Sabtu, 25 Januari 2014

Bertindak Atas Nama Allah

Bertindak atas nama Allah, itu adalah point pentingnya.  Saat kita bisa memposisikan diri melakukan segala hal sebagai wakil Allah, disinilah letak kebahagiaan, kenyamanan, keajaiban dan segala-galanya dalam hidup.

Dengarlah cerita pagiku di Jumat, tgl 24 januari 2014



Pagi yang sibuk.
Mau memberi pelatihan kain perca kok bikin makalahnya dadakan pagi-pagi, mana paket alat dan bahan belum dikemas.

Jam 9 adalah jadwal acaranya, dan detik itu perjalananku masih berada di Jl Sukarno Hatta, sementara arah tujuan ke kecamatan Dau, masih setengah jam lagi sampai, itupun kalau tidak macet.  Pikiranku berkecamuk, rasanya gak enak banget jadi narasumber kok telat.  Akupun mulai mengkhawatirkan nama baikku, yang bisa kena cap sebagai narasumber lelet, oooh, tidaaaaakkkk !!!

Saat kecemasan berganti pasrah, akupun berhenti menyalahkan diri sendiri, menyadari bahwa segala peristiwa selalu di bawah skenarioNya.  Lantas apa maksud Allah dibalik ini semua ?

Kutemukan sesuatu yang nyelempit di pojok hati, bahwa aku terlalu memikirkan nama baikku, dan itu tidak penting, bahkan itu adalah sampah yang musti dibuang ! Akupun bilang pada Allah," Ya Allah, sungguh aku tidak peduli dengan nama baikku, yang aku pedulikan adalah asmaMu, dan aku melakukan pekerjaanku karenaMu saja, untuk aku persembahkan kepadaMu saja dan untuk mendapat penilaian dariMu saja".

Cerita di atas adalah sebuah cerita sederhana dan kecil saja, tapi sungguh besar artinya dan luar biasa efeknya bagi kehidupan kita.

Segala sesuatu yang dilakukan tidak atas nama Allah, hasilnya adalah kesia-siaan, capek thok, tidak ada nilainya sama sekali, dan buntutnya akan mempersulit kita di masa depan.

Setiap hari niat kita akan berlarian kesana kemari, tugas kita adalah mengarahkannya dan mengembalikannya ke Allah. Setiap detik adalah ujian, apakah kita bisa selalu menjaga hati untuk tetap mempersembahkan seluruh kehidupan ini padaNya atau tidak.

Bangunlah niat dari hal yang paling kecil hingga hal besar dalam hidup, hingga seluruh kehidupan kita tersucikan dari niat lain selain karena Allah.  Ini adalah hal yang tidak mudah, karena kadang niat kita terbelokkan dengan cara yang halus sekali, seperti contoh ceritaku di atas, tapi tetaplah berjuang, biarpun jatuh bangun, Allah pasti menyaksikan dan menolong kita dan meraih kita dalam kemudahan dan cintaNya.

Cobalah niatnya  dikemas dalam kata 'atas nama Allah' (bismillah). Maksudnya kita berbuat sebagai wakil Allah di dunia ini, karena inilah sejatinya manusia, perasaan seperti ini musti sengaja kita bangun.  Jangan terlalu banyak argumentasi / alasan, sesederhana ini konsepnya, yang membuatnya rumit dan tidak sederhana adalah logika, hawa nafsu dan syetan.

Sebagai wakil Allah, bila menemukan kesulitan dalam mengambil keputusan, biasakan berkomunikasi denganNya untuk meminta petunjuk.

Sesederhana itu, dan ajarilah anak-anak kita melakukan segala hal karena Allah.  Bila mereka mematuhi orang tua, maka itu adalah karena Allahlah yang menyuruh.  Bila kita menyuh rukun sama adik, katakan itu karena ingin menyenangkan Allah, bukan karena ingin menyenangkan hati ibu bapaknya.  Demikian juga bersekolah dan belajar, itu bukanlah untuk masa depan mereka, melainkan karena Allah menyuruh kita belajar dan Allah menyukai orang yang berilmu.

Aku punya ujian yang rumit dalam hidupku, yaitu anak ketigaku, yang terlalu pintar tapi mogok sekolah dengan alasan yang tidak jelas dan susah pula diajak ngomong, bahkan homeschoollingpun tidak dia jalani.  Tentulah sebagai ibunya aku amat mencemaskan masa depannya dan menginginkan dia jadi anak normal seperti teman-temannya, hingga terpikir akan membawanya ke psikholog.

Namun jawabannya kutemukan disini.  Aku mengoreksi diriku, sudahkan aku meniatkan pengasuhannya untuk Allah ? apakah aku ingin membawanya ke masa depannya yang gemilang, ataukah akan aku bawa dia kepada Allah ?

Hingga aku sadari bahwa tugasku bukannya membuat dia mau sekolah, kuliah lalu bekerja dan berkeluarga.  Tugasku adalah membawanya kepada Allah dan aku jalankan itu sekarang.  Aku ajari dia menata niat di hatinya dengan aktifitasnya sehari-hari, semua musti dipersembahkan kepada Allah.  Sesederhana itu, dan aku yakin inilah terapi yang terbaik untuknya.  Setelah dia menemukan alasan segala perbuatannya yaitu Allah, maka Allah pasti menuntunnya ke masa depan yang terbaik yang lebih dari sekedar yang dibayangkan ibunya.

Sahabat,
adakah diantara kalian sedang mendapat ujian yang berat dalam hidup ?
persoalan hutang, persoalan keluarga, suami, anak, pekerjaan ?

Cobalah mengoreksi diri, sudah murnikah niat hidup ini untuk Allah ? Tandanya bila niat hidup ini bukan murni karena Allah adalah banyaknya kecemasan akan berbagai hal.  Maka bertaubatlah, banyak memohon ampun dan kembalilah kepada Allah.  Lalu cari dan temukan alasan melakukan segala aktifitas kehidupan, musti karena Allah.

Ingat, niat itu tidak cukup diucapkan dan berhenti di lidah, tapi seluruh jiwa raga kita bergerak karena Allah.  Tandanya bila niat ini sudah ketemu, perasaan menjadi ringan dan bahagia, tanpa beban, hidup ini tampak begitu indah.  Persoalan apapun yang dihadapi, tidak akan membuat kita marah, sedih, galau atau terpuruk.   Siaaaap ???


Tidak ada komentar:

Posting Komentar