Kamis, 25 Agustus 2011

Lelaki Tua Penjaja Perbaikan Payung

Di penghujung Ramadhan ini aku menyiapkan parcel, bukan untuk pelanggan, apalagi pejabat, bukaaan.....tapi untuk dhuafa.  Kupikir yang paling membutuhkan parcel adalah dhuafa, karena mereka tak cukup mampu untuk merayakan hari raya dengan sirop dan kue-kue enak.

Kue-kue kering ini kubuat sendiri, maksudku aku bantu-bantu sedikit .... hehehe, yang bantu-bantu banyak (...ehm) ya bu Kotsiyah dan mbak Retno, karyawanku yang pintar.  Aku memang suka bikin kue lebaran sendiri, bagiku aroma kue yang dipanggang di penghujung ramadhan itu sesuatu yang amat manis, jadi 'aroma' wajib di rumahku. Biasanya aku bikin kue dengan Zelika, gadisku yang cantik itu, tapi dia masih sibuk mengurus KRS, belum bisa pulang.

Suamiku melihat kue-kue cantikku di dalam toples yang kuberi pita manis, jadi tergerak hatinya membelikan keranjang rotan.  Setelah semuanya tertata di keranjang rotan, lalu kubungkus dengan plastik dan kuhias dengan pita dan manik-manik emas, jadi tampak mewah.

"Aduh, kayak di toko-toko ya buk", kata Alni ceria, dia semangat sekali membantuku menata parcel ini.
"Ya bunda, lebih bagus dari di KUD, ini lebih lengkap ..... ", komentar Lely.  Sambil menata parcel, aku berdoa, semoga Allah menyampaikannya pada orang yang benar-benar membutuhkan, yang memang tidak mampu membeli kue lebaran.

"Buat dhuafa saja ya bunda, anak yatimnya sudah banyak yang membantu, bulek-bulek mereka orang mampu kok bunda ", kata Windy saat bersiap membagikan parcel.
"Ya, terserah kamulah, yang penting buat orang yang gak mampu beli kue lebaran", kataku.

Belum lagi seluruh parcel terbagi habis, Lely membawa cerita pilu.
"Bunda, tadi kita ketemu orang tua yang menjajakan jasa perbaikan payung, sudah tua banget bunda, bawa pikulan, jalan kaki ..... ".
"Kalau  dia naik sepeda ya gak bisa, wong kakinya sakit gitu..... kaku ...... kayak gimana gitu lo bunda", Windy memotong cerita Lely.
"Parcelnya aku kasih ke dia, orangnya senang sekali, mendoakan kita ".
"Tapi dia jadi tambah berat pikulannya bunda, kasihan...", sambung Lely, lalu tertawa kecil membayangkan orang tua yang sudah keberatan membawa dagangannya, masih ditambah beratnya parcel.
.
"Kenapa gak kamu kasih uang, biar bisa pulang naik angkot dan gembira bersama keluarganya... Memang rumahnya dimana?", kataku.
"Jauh bunda ... dimana ya... bantaran atau mana ya.... ".
"Ya sudah sana cepat, cari dia dan kasih uang ...", kataku.  Kedua karyawanku yang manis-manis itupun segera pergi mencari lelaki tua penjaja perbaikan payung.  Sayangnya mereka berdua pulang tanpa hasil, mereka tidak bisa menemukan lelaki itu.

Hatiku pilu, walaupun aku tidak pernah bertemu lelaki tua penjaja perbaikan payung itu, aku jadi memikirkannya, karena dia sendiri tidak punya payung.  Maksudku payung masa tuanya, agar dia tidak perlu bekerja keras di usia senjanya. Saat tubuhnya sudah renta, mestinya yang dia pikirkan bukan lagi mencari nafkah untuk memenuhi tuntutan perut, melainkan memperbanyak ibadah, bercanda dengan anak cucu, mempersiapkan diri untuk menghadap Allah.

Berapa banyakkah jumlah lelaki tua seperti dia di negeri ini? Semestinya kita yang masih muda dan diberi kelebihan materi oleh Allah  ini menjadi 'payung' bagi mereka. 

"Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu". (HR. Al Bazzaar)

Hadist tersebut diatas, merupakan konsep Islam yang ampuh dalam memberantas kemiskinan, selain konsep zakat infaq sadaqah.  Bayangkan, bila setiap muslim yang berkelebihan makanan mau peduli dengan tetangganya yang lapar, mestinya tidak ada orang kelaparan di negara kita.

Cukup dengan 'masih punya persediaan makan buat hari raya' maka sudah wajib membayar zakat fitrah.
Aku mengartikannya, berarti syarat untuk memberi tidak perlu orang yang berlebihan, cukup bila mempunyai persediaan makanan buat besok. Tapi kebanyakan rumah tangga muslim punya persediaan makan untuk sebulan!!!  Dan kebanyakan mereka masih suka mengeluh tentang hidupnya .........

Syarat lain untuk memberi yaitu tidak perlu merasa khawatir tentang hari esok.  Allahlah yang akan mencukupi kita, sedang Dia adalah Ar Razaq (Yang Maha Pemberi Rizki), Al Muqit (Yang Maha Pencipta Makanan), Al Wasii (Maha Luas KaruniaNya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar