripik keripik itu.  Akupun mengambil dua bungkus keripik dan membayar dengan uang lima puluh ribuan.

"Tidak ada kembaliannya bu, cuma tiga ribu", kata si nenek.
"Biar saja, kembaliannya buat nenek", kataku.  Mereka mengucap terimakasih, bahkan mereka masih memanggilku saat aku sudah berjalan ke mobil.

Berapakah jumlah manusia renta yang masih harus berjuang untuk kebutuhan perutnya di Indonesia yang makmur ini?  Banyak, banyak dan banyak ...... Dan sebagai orang yang diberi kelebihan rejeki oleh Allah, kita mendapat 'titipan' menyantuni mereka. Jangan diartikan kelebihan rejeki itu kelebihan uang, tubuh yang masih muda dan kuat inipun kelebihan rejeki.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun [107]:1-3)

Orang miskin bukanlah orang yang kesana kemari menadahkan tangan meminta minta, orang miskin adalah orang yang tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sementara dirinya menahan diri untuk tidak meminta minta.

”Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu ditolak untuk mendapat satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir korma. Tetapi, orang miskin adalah yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaannya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya dan tidak pula pergi meminta-minta kepada manusia.” (Al Hadits)

Karena orang yang membutuhkan tak selalu meminta-minta, dibutuhkan kepekaan dan kehalusan hati, apakah di lingkungan kita ada orang miskin seperti yang dimaksudkan di hadits tersebut. Memberilah dengan ikhlas, tanpa menghitung-hitung, tak perlu berpikir apakah uang kita cukup bila disedekahkan sebagian. Memberi saja lalu pasrahkan kebutuhan kita pada Allah .... karena kebutuhan manusia tak pernah cukup, kalau menunggu cukup kita tak akan bisa memberi.

Terbiasa memberi sering menghasilkan keajaiban.  Aku pernah bercerita di note fbku, suatu ketika aku pergi ke Bali bersama suamiku, sampai di Negara kartu ATM suamiku (itu satu-satunya kartu ATM yang kami bawa) tertinggal di dalam mesin ATM, otomatis kami 'hidup' hanya dengan uang tunai beberapa ratus ribu saja. Tiba di Denpasar, uang yang ngepres itu disedekahkan suamiku seratus ribu, saat itu dia lupa kalau keuangan sedang mepet.  Kamipun melanjutkan urusan kami selama beberapa hari, dan kami bisa pulang ke rumah dalam keadaan membawa seabreg oleh-oleh.  Sesampai di rumah, baru kusadari bahwa kami hanya menghabiskan uang sekitar enam ratus ribuan selama 4 hari bepergian, selama itu kami menginap di rumah beberapa teman (merekalah yang memaksa kami menginap), dan kami makan selalu ada yang bayari, oleh-oleh pun disediakan teman-teman, padahal teman-temanku tidak ada yang tahu keadaan kami ......

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, ”Orang yang menyantuni kaum janda dan orang-orang miskin adalah setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah.” Aku mengira, Rasulullah saw juga bersabda, ”Dia juga seperti orang yang bertahajjud yang tidak merasa lelah dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.”(Muttafaq alaih)

Senin, 21 November 2011

Ketulusan Yang Mencengangkan (2) Antara Fatimah dan Aden

Catatan-catatan kecilku ini kupersembahkan untuk dunia yang semakin 'materi oriented', ingin kuajak sahabatku semua untuk memperbanyak jumlah orang yang tulus.  Tak perlu takut kekurangan dengan memberi.  Ada seorang pemuda yang bernama Aden Rohmana, yang mungkin kita bisa belajar darinya tentang ketulusan.  Di hari ulang tahunnya ini, aku sudah mendapat ijin Aden untuk mempublikasikan kisah tentang dirinya.  

5 september 2011.

Habis shalat maghrib, aku tertegun tanpa kata hingga adzan isya' berkumandang. Pasalnya, siang tadi aku menyuruh Aden membaca artikel di blogku yang berjudul  "Zelika, Rifki dan Pesanan Salah Jatuh", itu cerita tentang si 'bayi ajaib' Rifki, dan Zeli yang berusaha membantu Rifki sebisanya.
"Aden kalau punya uang, potong 2,5 %, itu wajibnya.  Tapi menurut ibu dilebihin saja, 5 % gitu, buat Rifki ya...", kataku.
"Ya, mudah-mudahan cepat turun uang hadiah Nokianya", jawabnya.

Sorenya, Aden bertanya tentang sakitnya Rifki, dan berapa biaya operasinya.  Kujawab tentang biaya operasinya yang mencapai 35 juta, tentang mundurnya jadwal operasi Rifki karena tidak ada deposit yang bisa diberikan, sementara menunggu, biaya perawatan terus bertambah.  Mestinya bila Rifki segera dioperasi, insyaAllah itu lebih menghemat.  Akupun bercerita pada Aden tentang uang donasi yang terkumpul.

Tak kusangka dan tak kuduga, Aden mengatakan akan memberikan seluruh uang hadiah Nokianya pada Rifki !!! Itu jumlah yang besar sekali, bahkan aku sendiri tak pernah beramal sebanyak itu.  Hatiku disergap rasa haru, bangga ...... kata-katapun tak cukup mewakili perasaanku, hanya air mata ......

Seusai shalat maghrib, aku bisa merasakan Allah mengangkat derajatku sebagai orang tua Aden karena ketulusannya.  Suamiku datang menghampiriku, mengucap selamat padaku karena anak kami telah menunjukkan kebesaran jiwa dan kemurahan hatinya.

Aden, anak gantengku itu, hidupnya amat bersahaja, teman-temannya bahkan sering meledek hpnya yang jadul.  Dia jarang meminta sesuatu, bahkan aku sering lupa mengirim dia uang.  Biasanya setelah aku sadar bahwa dia lama gak minta uang, akupun meneleponnya dan dia bercerita sudah menggunakan uang hasil menggambarnya untuk biaya hidup. Oh, anakku .......

Senin sore, 19 september 2011

Aden sms, katanya dia sudah menerima hadiah yang berupa HP dari Nokia, HP mahal yang bisa ditukar dengan laptop. Makanya Aden meminta pertimbanganku, apa hpnya dijual saja biar bisa membelikan Zeli laptop.  Tentu saja aku menyuruhnya memakai hp itu untuk dirinya sendiri, itu adalah hp kenangan yang mengandung 'nilai sejarah' dalam kehidupan Aden.  Itu adalah 'prasasti' keberhasilannya menjadi juara, dan itu bukan hal kecil.

Zeli yang kuliahnya di Institut Seni tentu tidak memerlukan laptop, tugas-tugas di kampusnya kebanyakan karya seni yang dikerjakan secara manual dan hand made, kurasa komputer yang Zeli punya itu sudah cukup, apalagi Zeli sudah bisa internetan dan bisa gambar desain dengan hp androidnya. Zeli juga tak pernah minta padaku dibelikan laptop, bagiku itu sudah menunjukkan bahwa Zeli memang tidak memerlukannya.

Tapi Aden memikirkan Zeli melebihi apa yang dipikirkan orang tuanya, sebagai anak informatika dia menganggap Zeli bisa lebih mengoptimalkan kemampuannya bila dia memeiliki laptop.  Yaaah.... dalam diamnya dan sikapnya yang terlihat cuek, ternyata Aden penuh kasih dan perhatian terhadap adiknya, itu membuatku merasa haru dan bahagia.

Aden juga bilang, hadiah dari Nokia yang berupa uang masih harus diurus oleh fihak ITB, karena Aden memenangkan lomba itu atas nama ITB, jadi hadiahnya juga melalui ITB.  Mudah-mudahan uangnya bisa segera cair, dan Aden bisa menunaikan niatnya membantu Rifki yang saat ini sudah dioperasi, tapi masih dalam perawatan dan masih punya tanggungan biaya operasi yang banyak.

14 november 2011

Kira-kira sebulan yang lalu aku chatting dengan Aden, katanya uang hadiah Nokianya sudah diterima, lalu dia bertanya untuk apa uang itu karena Rifki sudah selesai dioperasi dan biaya operasinyapun sudah terpenuhi oleh sedekah para sahabat yang diusahakan oleh Rumah Hati Yogya.

Aku bilang padanya bahwa aku sudah menanyakan soal itu ke ustadz Virien, dan menurut beliau, karena biaya Rifky sudah terselesaikan, Aden boleh mengalihkan uang itu untuk hal lain yang lebih bermanfaat untuk orang banyak. Aden menyatakan akan mentransfer uang zakat dan sedekahnya ke rekeningku, terserah ibuk mau disalurkan kemana, begitu katanya.

Aden mentransfer uang zakat dan sedekahnya dalam jumlah yang lumayan banyak, hingga aku membagi- baginya untuk uang saku Rifky dan untuk menolong tetangga yang kesulitan membayar hutangnya pada rentenir.  Itupun masih ada sisa uang yang rencananya untuk membantu masyarakat sekitar pondok pesantren Gubug binaanku dan ustadz Virien.

Sungguh indah rencana Allah.  Saat Aden memutuskan untuk memberikan seluruh hadiahnya kepada Rifky, hadiah itu tak kunjung datang, padahal Aden sudah mengusahakannya dengan berbagai cara. Rupanya Allah bermaksud memberi kesempatan kepada banyak orang untuk turut peduli dengan Rifky. Sementara bagi Aden, dengan hadiah itu dia bisa membantu lebih banyak orang.
Jadi teringat akan kisah Fatimah putri Rasulullah dengan kalung yang dia sedekahkan, tapi kalung itu lalu kembali kepada dirinya sendiri, sementara kalung itupun sudah 'berjasa' kepada seorang musafir dan membuat merdeka seorang budak.

"Pada suatu hari seorang ibnu sabil, yaitu seseorang yang ada dalam perjalanan, mendatangi Rasulullah sekadar memohon sedekah. Rasulullah tidak memiliki apa pun yang layak disedekahkan. Lalu Rasulullah datang ke rumah Fatimah dan menyuruh putrinya itu memberi sesuatu kepada ibnu sabil tersebut. Dengan ikhlas Fatimah melepas kalung yang dikenakannya dan diberikan kepada pejalan yang kehabisan bekal itu.
Orang itu kemudian menawarkan kalung tersebut kepada Ammar Ibn Yasir dan meminta imbalan sepotong roti dan sekerat daging untuk dimakan, dan sepotong baju pengganti pakaiannya yang compang-camping serta uang satu dinar untuk ongkos menemui istrinya. Amar membayar kalung itu dengan 20 dinar, 200 dirham, sepotong baju, dan seekor unta agar orang itu cepat bisa menemui istrinya.
Lalu Ammar memanggil Asham (budaknya) dan menyuruh menghadiahkan kalung tersebut dan dirinya sendiri kepada Rasulullah. Kemudian Rasul menyerahkan kalung dan Asham kepada Fatimah. Putri Rasulullah itu menerima kalungnya dan memerdekakan Asham,"

Sebuah kisah nyata yang inspiratif.  Antara Fatimah dan Aden memang tidak bisa dibandingkan, tapi keduanya memiliki ketulusan yang empiris yaitu rela memberikan hartanya yang paling berharga, karena bagi mereka menolong orang lebih berharga daripada harta benda. Mudah-mudahan Aden termasuk orang yang disebutkan di ayat ini.

" Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat Menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan dirimu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. "  ( Al Qur'an S. 61 : 10 - 12 )

21 November 2011
Hari ini 22 tahun yang lalu, aku melahirkan seorang bayi gemuk dan lucu, di rumah seorang bidan di desa Karangjati Ngawi.  Doaku untuknya adalah agar dia menjadi pemimpin yang membela agama Allah.

Selamat Ulang Tahun Aden Rohmana, anakku sayang...... I'm proud of you....

Kamis, 17 November 2011

Cipta Rasa Karsa

Duluuu sewaktu masih jadi 'anak sekolahan', aku sering mendengar istilah cipta rasa dan karsa di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila , tapi aku lupa apa makna yang pas.  Nah, kemarin baru saja aku mendengar lagi istilah ini, tapi bukan dihubungkan dengan PMP, melainkan dengan cara menghadapnya manusia kepada Allah Tuhannya, pendapat temanku ini cukup unik dan patut didengarkan.

Temanku itu bicaranya dalam bahasa Jawa, aku akan menerjemahkan dan menafsirkannya kepada sahabatku semua.

Seperti yang kita ketahui, manusia terdiri dari raga dan ruh.  Saat berhadapan dengan sesama manusia yang sama-sama 'kelihatan', kita bertemu dengan menghadapkan raga kita, raga berhadapan dengan raga.  Tak peduli apakah saat bertemu dengan sesama manusia itu pikiran dan perasaan kita berada di tempat lain, kita tetap disebut bertemu. Tapi saat menghadap kepada Allah yang tidak kelihatan, maka yang kita hadapkan kepada Allah dan yang bisa bertemu dengan Allah adalah bagian dari diri kita yang tidak kelihatan, yaitu ruh kita.

Untuk itu kita musti mengenal diri kita yang tidak kelihatan, yaitu ruh kita, bagian-bagiannya dan bagaimana semua komponen itu bekerja.  Penjelasan tentang hal ini panjangnya bisa 1 buku ....... jadi Indah lewatkan dulu ya....  kita kembali ke cipta, rasa dan karsa.

RASA
Saat ruh kita menghadap Allah, maka dia akan 'bekerja' dengan 'rasa'nya, yaitu perasaannya menghadap kepada Allah, merasakan kedekatan, merasakan sifat-sifat Allah yang maha lembut melindungi, maha kuasanya Dia dll ..... Pernahkah saat kita sedang berada dalam masalah, lalu kita mengadu padaNya, tiba-tiba batin kita terasa sejuk seolah berada dalam belaian kasihNya, itu adalah tandanya bahwa perasaan kita sudah 'menghadap'.

KARSA
Bekerjanya ruh kita juga sesuai dengan karsa atau kehendak diri kita sendiri berupa kesengajaan diri menghadap dan mendekat kepadaNya.  Seorang muslim yang melakukan shalat wajib tapi dia tidak menghadirkan hatinya bak sebuah ritual yang menggugurkan kewajiban saja, maka orang seperti ini tidaklah menghendaki menghadap kepada Allah, dia hanya menghendaki gugurnya kewajibannya saja.

CIPTA
Saat menghadap Allah, kita memanjatkan permohonan kepadaNya berupa permohonan yang bersifat materi atau non materi. Manusia berdoa berarti dia sedang mencipta sesuatu untuk kehidupannya, baik kehidupannya di dunia atau di akhirat nanti.  Manusia hanya mampu memohon karena yang bisa mencipta hanyalah Allah.

CIPTA RASA DAN KARSA 
Ketiga hal ini musti dilakukan secara bersamaan saat kita menghadapkan wajah kepada Allah.  Bila salah satu tidak kita lakukan, akan membuat ketidak seimbangan yang terproyeksikan dalam kehidupan kita.  Ketidakseimbangan membuat kehidupan manusia tidak bahagia.

Sudahkah kita menghadap Allah dengan benar? 

Rabu, 16 November 2011

Kisah Boneka Keramik Gantung

Bila kita mempunyai niatan baik, segera laksanakan saja, tidak usah ditunda apalagi dibatalkan, karena Allah pasti membalas dengan hal yang lebih baik, dan bila niat baik itu dibatalkan, maka Allahpum membalasnya.  Sepertiku, gara-gara membatalkan sebuah niat baik, aku .........jangan sampai mengalami kisah yang aku alami ini yaaa.

Saat mengikuti pelatihan "Cendera Mata" di Batu, ada acara kunjungan ke desa wisata keramik Dinoyo. Selain melihat bagaimana proses pembuatan keramik, disana juga bisa praktek membentuk keramik dengan alat putar. Bayangkan betapa senangnya ibu-ibu sepertiku mengayuh pedal untuk menggerakkan alat pemutar, sementara kedua tanganpun bekerja membentuk adonan.  Seperti menemukan mainan baru.....

Yang tak ketinggalan tentu acara belanjanya.  Keramik disini murah-murah, desainnya juga oke-oke, ada hiasan gantung berbentuk kepala binatang yang lucu abis, ada tungku kecil untuk aromaterapi, asbak 'aneh' yang sedikit 'nakal' dan porno....... vas bunga, pigura, piring, mangkuk... dll dll banyaaak dan menarik semua.

Yang paling diserbu ibu-ibu ya hiasan gantung kepala binatang itu, ada kepala monyet, gajah, kodok, lebah dll, bila bergoyang maka akan menimbulkan bunyi gemerincing.  Buat oleh-oleh untuk anak-anak pas banget, Alni pasti senang.  Murah lagi, sepuluh ribu tiga, akupun membeli banyak.

Saking asiknya belanja dan melihat-lihat, hampir saja aku dan beberapa teman ketinggalan bis.  Kami nyadar begitu tak melihat lagi orang berseragam kaos biru tua selain kami ........

Di dalam bis, bu Sri teman satu kamarku mengungkapkan rasa kecewanya karena kelupaan belum membeli boneka keramik gantung.  Melihat wajahnya yang memelas, muncul niat di hatiku untuk memberikan saja beberapa boneka keramik yang kubeli, toh aku membeli banyak.  Tapi niat itu tak segera kuungkapkan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membatalkan saja niat baikku itu, toh dia tidak tahu kalau aku punya boneka keramik banyak, begitu pikirku.  Kalau kuberikan beberapa, nanti koleksi kepala binatangnya tidak bisa komplit dong.... Pelit ya Indah.... hehehe, tapi akhirnya Indah merasakan balasan kepelitannya kali ini.

Begitu sampai di rumah, rencananya boneka keramik gantung itu menjadi hal pertama yang kupamerkan ke Alni, pasti gadis kecilku itu menyambutnya dengan riang.  Segera satu kresek boneka itu kukeluarkan dari tas, kutaruh di pangkuan, menyusul kemudian kukeluarkan vas bunga dan pigura-pigura lucu ...... Karena posisi dudukku di kursi, sementara tas yang sedang kuaduk-aduk itu di atas lantai, sikapku yang menunduk membuat ..... brak!!!! boneka keramik itu jatuh dari pangkuan, pecah deh.... tinggal 4 biji yang selamat.  Akupun teringat akan niat baikku memberikan beberapa boneka ini kepada temanku, niat baik yang kubatalkan karena keserakahan ..... Sudah tidak mendapat kebaikan, bonekapun rusak ....

Sebuah skenario yang manis bukan?