Selasa, 22 Februari 2011

Melahirkan tanpa Bayi

Aku pernah mendapat pencerahan di bulan ramadhan, beberapa tahun yang lalu.
Dalam suatu mimpi yang mungil, tiga kali bermimpi dalam satu malam, mimpi yang berbeda tetapi maknanya sama.

Mimpi yang pertama, aku melahirkan di sebuah klinik bersalin bersama tiga orang ibu lainnya, tapi tak seorangpun membawa bayi.
Mimpi yang kedua, aku merebus air di atas tungku dengan bahan bakar kayu, tungkunya berjejer banyak, apipun menyala-nyala, persediaan kayunya juga melimpah, tapi air yang kurebus keruh dan tidak bisa dipakai apapun.
Mimpi yang ketiga, aku telanjang di sebuah kamar mandi, dengan sumur dan air jernih segar mengisi penuh bak mandinya, tapi aku tidak mandi dan hanya berdiri memandangi air itu.

Aku gelisah, membayangkan rasa sakitnya melahirkan tapi tak mendapat seorang bayi... dan dua mimpi lain yang judulnya adalah kekecewaan.
Aku memohon Allah melindungiku dari hal-hal buruk yang diisyaratkan mimpi itu.  Kumohon petunjukNya seusai shalat subuh, apakah makna mimpi itu.

Ternyata, the clue is.... Aku sering mengerjakan sesuatu tetapi tidak ikhlas!!!! Perbuatan yang dilakukan dengan tidak ikhlas adalah perbuatan yang sia-sia, dan tidak menghasilkan apapun.

Yah, petunjuk itu benar, benar sekali, terlalu benar.  Aku memang sering menyebut-nyebut kebaikan yang telah kubuat, terutama terhadap suamiku.
Sebenarnya maksudku untuk bermanja-manja.  Kadang saat suamiku menyuruhku mengerjakan sesuatu, aku yang ingin bersantai akan bilang : Aduh mas, aku capek, seharian aku sudah mengerjakan ini itu.... Lalu mulutku dengan lancar memerinci kebaikan yang telah kulakukan hari itu.
Kadang bila sedang berselisih faham dengan suamiku, aku suka mengungkit ungkit 'jasa'ku pada keluarga agar dia mengalah....
Kadang juga, aku hanya ingin dimanja, ingin dipijiti atau dibelai dengan jurus mengungkit-ungkit kebaikan yang telah kulakukan padanya dan anak-anak kami.

Kita manusia, suka lupa bila yang membuat kita bisa melakukan kebaikan adalah ijin Allah.  Dan kita suka memandang betapa baiknya diri kita karena sudah membantu orang lain, padahal Allahlah yang menjadikan kita mampu berbuat baik.  Kita juga suka tidak ikhlas dengan kebaikan yang kita lakukan pada seseorang saat reaksi orang itu tidak sesuai harapan kita.
"Aku itu lo sudah baik sama dia, sudah ...., sudah ...., kok balasannya seperti ini", sebuah kalimat yang sering sekalli kita dengar, bahkan mungkin sering kita ucapkan.

Ingatlah, betapa sia-sia amal perbuatan yang kita lakukan tanpa rasa ikhlas.
Bayangkan betapa pedihnya merasakan sakitnya melahirkan tanpa memperoleh seorang bayi yang lucu.
Ingatlah bahwa kita dan segenap kemampuan kita adalah pemberian Allah, jadi saat anda memberikan kebaikan pada orang lain, pada hakekatnya Allahlah yang sedang menggunakan anda untuk memakmurkan bumi. Jangan merasa begitu berjasa.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar