Sabtu, 03 Januari 2026

Esa itu Tak Terpisah (1)

Pernahkah kamu merasa jatuh, sedih, gelisah, bahkan marah dan dendam karena seseorang menipumu, mempermalukanmu, menjatuhkan mentalmu dan semacamnya?  Intinya kamu sedang dalam posisinya dizalimi seseorang.

Bagaimana reaksimu?

Sadari bila setiap orang pernah mengalami hal itu, jadi kamu tidak sendirian.  Namun setiap orang berbeda-beda dalam menyikapinya.  Pengalaman sama, sikap adalah pilihan.  Maka pilihlah opsi yang paling menguntungkan dan membahagiakanmu.

Marah? itu bikini gampang kena tekanan darah tinggi.  Dendam? ini adalah kemarahan yang dipelihara, bisa bikin stroke malahan.  Sedih? rugi dong! wong orang yang menzalimi lagi seneng-seneng.  Gelisah? rugi juga.

Yang paling menguntungkan adalah menerima, tapi untuk sampai pada penerimaan yang benar-benar penerimaan, bukan hanya ucapannya di lidah, itu butuh proses.  Pengalamanku, proses yang paling cepat adalah menyadari bila dibalik sikap orang-orang itu ada Allah yang mengijinkan dan mengendalikannya.  Memangnya ada yang terwujud tanpa ijinNya di bumiNya ini?  

Itulah makna keesaan Tuhan,  jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, karena makhluk tidak berdiri sendiri, makhluk ada, bergerak, bertindak atau berkata-kata, semua itu tidak terpisah dengan ijin Tuhan.  Bila kamu sudah menyadari bila Tuhan tidak terpisah dengan makhluk, maka mudah bagimu untuk melangkah ke step berikutnya, yaitu apa maksud Tuhan dengan memperlakukanmu seperti itu?

Sejatinya setiap peristiwa dalam kehidupan seseorang adalah pesan Tuhan padamu.  Apa yang terbangkitkan di hatimu saat peristiwa itu terjadi, itulah PR-nya.  Bila kamu marah, maka kemarahanmu itulah yang harus diselesaikan, bukan pemicunya.  Pemicunya hanyalah alat bantu untuk melihat dirimu sendiri apa adanya, seperti cermin.  Jadi berterimakasihlah pada alat bantu, karena dia sedang membantumu.  Jadi berterimakasihlah pada peristiwa dan orang-orang yang berperan di dalamnya.

Berterimakasih pada penipu, pembohong, orang yang zalim? Mungkin di hatimu masih ada pemberontakan seperti itu.  Sadari lagi bila hatimu masih penuh amarah, sadari bila kamu tidak bahagia dengan sikap yang kamu pilih, sadari bila marah dan memberontak pada Tuhan bukanlah sikap yang menguntungkan buatmu.

Teruslah berproses sampai kamu mendapatkan hati yang damai, ikhlas menerima dan berterimakasih pada Tuhan, sampai pada ujungnya muncul rasa cinta kasih pada Tuhan dan pada orang yang menzalimimu. 
Bila sudah demikian, aku ucapkan selamat karena kamu telah lulus kelas akselesari.

Catat pelajaran ini di hatimu, jangan memisahkan Tuhan dengan makhluk, itulah makna terdalam dari  keesaan Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar