Senin, 15 Oktober 2012

Guru Spiritualku Hari Ini

Malam ini Indah baru saja sampai dari Lumajang, baru selesai shalat maghrib, baru melepas kangen sama Alni dan Insan, huuuu.... rambut masih basah sudah di depan lap top, kangen ngeblog.  Ke Lumajangnya ya urusan biasa .... , alhamdulillah pelatihannya hanya satu hari, jadi gak lama-lama jadi wong embongan dan gak lama-lama ninggalin 'fans' ..... hahaha ..... (menantuku kalau lihat aku di depan lap top, bilangnya bunda sedang jumpa fans ....)  Tapiiiii, Indah ngajak kalian semua ngefans sama Allah saja loh.... kalau Indah maunya jadi sahabat kalian, sahabat terbaik dunia dan akhirat, insyaAllah.

Tadi waktu pulang dari pelatihan ada sebuah pemandangan yang amat menyayat hati (Indah nangis niiiih mengingatnya ...), rasanya aku musti ceritakan ke kalian semua. Nah, duduk manis semua !

Saat pulang, mas Hary sengaja lewat timur, lewat Pasirian, Ampelgading, Tirtoyudo, Dampit, Tumpang ..... baru nyampai ke Pakis. Kejadian yang ingin kuceritakan TKP nya waktu masih berada di pinggiran kota Lumajang, hampir mendekati Pasirian.

Seperti biasa, saat bepergian jauh begini, aku suka membawa roti yang kukemas dengan segelas air mineral untuk dibagi-bagi ke dhuafa yang kutemui.  Saat itulah suamiku melihat orang dengan pakaian yang amat lusuh dengan 'sesuatu' di atas kepalanya, mobil suamiku berhenti di sampingnya, akupun tanggap, kuulurkan dua bungkus 'paket' roti itu padanya. Oh ..... saat melihatnya tidak bereaksi aku baru sadar bahwa orang ini buta !!!

Kulihat sesuatu yang berada di atas kepalanya itu ternyata air mineral dalam kemasan botol yang ditata di bakul berbentuk segi empat, pikiranku langsung nangkep, orang ini pedagang asongan yang sudah hafal betul dengan jalan disini hingga dalam kebutaannya dia tak perlu membawa tongkat.

"Pak, ini kue", kataku sambil menyentuhkan paket itu ke tangannya, dia menerimanya dengan senyum lebar dan tulus.
"Makasih mbak", katanya, mungkin karena suaraku kedengaran gak kayak suara ibu-ibu, jadi dia memanggilku 'mbak'.

Segera mobil suamiku berlalu meninggalkan pedagang asongan buta itu berjalan sendiri, namun hatiku telah tertambat padanya !  Dialah guru spiritualku hari ini.

Aku ingat pagi tadi, saat tengah mengobrol dengan teman sesama instruktur di tengah hiruk pikuk ibu-ibu yang ngantri tanda tangan, kami membicarakan soal pameran, sampai tercetus dari mulutku ucapan begini :"Yaa, aku banyak sekali pameran bulan kemarin, capek juga sih walaupun yang berangkat karyawanku ".

"Capek produksi ya bu", kata bu Heny. Aku mengiyakan ..... oh Indah Indah ..... istighfar sekarang !!! Berapa berat sih pekerjaan kamu bila dibandingkan dengan si buta yang menjajakan air mineral ? Si buta yang bekerja keras dengan keuntungan yang tak seberapa.  Bandingkan dengan pekerjaan kamu yang cuma main suruh, produksi ya tinggal nyuruh, tinggal ngomong thok ! pameran ya tinggal nyuruh, tinggal teriak ," Yudiii, berangkat !". 

Hatiku tercabik-cabik rasanya, Ya Allah, sungguh ampuni hambaMu yang tak tahu berterimakasih ini.

Sedangkan si buta yang tak bisa melihat jalanan saja tidak mengeluh dengan hidupnya, wajahnya begitu tenang dan senyumnya begitu tulus, bahkan dia tidak memanfaatkan kebutaannya untuk meminta-minta atau dikasihani.

Sahabatku,
Apakah kalian masih suka mengeluh sepertiku?
Mungkin kalian perlu pergi ke daerah pinggiran kota Lumajang, sebelum kecamatan Pasirian, temui lelaki itu di terik matahari memperjuangkan hidupnya.  Tatap wajah damainya yang dihiasi dua pasang mata yang tak bisa membuka. 

Sayang Indah tak sempat memotretnya karena keramaian lalu lintas, bila saja aku tunjukkan foto lelaki buta dengan dagangan di atas kepalanya itu pada kalian ......... mungkin bibir kalian akan terkatup, malu untuk mengeluh lagi ......  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar