Sabtu, 14 Januari 2012

Disakiti Di JalanNya 2 : Caraku Menempatkan Ayat

Aku juga pernah mengalami dicela dan disalah-salahkan, aku dibilang tidak menempatkan ayat pada tempat yang semestinya dan menghubungkan ayat satu dengan lainnya tanpa ilmu tafsir ........
Sekarang aku mau jelaskan saja deh, bagaimana aku memaknai ayat-ayat al qur'an.... oh, sebenarnya aku hanya menuliskan saja pelajaran yang kuterima dari ustadz Virien, pak Edy Yusuf, eyang Syamsul'Alam dan dari yang lain-lainnya, lalu kuhubungkan dengan pengalaman yang kutemui sehari-hari, juga pengalamanku menjalankannya.

Nah, si temanku itu gak boleh aku begitu, katanya kalau menyampaikan ayat ya harus disertai penjelasan/tafsirnya (dia memang berdakwah dengan cara seperti ini, ayat lalu penjelasannya).  Kalau aku sih lebih berpatokan pada sebuah hadits sahih, Rasulullah mengatakan, "Sampaikanlah walau satu ayat".  Bila mengacu pada hadits ini, kita menyampaikan ayat tok tanpa penjelasan apapun, itu sah sah saja.

Soal menghubungkan ayat satu dengan ayat yang lain, sebenarnya al qur'an sendiri yang menyatakannya lo!! Ayat-ayat al qur'an memang terkait satu sama lain, yang satu merupakan penjelasan bagi ayat yang lain.  Jadi tidak salah bila kita mencari penjelasan ayat al qur'an dari ayat al qur'an juga, kesannya seperti melompat-lompat ya, tapi ada dasar hukumnya di QS.Al-Baqarah [2] : ayat 185
[2:185] (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
 
Contohnya ini nih : Ayat-ayat tentang takwa tersebar di beberapa surat, di surat tertentu berupa perintah bertakwa, antara lain di QS.Nuh [71:3] (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, sedangkan di di surat yang lain ada penjabaran mengenai taqwa yaitu di QS. Ali Imran 133-135 yang merupakan definisi takwa.
 
[3:133] Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,[3:134] (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
[3:135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
[3:136] Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal
 
Dari itu semua, al qur'an itu mudah, jangan dipersulit hanya gara-gara kita bukan ahli tafsir, wong yang menyatakan kalau al qur'an itu mudah Allah sendiri kok..., bahkan diulang hingga 4 kali di surat yang sama 
QS. Al-Qamar [54] : ayat 17,22,32,40
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?
 
Ayat-ayat al qur'an yang mudah dan tidak memerlukan 'ahli tafsir' ini berupa ayat-ayat muhkamat, disinilah pokok-pokok al qur'an.  Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat, kurang bisa dimengerti oleh kita selain dengan petunjuk Allah.
 
QS. Ali Imran [3:7] Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
 
Saat temanku mengatakan bahwa aku menempatkan ayat bukan pada tempat yang semestinya, aku jawab bahwa tempat yang semestinya adalah di hati kita (buka QS. Al Ankabut ayat 49 [29:49] )
Memang untuk orang yang terbiasa menafsirkan ayat-ayat al qur'an dengan pikirannya tak akan bisa dipertemukan dengan orang yang menggunakan hatinya dalam memahami ayat al qur'an.  Tapi sudah terbukti bila kekuatan hati 88% lebih unggul dibandingkan kekuatan pikiran yang hanya 12%, jadi ya silahkan memilih.....
 
Sebenarnya bila ada perselisihan dalam hal apapun, lebih baik kita memasrahkannya kepada Allah, ini lebih qur'ani.  Simak ayat ini :
 
QS. Asy Syuura[42:10] Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.
 
Saat batin kita memasrahkan segala perselisihan kepada Allah dengan penuh keikhlasan, maka Allahpun menghadirkan hikmah dan petunjukNya di hati kita.  Begitupun saat hatiku memasrahkan persoalan yang aku ceritakan ini kepada Allah,  bermunculan satu persatu pengertian di hatiku yang bila dijelaskan begini nih :
 
Allah menciptakan manusia dengan kondisi yang beraneka ragam, baik tingkat kecerdasan, pendidikan, latar belakang kehidupan dll dll.  Kondisi ini menciptakan masyarakat yang beraneka ragam pula. Dan di setiap kelompok masyarakat, Allah menurunkan satu orang atau lebih pemberi peringatan sebagai wujud kasih sayang Allah. 
Saat kita terjun di dunia dakwah, kita hadir dengan pribadi kita yang khas dan unik.  Diri kita yang terbatas ini tidak bisa menjawab seluruh kebutuhan masyarakat yang beragam itu.  Makanya Allah menurunkan para pendakwah dengan berbagai macam karakter dan ciri khas masing-masing.
 
Ada masyarakat yang lebih suka gaya Aa Gym yang tenang dan jelas penuturannya, ada yang lebih cocok dengan ustadz Arifin Ilham dengan dzikirnya, ada yang cocok dengan Muhammadiyah, ada yang lebih suka gaya Kiai NU yang kharismatik.......  Di dunia maya, banyak grup-grup dakwah, website, atau blog dakwah yang masing-masing dengan ciri khas dan penggemar sendiri-sendiri ..... ada Indah juga disini .... hehehe.
 
Apakah gaya ustadz Arifin Ilham lebih baik dari gaya ustadz Maulana yang lebay?  Apakah gaya Indah menyampaikan ayat lalu bercerita lebih baik dari gaya si teman yang menyampaikan ayat lalu menjelaskannya?  Apakah Muhammadiyah lebih baik dari NU ????  ...... wah, janganlah kita terjebak dalam 'metode dakwah' ... lalu terperangkap dalam salah menyalahkan satu sama lain..... Semuanya baik sesuai dengan audience masing-masing.  Berbeda itu bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain, berbeda itu sunatullah, berbeda itu memang diperlukan untuk menjawab semua kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam itu .
 
Kenyataannya, setiap pendakwah yang berpedoman pada al qur'an dan hadits tujuannya sama yaitu mengajak orang bertakwa dan semakin baik di hadapan Allah.
 
Bila ada penafsiran yang berbeda mengenai suatu hal, hargai saja perbedaan itu lalu pasrahkan pada Allah.  Tandanya bila kita sudah benar dalam menafsirkan sesuatu adalah munculnya perasaan kasih sayang, damai dan harmonis dengan lingkungan.  Bila penafsiran kita malah memunculkan sikap merasa paling benar sendiri lalu menyalahkan siapapun yang tidak sependapat dengan kita .....wah, maaf..... hati-hati, mungkin sudah waktunya mengoreksi diri dan mohon petunjuk Allah agar dibukakan pintu  hikmah dan pemahaman.
 
Bila kita berhasil memasrahkan setiap perselisihan kepada Allah, maka yang muncul adalah sikap menghargai dan kasih sayang.  Begitulah bila al qur'an turun ke hati seseorang, membuatnya merasakan kedamaian, kasih sayang dan harmonis dengan lingkungan .... dan inilah kebahagiaan yang sesungguhnya, indah sekali ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar