Selasa, 05 Mei 2026

Memaknai Luka

 Bagaimana kamu memaknai luka? 

Kemarin aku  nangis beneran cuma gara-gara telunjuk teriris pisau masak. Perih banget dan darahnya ngucur. Suami sampai buru-buru keluar kamar mandi dengar aku nangis. Langsung dihansaplast agak ketat agar darah brenti ngucur. Aman. Alhamdulilah.

Siangnya aku lihat bayangan darah di hansaplast, aku mau ganti saja, pikirku. Eh begitu dilepas, darah ngucur lagi, sambil nangis masang hansaplast sendiri, sampai dua kali ganti baru bener. Aman, tapi nangis lagi karena ingat Allah, karena ku tahu sebenarnya peristiwa ini ada pelajarannya. 

Kepedihan luka mengajarkan untuk berhati-hati, untuk melindungi dari luka yang lebih parah. Agar manusia paham bila perlakuanNya adalah karena kasih sayang. 

Manusia tak perlu memikirkan kerumitan proses biokimia penyembuhan luka di dalam tubuhnya sendiri, luka itu pun sembuh, dan itu berlangsung terus menerus.

Bahkan luka hati pun Allah menyiapkan pencegahannya, yaitu jangan mencintai selainNya. Jangan mencintai dunia, itu hanya permainan dan senda gurau, itu bukan kehidupan yang sebenarnya.  Karena segala sesuatu selain Allah berpotensi menyakiti. 

Kehilangan harta, tahta dan pasangan, itu amat menyakitkan.  Tapi kamu tak akan pernah kehilangan Allah. 

Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, yang manusia pikir terjadi setelah kematian. Tidak. Kamu akan merasakannya di dunia ini ketika cintamu pada dunia dan seisinya runtuh. 

Jangan melekat pada sesuatu selain Tuhan. Justru ketika kamu tidak melekat, kamu akan merasakan tidak pernah terpisah dengan apa pun dan siapa pun yang kamu cintai.