Kamis, 24 Maret 2011

Setiap Orang Merasa Dirinya Penting

Pernah suatu ketika, aku dipertemukan dengan seorang wanita, kami bersama-sama dalam sebuah pameran selama kurang lebih seminggu.
Wanita ini sebenarnya baik, tapi bicaranya kasar, aku hampir merasa bahwa kalau dia bicara padaku, aku seperti dibentak-bentaknya.  Padahal aku kan lebih tua dan lebih keren (hmm???) dari dia.
Aku jadi ingat akan sebuah ayat dalam Al Quran yang menyuruh kita berbicara dengan suara rendah, dan seburuk-buruk suara adalah suara keledai.
Berarti kalau kita bicaranya lebih buruk dari keledai, kita tergolong makhluk apa ya???
Dan tahukah, betapa tidak nyamannya berada di sisi wanita jenis ini.  Bila wanita ini punya suami dan anak-anak, alangkah kasihan mereka. Bila wanita ini masih bujangan, siapakah gerangan yang sudi mempersunting wanita yang bila kita berada di dekatnya tidak membuat kita merasa nyaman? Kecuali si lelaki amat sangat jatuh cinta padanya...

Tapi ada juga wanita yang bicaranya lemah lembut dan santun, tapi kita merasa risih berada di dekatnya...karena topik pembicaraan yang ga aku banget deh....Ada yang lebih banyak bicara tentang dirinya sendiri sepanjang pertemuan kita dengannya, wuih.. tahu gak, wanita jenis ini njelehi (membosankan) banget.  Bikin aku ingat dosen Kewirausahaan yang bernama pak Kusnadi, yang sering bilang bahwa : Setiap orang merasa dirinya penting. Makanya berilah perhatian lebih ke orang lain, maka anda akan mendapat banyak inspirasi dari orang yang anda temui dan sekaligus mendapat persahabatan tulus darinya.

Pernah kan bertemu wanita yang bicaranya halus, berbisik-bisik, tapi yang dia bicarakan adalah keburukan orang lain?  Kalau yang ini sih, mungkin kitalah wanita itu...hehehe.  Harus segera dihentikan. Cobalah berpikir untuk menggunakan 'gagget' yang berupa bibir ini dengan benar, penggunaan yang salah membuatnya jadi  error dan ga tahu ke bengkel mana bisa di servis.  Sayang kan bibir yang cantik ini jadi memble dan basah oleh keburukan orang lain? Pikirkan bagaimana mungkin doa-doa yang kita panjatkan bisa terkabul, bila dilantunkan dari bibir yang dipenuhi dosa dan kotoran? Tuh kan, kita juga yang rugi.

Bicara lemah lembut juga musti diiringi dengan merasakan perasaan orang lain, yang tumbuh karena kasih sayang dan perhatian kita padanya.  Semua jadi satu paket yang barangkali memunculkan aura dari dalam.
Aku sendiri ga tahu persis, aura itu definisi yang sesungguhnya apa.  Tapi kebanyakan orang bisa merasakan aura orang yang sedang berinteraksi dengannya, mungkin berupa enak, nyaman, atau merasa dimusuhi, gerah dll dll.

Pernah pada suatu peristiwa, karyawanku yang bernama Yudhi batuk.  Suamiku nanya,"Dah minum obat Yud?". Yudhi menggeleng, lalu suamiku bilang,"Diobati dong Yud".
"Ga usah pak", jawab Yudhi, mungkin dia terbiasa sakit yang dibiarkan sembuh sendiri.
"Ya nulari temannya Yud", kataku agak ketus.  Suamiku menegurku, kalau bisa bicara lebih lembut, kenapa memilih berbicara kasar dan menyinggung perasaan?
Oh, tahulah aku, bahwa berbicara lembut dan santun itu lebih sulit diterapkan bila kita berhadapan dengan orang-orang yang dibawah kita. Tapi yang namanya peraturan Allah untuk bicara lemah lembut kan berlaku untuk semua orang? bukan hanya untuk atasan, orang tua atau orang yang kita segani saja kan? Oh, ampuni aku ya Allah.

Sering seorang ibu mengharap dan menasehati putranya untuk bicara halus, tapi dia sendiri sering membentak-bentak anaknya, terutama bila si anak dia anggap salah.

Pernah juga aku mengenal seorang wanita, aremania asli sli... Ketusnya minta ampun deh, lha wong kera ngalam ya gini nih ciri khasnya.  Beruntungnya dia berjodoh lelaki asal kulonan, Ngawi. Sang suami yang memang amat cinta, sabar dan telaten, mengajari istrinya untuk menjadi pribadi yang lemah lembut dan bisa merasakan orang lain.  Bertahun-tahun akhirnya sang istri bisa dibentuk menjadi wanita yang halus tutur katanya.  Dia wanita yang amat beruntung, wanita ini amat dekat denganku, karena dia adalah...... diriku sendiri!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar