Jumat, 17 Agustus 2012

Sebuah Jalan Untuk Merdeka

Bulan agustus yang sarat dengan merah putih..... walau agustus di bulan puasa ini tidak semeriah bulan tidak puasa..... hehehe.... Tidak ada karnaval, tidak ada gerak jalan, tidak ada drum band lewat depan butik, tidak ada mobil hias.....

Allah sengaja tuh meletakkan bulan agustus di tahun 2012 ini jatuh pada bulan puasa, karena saat puasa adalah saat yang paling tepat untuk merenung.  Biar rakyatnya merenung, kenapa Allah memberi pemimpin yang titik titik.... biar pemimpinnya juga merenung, sudahkan mereka melakukan yang terbaik untuk rakyat?


Bilakah di Indonesia tidak lagi ada penderitaan seperti ini???

Ada yang menarik saat tak sengaja aku lihat wawancara di Global tv dengan seorang ahli sejarah, beliau mengatakan bahwa kita belum merdeka ..... Alasan beliau adalah karena kemerdekaan itu berarti kemampuan untuk mengelola negara secara mandiri untuk mencapai kesejahteraan rakyatnya, selama hal ini belum tercapai belumlah dikatakan merdeka.

Yang jadi pertanyaan adalah, kenapa kemerdekaan itu belum juga tercapai?  Menurut Indah nih ya,  karena di negara ini masih banyak pribadi-pribadi yang membiarkan dirinya terjajah, terjajah hawa nafsu, keserakahan, dan mudahnya tertipu oleh gemerlapnya dunia.

Betapa banyaknya kita saksikan di 'panggung kenyataan' banyak sekali bergelimpangan korban permainan hawa nafsu, bahkan sering si korban malah tampil penuh kemenangan dan percaya diri, tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikalahkan oleh syetan yang menaiki hawa nafsunya.

Untuk menjadikan Indonesia lebih baik dan lebih sejahtera, hanya dibutuhkan 10 % dari jumlah penduduk yang terdiri dari orang-orang yang  merdeka dari penjajahan hawa nafsu dan syetan.  Hanya 10 persen saja, tidak banyak.....

Prosentase ini aku dapatkan dari sebuah buku, tapi lupa siapa yang mengeluarkan statement itu.  Yang jelas, hal ini sudah aku buktikan sendiri di usahaku dan di pondok pesantren Gubug asuhan ustadz Virien.

Bagaimana aku membuktikannya?  begini, aku total jumlah seluruh karyawan, lalu aku dan ustadz Virien amati siapa diantara mereka yang bekerja dengan tulus dan ikhlas karena Allah, ternyata lebih dari 10%.

Sejak 10 karyawanku berhenti serentak, yang tersisa di butik adalah karyawan yang memang benar-benar bekerja karena Allah. Ajaibnya, meskipun produktifitas menurun, tapi keuntungan yang diperoleh malah meningkat pesat.

Saat terjadi insiden karyawan berhenti bareng itu, aku bilang pada mereka :" Bunda tidak nyari karyawan yang pintar atau karyawan yang banyak,  tapi nyari karyawan yang mau bunda ajak bekerja karena Allah dan berjuang di jalan Allah".

Kepada mereka yang tetap bertahan, aku bilang :"Betapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak karena pertolongan Allah".

Sekarang kata-kataku terbukti dengan amat sangat signifikan, ternyata dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit aku mendapat keuntungan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan saat karyawanku masih banyak, karena mereka bekerja karena Allah.  Berkah Allah turun pada orang-orang yang bekerja dengan tulus ikhlas  karena Allah.

Dulu memang karyawanku banyak, tapi banyak diantara mereka yang terjajah hawa nafsu, saling iri satu sama lain, bahkan rasa irinya berkembang menjadi benci yang terungkap lewat kata-kata yang menyakiti temannya. 

Bila kemerdekaan berarti kesejahteraan yang adil dan merata, tempuhlah jalan Allah untuk menyampaikan kita padanyan .  Dan bila Indonesia hanya membutuhkan 10 % saja dari penduduknya yang bekerja ikhlas karena Allah, marilah kita berlomba-lomba untuk mendaftar.  Inilah perjuangan kita sekarang, mari kita mulai saat ini juga. 

I love u Indonesia !!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar