Senin, 23 September 2013

Berhenti Merasa Mampu

 Beberapa hari ini, aku mendapat serentetan pengalaman yang memberi pelajaran bagiku, bahwa sesungguhnya segala kebaikan yang kita buat, semua itu bukanlah atas usaha kita, melainkan 'perbuatan' Allah.  Apapun perbuatan baik yang kita lakukan, apakah ikhlas, ridha, bersabar, menahan amarah, menyantuni kaum dhuafa dll dll, semua itu berlaku karena Allahlah yang menggerakkan kita, bukan atas usaha kita sendiri.

Jangan sampai diri merasa ngaku ngaku telah berbuat kebaikan ini dan itu , atau telah merasa berhasil berjuang untuk mencapai keikhlasan dan kesabaran.  Semua itu terjadi hanya karena kehendakNya semata-mata. Kita hanya bisa bersyukur bila telah bisa bersabar atau telah berbuat baik, dan mengembalikan segala sebab kepadaNya saja.

Bila telah sampai kepada rasa syukur dan merasakan bahwa kita ini sebenarnya digerakkan oleh Allah, di titik inilah kita akan dimudahkan dalam memahamiNya dan semakin dekatnya kita dengan rasa 'manunggaling karsa kawula gusti', bersatunya kehendak antara makhluk dengan sang Khaliq. Kita lebur menyatu dengan alam semesta, bersama-sama mewujudkan kehendakNya.  Indah tiada tara.



PENGALAMAN PERTAMA

Ini merupakan sebuah pelajaran, bahwa menghadapi hal apapun dengan perasaan kecewa, apalagi marah-marah, ternyata bukanlah cara terbaik dalam menyelesaikan persoalan.  Kecewa dan marah-marah adalah cara terbaik dalam melampiaskan nafsu, bukan dalam mengatasi masalah.

Ceritanya sederhana saja tapi membekas sekali dalam ingatanku.  Kemarin mendapat pesanan 11 set (bawahan, atasan dan selendang) kain lukis sutra yang bahannya  thai silk Jim Thomson.  Aku jarang bikin stock untuk bahan yang mahal-mahal gini, karena perputarannya lambat, jadi aku hanya mengerjakan pesanan saja.


kain lukis sutra produksiku yang eksklusive

Sejak dollar naik gila-gilaan, harga thai silk yang semula 150 ribu semeter, menjadi 190 ribu semeter..... bayangkan, selisih harga 40 ribu, padahal untuk membuat 1 set, diperlukan 5,3 m kain, jadi selisih harga kainnya  200 ribu lebih per setnya.

Mas Hary yang belanja kain ke toko langganan di Malang dan ada 1 warna yang tidak sesuai dengan pesanan, mestinya warna biru aqua , tapi dia belinya biru turqoise.  Melihat itu, aku langsung mikir, wah, belanja lagi nih, sejuta rupiah lagi. Rasanya nyesek di dada, kok mas Hary gak nanya aku dulu biru yang dimaksud biru apa ? Rasanya pingin berteriak memanggil suamiku dan menghujaninya dengan protes keras.

Tapi aku memilih duduk, dan menyadari bahwa inilah jalan cerita yang Allah ijinkan terjadi.  Aku musti sabar, menahan amarah dan ikhlas.

Saat bisa ikhlas itulah, aku mendapat petunjuk, mengapa tidak dicelup saja? biar tidak usah keluar uang sejuta lagi ? Dari sinilah aku merasa bahwa petunjuk Allah itu datangnya adalah saat hati ikhlas dan menahan amarah seperti perintahNya.

Akupun berniat dalam hati, sejak hari ini aku tidak mau marah-marah lagi.

PENGALAMAN KEDUA 

Kesabaranku benar-benar diuji.  Karyawan keliru menggunakan pewarna, pewarna yang dipakainya adalah pewarna batik dan jumputan, bukan pewarna sutra.  Padahal yang aku maksud adalah pewarna sutra dengan metode steam yang membuat warnanya semakin cemerlang setelah proses pengukusan.

"Ya sudahlah, dicoba saja dikukus, siapa tahu efeknya bisa seperti pewarna sutra", kataku akhirnya, lalu aku suruh karyawan membungkusnya  dan mengukusnya.

Lagi lagi aku dibuat jengkel, karena mengukusnya memakai dandang biasa, padahal mestinya memakai pressure cooker. Aduh, hingga detik ini aku masih bisa bersabar.

PENGALAMAN KETIGA

Akhirnya aku tangani sendiri kain itu, aku kukus sore-sore saat semua karyawan pulang.  Mas Hary datang dari 'beredar' mengurus koperasi Pengayoman.

"Masak apa itu ?", tanyanya.
"Kain. Kemarin warna birunya tidak sesuai", kataku.
"Itu kan biru, semua orang di toko juga bilang kalau itu warna biru".
"Itu namanya biru turqish mas.  Yang dimaksud itu biru ini nih", kataku sambil menunjukkan jaket biruku.
"Iya, tapi itu juga biru".
"Aku yang menerima pesanan maaaas, aku yang tahu biru seperti apa yang dimaksud bu Gatot".  Dan mas Hary ngotot kalau warna itu adalah warna biru.  Aku semakin ngotot dan mengungkit ungkit kesabaranku.

"Aku sudah tidak protes padamu kan mas, ketika kain yang kamu beli salah, dan sekarang ketika aku berusaha memperbaiki kesalahan itu kamu malah yang memprotesku".  Akupun ngambeg ....... perasaanku sungguh tidak terima .... dan akhirnya mas Hary minta maaf.  Itupun tidak meluluhkan hatiku dan  masih saja galau tidak tahu bagaimana memperbaiki hatiku yang kecewa.

KESIMPULAN

Akhirnya aku menyadari bahwa segala kesabaran dan keikhlasan yang bisa aku jalani selama ini, hanyalah Allah penyebabnya, bukan usahaku.  Karena manusia itu tidak berdaya, zero, dan seharusnya manusia tetap merasa zero, karena hanya Allah dibalik segala kekuatan dan segala yang mewujud di alam semesta.

Berhentilah merasa mampu, mampu berbuat baik, mampu mencari nafkah untuk keluarga, mampu menyantuni kaum papa, mampu membeli mobil, rumah, kebun, mampu mengelola usaha, mampu menyekolahkan anak, mampu merawat orang tua .... dll.  Yang memampukan kita adalah Allah, diri ini bukan apa -apa dan hanya bisa bersyukur dijalankanNya  sejauh ini di bumiNya yang indah.


2 komentar: