Kamis, 23 Juni 2011

Jangan Bayangkan Monyet Tanpa Bulu

Apa yang terbayang di pikiran anda saat ada orang bilang seperti judul diatas?
Hmm....ini adalah ilmu baru buatku hari ini.

Ceritanya, ada acara yang tak biasa hari ini di pesantren Gubug, ada 'seminar' motivasi dari Pak Made yang muslim, beliau seorang psikolog dan motivator yang biasanya untuk satu orang peserta bayarnya 1 juta.  Khusus untuk pesantren Gubug, beliau menggratiskannya.....duh beruntungnya santri disana, termasuk aku juga sih...

Hari ini masih berisi pelajaran dasar, pak Made bilangnya masih main-main, tentu saja main-main yang berguna. Beliau menjelaskan tentang sistim kerja otak, pekerjaan otak kiri dan otak kanan.  Lalu bagaimana mngoptimalkan kinerja kedua belahan otak kita itu.

Yang paling 'nyantol' di kepalaku adalah saat pak Made bilang ; "Jangan pikirkan gajah berwarna hijau".  Spontan hampir seluruh peserta tertawa, jelaslah... karena langsung muncul gambar di pikiran gajah berwarna hijau yang lucu tentu saja.  Lalu pak Made menjelaskan bahwa otak kita tidak mengenal kata jangan, tidak, atau bukan.
 
Aku baru ngeh sekarang, kenapa anakku Insan hampir tiap hari menggoda Alni sampai nangis.  Rupanya karena aku suka bilang padanya ;"Jangan ganggu adik dong!" (yang keluar di otak Insan kan 'ganggu adik dong')  Mestinya aku bilang :" Sayangi adik dong, buat adik senang ya".

Kalimat negatif memang sebaiknya dihindari, karena akan menghasilkan reaksi yang berlawanan dengan yang kita inginkan.  Begitupun berpikir negatif, akan semakin mendekatkan kita pada hal negatif yang ingin kita hindari.

Aku semakin faham akan aturan Allah yang mengharamkan ghibah atau rasan-rasan.  Kebanyakan ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain, yang sama saja memberi input negatif ke otak kita, yang akan direspon dengan melahirkan kenyataan negatif.
Otak kita seperti komputer yang bisa diprogram, berbicara tentang hal buruk seperti melakukan self programing ke otak kita. Dan dari pikiran kitalah akan muncul perbuatan sesuai dengan program yang telah ditanamkan di dalamnya.

Seingatku ada hadist yang mengatakan bahwa seseorang yang merendahkan/menghina orang lain, maka suatu saat dia akan menjadi seperti orang yang dihinanya (sayangnya aku lupa susunan redaksi dan riwayat hadist ini).  Sebagaimana kita faham bahwa ada kenyataan ilmiah dibalik sebuah aturan agama, seperti yang sudah kujelaskan tadi. Bila belum percaya, coba saja pada diri sendiri dan buktikan....hhmmmm.....

Aku pernah menyaksikan sendiri kejadian yang yang empiris dengan hadist tersebut.  Dulu sewaktu masih rajin senam (masih langsing ...hehehe), aku pernah diajak rasan-rasan oleh ibu A yang mengghibah ibu B. Begini katanya :" Ibu B tuh, meke jilbab kok malah bikin malu Islam, masak pas acara pesta kemarin dia pakai baju you can see, mending gak pakai jilbab.."

Kira-kira 2 tahun setelah acara rasan-rasan itu, ibu A memutuskan memakai jilbab.  Dia konsisten dengan jilbabnya, sampai ketika ada acara latihan senam di pantai, aku melihat ibu A memakai celana dan baju ketat dengan rambut terurai...... mirip kasus ibu B yang dia ghibah dulu.

Mungkin ibu A tidak menyadari bahwa dia sudah kualat dengan celaannya kepada ibu B, yang menyadarinya adalah aku. Dan mungkin pula bukan hanya ibu B yang pernah mengalami hal seperti ini, mungkin aku pernah, anda pernah juga.....dan kita tidak menyadarinya.

Sekarang sudah tahu kan  alasan ilmiahnya kenapa Allah mengharamkan ghibah? yuk kita hentikan acara ghibah mengghibah.  Dan bila ada orang njengkelin yang memaksa mulut kita untuk mengucap celaan, coba kita hubungkan hati kita dengan Allah, kita pasrahkan padaNya dan mohon kekuatan untuk bisa mengendalikan diri.
Bila sudah terlanjur ghibah, ya diusahakan minta maaf kepada orang yang sudah kita ghibah.  Bila terpaksa tidak bisa minta maaf, ya kita doakan teman tadi untuk mendapat ampunanNya dan mendapat kebaikan dariNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar