Minggu, 11 November 2012

Pada Siapa Kita Menyandarkan Kebahagiaan

Ini kisah tentang tertipu dunia lagi ..... hmmm.... jangan bosan ya aku cerita soal gini lagi gini lagi ..... maksudnya mau ngingetin biar gak matre dengan cara khas Indah, ngotot ..... hehehe ...

Aku ketemu sama teman yang dulu pernah punya hutang banyak nyak nyak nyak pokoknya.  Saat dalam kondisi punya hutang banyak itu, penampilannya selalu memelas gitu ..... padahal dia punya beberapa bis kota yang beroperasi terus tiap hari, punya beberapa truck dan sebuah mobil pick up. 

Walaupun usaha-usaha yang dijalankannya berjalan baik dan dia lancar mencicil hutangnya, dia tetap mengeluh dengan banyaknya beban yang musti dibayar tiap bulan.  Gayanya selalu sama, tidak punya uang katanya.

Akhirnya dia menjual sebuah rumahnya (rumahnya ada dua) berikut pekarangan, hasil penjualan rumah itu dia gunakan untuk menutup seluruh hutangnya.  Dia merasa puas dan lega telah terbebas dari hutang, dia bilang seperti sudah keluar dari lubang jarum.



Beberapa tahun kemudian aku bertemu dia lagi, tahukah bagaimana keadaannya? tetap memelas !!! Usahanya sepi dan gayanya tetap sama.  Oh, mudah mudahan dia sadar bahwa orang tidak punya hutangpun bisa tidak punya uang.

Pada umumnya orang yang punya hutang sering berpikir, alangkah enaknya bila hutangku lunas? Dia telah meletakkan ketenangan dirinya pada "hutang yang lunas", dia pikir masalah akan selesai bila hutang sudah lunas. Ternyata nggak banget kan? Cobaan finansial itu bukan hanya terlilit hutang, bisa ditipu orang, usaha yang sepi, tagihan macet dll dll ...... banyak bentuknya dan semua itu dengan mudahnya Allah 'paket'kan ke kita.

Jadi ???

Jangan meletakkan ketenangan pada sesuatu selain Allah.  Banyak-banyaklah bersyukur dengan keadaan kita.

Ada lagi nih cerita dari seorang sahabat tentang orang yang sukses dengan bisnisnya, tapi hasilnya lenyap dalam sekejap.  Gini katanya lewat chatting : " Kemaren aku ngobrol ma bapak2, setelah pensiun beliau berbisnis ma temen2 dan koleganya.  Banter bunda bisnisnya,  berjalan sekitar 10 tahun.  Eh, tahun lalu, barusan maksudnya, beliau dibohongin rekan bisnisnya, 200 juta amblas, keuntungan selama bisnis 10 tahun, menguap dalam sekejap".

Sudahlah, hidup ini persembahkan buat Allah saja, buka hati agar hati bisa merasakan kasih sayang dan jaminanNya.

Jangan merasa tenang dengan uang banyak dan harta yang melimpah atau bisnis yang lancar atau apa saja deh ....... merasa tenangnya karena Allah saja.

Merasa tenang karena Allah itu membuat hati kita selalu tenang, dalam kondisi apapun ada Allah yang selalu menemani dan mengurus kita tanpa lelah dan tanpa istirahat.

QS Ali Imran [3:2] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
 
Tuh resapi ayat yang kusebut di atas, bukankah Allah terus menerus mengurus makhlukNya, bertanyalah pada diri sendiri : kita makhlukNya atau bukan?

Kalau yang mengurus kita adalah Allah yang maha kasih dan maha segala galanya, tentu terjamin kebahagiaan kita.  Sedangkan seorang ibu dalam mengurus anaknya saja begitu teliti dan tak kenal lelah, mengertikah bahwa Allah lebih dalam rasa sayangnya pada kita ......
 
Manusia suka meletakkan kebahagiaan dan ketenangannya pada materi siiiih ..... ya gitu deh, materi kan tidak abadi, masak menyandarkan diri pada yang tidak abadi? gak cerdas banget deh !!!
 
Mari menyandarkan kebahagiaan kepada Allah saja.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar