Senin, 12 Desember 2011

Yang Mereka Butuhkan Bukan Uang

Dalam sebuah perjalanan bersama ustadz Virien, dari atas kendaraan aku melihat seorang pengamen menggendong anaknya duduk di depan sebuah toko.

"Eyang-eyang!!!  lihat pengamen itu!!! ", kataku. Ustadzku itu cuma melihat sekilas, tanpa kata, tanpa ekspresi, kontras sekali dengan seruanku yang penuh semangat, tapi aku terus saja 'mengoceh'.

"Aku pernah bertemu dengannya di bis, dulu banget.  Waktu itu dia berdiri di depanku duduk, menggendong bayi berumur sekitar tiga atau empat bulan.  Penampilannya rapi, jadi kukira dia penumpang, eh ternyata dia mengeluarkan pengeras suara, dan kotak yang dibawanya yang kukira koper itu ternyata tape recorder.  Dia menyanyikan lagu dangdut sambil menggendong anaknya. Setelah dia selesai nyanyi, aku tanya kenapa kok bayinya gak ditinggal saja sama ibunya.  Dia bilang, ibunya baru saja meninggal, akupun spontan memberinya uang sepuluh ribuan, penumpang disebelahku juga ...".

"Sekarang dia sudah berumur setahun lebih, dan dia tetap dibawa mengamen... kasihan ya, kan itu bukan cara mendidik yang baik", kataku.  Ustadzku itu cuma diam tanpa ekspresi, dan aku terus saja 'mendongeng'.

"Tadi waktu kita naik bison dari Sidoarjo ke Japanan, eyang lihat nggak nenek-nenek bersama cucunya yang duduk di depanku?  Ternyata anak sekecil itu sudah yatim, kata nenek itu, ayahnya meninggal waktu dia berumur setahun, sekarang dia sudah lima tahun.  Spontan aku memberinya uang sepuluh ribuan.  Waktu kutanya, bagaimana cara nenek itu mencari nafkah, dia bilang ke pasar, kukira dia jualan di pasar, ternyata dia mengemis di pasar ..... Kasihan dong anak sekecil itu dididik mengemis".

"Mereka itu pola pikirnya yang salah, bunda", akhirnya keluar juga suara dari mulut ustadzku.
"Maksud eyang?".
"Yaaaa, pola pikirnya yang salah. Mereka pikir, satu-satunya jalan keluar dari himpitan ekonomi ya seperti yang mereka lakukan itu, mengamen, mengemis ..... ".

"Berhutang atau barangkali menipu ", sambungku ,"Ada lo eyang, tetangga yang selalu kukasih saat dia pinjam uang, bukan kupinjami maksudku, kukasih saja. Tahu nggak ....... akhirnya lha kok aku ini jadi kayak ibunya, masak dia mau berhutang ke warung mbak Nur sebelah rumah dan bilang ke mbak  Nur kalau nagihnya ke aku.  Aneh kan? aneh bin ajaib.  Mbak Nur sampai bilang kalau kebaikanku sudah dimanfaatkan olehnya".

"Yang mereka pikir hanyalah uang untuk memenuhi kebutuhan perut mereka.  Seandainya tujuan hidup mereka untuk Allah, tentu akan lain ceritanya", kata eyang.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al-A'raaf [7] : ayat 96)

Menolong orang kekurangan uang ternyata tidak harus dengan uang. Sering yang mereka butuhkan adalah  perubahan pola pikir, makanya kita dianjurkan untuk nasehat menasehati dalam kebaikan dan taqwa.


Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-'Ashr [103] : 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar