Jumat, 25 Oktober 2013

Mengikat Harta

Coba bertanya pada orang yang berhutang dan menjadikan rumahnya sebagai agunan di bank, apa kekhawatiran mereka ? jawabnya paling takut, bagaimana bila rumahnya disita ? dan rentetan kekhawatiran lain yang menyertai.  Itulah pertanyaan para pembacaku sejak lama, yang aku tidak bisa menjawabnya saat itu.

Padahal tidak musti berhutang, bila Allah menghendaki harta yang kita punya diambilNya lagi, ya pasti hilang.  Sebaliknya, walau hutang numpuk, bila Allah menghendaki harta itu masih dititipkanNya pada kita, ya pasti kita diberi jalan keluar dan harta itu  masih bisa kita nikmati.  Sebenarnya persoalannya bukan hutang kan ? tapi soal Allah masih mau nitip harta itu pada kita apa nggak ?

Pertanyaannya sekarang,  bagaimana cara mengikat harta biar tidak lepas ? Atau bagaimana caranya biar kita masih dititipi harta oleh Allah ?


senja di Ngantang     foto : Innuri

Seandainya sedang menerima  ujian dan cobaan yang berupa hutang,  apakah Allah bermaksud membuat kita putus asa dan kehilangan ? Tidak saudaraku ! Yang Allah inginkan adalah agar kita kembali kepadaNya, kembali meniti jalanNya, kembali berharap kepadaNya, bersandar kepadaNya.

Jadi, segala bentuk kekhawatiran itu, syetanlah yang membangkitkannya.  Sedangkan Allah tidaklah menginginkan kehancuran bagi hambaNya. Allah tidaklah menginginkan kita kehilangan rumah, karena yang dikehendaki Allah adalah kita kembali kepadaNya, berharap kepadaNya, lebih mengenalNya dan dekat denganNya.  Point ini difahami dan diyakini dulu.

Nah, setelah memahami dan meyakini,  kini bersyukurlah !!!  Bersyukurlah  dengan rumah yang  kita tempati, atau mobil yang kita punya, apa saja harta benda titipan Allah, syukurilah dan rasakan nikmatnya dalam-dalam. bersyukurlah. Bersyukur saja dan nikmati rasa syukur itu.  Sudah.

Bersyukur adalah salah satu cara untuk 'mengikat' harta yang masih berada dalam kekuasaan kita.

Jangan sekali-kali memberikan kesempatan pada rasa khawatir singgah di hati, musti rasa syukur total yang berada di hati kita.

Bangunlah rasa syukur yang sebenarnya karena hanya rasa syukur yang benarlah yang bisa 'mengikat' harta.  Menyadari bahwa segala harta benda itu adalah pemberianNya yang diberikanNya dengan penuh kasih. Balaslah kasihNya dengan menerima pemberiannya itu dengan rasa terima kasih yang penuh tanggung jawab merawat pemberianNya.   Hatipun akan merasakan nikmat dan menghaturkan ucapan terimakasih yang muncul dari kedalaman rasa.

Sederhana sekali bukan ? Karena sebanarnya hawa nafsu dan syetanlah yang membuat segalanya menjadi rumit dan menyesakkan dada.

Ayoo .... bangun rasa syukur itu.

2 komentar:

  1. Ibu,
    Terimakasih untuk share nya.

    Terimakasih juga untuk sahabatku yang mengenalkanku dengan blog ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama. Terimakasih sudah menyukai tulisan tulisanku.

      Hapus