Rabu, 24 Oktober 2012

Dunia Yang Menipu

Pernah merasa tertipu? Gimana rasanya? Seperti di terjang kaki Lionel Messi ... hahaha ... memangnya bola? Ya benar,  kira-kira rasanya seperti jadi bola, ditendang sana ditendang sini ....  soalnya aku juga pernah jadi bola ... eh, pernah ketipu sihhh.

Untungnya aku cuma tertipu di dunia, kalau merasa tertipunya di akhirat .... wedeh... ampun, jangan Ya Rabb, lindungi hambaMu ini.  Kalau tertipu di dunia saja rasanya kayak bola di kaki Messi, lah di akhirat nanti seperti apa coba? Nggaaaakkkkk mauuuu!

Untungnya pula aku tertipu oleh manusia, yang berat itu kalau tertipu oleh dunia ...... yang ini nih mungkin kita sekarang lagi mengalami tanpa kita sadari ........... Eh, jangan dibantah dulu, dengerin penjelasanku.

Di al qur'an disebut bahwa orang kafir itu adalah orang yang tertipu dunia (buka surat al mulk ayat pertengahan atau surat al baqarah di lembar pertama).  Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang tidak tertipu dunia, benar?  Orang yang tertipu dunia berarti orang kafir, hmm?

Ya benar, orang yang beriman memang tidak tertipu dunia yaitu orang yang benar imannya.   Sekarang yang jadi pertanyaan : Apakah kita ini orang yang benar imannya?

Kita mengumumkan dan mengklaim diri sendiri sebagai orang yang beriman itu boleh banget.  Tapi kita juga musti berusaha beriman dengan benar, karena iman itu bukan sekedar beriman bahwa Tuhan Yang Menciptakan kita dan alam semesta itu adalah Allah.

Secara detail al qur'an menyebut definisi orang yang benar imannya :

QS. Al-Baqarah [2] : ayat 177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

QS. Ar-Ra'd [13] : ayat 28
 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Bila merujuk pada ayat tersebut di atas, orang yang menyebut nama Allah tapi masih gelisah dan khawatir tentang berbagai hal dalam kehidupannya, berarti dia masih perlu mengupgrade keimanannya.

Kafirpun juga ada berbagai tingkatan : tidak percaya akan adanya Tuhan (atheis), percaya Tuhan tapi tidak percaya hari kebangkitan, percaya Tuhan tapi hanya percaya keberadaannnya saja tanpa percaya segenap sifat sifatnya, ragu-ragu akan aturan Allah, meletakkan logika dan ilmunya diatas imannya kepada Allah, kufur nikmat ...... dan banyak lagi  kafir yang sifatnya tersamar dan begitu halus.

BAGAIMANA DUNIA MENIPU KITA ?

Bila membahas tentang bagaimana dunia menipu kita, kira-kira bisa ditulis jadi buku yang berjilid jilid. 

Yang dimaksud dunia disini adalah segala sesuatu yang memalingkan kita dari Allah, dari aturanNya dan dari akhirat, bisa uang, harta, kedudukan/jabatan, wanita, anak-anak kita ......

Contoh umum orang yang tertipu dunia adalah orang yang pelit, dia menyangka bahwa harta yang dikumpulkannya akan membuatnya bahagia, padahal tidak dia bawa mati.  Ada juga orang yang mengumpulkan harta untuk bisa diwariskan ke anak cucunya, eh ternyata harta yang ditinggalkannya malah membuat anak cucunya saling bermusuhan satu sama lain.

Di tingkat yang lebih tinggi, cinta dunia membuatnya berbuat kejahatan, seperti menipu, menjilat,  korupsi, mencuri, merampok, menjambret, membunuh bisnis saingannya, menghalalkan  segala cara untuk memperoleh jabatan/tender dll ........  Orang-orang ini adalah orang yang kafir terhadap aturan Allah.

Orang yang bersaing dengan tidak fair itu orang yang tertipu dunia,  dia menyangka bahwa perbuatannya akan membuatnya sukses, padahal dia sedang menggali kuburnya sendiri ! Boleh jadi dia mendapatkan sukses seperti yang diinginkannya, tapi sebenarnya dia sedang menunggu detik-detik kehancurannya.

Bagaimana dengan fihak yang merasa didhalimi dalam sebuah  persaingan yang tidak fair?  Bisa jadi dia sedang tertipu juga ..... loh kok???  Tanda-tandanya orang yang tertipu dunia adalah munculnya rasa marah, tidak terima, gelisah dan khawatir.  Dia menyangka bahwa rejekinya akan berkurang dengan adanya pesaing, lupa bahwa yang menggenggam rejeki makhluk adalah Allah.  Ketipu juga kan?

Kadang dunia menipu kita dengan cara yang halus sekali, bahkan kita sering tidak menyadarinya. Contohnya berharap kepada gaji untuk mencukupi kebutuhan keluarga ..... Loh kok lagi ya? 

Gini nih, kita berharapnya kepada Allah saja, rejeki dari Allah itu bukan cuma dari gaji, Allah itu Maha Kuasa mendatangkan rejeki dari mana saja dan bagaimanapun caranya, walaupun kita cuma karyawan kantoran yang menerima gaji bulanan.   Berharapnya kepada Allah thok, sedangkan kita bekerja untuk mengabdi kepadaNya.  InsyaAllah bila begini pola pikirnya, rejeki kita akan berkah.  Kalau berharapnya kepada gaji, kita bakalan dipusingkan dengan gaji yang tidak cukup cukup ...... hihihi ....... ada yang merasa tersinggung nggak dengan kalimat terakhirku ini?

Bagi yang berbisnis, coba singkirkan harapan pada bisnisnya, harapannya ya pada Allah saja, berbisnisnya untuk bersyukur dan beribadah kepadaNya.  Ini menjadikan kita lebih enjoy menikmati proses, sementara hati sudah yakin akan jaminanNya.  Hidup menjadi lebih nikmat dan mudah.

Singkat cerita, berharaplah hanya kepada Allah saja, bebaskan diri dari ikatan dunia. Bila kita bisa melakukan ini,  insyaAllah kita akan bisa mengenal Allah dengan lebih baik dan bisa melihat segala sesuatu dengan lebih luas dan lebih indah.  Cobalah.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar