Rabu, 09 November 2011

Laron Laron

Pagi kubuka jendela dapur mungilku, lalu kulongokkan kepala agar bisa melihat gunung dan matahari terbit..... dan ........ aku dibuat terpesona oleh ribuan laron yang beterbangan, sayapnya berkilau oleh cahaya matahari yang baru separuh muncul.  Langit kelabu merata berpadu kabut tipis, semburat jingga menambah warna pagi.  Laron laron itu membuatku terpaku menatap, mereka terbang naik turun bak nada indah sebuah nyanyian pagi ......

Kemarin malam laron-laron itu memenuhi ruang tamu, Alni dengan riang bermain dengan mereka.  Mata indahnya dengan takjub memandangi makhluk mungil itu beterbangan.  Aku bilang padanya,"Ibu dulu waktu masih kecil suka bermain dengan laron, menangkap dan mengumpulkannya, lalu esok paginya dikasih ke  ayam".
"Memangnya ayam suka laron?", tanyanya.
"Suka banget".
"Waah, alni gak punya ayam...."
"Laron itu umurnya hanya semalam lo sayang ".
"Hah??? Semalam???"
"Iya, tapi bagi mereka semalam itu lama sekali".

Sebagian laron-laron itu mulai kehilangan sayapnya, banyak yang berjalan berputar di lantai, ada yang berjalan beriringan.  Alni yang kreatif merancang lomba balap laron untuk laron tanpa sayap itu,  terdengar suara lantangnya mengomandoi sebuah lomba adu cepat ..........

Malam itu juga, saat sudah tidak ada lagi laron yang mampu terbang, akupun membersihkan sayap-sayap mereka yang memenuhi  lantai.  Kuucapkan terimakasihku yang tulus pada laron-laron yang telah membuat kami bergembira malam itu.

Hujan dan laron, itu sebuah paduan kata klasik.  Banyak ibu-ibu terganggu dengan kehadirannya yang mengotori rumah, bahkan bapak-bapak juga.  Lupa bahwa tidak ada sesuatupun yang sia-sia dari ciptaan Allah, lupa bahwa Allahpun menghitung 'sebutir' perasaan yang tak kasat mata yang berupa keluhan atau rasa syukur.

Pada umumnya manusia mudah bersyukur akan nikmat-nikmat besar yang 'kelihatan' saja, seperti  materi, jabatan, lancarnya perniagaan, anak-anak yang manis, kesehatan ..... Banyak orang hafal akan ayat yang mengatakan bahwa Allah akan menambah nikmat bila kita bersyukur dan bila kita kufur sesungguhnya azab Allah sangat pedih (buka Al Qur'an Surat Ibrahim ayat 7).  Tapi banyak orang tidak menyadari bahwa ayat itu berlaku untuk seluruh peristiwa dalam hidup ini, besar atau kecil........ termasuk kehadiran hujan dan laron-laron itu.

Bersyukur adalah berterimakasih atas segala pemberian Allah, merasa senang dan bahagia dengan segala pemberianNya.  Kebalikan dari bersyukur adalah kufur nikmat.  Kufur nikmat juga berarti mengingkari bahwa nikmat itu dari Allah, mungkin merasa bahwa nikmat itu karena usahanya sendiri. Mengeluh adalah bagian dari mengingkari nikmat Allah, apa saja yang kita keluhkan, hal besar atau hal kecil, akan 'terkena' hukum di S Ibrahim ayat 7 itu.

Banyak orang sibuk menyalahkan hal lain saat kesulitan menimpa hidupnya, padahal mungkin dia sedang 'memanen' hasil keluhan-keluhan yang sering dia ucapkan.

Sepanjang hidup ini, nikmat Allah selalu mengalir tiada henti tiap jam. menit, detik atau waktu yang lebih pendek dari itu...... Mari sibukkan diri dengan bersyukur. 
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar