Jumat, 01 November 2013

Memilih Allah di atas Perniagaan dan Permainan

Pernahkah kalian begitu tergesa gesa melaksanakan shalat agar segera menuntaskan pekerjaan yang diburu dead line ? atau keburu fb-an ? atau keburu menerima  telepon, sms, ...... (isi sendiri) ?  Aku bisa menebak jawabannya : sering !!! ..... hmmm ... karena aku juga begitu .... hehe.

Manusia sering tertipu, karena dia berpikir bahwa dirinyalah yang mengendalikan semua itu, pekerjaan dan hal-hal lain.  Sampai waktu shalat yang hanya beberapa menit dia pikir bisa mengurangi waktu produktifnya, sehingga musti dipersingkat lagi, orang jawa bilang lamcing, sehabis salam plecing (kabur) tanpa dzikir dan doa sesudah shalat. Akuuuu kok yang sering seperti itu , bagaimana dengan kalian ?


malulah pada bunga di teras rumahku yang selalu tunduk berdzikir padaNya

Manusia sering lupa , bahwa lancarnya segala urusan terletak dalam kendali Allah, semestinya semakin kita dekati Allah, Sang Maha Pengendali, kita raih ridhaNya.  Mestinya kita nikmati saat-saat dekat denganNya dalam ruku dan sujud.

Apa yang kukatakan di atas adalah hasil tersindir surat al jumuah yang baru selesai aku hafal.  Padahal ayat ini sejak kecil aku dengarkan di khutbah jumat, tapi makna mendalamnya baru aku sadari sekarang.

Ayat ini menerangkan tentang orang-orang yang lebih memilih perniagaan dan permainan dibandingkan mendengarkan khutbah Rasulullah.  Ternyata bila direnungkan, maknanya jadi lebih luas dari sekedar mendengarkan khutbah.  Silahkan direnungkan sendiri arti ayat ini.

[62:11] Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.

Renungkan kalimat yang aku cetak tebal-tebal.  Ayat yang kubaca berulang ulang saat proses menghafal ini memberi arti di hatiku yang lebih mendalam.  Itulah potret manusia pada umumnhya, lebih memilih permainan dan perniagaan karena menyangka bahwa disitulah terletak hal yang membuatnya bahagia, dan dia menyangka dengan logikanya bahwa semakin dia memfokuskan diri pada perniagaan, maka semakin banyak rejeki bisa dia peroleh. Padahal di tangan Allahlah rejeki itu dikendalikan.

Silahkan Indah Nur Qoriah membantah, bahwa dia lebih memilih Allah, tapi ucapan saja tidak cukup, karena perbuatannya menunjukkan hal ini.  Dia lebih memilih tidur dan terbenam dalam mimpi yang ngawur dibanding bangun shalat malam.  Dia juga masih suka menunda-nunda shalat demi menuntaskan pekerjaan yang katanya penting.  Dia juga segera menanggalkan mukenanya sehabis mengucap salam karena mikirin sms pelanggan.  Dia secepat kilat berlari menghampiri telepon yang berdering, dan dia tenang-tenang saja saat mendapat panggilah shalat.  Masih banyak perbuatannya yang menunjukkan bahwa dia lebih mengutamakan perniagaan dan permainan dibandingkan dengan apa yang di sisi Allah.

Menangislah Indah sekarang.

Bagaimana dengan kalian ?
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar