Senin, 21 Februari 2011

Kondisi Setelah Mati Orang Yang Asing dengan Asma Allah

Kejadian ini terjadi di tahun 2005. Seperti biasa, setiap malam minggu aku pulang ke rumah ibu dengan rombongan setia, suami dan anak-anak.
Malam-malam datang seorang tetangga, bapak X, menemui ibu dan bapak untuk menyampaikan kabar duka, bahwa istrinya Y meninggal dunia malam itu.  Bapak dan ibuku adalah orang pertama yang beliau kabari tentang hal ini.
Bergegas kamipun ke rumahnya.  Aku membantu keluarga itu bersih-bersih rumah, menyapu, memindahkan kursi dan menggelar tikar untuk tamu yang melekan malam itu.  Capek juga.  Aku bilang pada ibu mau istirahat sebentar di rumah, aku akan kembali untuk membantu memandikan mayat.  Aku memang tidak pernah memandikan mayat sebelumnya, aku ingin bisa belajar dari ibuku.

Di kamar aku berbaring menyelonjorkan kaki yang penat.  Saat itulah aku melihat 'bioskop' di dinding kamar, tentang ibu Y yang meninggal itu.  Kulihat dia berada dalam hutan belantara yang gelap sekali, dia ngomong , " Iki ndik endi?"  ( Ini dimana? ). Akupun tidak berani balik ke rumah tetanggaku itu lagi.

Mungkin semasa hidupnya ibu Y tidak pernah shalat, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya saat shalat idul fitri. Kupikir beginikah kesudahan orang yang asing dengan nama Allah? berada dalam kegelapan yang mengerikan.

'Bioskop' itu rupanya masih bersambung. Aku pulang ke Pakis keesokkkan harinya, agak malam sampai di rumah.  Begitu membaringkan tubuhku ke kasur, aku melihatnya lagi.  Dalam keadaan memelas dia bilang ,"Tulungana aku" yang artinya tolonglah aku. Aku melihat ada sebulatan cahaya yang tidak sampai padanya, kuduga ini mungkin cahaya kalimat tauhid orang yang tahlilan untuk mendoakannya malam ini.
Aku segera menelpon ibu dan bapak S (tokoh agama di desa ibu), kedua orang ini adalah orang yang sangat tahu dan faham tentang keistimewaanku dalam hal-hal metafisik seperti ini.  Pak S bilang akan mengatakan semua ini kepada anaknya, doa seorang anaklah yang diharapkan bisa menolong si ibu dari kesulitannya di alam penantian.

Tayangan 'bioskop' itupun berubah, kulihat si anak menuntun ibunya ke arah pintu menuju cahaya yang terang benderang.  Sayangnya pintu itu tidak bisa dilewati olehnya.  Rupanya seorang yang semasa hidupnya asing dengan asma Allah, terlalu sulit untuk menerima kiriman doa dari anak yang ditinggalkannya.

Pengalaman itu membuatku faham, bahwa urusan terpenting dan terserius yang musti direncanakan dengan baik adalah bekal perjalanan kita ke alam setelah kita mati.
Kerapkali manusia terpaku pada urusan remeh temeh yang disangkanya urusan penting. Tanpa sadar dia telah tertipu dan menghabiskan banyak umur untuk hal yang sia-sia. Padahal bila kita bisa menyikapi setiap persoalan dengan cerdas, sebenarnya kita bisa merubah urusan dunia menjadi urusan akhirat. 
Bahkan kita bisa mengerjakan urusan akhirat selama 24 jam dengan tetap mengerjakan urusan dunia, hanya dengan mensetting niat kita hanya untuk mempersembahkan kehidupan kita kepada Allah.

Saat kita didhalimi orang misalnya, lebih banyak manusia menyikapinya dengan keluh kesah, ngrasani, bahkan merencanakan untuk membalas. Tanpa sadar dia telah banyak menghabiskan waktu dan memboroskan energi untuk hal yang sebenarnya tidak penting.  Padahal bila dia mau mendengar dan menuruti perintah Allah untuk memaafkan, dan percaya bahwa memaafkan itu lebih baik, maka dia telah menyelesaikan masalah dengan cerdas dan lebih cepat, tanpa membuang waktu dan energi yang banyak, plus bonus kehidupan yang lebih baik yang Allah siapkan untuknya sejak di dunia ini dan di akhirat nanti. Dan Allah tak pernah mengingkari janjiNya.

Kadang pula, kita merasakan hidup yang berat, ujian dan cobaan datang silih berganti. Ambillah sikap yang paling menguntungkan untuk kehidupan dunia akhirat kita. Ingat bahwa urusan yang paling penting adalah menyiapkan perjalanan kita ke kehidupan mendatang, setelah kita mati. Masih akan ada alam barzah, alam kiamat, padang maghsyar, hisab, surga atau neraka.  Fokus pada tujuan kita diciptakan, untuk mengabdi dan menyempurnakan pengabdian kita padaNya, insyaAllah masalah akan ngeloyor peergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar